Tunggu Ibumu Mati Dulu

9 min read

Jeje duduk di bangku panjang terminal sambil menghisap rokok. Gumpalan asap bergulung-gulung keluar dari mulutnya. Ia merasakan sekujur tubuhnya tegang. Dilemparkannya putung rokok ke tanah lalu menggilasnya dengan alas sepatu. Hampir setengah jam ia berada di sana, menunggu lelaki yang telah meninggalkan ibunya dua puluh tahun lalu.

Gadis itu baru saja memikirkan dalam kepalanya kata-kata yang pantas untuk membuka percakapan ketika Pak kernet tua yang membantunya terlihat keluar dari sebuah warung sambil menyeret seorang lelaki paruh baya. Lelaki itu terlihat kesal diperlakukan demikian. Ia mengenakan kemeja putih lusuh yang belum terkancing sempurna dan langkahnya terseok-seok seperti seorang yang mabuk. Satu tangannya bahkan masih memegang kartu-kartu domino.

“Kabar terakhir mengatakan ayahmu bekerja sebagi supir angkot. Orang bilang ia sering terlihat di sebuah terminal kecil di Samarinda. Dia mungkin sedikit agak kasar. Tapi jangan salahkan dia. Begitulah sifatnya sejak dulu,” Kata ibunya suatu malam.

“Seberapa besar peluang aku bisa mengenalinya?”

“Dalam sekali tatap. Kau bahkan tak perlu apa-apa untuk mengenalinya,” ibunya berkata serius. “Ia mewariskan wajah tirus dan mata indahnya kepadamu. Sayangnya kau juga ikut mewarisi sikap ugal-ugalannya. Namun, yang terpenting kau adalah darah dagingnya.”

Jeje bangkit berdiri. Pak Kernet Tua berbicara kepada lelaki itu sambil menunjuk ke arahnya. Lelaki yang sedang berjalan ke sini itu pastilah ayahku, batin Jeje. Garis wajahnya, tatapannya yang teduh tapi terlihat sedikit lelah. Kami berdua memang sangat mirip.

Kini jarak mereka kurang dari seratus meter. Jantung Jeje berdebar kencang, mulutnya kering. Hai, aku adalah anakmu, anak dari perempuan yang kau telantarkan dua puluh tahun lalu. Tidak. Jeje menggeleng. Itu terdengar kasar. Pak Taslim, kau ingat aku. Aku Jeje. Hajriah. Kaulah yang memberi nama padaku. Bayi perempuan yang lahir dua puluh tahun lalu. Apa-apaan itu. Mirip dialog sinetron FTV.

***

Taslim tak sepenuhnya salah ketika meninggalkan pacar dan bayi dalam kandungannya dua puluh tahun lalu. Itu bukan karena ia seorang bajingan atau tidak mau bertanggung jawab sema sekali. Mereka adalah dua sejoli yang sedang dimabuk asmara. Taslim berusia dua puluh dua tahun dan Eda delapan belas ketika keduanya jatuh ke dalam apa yang disebut oleh leluhur kami sebagai Appakasirik, menumpahkan kehormatan. Keluarga Taslim bertindak cepat dengan mengajukan pernikahan yang pantas demi menutupi aib. Namun, keluarga si gadis menolak usulan tersebut.

Orang di balik penolakan ini adalah ibu si gadis. Karaeng Bau’ adalah janda dari seorang bekas lurah yang memiliki nasab kepada bangsawan pendiri kota pelabuhan kecil kami. Selama beberapa generasi keluarga mereka mendapatkan hak tak tergugat untuk memimpin rakyat. Karaeng Bau’ merupakan sisa-sisa generasi terdahulu yang sangat menjunjung tinggi kehormatan. Ia tak segan untuk mengungkit-ungkit kejayaan leluhurnya jika menemukan sesuatu terjadi di luar kelaziman dalam masyarakat.

Ketika imam desa muncul membawa tawaran keluarga Taslim, ia langsung naik pitam. Diusirnya Pak Imam, meski lelaki tua itu bersikeras bahwa sesuatu telah hidup dan tumbuh dalam perut anak gadisnya. Janda itu hanya melempar cuih sambil mengibas-ibaskan tangan dengan angkuh.

“Bahkan jika itu benar dan memang anak itu harus lahir maka semuanya sudah takdir. Aku akan membesarkannya dengan kedua tanganku sendiri,” Ia berkata. “Tapi takdir tak sudi mencatat pernikahan antara seorang pemuda yang tidak jelas asal-usulnya dengan putriku.”

