Sialnya Jadi Penyair
salahku tak mampu membelikanmu sepasang sempak dan bh baru
yang lembut seperti perut bayi kecil kita
yang menopang dadamu kencang dan tak bikin gatal punggungmu
malam itu wajahmu kelihatan gembira sekali
membuka paket belanja dan pamer lima sempak baru gratis satu
harga diskon tak sampai lima puluh ribu
dari jauh aku tahu sempak-sempak itu bakal bikin selangkanganmu sesak
dan dipakai beberapa hari akan segera rusak
mungkin baju dalam sekali pakai lebih nyaman
dan warnanya lebih sedap dipandang
aku lebih suka melihatmu telanjang, tapi sayang ini bukan surga
dan aku tidak suka mendengarmu disoraki gila
seandainya orang-orang mau menjual baju dalam seharga puisi
aku akan menulis seratus puisi setiap hari
lalu memenuhi lemari baju kita yang tak bisa ditutup rapat itu
dengan sempak dan bh berpasang-pasangan
seperti dulu Nuh mengisi bahteranya dengan berpasang-pasang binatang
tapi puisi tak ada harganya dan hanya ditekuni orang-orang bernasib malang
yang membaca karyanya berulang-ulang dan bertepuk tangan sendiri
mereka yang mengaku penyair itu lebih gila dari orang lari telanjang
akulah orang gila itu
dan kamulah perempuan malang itu
sialnya aku telat sadar belasan tahun bahwa menjadi penulis bukan pekerjaan menguntungkan
seperti guru atau perawat lansia yang sudah kepalang pikun dan berubah jadi bayi
terlalu banyak orang ingin jadi penyair dan dunia tidak perlu ketambahan satu lagi
setidaknya kamu tidak butuh aku sebagai penyair
kamu lebih butuh pria yang mampu menyediakan sepasang baju dalam nyaman dan hangat
yang memakainya terasa seperti tidak memakai apa-apa
yang tidak bikin kulitmu iritasi
yang kaitannya gampang dibuka dengan satu tangan
yang mudah menyerap keringat tapi tidak bau
yang membuat hidupmu sebagai perempuan terasa lebih mudah
kalau punya sembilan nyawa, aku hanya akan memakai satu untuk belajar menulis
sisanya aku pakai untuk belajar bahasa Jepang
karena rupanya di sana kekurangan pekerja dan gajinya tinggi
aku akan belajar bahasa Mandarin
karena di masa depan separuh dunia bicara bahasa Mandarin
aku akan belajar memasak, bekerja di dapur bertahun-tahun, dan jadi koki profesional
karena masakan buatan tangan akan selalu dicari
aku akan belajar hukum
karena kejahatan akan ada sampai kiamat dan pengadilan terus dibutuhkan
aku akan belajar sains
karena aku belum pernah bersungguh-sungguh melakukannya
aku akan belajar koding
karena masa depan lebih memerlukannya ketimbang puisi
aku akan belajar menyetir kendaraan apa pun
karena tidak banyak yang bisa dibayar untuk menyetir buldoser
aku akan belajar menjahit
karena aku bisa membuka butik dan bikin merek baju dalam sendiri
lalu kamu tidak perlu mengejar diskon tiap bulan
bisa jalan-jalan setiap minggu ke tempat-tempat yang kamu sukai
bisa bermain dengan anakmu lebih lama
bisa makan enak setiap hari
(Karawang, 2025)
–
Tidak Ada Judul
aku tak bisa lagi menulis dengan baik, bu. aku lihat rambut-rambutku rontok menutupi celah lubang air di kamar mandi, dan kata-kata mampet sebadan-badan. katamu aku bisa menulis dengan baik, bu. tapi hanya kamu yang membaca tulisanku sampai habis, lalu aku, aku lagi, dan aku seterusnya. aku lupa caranya menulis dengan baik. dan bahkan sekarang, aku enggan membaca tulisanku lagi. setiap mencoba menulis, aku seperti menulis dengan pulpen kehabisan tinta. hanya meninggalkan kertas kosong dan garis-garis seperti di piringan hitam. aku mencoba menyusurinya kembali dengan ujung pulpen yang tajam, dan tak ada suaraku di sana.
