Surat untuk Pemikir Muda (M. Rafi Azzamy)

Syarif Maulana

4 min read

Dear Rafi,

Saya menuliskan ini setelah mengamati berbagai dinamika di linimasa Twitter dan unggahanmu di Instastory. Rasa kagum saya terhadap Rafi tidak berubah. Rafi adalah anak muda dengan energi luar biasa, suatu semangat tak terkalahkan demi menumbangkan sistem raksasa yang diterima begitu saja oleh banyak orang tanpa pernah sungguh-sungguh dipertanyakan ulang: pendidikan. Untuk kepentingan pengetahuan pembaca, saya akan mengulas secara garis besar: selepas kritik pedas Rafi terhadap dunia pendidikan beberapa bulan lalu saat Rafi baru saja lulus dari SMK dan diwujudkan dalam buku 400-an halaman berjudul Panduan Melawan Sekolah, Rafi, tanpa ampun, melanjutkan serangannya pada tempat kuliah yang baru saja ia masuki, yakni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Berdasarkan sejumlah kegiatan yang dilakukan pada saat orientasi mahasiswa baru, Rafi melancarkan tuduhan bahwa terjadi otoritarianisme di kampus, termasuk saat moderator dalam salah satu acara menolak memberikan waktu bagi Rafi untuk mengumandangkan pendapatnya. Rafi juga terlihat bersuara di mana-mana, termasuk dengan cara yang sangat berani: memberikan buku karyanya kepada menteri Muhadjir Effendy yang hadir pada acara orientasi mahasiswa baru tersebut. Sebagian dari kita, termasuk saya, pasti terkagum dengan aksi Rafi. Meski demikian, sebagian lainnya mencibir aneka tindakan Rafi dan melakukan perundungan besar-besaran di media sosial, terutama Twitter dan Instagram.

Rafi, saya akan menekankan ini dan tidak perlu diulang kembali: saya berada di pihak Rafi. Saya adalah orang yang juga sangat membenci otoritarianisme di dunia pendidikan, terutama yang dijalankan oleh orang-orang yang tidak sedemikian paham tentang esensi pendidikan, sehingga apa yang mereka lakukan hanyalah berlindung di balik institusi besar yang sistemnya sengaja dibuat rumit supaya sukar untuk dikritisi. Setiap dari kita yang mencoba melancarkan kritik, akan disikapi dengan pernyataan klise: “Memang begini sistemnya,” dan bahkan disertai ancaman, “kalau tidak mau ikut sistem, ya silakan mengundurkan diri saja.” Pernyataan semacam itu tentu bukan pernyataan intelektual! Sistem dibuat atas suatu pertimbangan akal budi supaya apa yang hendak dituju oleh pendidikan terselenggara secara adil. Namun, kita sama-sama tahu, Rafi, watak dari sistem itu sendiri kerap membuat orang-orang di dalamnya menjadi berjalan secara otomat, seolah tidak berkesadaran, dan diikuti secara buta dengan mengabaikan tujuan pendidikan itu sendiri. Supaya orang-orang di dalamnya menjadi tergugah, perlu pemikir seperti Rafi yang menyengat, “nge-gas”, dan membuat mereka bersedia untuk memeriksa ulang apa yang selama ini mereka kerjakan dalam menjalankan pendidikan.

Kita tahu, Rafi, pemikiran yang agung seringkali memerlukan martirnya. Sokrates rela menerima eksekusi dengan minum racun karena dituduh menyebarkan “ajaran sesat” pada anak muda di Athena; Ivan Illich, seorang pastor, dimusuhi gereja bertahun-tahun karena sangat vokal menyerang institusi sana-sini, termasuk sekolah, lewat buku ganasnya, Deschooling Society; demikian halnya idola Rafi, Jacques Lacan, yang dieksklusi dari asosiasi psikoanalisis besar di Prancis pada masa itu, karena menerapkan metode penanganan pasien yang “berbeda”. Sejarah filsafat, dalam banyak hal, adalah sejarah perlawanan terhadap “orang banyak”, terhadap orang-orang yang Nietzsche sebut sebagai manusia bermental “kawanan”. Semangat semacam itu diusung Rafi dengan sangat baik. Semakin Rafi mendapat ejekan dan hinaan, semakin juga Rafi sepertinya menikmati hal demikian sebagai konsekuensi logis dari “jalan yang ditapaki para filsuf”.

Sebelum sampai pada pokok dari surat ini, izinkan saya menceritakan beberapa hal tentang kaum sinis, yang mungkin banyak dari kita hanya membaca tentang Diogenes dari Sinope, “si anjing” yang menyerang Alexander Agung karena menghalangi sinar matahari. Diogenes membenci masyarakat karena dianggap tidak hidup sesuai dengan kodrat. Maka dari itu, Diogenes memutuskan menggelandang, hidup di tong dan mengais sisa makanan dari pasar. Itulah hidup sesuai natur dalam terang pemikiran Diogenes. Namun, spektrum pemikiran kaum sinis bukan hanya berasal dari Diogenes–dan pendahulunya, Antisthenes, melainkan juga dari Crates, yang dalam prinsip tertentu, sangat berbeda. Crates dijuluki sebagai “sinis yang ramah”, tipe orang yang meski prinsipnya begitu tegas pada masyarakat, ia akan disambut dengan tangan terbuka oleh para warga. Crates dipersilakan untuk bertamu kapan pun ia mau, makan malam bersama dan bisa saja sesekali menginap. Mengapa Crates bisa diperlakukan demikian, sementara Diogenes dan Antisthenes menerima cibiran sebagai “gelandangan”? Crates kira-kira mengatakan begini: “Sebagaimana pun buruknya masyarakat, saya akan mengatakan: bahwa saya bisa jadi sama buruknya.”