Bukannya keluarga Taslim tak mau berusaha lebih. Mereka sudah berjuang sampai batas terjauhnya. Tetapi seperti yang terjadi dalam masyarakat feodal mana pun, pikiran masyarakat selalu dikutuk untuk berjalan lebih lambat dari perubahan-perubahan itu sendiri. Taslim dan keluarganya tak mendapat dukungan. Orang-orang justru berbalik menyerang dan mencemoohnya. Mereka dianggap telah mencederai keluhuran tradisi dan kota. Merasa tak punya lagi harapan, Taslim sampai ke pikiran terburuknya: Silariang, kawin lari.

“Tetapi lari hanya akan memperbesar masalah,” Eda melepaskan paksa tangannya dari genggaman Taslim yang menariknya naik ke atas Panther, angkutan antar kota. Itu terjadi pada suatu malam yang kacau. Eda melompat keluar jendela kamarnya dengan membawa buntalan pakaian. Seperti yang direncanakan, Taslim dan keluarganya telah menunggu di perbatasan pada pukul dua belas malam.

“Tidak, ndi,” balas Taslim, “Kita cuma pergi sebentar. Kita meninggalkan Pak Imam di sini untuk bernegosiasi. Ibumu tak akan punya pilihan lain selain memintamu kembali dan kita akan menggelar pernikahan baik-baik.”

Sebuah keanehan bahwa nyali Eda menyusut di saat-saat terakhir. Mungkin karena rencana telah ketahuan terlalu dini dan ia tak bisa membayangkan hukuman apa yang akan dijatuhkan atas tindakan melanggar adat ini. Di kejauhan terdengar sirene patroli polisi meraung-raung, warga berteriak memanggil-manggil namanya. Karaeng Bau’ pasti telah menggerakkan seluruh kota dengan para lelaki yang menenteng senapan pemburu babi dan parang.

“Pergilah, aku tidak bisa,” Eda mendorong tubuh Taslim ke mobil. “keselamatanmu dan keluargamu masih lebih penting.” Terdengar langkah massa semakin mendekat. Air mata Eda membasahi pipinya, Taslim memeluknya dan ikut menangis. Sebelum naik ke mobil lelaki itu mengelus perut kekasihnya yang telah membesar seperti semangka, menciuminya.

“Percayalah saya akan kembali untukmu dan anak kita,” ia mengusap air mata di pipi Eda, menangkannya. “Mungkin sepuluh atau dua puluh tahun lagi.”

“Itu terlalu lama, Daeng.”

“Tunggu ibumu mati dulu,” tapi ia buru-buru menambahkan, “Apa yang sanro, dukun itu katakan?”

“Perempuan. Kemungkinan anak kita perempuan.”

“Namai dia Hajriah, Hajrah atau semacamanya,” genggaman tangan mereka perlahan lepas seiring mobil yang bergerak perlahan. Eda bahkan belum menanyakan mengapa harus Hajriah sementara Taslim telah menaikkan kaca jendela secara penuh. Mobil itu segera terhisap di kegelapan malam dan bersamaan dengan itu para pengejar telah sampai di batas kota.

***

Usia Jeje masihlah terlalu kecil untuk mengerti mengapa semua hal terkait hidupnya mesti diurusi oleh si nenek. Pada hari penerimaan rapor, bukan ibunya, melainkan sang neneklah yang menemani Jeje kecil ke sekolah. Nenek memilihkan sendiri seragam sekolah untuknya. Ia mengancam kepala sekolah untuk memberikan cucunya bangku paling depan, mengingatkan di atas tanah hibah milik siapa sekolah itu berdiri. Nenek akan melakukan itu kepada siapa saja karena ia berhak memonopoli setiap pembicaraan di mana pun. Sesekali, jika hatinya sedang kesal ia akan mengeluh panjang lebar tentang hidupnya yang perlahan-lahan hancur karena kelakuan anak perempuan satu-satunya.

Nenek memang tidak begitu senang dengan ibu Jeje. Ia akan selalu mencari kesempatan menyerang anak perempuannya itu di depan orang-orang. Semula Jeje tak mengerti apa yang terjadi antara mereka. Keduanya menunjukkan sikap bermusuhan satu sama lain. Sering terjadi pertengkaran di dalam rumah itu. Mula-mula kecil dan berlangsung sesekali. Lalu cekcok itu membesar menjadi nyaris setiap malam. Neneknya akan berteriak yang juga dibalas dengan nada tinggi oleh ibunya. Tetangga harus turun tangan untuk memisahkan mereka.

