Perempuan kelahiran 2007 yang gemar menulis sebagai pelampiasan dari luka hatinya. Tulisannya kerap ia bagikan di Instagram @dwkspoetry

Hanya di Matamu Aku Ingin Mati dan Puisi Lainnya

dian wulan

1 min read

Hanya di Matamu Aku Ingin Mati

di matamu 
aku selalu ingin berlabuh
melarutkan segala pedih
yang membunuh 

hanya di matamu 
gelap tak lagi menakutkan 
jalanku terang, 
aman dari kesedihan 
yang menyerang 

di matamu 
aku ingin mati 
dengan sisa-sisa cinta 
yang kau labuhkan 
pada tubuhku
ia dipegang kendali
lihai tanganmu 

(2025)

Utuh dalam Pelukmu 

jika kau ingin bertandang ke rumahku 
bawalah sekantung cahaya dan
sepotong rembulan 
sebagai buah tangan bila nanti
aku bertanya, “apa yang kau peroleh 
dari kepergianmu?” 

aku hanya ingin kembali utuh 
setelah kasih sayangku 
kau bawa kabur tak beralasan
bertanggal pecahan 
di ujung mataku 

di dalam sana,
tertera alamat menuju hatiku,
barangkali kau tersesat pada 
mata-mata yang menindasmu

hanya hatiku, setia
menunggu kepulanganmu
meski—aku telah separuh
dan ingin utuh dengan 
pelukmu

(2025)

Sayang, Sudahkah?

sayang … 
nyenyakkah tidurmu di malam ini?
aku lihat matamu menyusuri kehidupan 
pada sepetak bulan biru yang
bertengger kesepian di langit sana

sudahkah kau terima 
penggalan lagu bermelodi metal 
dari bintang yang kau geluti senyum itu?
ia sengaja aku titipkan untuk
berpesta dengan riuhmu

sayang … 
sudahkah permainanmu 
di lahan-lahan basah itu?
dari mataair yang kau cipta
di debar dada penuh cinta

sayang,
sudahkah? 

(2025)

Menua Bersama

bagaimana kalau begini saja; 
kau berkelana
aku juga berkelana

setelah itu, 
kita pulang 
ke rumah 
bersama-sama 

bercerita,
lalu bercinta, 
dan melahirkan puisi 
yang akan kita baca 
saat berkelana;
agar tak ada sesiapa 
yang bisa membuat debar 
dadamu—selain aku

(2025)

Sepotong Ingatan Perihal Kita 

beberapa hari terakhir ini
aku sering menanyakan perihal 
aku, kau dan bahagia
bukan pada sesiapa
tapi pada sepotong ingatan 
yang masih terasah di kepala

di ingatan kemarin 
kau banyak tawa 
banyak pula dukanya 
tapi, tangismu tak pernah 
mengaliri dadaku,
apakah ia menjelma tenang 
agar tak ada tanya perihal—
“aku benar rumahmu, bukan?”

telah kugoreskan beberapa sayatan
pada sebongkah sunyi yang berdiri 
kokoh di antara kita, sesekali 
kutuangkan tintanya yang berdarah,
manatahu kau akan membaca, lalu 
bergegas membedah hatimu dan 
mencari aku di antara banyaknya itu

*****

Editor: Moch Aldy MA

dian wulan
dian wulan Perempuan kelahiran 2007 yang gemar menulis sebagai pelampiasan dari luka hatinya. Tulisannya kerap ia bagikan di Instagram @dwkspoetry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email