Taylor Swift: Barisan Para Mantan dan Sikap Politik

3 min read

Benarkah Taylor Swift “playing victim”? Kenapa Taylor Swift dicibir saat menyatakan keberpihakan dan sikap politiknya?

Taylor Swift membuka bulan November tahun ini dengan karya baru. Tanggal 12 November lalu Taylor Swift merilis Red (Taylor’s Version) yang terdiri dari 30 lagu di mana beberapa dari lagu tersebut sudah pernah dirilis dalam album Red versi sebelumnya. Tidak hanya album baru, Swift juga merilis short movie berdurasi 10 menit dari lagu All Too WellAll Too Well dipercaya terinspirasi dari hubungan antara Swift dan Jake Gyllenhaal. Di awal short movie tersebut, Swift mengutip kalimat dari Pablo Neruda, “Love is Short, Forgetting is long”. Meski hanya berpacaran 3 bulan lamanya 11 tahun yang lalu namun sepertinya melupakan Jake Gyllenhaal bukanlah hal yang mudah bagi Swift. Dalam lagu All Too Well ini, Swift mencurahkan semua yang dia rasakan selama menjalin hubungan dengan Jake, termasuk perbedaan umur mereka yang terpaut 9 tahun dan dijadikan alasan Jake untuk mengakhiri hubungan mereka walaupun ternyata Jake kembali menjalin hubungan dengan perempuan lain yang terpaut umur cukup jauh dengan Jake.

Swift memang dikenal sebagai musisi yang sering sekali mengisahkan perjalanan cintanya dalam lagu-lagu yang ditulisnya terutama saat dia sedang patah hati. Ada banyak lagu Swift yang bercerita tentang kisah cintanya dengan para mantan. Beberapa yang menjadi hits diantaranya Style, Out of the Woods, dan I Know You Were Trouble yang menceritakan perjalanan kisah cinta Swift dengan Harry Styles. John Mayer juga disebut sebagai sumber inspirasi Swift ketika menulis Dear John. Lalu ada juga Taylor Lautner yang menjadi alasan Swift menulis Back to December.

Setelah Short movie All Too Well dirilis, perkara Swift yang menceritakan mantan lewat lagu kembali menimbulkan perdebatan. Swift dinilai sebagai “player” yang sengaja gonta-ganti pacar kemudian menulis lagu tentang mereka seakan Swift adalah korbannya.

Padahal, menulis lagu tentang mantan kekasih bukan hal yang baru. Ed Sheeran pernah menulis lagu Dont yang ditujukan untuk mantannya Ellie Goulding setelah berselingkuh dengan Niall Horan. Justin Bieber pun beberapa kali menulis lagu untuk mantannya, Selena Gomez. Tapi ketika Swift melakukan hal yang sama,  media menyudutkan Swift seakan Swift yang berpenampilan layaknya wanita polos dan baik-baik tidak seharusnya memiliki banyak mantan dan menceritakan kisah cintanya ke dalam lagu.

Swift mendobrak pandangan seksis tersebut dengan terus berkarya dan tetap produktif selama 15 tahun di industri musik. Demikian pula ketika Swift dicibir hanya bisa menciptakan lagu lagu tentang cinta dan patah hati, Swift membuktikannya lewat karya.

Pandangan Politik

“The game was rigged, the ref got tricked / The wrong ones think they’re right / You were outnumbered this time / But Only the Young / Only the young / Only the young can run”

Sepenggal lirik ini dari lagu Only The Young yang merupakan pesan Swift kepada para pemuda untuk tetap bertahan demi perubahan yang lebih baik.  Only The Young adalah lagu yang ditulis Swift setelah kekalahan Phil Bredesen yang kalah suara dari Marsha Blackburn . Saat itu adalah pertama kalinya Swift mengemukakan sikap politiknya dengan mendukung Partai Demokrat. Swift kala itu secara terbuka menentang caleg Partai Republik Marsha Blackburn yang ia anggap bertentangan dengan nilai yang didukung Swift, seperti kesetaraan perempuan dan perlindungan atas kekerasan terhadap perempuan.

Pernyataan sikap politik Swift itu sempat membuat lonjakan pemilih pemula di pemilu Amerika Serikat. Ada sekitar 65 ribu pendaftar baru hanya dalam 24 jam usai Swift buka suara, sebagaimana yang diceritakan dalam film dokumenter Swift, “Miss Americana”.

Keputusan Swift untuk akhirnya bersuara dalam politik bukanlah keputusan yang mudah dan sempat mendatangkan pertentangan. Swift menyadari bahwa publik mengaharapkan dia yang hanya menulis lagu-lagu cinta dan tidak masuk ke politik. Namun setelah peristiwa kekerasan seksual yang harus dihadapi Swift di tahun 2013 oleh DJ Denver David Mueller pandangan Swift pun berubah. Setelah pelecehan yang diterimanya, Swift melaporkan kejadian tersebut kepada KYGO yang berujung pada pemecatan David. Namun karena tidak terima, David menggugat Swift pada 2015 dengan alasan ‘tudingan palsu’. Setelah melalui proses peradilan yang melelahkan di bulan Agustus tahun 2017 , Swift dinyatakan memenangkan gugatan tersebut.

Swift menceritakan bagaimana dia melalui proses yang panjang untuk memperoleh keadilan pada saat dia membuka konser Reputation Stadium Tour di  Raymond James Stadium. Swift menggambarkan suasana ruang sidang di Denver, Colorado. Dia bersyukur karena juri mempercayai pengakuannya dan memenangkan kasusnya. Sebab, dia tidak akan tahu akan seperti apa jadinya kalau orang tidak mempercayai perkataannya tentang peristiwa tersebut. Namun sayangnya tidak semua korban mendapatkan kepercayaan layaknya Swift. Sering kali korban tidak didengar bahkan disalahkan.

Hal inilah yang menjadi titik balik Swift untuk mulai bersuara mendukung kebijakan publik yang berpihak pada rakyat. Salah satu tindakan Swift yang dilakukan untuk mendukung kebijakan pro rakyat adalah dengan membuat petisi untuk mendukung Undang Undang Kesetaraan.

Tahun 2019, Swift memenangkan Video of the Year di VMA’s untuk video musik You Need To Calm Down. Pada saat menyampaikan pidato penerimaannya, Swift menyuarakan dukungannya untuk Undang-Undang Kesetaraan, undang-undang yang akan melindungi individu LGBTQ dari diskriminasi di tempat kerja, cakupan perawatan kesehatan, dan perumahan. Petisi itu pun ditandatangani lebih dari 500.000 orang.

Pilihan Swift untuk berani menyatakan sikap politisnya mendorong anak muda lainnya untuk mulai melek politik. Bahkan ketika Donald Trumph yang saat itu kecewa dengan pilihan politik Swift yang tidak berada di kubunya, menyatakan bahwa rasa sukanya pada karya karya Swift berkurang 25%  serta komentar komentar negatif dari publik yang mengganggap Swift tidak layak untuk berkomentar tentang politik, Swift menanggapinya dengan mengatakan, “I want to wear pink and tell you how I feel about politics. And I don’t think that those things have to cancel each other out”.

Nadia nadia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.