Apa jadinya jika suatu pagi saat kau terbangun dari tidur, ada seorang perempuan di sampingmu, sambil tersenyum lalu mengatakan, ia adalah istrimu dari masa depan. Ia datang bukan untuk mengulang kenangan, tetapi untuk mengubah kebiasaan burukmu pelan-pelan demi melanggengkan kebahagiaan di masa depan?
Inilah premis yang ditawarkan film Sore: Istri dari Masa depan, karya Yandy Laurens yang menghadirkan kisah romantis dibalut fiksi ilmiah. Tokoh Sore melintasi waktu, datang dari masa depan ke masa lalu, dengan satu tujuan: mengubah kebiasaan ‘Jo’ untuk hidup lebih baik. Jika kita mencoba sedikit lebih menyelami, film ini bukan hanya mengangkat tema tentang cinta. Tapi juga soal absurditas dan kebebasan manusia untuk memilih meski tanpa kepastian.
Cerita film ini secara halus, menyiratkan pemikiran Albert Camus tentang Sisifus yang tergambar dalam karakter “Sore”. Sisifus merupakan tokoh dalam mitologi yang dihukum mendorong batu ke puncak gunung, hanya agar melihatnya jatuh kembali, dan mengulang hal itu selamanya. “Sore” pun begitu, ia harus mengulang-ulang peristiwa hanya untuk melihat “Jo” berbuat kesalahan.
Cinta dari Masa Depan
Jonathan adalah seorang fotografer yang tinggal di Kroasia. Suatu pagi, hidupnya berubah ketika Sore, seorang perempuan asing ada disamping tempat tidurnya. Mengaku sebagai istrinya dari masa depan. Sore datang hanya dengan satu tujuan: mengubah kebiasaan “Jo” agar lebih baik.
Baca juga:
Melalui rutinitas sederhana, membuat sarapan, menyajikan kopi, berjalan-jalan di pagi hari, tertawa bersama. Sore mencoba membentuk ulang kebiasaan Jonathan. Namun seperti layaknya kisah-kisah cinta, tidak semua hal berjalan sesuai yang diharapkan. Ada kebiasaan-kebiasaan Jonathan yang merusak semuanya, membuat Sore harus mengulang kembali waktu, memulainya lagi dari awal. Setiap hari Sore datang lagi, mencoba lagi, meski hasilnya tak berubah.
Di sinilah absurditas sangat terasa. Ini bukan sekadar kisah cinta yang mencoba menaklukkan waktu, tapi tentang manusia yang tetap memilih mencintai, meski tanpa jaminan kepastian.
Sisifus dan Absurditas dalam Hidup
Dalam esainya The Myth of Sisyphus, Camus mengajukan satu pertanyaan fundamental: “Apakah hidup layak dijalani?”. pertanyaan ini lahir dari kesadaran manusia akan hidup yang tidak menawarkan makna yang pasti. Kita haus mencari jawaban, tapi dunia tidak memberikan. Kita mencari makna, tapi hidup hanya menyuguhkan pengulangan: bangun, bekerja, makan, tidur, ulang.
Camus menyebut kondisi ini sebagai absurditas. Ketika hasrat manusia yang selalu mencari sesuatu yang bermakna, tapi dunia tidak mampu memfasilitasi hasrat itu. Ketika terjadi pertentangan antara keinginan manusia akan kepastian dan kehidupan justru memberikan ketidakpastian. Dalam mitologi Yunani, Sisifus adalah simbol absurditas. Ia dihukum oleh para dewa untuk mendorong batu ke puncak gunung, hanya untuk melihatnya terjatuh dan mendorongnya kembali, selamanya.
Namun Camus menolak melihat Sisifus sebagai sosok yang tragis, sebaliknya Camus justru membayangkan sisifus ini bahagia. Mengapa? Karena dengan kesadaran penuh, ia tetap memilih mendorong batu itu meski hasilnya selalu sama. Ia memberontak absurditas dengan menerimanya sepenuh hati, dan dalam pemberontakkan inilah sisifus menemukan kebebasan.
Sore adalah Sisifus
Tokoh Sore dalam film karya Yandy Laurens, merupakan Sisifus dalam dunia modern. Ia datang setiap hari, mencoba membantu Jonathan berubah, meski ia tahu kemungkinannya kecil, ia tetap hadir. Bukan karena mendapat kepastian akhir yang bahagia, melainkan karena ia memilih dengan sadar dan dalam pilihan itu muncul kebebasan.
Kita melihat Sore sebagai tokoh yang berani untuk memilih, dari pilihannya untuk terus berjuang pada cintanya membuat kita sadar: kadang, cinta bukan tentang hasil, tetapi tentang kerelaan dan kesediaan untuk tetap hadir, untuk terus mencoba dan berupaya meski semuanya tampak seperti sia-sia.
Irama, Musik, dan Waktu
Yang menarik, film ini tidak hanya bercerita melalui visual yang epik dan dialog-dialog puitis. Musik menjadi elemen penting yang turut serta menghidupkan suasana dan mempertegas perasaan. Lagu-lagu seperti Forget Jakarta dan Terbuang dalam waktu hadir berulang, mengiringi momen-momen intim antara Sore dan Jonathan.
Musik bukan cuma pelengkap adegan, tetapi menjadi bagian dari peristiwa itu sendiri. Seperti ikut menceritakan apa yang sedang dialami dan dirasakan oleh kedua tokoh tersebut. Setiap scene yang berulang menjadi tak tampak membosankan, justru menjadi kenangan yang melekat di kepala saya sebagai penonton.
Ketidakpastian dan Kebebasan dalam Pilihan
Dalam pemikirannya, Camus tidak menawarkan harapan palsu. Ia tidak berkata hidup akan baik-baik saja. Justru, Camus mengajak kita untuk bisa menerima bahwa hidup penuh ketidakpastian. Tetapi, dalam absurditas seperti itu, kita punya kebebasan dalam memilih. Inilah yang dilakukan oleh Sore. Ia hidup dalam ketidakpastian, dalam harapan yang belum tentu terwujud. Tak ada jaminan bagi keinginannya untuk mengubah Jo menjadi lebih baik itu berhasil. Tapi ia tetap memilih hadir, tidak memedulikan hasil, ia hanya mencoba dan terus berupaya pada pilihannya.
Baca juga:
Barangkali kita semua ini seperti Sore, yang mengalami pengulangan hidup terus-menerus, yang selalu mencoba dan bertanya: “apakah hidup ini layak dijalani?” Dan seperti Sore, mungkin jawabannya adalah meski hidup ini absurd, kita harus bersedia menerima itu dan terus menjalani hidup meski tanpa jaminan. Sebab bisa saja, hidup yang layak dijalani bukan hidup yang penuh kepastian, tapi hidup yang penuh kesadaran. Sadar untuk memilih dan bertahan pada ketidakpastian.
Kita pun harus membayangkan kalau Sore bahagia, seperti yang sering ia katakan dalam dialognya: “meski harus mengulang beribu-ribu kali, aku akan tetap memilihmu”. Di tengah ketidakpastian, Sore memilih untuk menerima, mencoba dan berupaya pada cintanya. Sore memberontak terhadap absurditas dan karena itulah ia menemukan kebebasan. (*)
Editor: Kukuh Basuki
