Doyan musik dan rebahan

Tak Ada yang Heroik dari Aksi Bobol Data Jelang Pemilu

Udin Udin

2 min read

Bagaimana sikap kita setelah mengetahui bahwa data-data pribadi kita dicuri, lalu dijual murah? Sialnya lagi, kita tak mengerti data tersebut akan digunakan untuk apa, untuk siapa, dan akan seperti apa.

Masih segar di ingatan kita bagaimana skandal politik Cambridge Analytica, perusahan komunikasi berbasis data yang berpusat di Inggris, dengan calon kandidat yang menjadi kliennya, Donald Trump, pada pemilihan Presiden AS tahun 2016 lalu. Donald Trump, calon kuat dari Partai Republik, yang berhadapan dengan Hillary Clinton dari Partai Demokrat menggunakan kekuatan Cambridge Analytica sebagai “intel” data para pemilih. Data pribadi 87 juta orang diambil secara ilegal dari Facebook, lalu digunakan untuk mendukung tujuan politik Trump.

Skandal politik ini terdokumentasikan cukup baik lewat sebuah film dokumenter, The Great Hack (2019). Para narasumber adalah aktor yang terlibat secara aktif atas kemenangan Donald Trump sebagai presiden ke-45 dengan sokongan Cambridge Analytica. Para aktor penting di balik layar ialah Alexander Nix, CEO Cambridge Analytica, Christopher Wylie, seorang ilmuan data dan otak perusahan tersebut, dan direktur pengembangan bisnisnya, Brittany Kaiser. 

Belajar dari skandal politik Cambridge Analytica, kita bisa menelaah masalah peretasan data pemilih di situs KPU yang dilakukan oleh Jimbo kemarin. Kita perlu bertanya, mengapa pencurian data ini terjadi pada kita dan bukan yang lain? Apakah Jimbo punya motif lain selain menguji tingkat keamanan siber kita?

Baca juga:

Setelah muncul pemberitaan bahwa 204 juta data pemilih di situs KPU telah dibocorkan oleh si pengutil bernama Jimbo itu, kekhawatiran kita atas penyalahgunaan data pribadi sehubungan dengan Pemilu 2024 makin tak tertolong. Kita tak ingin data kita dicuri dan dimanfaatkan untuk tujuan yang aneh-aneh di tahun politik ini. 

Seperti yang dikatakan Carole Cadwalladr, jurnalis The Guardian yang meliput kasus Cambridge Analytica, para peretas umumnya menargetkan negara-negara berkembang. Indonesia, misalnya, terhitung sejak Agustus-Desember 2022, pencuri data seperti Lolyta, Bjorka, Desorden, Strovian, dan SspX berhasil menjual data pribadi yang terhimpun di berbagai institusi publik seperti Kominfo, KPU, BUMN, bahkan Badan Intelijen Negara.

Menebak Motif Jimbo

Dalam sebuah wawancara via WhatsApp dengan jurnalis Narasi Newsroom, Jimbo menyatakan bahwa ia tak mempunyai alasan spesifik untuk mencuri data pemilih. Namun, Jimbo mengirimkan data pemilih tersebut ke forum peretas internasional, Breachforum, untuk dijual dengan harga 1,14 miliar rupiah.

Tanpa motif, data pemilih yang dicuri Jimbo hanyalah tumpukan sampah digital yang tak berguna. Ia akan berguna ketika si peretas menjualnya demi misi-misi tertentu. Data itu bernilai tinggi bagi perusahaan besar seperti Meta, Google, dan Amazon, utamanya untuk pengembangan kecerdasan buatan dan iklan digital tertarget.

Namun, sulit membayangkan Jimbo hanya memiliki niat tunggal untuk menjualnya bagi kepentingan bisnis perusahan-perusahan besar. Mengapa?

Kita tahu bahwa berbagai platform digital telah terlebih dahulu menyiapkan database atau pangkalan data bagi pengguna mereka. Segala aktivitas kita saat bermain dan bekerja di platform digital telah disimpan sebagai data mentah yang siap diolah. Artinya, Jimbo akan punya sedikit peluang untuk memperoleh keuntungan yang besar atas hasil penjualan datanya.

Selain itu, peretasan data pemilih ini baru terjadi menjelang Pemilu 2024. Linimasanya mirip dengan skandal politik Cambridge Analytica. Tidak menutup kemungkinan, data pemilih ini akan disalahgunakan untuk memenangkan capres-cawapres, partai, maupun caleg tertentu dalam pemilu tahun depan.

Jimbo mungkin bisa lebih cuan kalau menjual data pemilih ke calon pembeli yang berkaitan dengan, misalnya, timses capres-cawapres. Data itu bisa dianalisis untuk mengetahui kesukaan kita, preferensi kita soal kriteria pemimpin ideal, dan sebagainya. Pihak timses capres-cawapres akan sangat diuntungkan dari adanya data bocor ini. Data kita bisa mereka jadikan modal untuk menyusun strategi kampanye hitam lewat iklan, opini, berita, dan tren viral yang menarik simpati calon pemilih secara subtil.

Kontestasi politik bisa sangat membabi buta, menghalalkan segala cara, dan melangkahi sembarang etika. Maka dari itu, sudah sewajarnya kita terus mencurigai motif Jimbo dan peretas-peretas lainnya, jangan malah latah menjadikannya mesias seperti ketika viral Bjorka. Jimbo yang tampak tak punya minat politis ini bisa jadi menyimpan motif seperti orang-orang di balik Cambridge Analytica.

 

Editor: Emma Amelia

Udin Udin
Udin Udin Doyan musik dan rebahan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email