Hanya di Matamu Aku Ingin Mati
di matamu
aku selalu ingin berlabuh
melarutkan segala pedih
yang membunuh
hanya di matamu
gelap tak lagi menakutkan
jalanku terang,
aman dari kesedihan
yang menyerang
di matamu
aku ingin mati
dengan sisa-sisa cinta
yang kau labuhkan
pada tubuhku
ia dipegang kendali
lihai tanganmu
(2025)
–
Utuh dalam Pelukmu
jika kau ingin bertandang ke rumahku
bawalah sekantung cahaya dan
sepotong rembulan
sebagai buah tangan bila nanti
aku bertanya, “apa yang kau peroleh
dari kepergianmu?”
aku hanya ingin kembali utuh
setelah kasih sayangku
kau bawa kabur tak beralasan
bertanggal pecahan
di ujung mataku
di dalam sana,
tertera alamat menuju hatiku,
barangkali kau tersesat pada
mata-mata yang menindasmu
hanya hatiku, setia
menunggu kepulanganmu
meski—aku telah separuh
dan ingin utuh dengan
pelukmu
(2025)
–
Sayang, Sudahkah?
sayang …
nyenyakkah tidurmu di malam ini?
aku lihat matamu menyusuri kehidupan
pada sepetak bulan biru yang
bertengger kesepian di langit sana
sudahkah kau terima
penggalan lagu bermelodi metal
dari bintang yang kau geluti senyum itu?
ia sengaja aku titipkan untuk
berpesta dengan riuhmu
sayang …
sudahkah permainanmu
di lahan-lahan basah itu?
dari mataair yang kau cipta
di debar dada penuh cinta
sayang,
sudahkah?
(2025)
–
Menua Bersama
bagaimana kalau begini saja;
kau berkelana
aku juga berkelana
setelah itu,
kita pulang
ke rumah
bersama-sama
bercerita,
lalu bercinta,
dan melahirkan puisi
yang akan kita baca
saat berkelana;
agar tak ada sesiapa
yang bisa membuat debar
dadamu—selain aku
(2025)
–
Sepotong Ingatan Perihal Kita
beberapa hari terakhir ini
aku sering menanyakan perihal
aku, kau dan bahagia
bukan pada sesiapa
tapi pada sepotong ingatan
yang masih terasah di kepala
di ingatan kemarin
kau banyak tawa
banyak pula dukanya
tapi, tangismu tak pernah
mengaliri dadaku,
apakah ia menjelma tenang
agar tak ada tanya perihal—
“aku benar rumahmu, bukan?”
telah kugoreskan beberapa sayatan
pada sebongkah sunyi yang berdiri
kokoh di antara kita, sesekali
kutuangkan tintanya yang berdarah,
manatahu kau akan membaca, lalu
bergegas membedah hatimu dan
mencari aku di antara banyaknya itu
*****
Editor: Moch Aldy MA