Ketika usianya tiga belas tahun Jeje melihat ibunya mengemas pakaiannya dan keluar dari rumah. Ia meminta Jeje tetap tinggal bersama nenek. Ibunya lalu mengontrak sebuah kios di pasar dan berjualan sembako. Neneknya hanya memberi cucunya ijin kunjungan sekali seminggu. Ketika ia bertanya apa yang terjadi, neneknya membalas dengan mengatakan bahwa ibunya adalah manusia paling tidak tahu diuntung sedunia.

“Ia mau cari lelaki dan hidup bahagia,” kata neneknya ketus.

“Siapa lelaki itu?”

“Tidak tahu.”

“Apakah dia adalah ayahku?”

“Ayahmu itu sudah tidak ada di dunia. Ia juga tidak pernah menikahi ibumu. Jadi, jangan pernah membicarakan orang itu lagi di depanku.” Neneknya menggeleng-geleng tak habis pikir. “Usiamu bahkan belum menyamai ibumu waktu itu tapi kau sudah mulai menunjukkan tanda-tanda yang bakal mengirimku ke kuburan lebih cepat.”

Jeje tidak percaya apa yang dikatakan neneknya. Selama ini ibunya tak pernah begitu peduli dengan urusan pernikahan meski usianya masihlah tiga puluh tahun dan penampilannya juga masih terlihat cantik dan terawat. Beberapa lelaki memang pernah terlihat muncul di rumahnya, tapi tak pernah lebih jauh dari sekadar bertamu. Jeje ingat Pak Karim, yang selalu berkunjung ke rumahnya setiap minggu. Ia adalah duda berusia empat puluh tujuh dan bekerja sebagai kepala Dinas Kelautan Kabupaten. Jeje senang dengannya karena sering dibelikan boneka dan buku tulis. Tapi ibunya sama sekali tak menunjukkan sikap bersahabat. Ia bersembunyi dalam kamarnya, menguncinya dan tak mau keluar, meski neneknya menggedor-gedor pintu dengan gigi bergemelutukan.

Dan bukan cuma seorang itu. Pernah juga muncul seorang dokter yang lebih muda dan tampan, membuka klinik sendiri di Makassar. Lalu ada juga pegusaha batubara dari Kalimantan sampai guru sekolah dasar yang juga masih kerabat jauh. Namun, semua tawaran itu ditolaknya. Mungkin itulah alasan mengapa hubungan antara nenek dan ibunya menjadi renggang.

***

Suatu hari setelah jam sekolah di SMA, Jeje berkunjung ke toko kelontong ibunya. Ia melihat ibunya sedang meliter beras dari karung ke baskom. Ibunya nampak lelah, kerutan tipis mulai terlihat di bawah matanya. Usianya tiga puluh tujuh tahun.

“Mengapa tidak menikah saja?”

“Mengapa kau bertanya seperti itu?”

“Kupikir itu perlu,” jawab Jeje, “Kau semakin menua. Mestinya butuh suami buat bantu-bantu pekerjaan.”

“Aku tidak akan menikah dengan lelaki mana pun yang diajukan nenekmu.”

“Apa tidak risih mendengar orang-orang berbisik di belakangmu?”

Ibu jeje berhenti dan berbalik. Konsentrasinya buyar seketika. Ia telah menghitung literan pada angka yang sama berkali-kali. Ia memandangi anak gadisnya lekat-lekat, mencari tahu maksud tersembunyi dari pembicaraan ini.

“Aku tahu kau merawat dirimu setiap waktu. Kau berusaha agar tidak kalah oleh usia yang membawa pergi kecantikanmu sembari menjaga harapan bahwa lelaki itu muncul kembali ke sini dan membawamu pergi, kan? Tapi, sampai kapan?”

“Ucapanmu persis seperti nenekmu,” Ibunya bangkit berdiri dan menyorongkan literan ke hidung Jeje. “Sekarang, anak yang kulahirkan sendiri ikut berkomplot untuk menyerangku. Memangnya siapa yang butuh lelaki, heh? Demi apa? Menjagaku? Aku bisa melakukan semuanya sendiri.”

“Tapi apa nanti yang akan dikatakan orang-orang?”

