Apa Cita-Citamu?
Di kelas, seorang murid berkata:
“dokter, pilot, presiden.”
Guru hanya tersenyum,
ia tidak berani bilang
cita-citanya sederhana sekali:
cukup makan tiga kali sehari
tanpa harus menunggu gaji rapuh
yang jatuh di akhir bulan.
–
Menjadi Guru Bahasa Indonesia
Ia mengajarkan subjek dan predikat,
menyatukan kata menjadi kalimat,
membuat murid mengerti siapa dan apa.
Tapi dalam hidupnya sendiri,
ia hanya objek pasif,
dibuang dari paragraf kebijakan,
menjadi tanda baca yang tak pernah dibaca.
–
Menjadi Guru Matematika
Ia mengajarkan penjumlahan,
tapi gajinya selalu pengurangan.
Ia membimbing murid mencari hasil kali,
tapi di rumah, ia hanya mendapati sisa bagi.
Persamaan hidupnya penuh tanda tanya,
dan pemerintah menuliskan jawabannya
dengan kapur yang mudah dihapus.
–
Abjad yang Tersisa
A adalah Air Mata.
B adalah Beban.
C adalah Cemas.
D adalah Doa yang terus menguap.
Guru mengajarkan E untuk Emak Budi,
tapi siapa mengajarkan cara membayar listrik,
membeli buku, membeli susu untuk anaknya sendiri?
Ini Budi, katanya.
Tapi guru yang mengajarkan Budi,
mengisi piringnya dengan debu,
mengisi perutnya dengan sabar,
mengisi surga orang lain,
tanpa pernah diberi dunia yang layak.
–
Gaji dan Janji Surga
Surga itu kata-kata manis,
tapi gaji kami seakan debu di kantong celana.
Setiap formasi adalah pintu yang menutup,
setiap surat keputusan adalah dinding yang menahan napas.
Kami mengabdi, mengajar, menulis, dan menasihati,
sementara perut kami menjerit, anak-anak menunggu seragam baru.
Orang-orang berkata: “Guru, setidaknya masuk surga.”
Tapi kami butuh dunia ini dulu,
baru bisa menatap surga dengan mata lega.
–
Deep Learning
Kata orang, zaman kini serba digital:
deep learning, machine learning, artificial intelligence.
Guru hanya menghela napas,
ia sendiri tenggelam
dalam pembelajaran paling dalam—
menggali isi perutnya yang kosong,
menambang sabar di kedalaman jiwa,
dan bertanya:
apakah komputer pun bisa paham
tentang profesi yang hidupnya
selalu di pinggiran data?
–
Pertemuan Kesekian
Bel masuk, bel keluar,
sudah pertemuan ke-12, ke-16, ke-20.
Guru menandai RPP dengan tinta merah,
mengecek murid satu per satu,
sambil bertanya dalam hati:
siapa yang mengabsen dirinya
dalam daftar panjang kesejahteraan?
Pertemuan demi pertemuan,
yang hadir hanya janji,
yang absen adalah keadilan.
(2025)
*****