Pernyataan Crates tersebut membawa saya pada ilustrasi tentang “duduk di kafe” yang saya karang sendiri sebagai hasil renungan terhadap pengamatan akan “orang banyak bermental kawanan”: “Saat saya duduk di kafe sendirian, saya akan melihat orang banyak yang sedang ngopi itu sebagai orang yang tidak reflektif, tidak mengerti kebenaran, tidak mau belajar filsafat dan hal-hal lainnya yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang ogah berpikir. Namun, di saat yang sama, mungkin mereka juga membayangkan saya adalah orang yang sama dengan yang saya tuduhkan terhadap mereka.”

Di sinilah saya akan sampai pada poin surat ini, Rafi: orang banyak yang Rafi tuduh sebagai segerombolan orang yang otoriter dan tidak punya perhatian lebih terhadap kondisi masyarakat, apalagi pendidikan, bisa jadi tidak sevulgar tuduhan tersebut, sebagaimana orang-orang yang “duduk di kafe” itu saya simpulkan sebagai sekumpulan orang yang tidak berpikir hanya karena mereka untuk sejenak tertawa-tawa bersama teman-temannya.

Baca juga:

Rafi, mohon jangan diartikan keliru tulisan saya ini. Saya bukan mengajak Rafi untuk kompromis dan menghentikan sengatannya, bukan! Serang terus dunia pendidikan di Indonesia yang memuakkan akibat keberadaan dosen-dosen yang kemampuan intelektualnya tidak jelas dan kebijakan institusi yang cuma mencetak sarjana siap kerja demi kepentingan industri. Namun, Rafi, kita tahu, “orang banyak” tidak selalu berupa kubangan orang-orang yang bisa dipukul rata sebagaimana umumnya kaum esensialis memandang segala perkara. Dengan melakukan serangan sebagaimana kaum esensialis membuat segalanya tampak sama, maka tidak ada yang benar-benar bisa disasar kecuali menjadi terlihat hanya sebagai kemarahan buta semata—sebagaimana yang juga nampak pada amukan Ilich saat mengritik sekolah. Artinya, hal yang menjadi perkara adalah kerangka pandangan Rafi untuk memasukkan kasus per kasus menjadi “tidak lebih daripada”, misalnya: moderator yang tidak mengizinkan saya berbicara adalah “tidak lebih daripada perwujudan otoritarianisme”. Ini bukan lagi esensialisme, Rafi, tapi sudah jatuh pada reduksionisme. Saat Rafi melihat bahwa A tidak lebih daripada B, maka Rafi pada dasarnya tidak pernah melihat A karena segalanya selalu dalam kerangka B (walau mungkin saya juga sedang melakukan reduksionisme terhadap Rafi).

Jadi, Rafi, saran saya sebagai kawan baik, juga pengagum berat Rafi, adalah supaya Rafi bersikap lebih seperti Crates. Bukan Diogenes, bukan Antisthenes, yang begitu buruk memandang orang banyak, tetapi sekaligus menempatkan dirinya berada di atas orang banyak itu. Crates tetap kritis, tapi dengan cerdik membuat warga menerimanya dulu, dengan tangan terbuka, sebelum kemudian diajarkan pelan-pelan, tanpa paksaan, tapi efektif! Sekali lagi, mudah-mudahan saran ini tidak dipandang sebagai suatu ajakan untuk bersikap lebih lunak. Anggaplah bahwa ini adalah bagian dari saran Aristoteles dalam komunikasi persuasi yang ia tulis pada Retorika: bahwa hanya mereka yang menguasai tiga unsur ini yang bisa membujuk orang lain: ethos (kredibilitas), pathos (simpati, memenangkan emosi orang lain), dan logos (kemasukakalan). Rafi punya segala argumentasi yang memadai untuk menguasai logos, juga reputasi Rafi yang kuat sehingga dengan sendirinya mempunyai ethos, tetapi tentu saja kita perlu pathos supaya orang terbujuk oleh gagasan Rafi.

Memang demikian adanya, hal yang mungkin begitu sulit kita terima: bahwa dunia pikiran, meski dianggap lepas dari dunia materi, keberadaan tentangnya hanya akan berada di awang-awang jika dunia materi tidak berhasil kita rangkul. Tetaplah ganas dan bersemangat, sambil jangan lupa menyadari bahwa filsafat juga adalah tentang manusia. Manusianya bukan cuma manusia yang berada dalam ketinggian intelegensia kita, berupa konsep dan cita-cita, melainkan manusia di hadapan apa adanya dengan daging dan wajah yang konkrit. Selamat berjuang, Rafi!

Salam sayang,

Syarif Maulana

Syarif Maulana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email