(Karawang, 2025)
–
Hari Libur
haruskah kita libur hari ini, bu?
tak lagi bicara dan diam berdua
bersama mati lampu yang entah
kapan akan berhenti.
air belum juga nyala dan kita
dipaksa mengungsi dari
rumah kita sendiri.
di luar sepi dan azan bersahut-sahut
tak mendengarkan yang lain,
seperti terburu-buru menyambut
Al-Masih jatuh dari langit.
kita tidak bisa tidur di masjid
dan hanya bisa menumpang
ke kamar mandi.
haruskah kita libur hari ini, bu?
bukankah Tuhan juga beristirahat
di hari Sabtu?
(Jakarta, 2024)
Pertanyaan HRD
bagaimana kamu memandang dirimu 5 tahun ke depan?
aku masih mengontrak rumah, mungkin punya dua anak, mungkin tidak.
setiap akhir bulan aku melihat uang di rekening sekejap sirna, melakukan
perhitungan matematika sederhana, dan hidup untuk sebulan berdasarkan
perhitungan itu. menyesal beberapa kali karena meminjamkan uang ke teman,
dan mengunjungi orang tua sesekali. sepertinya aku masih merokok, karena
5 tahun lalu aku juga bertekad untuk berhenti, dan lihatlah di kantung jaket
motorku sekarang ada berapa batang yang masih tersisa. kalau benar begitu
istriku akan berhenti mengeluh karena merasa sia-sia. 5 tahun ke depan
aku mungkin bekerja di sini, mungkin juga tidak. mungkin kamu masih
menanyakan hal yang sama, mungkin juga tidak. apa yang tidak mungkin
selama 5 tahun lagi?
(Jakarta, 2024)
–
44 Pesan HRD
perihal menulis laporan yang baik
1. Kamu tidak bisa menulis puisi di laporanmu. Bosmu tidak akan menyukainya. Kantor tidak akan untung. Dan kamu tidak akan digaji. Kamu pilih mana?
2. Menulis itu hanya ungkapan teknis, yang artinya jangan mengarang laporanmu seperti mengarang puisi.
3. Kamu lulus kuliah kan? Menulis laporan tidak jauh dari menulis skripsi, dan tidak dekat dari menulis puisi.
4. Kita tidak perlu pembaruan di sini, suara-suara yang berbeda, atau bentuk-bentuk eksperimental. Tulis laporanmu sesuai yang diarahkan bosmu.
5. Kamu boleh percaya mana saja, antara puisi diciptakan dari kata-kata atau ide-ide. Dan saat menulis laporan, camkan ini, percaya saja dengan bosmu.
6. Ide-ide besar memang tidak lahir dari kesibukan, tapi laporanmu tidak akan rampung hanya dengan merenung.
7. Kantor tidak membaca perumpamaan-perumpamaan dalam laporanmu. Perumpamaanmu itu sampah kalau tidak dibaca sama sekali.
8. Hilangkan puisimu seperti kamu membuang laporanmu yang ditolak ke mesin pemotong kertas, dan jangan berusaha untuk mengumpulkannya kembali.
9. Walau kamu bilang pengarang hilang saat puisinya rampung, kamu sebagai penulis laporan tetap harus mempertanggungjawabkan laporanmu.
10. Ada kalanya kita tidak menulis nama kita dalam laporan sama sekali, kalau hasilnya memuaskan.
11. Demi gajimu selama sebulan, demi keluargamu di rumah, dan demi apa pun yang kamu khawatirkan setiap menjelang dan bangun tidur, selesaikan laporanmu.
perihal izin yang bisa diterima
12. Jangan datang terlambat. Kalau terpaksa datang terlambat, jangan beralasan seperti membaca puisi. Benturkan saja kepalamu ke tiang lampu.
13. Kantor bukan rumah, dan bos bukan ibumu. Mereka tak butuh tahu kondisimu, mereka tak butuh puisi, mereka butuh surat sakit untuk melengkapi administrasi.
14. Sakit perut dan gigi selalu jadi alasan yang diulang-ulang saat membolos, tapi itu masih lebih masuk akal ketimbang kelelahan menulis puisi.
15. Tak seperti diksi puisi, di kantor ini kamu bisa mengulang alasan yang sama dengan menambahkan situasi yang berbeda selama memungkinkan dan meyakinkan.
