Menafsir Kemarau
Dingin menerjamah kemarau
ketika malam beranjak dewasa
ketika bulan rebah pada lembar daun
yang senyap akan rahasia.
Setelah kemarau datang
kami sibuk membasuh langit
menyuci awan dari air laut
dan sesekali kami sampaikan
pada serpihan angin yang mangkat
membawa mimpi-mimpi baru.
Oh, musim kemarau
hening bergerak tengah malam
membaca kedipan bintang
berharap hujan tak labuh
di atas punggung pertarungan.
(Sumenep, 2025)
–
Litani Bulan Juli
Kami duduk menentang musim
meminta kemarau segera mengemas hujan
perasaan kami teriris pada daun tembakau
ketika mendung geram berjalan pelan.
Dan angin berdansa di sekitar sawah
lalu kami bayangkan langit biru
yang hilang menuntaskan cahaya,
barangkali juli lupa menjadwalkan kemarau
ke dalam kalender, dan mungkin ia juga lupa
bahwa dua musim di mata petani
adalah pertengkaran yang kerap merendam luka.
(Sumenep, 2025)
–
Nyala Api yang Retak
Siang gigih menempa tubuh
ketika hari beranjak remaja.
Lihatlah dengan mata telanjang
Timba yang kami isi air kegelisahan
tak mampu meruntuhkan nasib petani.
Dan kami membayangkan revolusi
dengan dada bergetar kencang.
Begitulah kami diinjak dan rayakan.
(Sumenep, 2025)
–
Sebuah Usaha Panjang
Tetapi pohon tembakau
kembali menyiksa enggan kami
yang telaten telanjang di ranjang tidur.
Dan irama cemas tetap terdengar
Dan kami tak lagi mengharap lebih
pada siang yang seperti penagih utang—
kelaparan berhari-hari.
(Sumenep, 2025)
–
Sesuatu yang Perlu Diungkap
Pada akhirnya kami ungkapkan
segala yang berbentuk rahasia
begitu pula hasrat kerap menyentak
luka-luka purba.
Lalu sejumlah kesedihan
yang lama mengendap pilu
kami ingin jadikan hadiah nanti.
Dan kami tidak malas
tidak angkuh seperti bajingan
hanya saja tidur tuan lebih mahal
daripada kegigihan kami.
Mungkin saja
kami akan tidur sebentar
sekedar merapikan satu mimpi
atau malah hendak lagi ngumpet
takut diburu orang-orang tamak.
(Sumenep, 2025)
*****