“Heh, jangan berlagak peduli. Gadis sepertimu tak tahu apa-apa. Lihatlah dirimu, cambuk rotan nenekmu bahkan tak bisa menahanmu untuk sesaat saja melepas rokok.” Ibunya merebut puntung rokok dari bibir Jeje lalu menginjaknya ke tanah. “Di usia sepertimu, aku tak pernah berani untuk menyebut-nyebut nama lelaki. Tapi kau malah mengecat rambutmu seperti kuda balap, menindik hidung, dan berboncengan motor dengan lelaki mana saja seenakmu. Memangnya aku tidak mendengar bisik-bisik di kiri kananku. Telingaku sudah tuli dan hatiku mati rasa menerima cercaan orang-orang. Sejak kau dilahirkan…”

“Itu karena kau begitu keras kepala,” potong Jeje kasar. Sepasang air mata mengalir perlahan di pipinya, “Kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Cinta pertama sialanmu itu. Kau pikir aku tidak menderita karena drama yang kalian buat. Kau dan nenek sama saja. Dua perempuan keras kepala yang saling meneriaki muka satu sama lain. Hanya mementingkan diri sendiri, merasa paling benar sendiri. Kalian seolah-olah berpikir telah melakukan hal yang benar lalu terkejut ketika anak dan cucunya menjadi seperti ini. Kalian jangan berharap mencium wangi mawar di antara bunga bangkai…”

“Dan nenekmu pasti akan mati berdiri jika melihatmu ikut-ikutan menjadi bunga bangkai,” ibunya tak mau kalah.

Terjadi pertengkaran hebat yang diselingi tangisan di sana sini. Tetangga kios berkerumun menyaksikan ibu dan anak itu saling melempar tuduhan.

***

Jeje tenggelam dalam dekapan ibunya, duduk di depan toko kelontong. Hari telah sore dan air mata telah mengering. Suasana pasar terasa lengang. Ibunya mengelus-ngelus poni Jeje dan bertanya-tanya dalam hati kapan terakhir kali ia memeluk anak gadisnya sedekat ini.

“Apakah kau yakin lelaki itu bakal menepati janjinya?” Jeje bertanya lagi.

Ibu Jeje menggeleng. Kali ini tanpa amarah.

“Bisa jadi ia telah menikah dan berkeluarga.”

Ibu Jeje menarik napas dalam. “Kau tahu, Nak. Aku bisa saja menerima lamaran pak dokter atau lelaki mana pun yang ditawarkan nenekmu dan hidup bahagia. Jika itu terjadi, hubungan kami mungkin tidak akan sehancur ini dan kau tak perlu melalui semua penderitaan. Namun, aku selalu takut pada hari esok. Bagaimana jika ayahmu kembali ke sini dan menemukanku sebagai pengkhianat.”

“Tapi mustahil menunggu nenek mati.”

“Apakah kau pernah mengharapkannya juga?” Sang ibu menatap anak gadisnya.

“Nenek mati?”

Ibunya tergelak pendek, “Kehadiran ayahmu.”

“Kau tak bisa merindukan seseorang yang tak pernah temui dalam hidupmu. Tapi tentu saja, aku selalu merindukan sosok ayah. Ketika teman-temanku bermasalah di sekolah, ayah mereka akan muncul. Jika mereka tidak punya ayah maka keluarga mengirim saudara laki-lakinya. Namun, aku harus menanggung malu karena lagi-lagi harus berurusan dengan perempuan tua yang merasa tahu segalanya. Nenek begitu yakin bisa mengatasi setiap masalah.”

“Suatu hari ia mencambukku dengan rotan di betis karena menemukan foto seorang lelaki di ponselku. Meski aku telah memohon ampun dan menangis di kakinya ia terus mencecarku dengan mengatakan bahwa aku akan mengikuti jejakmu, hamil dan ditinggalkan.”

“Lalu, suatu pagi aku terbangun dan memutuskan untuk menghentikan semua ini. Mula-mula aku melanggar jam pulang, lalu berturut-turut, seperti yang kau lihat, menanam besi di hidung dan lidahku, mewarnai rambut. Semua itu kulakukan semata untuk membuat nenek kesal.”

“Kau telah membuatnya kecewa,” kata ibunya.

Jeje mengangkat bahu. “Aku tidak tahu ke mana semua ini akan membawa kita. Nenek saat ini sedang sekarat. Dokter mengatakan tekanan darah nenek sangat tinggi. Kesehatannya memburuk. Dua hari lalu ia terjatuh dari ranjang. Sakking, tukang masak di rumah kita yang menemukannya pertama kali pagi itu mengatakan padaku bahwa nenek sedang berusaha meraih rotan yang tergantung di dinding –Ia mungkin ingin memukulku lagi sebelum berangkat ke sekolah- tapi ia tak mampu menyeimbangkan diri dan roboh menimpa kursi.”

Ibunya memandang lurus ke depan. Seperti memikirkan sesuatu yang rumit, agak lama. Jeje harus menahan nafas menunggu reaksi ibunya, yang matanya mulai berkaca-kaca. Satu tangisan lain untuk mereka sore itu, batin Jeje.

“Apa kau tidak kasihan padanya?”

