Gaji pertamaku tidak seberapa. Bahkan, sebelum sempat utuh di tangan, ia sudah seperti tiket bus yang dicabut separuh. Ada janji traktir teman, ada cicilan hutang ke warung, ada dompet ibu yang sudah menunggu di kampung, juga ada ponselku yang mati-matian bertahan hidup dengan layar retak.
Sore itu aku duduk di kosan, memandangi slip gaji yang masih wangi tinta printer kantor. Entah mengapa, angka di sana terasa lebih kecil ketika dibaca ulang. Padahal beberapa hari lalu aku sudah menulis daftar rencana: beli sepatu baru biar tak diejek rekan kerja, traktir teman-teman di warung bakso, sisanya buat nabung. Tapi begitu kutulis di kertas, daftar itu lebih panjang daripada angkanya.
“Eh, malam ini jadi traktir kan?” suara Beni, teman sekosan, muncul dari balik pintu.
Aku mengangguk asal. “Iya, bakso Mang Udin aja.”
Di warung, teman-temanku memesan dengan semangat seolah aku baru saja dapat warisan. Ada yang minta tambahan bakso urat, ada yang pesan es teh dua gelas. Aku tersenyum, meski jantungku ikut menghitung kembalian.
Pulangnya, dompetku menipis. Tapi ada rasa aneh; semacam puas sekaligus cemas.
Malam itu aku menelepon ibu
“Bu, aku baru gajian,” kataku pelan
“Iya, alhamdulillah. Jangan lupa makan yang benar. Nggak usah dipikirin kami di sini.”
Aku terdiam. Tahu betul kalau di rumah, listrik sering nunggak, dan adikku butuh uang buat daftar sekolah.
Keesokan paginya, aku mentransfer sebagian ke ibu. Jumlahnya tidak besar, tapi kubayangkan wajah ibu akan tersenyum kecil di balik layar ponsel jadulnya.
Siang di kantor, aku mendapati gosip kecil.
“Eh, si Dani langsung beli ponsel baru, loh, habis gajian,” kata Sinta sambil tertawa.
“Bagus emang, biar keliatan profesional,” timpal yang lain.
Aku menunduk, menatap layar retak ponselku. Rasanya seperti sedang diperlihatkan cermin: aku bagian dari kelompok yang belum “layak pamer.”
Sore harinya, Beni ikut menambah racun.
“Bro, jangan pelit sama diri sendiri. Gaji pertama tuh harusnya ada kenangannya. Minimal beliin sesuatu yang bikin lu ingat: ini hasil kerja keras gua!”
Aku hanya nyengir. Dalam hati, aku berpikir: bukankah uang yang kutransfer ke ibu juga sebuah kenangan?
Beberapa hari kemudian, ponselku benar-benar bermasalah. Layarnya gelap sebentar, lalu nyala lagi. Pesan masuk terlambat. Bos sampai mengomel karena aku tidak segera merespons WhatsApp kantor. Aku mulai panik.
Malamnya, aku membuka marketplace. Harga ponsel termurah masih setengah dari sisa gajiku. Kalau kubeli, otomatis uang untuk ongkos, makan, dan kebutuhan sebulan akan jebol. Tapi kalau tidak kubeli, bisa-bisa aku dianggap tidak profesional di kantor.
Aku menatap layar laptop lama. Di sebelah, piring berisi mie instan dingin. Di kepala, bayangan ibu menelpon dengan suara serak, “Nak, listrik di rumah baru diputus. Bisa ditolong?”
Pagi itu, aku datang ke kantor dengan kemeja kusut. Di meja kerja, Sinta menunjukkan ponsel barunya dengan bangga. Semua orang mengerubungi, mencoba kameranya, tertawa. Aku hanya duduk diam, menyalakan komputer, mencoba tidak peduli.
Namun, bos tiba-tiba mendekat. “Ponsel kamu kenapa sih? Susah banget dihubungi. Kalau ada klien, bisa gawat.”
Aku tercekat. Rasanya semua pasang mata menoleh.
Sepulang kerja, aku duduk lama di halte, menggenggam amplop sisa gaji. Angin sore menusuk, tapi kepalaku lebih sesak oleh pilihan.
Akhirnya aku putuskan membeli ponsel murah, asal bisa dipakai kerja. Malam itu aku pulang dengan kotak ponsel di tangan. Tapi begitu sampai kos, aku merasa ada yang janggal. Rasanya kosong. Seperti ada bagian dari diriku yang ikut dijual ke etalase toko.
Aku mengirim pesan ke ibu. Kuketik:
“Bu, maaf bulan ini cuma bisa kirim sedikit. Aku harus beli ponsel baru.”
Kukirim dengan jantung berdegup.
Tak lama kemudian, balasan masuk.
“Tidak apa-apa, Nak. Ibu senang kamu sehat dan bisa kerja. Itu sudah cukup.”
Mataku panas. Aku tahu, di balik kalimat sederhana itu, ada banyak yang ibu sembunyikan: tagihan, rasa lelah, rindu, juga pengertian yang membuatku semakin merasa kecil.
Gaji pertamaku ternyata bukan tentang angka. Ia tentang siapa yang lebih dulu menagih: gengsi, teman, bos, atau keluarga. Dan aku baru sadar, gaji pertama itu bukan sekadar uang—ia sebuah cermin, yang memperlihatkan siapa sebenarnya yang sedang aku perjuangkan.
Aku menatap ponsel baruku yang menyala terang. Di layar, wajah ibu tersenyum samar lewat foto lama. Dan entah mengapa, layar itu terasa lebih retak daripada ponselku yang dulu.
*****
