HOMO HOMINI LUPUS
manusia menyamar
menjadi mereka lainnya
membawa pisau di balik pelukan
membungkusi satu per satu lolongan
bahkan bapakmu bisa mengunyah doamu
jika kau pulang tak sesuai rencana
manusia menggigit
dengan tangan terbuka
menepuk pundakmu
sebelum menusuknya
tertawa saat kau jatuh
menulis puisi belasungkawa
senyum dan sopan santun
tak membutuhkan peran taring
kau bukan dibunuh serigala
kau disantap sesama
dan tubuh kita
masih hangat dalam mulut mereka
(Jakarta, Agustus 2025)
–
DI ANTARA PAYUDARA DAN PANGGUL
di ruang suci berspanduk moral, perempuan-perempuan direbahkan. kulit mereka halaman kosong. bagi jubah-jubah manusia yang haus tinta. perempuan datang membawa tubuh. pulang tinggal catatan kaki. para penafsir mencelupkan kuas. melukis silsilah doa pada belikat-belikat gemetar perempuan. mereka menyantap iman dan merapal nama tuhan di antara payudara dan panggul. tubuh-tubuh itu tak sempat prolog. luka perempuan dibubuhi stempel halal. tiap desah dicetak tebal. para jubah bersujud dan berseru ‘amin!’. tubuh perempuan kembali disusun rapi. mereka menggadai doa-doa perempuan. menandai kitab suci di atas tulang selangkangannya.
(Jakarta, Agustus 2025)
–
DIA BUKAN MARIA
dia bukan maria
tak dijamah roh kudus
membawa simpuh yang perawan
dalam gelap yang tak hafal ampun
ia secawan anggur
tumpah di bibir lelaki
yang berdoa sambil mengulum
airmata perempuan lain
di malam penebusan
tubuhnya adalah nazar
tak pernah ditepati
dikuburkan saat para lelaki
masih menyeruput anggurnya
dengan seringai
di ujung bibir
(Jakarta, Agustus 2025)
–
LENYAP DARI SURGA
kain itu lenyap dari surga
ketika bidadari menanggalkan langitnya
& berenang bersama para pangeran
di telaga selembut azan pertama
di bumi kain itu panji kesucian
hukum beralih fungsi
ditinggikan melebihi tubuh empunya
ditarik melilit leher gadis-gadis
agar tahu diri sebelum berani menyebut cinta
tiada yang mencatat
siapa pencuri pertama
hanya nama perempuan
yang terus-menerus ditagih
atas kehilangan
surga tetap sepi
saksinya kini menulis buku panduan
tentang cara menjadi bersih
tanpa pernah menyentuh lumpur
yang mereka cipratkan lebih dulu
(Jakarta, Agustus 2025)
–
IBU DIJEMPUT GERIMIS MALAM TADI
pagi menyusupi jendela
aku terbangun
dan tak mendapati ibu
ranjang masih hangat
selimut terlipat rapi
bayang samar gigil di cermin
ibu dijemput gerimis malam tadi
kupanggil namanya
dari balik dada
tak ada gema
luka menyalin dirinya
penuhi ruang kosong tempat
napasku lari berjinjit
sejak itu
aku menjadi tubuh yang menunggu
setiap pagi
siapa tahu ibu kembali
dalam bentuk yang lain.
(Jakarta, Agustus 2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA
