saya tertarik terhadap isu-isu sosial yang berkaitan dengan hukum, masyarakat miskin dan marginal.

Tak Ada Makan Siang Gratis, Tak Ada Kampus Filantropis

Evah Soolihah

2 min read

Saya melihat dan mengalami sendiri bagaimana institusi pendidikan hanya memanfaatkan masyarakat untuk mengisi pundi-pundi uang. Badan-badan pedagang ilmu ini tega memeras habis keringat para orangtua yang ingin memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya dengan harapan dapat meningkatkan derajat keluarga.

Pengadaan pendidikan yang baik yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara. Namun, negara masih gagal menyediakannya. Sebab utamanya ialah adanya kepentingan politik para politisi-pengusaha yang rakus mencari untung melalui kebijakan-kebijakan yang mereka buat sendiri.

Sedih sekali rasanya melihat banyak orangtua yang harus berutang sana-sini untuk membayar uang kuliah yang angkanya kian tahun kian bengkak. Betapa miris dan menyakitkan fakta bahwa ada orang yang sekali makan bisa menghabiskan jutaan rupiah, sedangkan banyak orang lain yang harus pontang-panting melunasi tagihan uang kuliah. Saya masuk dalam golongan yang kedua.

Saya adalah salah satu korban kegagalan pemerintah dalam menjalankan tugasnya menghadirkan pendidikan yang layak dan murah. Saya terpaksa masuk kuliah di salah satu kampus swasta kecil di Kuningan, Jawa Barat.

Oleh kampus, saya ditawari beasiswa yang lumayan. Biaya kuliah per semester senilai Rp1.600.000,00 dipotong menjadi Rp400.000,00 saja. Sebagai gantinya, saya harus bekerja dari pukul 8.00 sampai pukul 12.00 setiap hari, baru kemudian menjalani perkuliahan yang dilaksanakan mulai pukul 13.30-17.00. Rutinitas itu saya jalani setiap hari selama 4 tahun, ditambah saya harus mengabdi selama satu tahun dengan upah yang sangat kecil setelah lulus. Sayangnya, baru belakangan saya kenal konsep eksploitasi.

Selama di kampus saya harus tunduk dengan peraturan, tanpa bisa mengkritiknya karena peraturan itu dianggap sebagai keputusan terbaik. Mutlak. Final. Ditambah dengan dogma-dogma agama yang sangat kuat karena kampus masih di bawah naungan yayasan pondok pesantren. Bonusnya, saya juga dididik menjadi kader sebuah partai politik.

Untungnya, saya tidak jadi full bekerja selama empat tahun karena pandemi. Pekerjaan bisa saya lakukan dari rumah, kuliah pun dilangsungkan secara online. Saya sangat bersyukur, selama dua tahun saya mengerjakan tugas yang tidak terlalu berat. Namun, ada beberapa teman yang diberi tugas berat, yang seharusnya pantas digaji lebih. 

Saya kasihan kepada teman-teman saya yang tenaganya dieksploitasi hanya untuk bisa berkuliah. Saya juga kasihan kepada diri saya sendiri. Sayangnya, teman-teman saya tidak menyadari bahwa mereka sedang dieksploitasi dan masih berpikiran positif. Betapa baiknya mereka.

Saya jadi sering membolos setelah sadar bahwa beasiswa yang ditawarkan kepada saya saat itu hanyalah embel-embel untuk mengeksploitasi tenaga saya. Beasiswa itu sebenarnya bukan beasiswa, saya tetap membayar uang kuliah menggunakan tenaga.

Sekarang, teman-teman saya yang tulus mengabdi itu telah menjadi pegawai di sana. Sekarang, saya mengasihani diri saya sendiri karena masih menganggur. Saya tidak ingin terjebak di tempat itu. Saya pun masih mempertanyakan apakah sistem beasiswa yang menjebak itu masih berlaku sampai saat ini.

Baca juga:

Itulah pengalaman saya untuk bisa meraih pendidikan tinggi yang saya idam-idamkan dari dulu. Tentu saja, meskipun banyak pahitnya, ini juga sebuah privilege bagi saya.

Pendidikan yang berorientasi profit bukan omong kosong yang dilebih-lebihkan. Jauh sekali rasanya kalau pendidikan seperti ini dibilang berorientasi mencerdaskan anak bangsa. Pemerintah jelas belum bisa menghadirkan pendidikan yang murah bagi masyarakat miskin. Sialnya, program-program yang katanya membantu ternyata juga bukan solusi untuk lepas dari jerat pendidikan yang mahal.

Cita-cita Indonesia Emas 2045 akan sangat mustahil terjadi apabila biaya pendidikan kita tetap tinggi dan semakin tinggi sampai-sampai mahasiswa-mahasiswanya terjebak lingkaran setan bernama pinjol. Perdebatan tentang lulusan sarjana versus lulusan sekolah menengah tetap riuh biarpun kita semua adalah korban dari negara yang gagal mengurus pendidikan.

Ironisnya, pendidikan yang selama ini dikatakan hanya mencetak buruh, bukan mendidik manusia yang berdaya dan berkualitas, ini pun tak mampu menghasilkan buruh yang siap kerja. Buruh-buruh tak berkualitas ini berujung melakoni pekerjaan yang tak berkualitas pula. Lagi-lagi, ini lingkaran setan yang ujung pangkalnya adalah ketidakbecusan negara menghidupi warganya. Selama masih begini, jangan mimpi jadi negara maju.

Negara harus lebih jor-joran berinvestasi di dunia pendidikan. Anggarkan dana sebesar-besarnya untuk menyediakan pendidikan berkualitas baik dengan harga murah, serta mudah diakses. Pendidikan adalah kunci memberdayakan manusia. Tanpa ada program makan dan susu gratis pun, orang akan bisa sendiri mencari makan yang layak bila memperoleh pendidikan yang berkualitas.

 

Editor: Emma Amelia

Evah Soolihah
Evah Soolihah saya tertarik terhadap isu-isu sosial yang berkaitan dengan hukum, masyarakat miskin dan marginal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email