“Kasihan?” Ia menatap mata ibunya. “Aku kasihan padanya. Tentu saja. Tapi aku juga kasihan kepadamu sebagaimana kepada diriku sendiri.”

Tiga hari setelah percakapan itu, nenek Jeje terkena serangan jantung dan meninggal dunia.

***

Kini jarak mereka kurang dari lima puluh meter. Di bawah terik pukul dua siang lelaki itu harus memayungi pendangannya dengan tangan untuk melihat sosok gadis dalam jangkauannya. Ia berhenti sesaat memberikan jalan bagi sebuah bus untuk lewat. Bus itu tipe High Deck, dan nampaknya hendak memutar untuk parkir. Lelaki itu terhalang oleh badan bis yang panjang.

Waktu terasa berhenti bagi Jeje dan ia tiba-tiba diserang oleh sejenis perasaan cemas. Enam bulan berlalu setelah kematian neneknya, keyakinan dalam diri ibunya berganti menjadi rasa putus asa. Kekasih yang ia tunggu dengan setia tidak datang untuk menengok dirinya dan anaknya.

Baru malam tadi Jeje memutuskan untuk mencari tahu jawabannya. Gadis itu mengemasi pakaiannya. Mengantongi sepotong kertas bertuliskan alamat ayahnya ia mengambil penerbangan pertama ke Kalimantan subuh-subuh sekali untuk bikin perhitungan dengan apa yang disebut ibunya sebagai nasib.

Bus telah terparkir menyisakan asap bercampur debu. Jeje merapikan poninya dan mengelap tangannya yang berkeringat di jinsnya dan mengambil sebatang rokok lagi. Senyum mengambang di wajahnya. Ia tidak boleh tegang. Dan ketika debu-debu terakhir telah tersibak ia kembali melihat sosok ayahnya. Ayahnya, yang saat ini sedang berjongkok dan berbicara dengan bocah laki-laki tiga tahun. Ayahnya tersenyum kepada anak itu lalu menggendongnya. Siapa anak laki-laki itu? Dari mana ia muncul dan mengapa ayahnya terlihat begitu bahagia? Jeje melihat seorang perempuan paruh baya tengah menggendong bayi muncul dari suatu tempat entah di mana. Ayahnya berbicara kepada perempuan itu –yang kemungkinan besar istrinya.

Kau ini siapa? Dari mana? Dan ada urusan apa kau sama Si Taslim? Kata Pak Kernet Tua. Jeje tak mengatakan hal sebenarnya. Ia berkelit sebagai kenalan tapi tak cukup pintar menemukan alasan, yang mana itu hanya memancing rasa penasaran lebih besar. Pak Kernet Tua memandangi Jeje dari ujung rambut hingga kaki, sedikit kesal karena ekspresinya seperti ingin mengatakan kau-akan-membuatku-dalam-masalah.

Tentu saja, perempuan itu adalah istri ayahnya. Ia telah menikah dan sepasang bocah itu adalah anak-anaknya. Mengapa Jeje begitu terlambat memahami petanda yang diberikan Pak Kernet Tua tadi.

Seperti petir yang menyambar di siang bolong Jeje nyaris kehabisan napas. Dunia di sekelilingnya berputar-putar membuat kesimbangannya goyah. Ia berusaha tegak di atas kedua kakinya tapi pijakannya menghilang. Tanah di bawah kakinya seperti terbuka untuk menghisapnya dalam-dalam, menenggelamkannya. Ia melihat ayahnya dan perempuan itu dalam jarak kurang dari sepuluh meter, mendekatinya penasaran, seakan mencoba melumat dirinya.

Jeje berjalan cepat mengejar angkot yang bergerak keluar pintu terminal. Ia melompat naik dan segera tangisnya pecah setelah mendapati bangku penumpang yang tak ada seorang pun selain dirinya. Sementara angkot itu perlahan memasuki jalan raya Jeje bergerak mendekati jendela belakang dan melihat ayahnya dan istri juga anak-anaknya berdiri di pintu terminal mengikutinya dengan pandangan. Berurai air mata, Jeje menempelkan satu tangannya ke kaca dan berusaha membuka mulutnya. Bibirnya terbata. Tidak seorang pun bisa menangkap maksudnya; tidak si sopir yang memperhatikannya dari spion dalam atau ayahnya yang kini mengangkat sebelah tangan, membalas lambaiannya.

Jeje tahu ayahnya telah mengenalinya. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Sang istri mendekat dan mengelus pundaknya, berusaha menenangkannya. Ketika mobil telah bergerak semakin jauh memisahkan mereka, lelaki itu mengusap matanya dengan lengan kemejanya dan mulai terisak seperti bocah.[]

 

Kaisar Deem

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.