16. Di kantor ini kamu bukan penyair, kamu butuh belajar logika sebelum belajar menulis puisi.
17. Hujan adalah alasan yang bagus untuk datang terlambat, jangan buang percuma dengan memikirkan tamsil dalam puisi.
18. Memang tak ada dalam peraturan, dan kamu tak perlu menjelaskan maksud puisimu, tapi ketika cuti kamu harus menjelaskan alasanmu tanpa keraguan.
19. Kamu mungkin membiarkan pembaca puisimu larut dalam kecurigaan, tapi jangan sekali-kali bikin bosmu curiga.
20. Kamu boleh berbohong ketika mengambil cuti, tidak seperti puisi.
21. Jangan terlalu jujur, dan jangan terlalu berani, berhentilah menjadi seperti Wiji Thukul. Kamu mau makan kan, bukan jadi tai?
22. Menikahlah, susah kalau belum punya istri. Kamu jadinya hanya bisa mengarang-ngarang puisi.
perihal presentasi yang memukau
23. Saat membacakan puisi mungkin kamu hanya berkutat memikirkan apa yang ingin kamu sampaikan. Saat presentasi, pastikan kamu juga memikirkan apa yang harus kamu dapatkan.
24. Kalau kamu hanya bisa membacakan kata-kata indah, pulang saja. Lebih baik kamu mulai menyusun data-data indah.
25. Tidak ada yang ingin tahu seberapa keras kamu memikirkannya, tidak ada yang ingin tahu seberapa banyak kamu mengganti kalimatnya hingga terdengar pas, mereka ingin tahu nilai presentasimu.
26. Presentasi yang berhasil tidak berakhir dengan tepuk tangan, tapi jabat tangan.
27. Selalu pikirkan apa kata orang dan jangan sibuk mendengarkan suaramu sendiri sampai bergema.
28. Kamu tidak harus memulainya dengan kalimat seperti, Garamilah dunia! Jika itu hanya membuat pendengarmu bingung menafsirkannya.
29. Ini bukan pertunjukan tunggalmu. Pakai jam tangan dengan benar, perhatikan berapa lama waktu berlalu, jangan terburu-buru, tapi cepat selesaikan.
30. Berdandanlah yang rapi dan wangi, jangan lupa mandi, jangan berlagak seperti seniman.
31. Jangan mabuk sebelum presentasi atau malam sebelumnya, pokoknya jangan.
32. Hentikan presentasimu saat orang-orang di hadapanmu bilang berhenti.
33. Seperti menampilkan puisimu, kamu tak perlu terlalu berusaha memuaskan semua orang. Perhatikan saja siapa yang membuat keputusan.
perihal mengundurkan diri dengan gagah
34. Pekerjaanmu tidak sama dengan puisi yang bisa begitu saja kamu tinggalkan walau belum rampung. Datang kelihatan muka, pulang kelihatan punggung, begitu aturannya. Dan juga, satu bulan pemberitahuan sebelumnya.
35. Atasanmu tak ingin membaca kiasan dalam surat pengunduran dirimu. Sampaikan dengan blak-blakan dan jangan beri ruang penafsiran.
36. Jangan tulis terlalu panjang alasanmu pergi, lagian sama seperti puisimu, tak ada yang pernah benar-benar membacanya.
37. Tak perlu repot-repot memikirkan suguhan perpisahanmu, tak ada yang peduli di kantor, besok mereka akan segera lupa apa yang kamu beli dan tak pernah ingat kamu juga menulis puisi.
38. Kamu selalu bingung untuk memakai kata ganti apa dalam puisimu, tetapi kantor ini tak pernah kekurangan pengganti untuk posisimu.
39. Kantor bukan pelarian untuk mencari jati diri.
40. Jangan terbuai dengan kata-kata indah bahwa orang-orang di kantormu ingin bertemu denganmu kembali saat sudah sukses.
41. Jadilah jujur, kamu tak perlu memberi kesan baik di hari-hari terakhirmu.
42. Nyaris semua kantor sama saja, kantormu kemarin, kantormu hari ini, kantormu besok. Selama kamu bukan orang kaya, tak ada yang berubah. Dan tak ada penyair yang punya uang berlimpah.
43. Jangan pikir melamar kerja lebih gampang dari mengirim puluhan puisi ke sayembara.
44. Tak ada gagah-gagahnya jadi penyair, tak ada bedanya kamu dengan pengangguran. Jadi, pikir dua kali lagi.
(Jakarta, 2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA
