Sumarah

M. Isnaini Wijaya

4 min read

Sekalipun diberi kesempatan oleh Tuhan, 22 tahun lalu, sebelum aku merobek gua garba Ibu, aku tetap enggan memilih nasib. Kasih sayang berlimpah ruah, Ibu yang tak pilih kasih tak pandang sayang, Adik yang penuh kelucuan, kesemuanya menyelimutiku penuh rasa nyaman. Beberapa hari lalu aku masih berpikir seperti itu. Tapi, semenjak para peneliti itu datang, aku jadi gamang.

Mereka, peneliti itu, bilang jika pola hidup yang diterapkan keluarga kami tidaklah sehat. Tumpuan ekonomi yang ditenggerkan di pundakku bisa mencekikku perlahan. Mentalku bisa kacau dan menimbulkan tekanan di masa depan. Itu dikarenakan aku yang menanggung biaya kehidupan keluarga; rumah, Bapak, Ibu, Adik, sekaligus biaya hidupku sendiri. Sambil memberi saran, sekaligus dengan nada yang menyalahkan ketidakberdayaan Ibu, mereka memohon izin untuk meneliti pola hidup kami. Dan, kata mereka, hasil penelitian ini bisa diterapkan di keluarga kami.

Kehidupan kami sebenarnya baik-baik saja, mungkin boleh dibilang seperti itu. Meskipun beberapa kali terdengar desahan napas panjang yang mengetuk gendang telinga, kehidupan kami tetap berjalan. Aku bekerja, Ibu di rumah merawat Bapak, dan Adik sekolah. Percayalah, aku bukannya tak sadar bahwa kemiskinan yang mengurapi kami benar-benar nyata. Namun, aku tidak mempermasalahkan semua itu.

Satu hal yang membuatku tidak berpikir serius soal kemiskinan ini adalah wejangan Bapak. Bapak kerap mengatakan bahwa hidup itu telah ginaris. Tidak bisa diubah sekalipun dengan usaha yang berjejal-jejal.

“Karena telah ginaris itulah, sikap kita sepatutnya menerima,” kata Bapak waktu masih bisa lancar berbicara. Dulu, dulu sekali, aku tidak bisa menerima itu. Aku merutuki Bapak yang entah bagaimana bisa terjatuh waktu memangkas pohon bambu dan berujung terkena stroke.

Sebelum sakit seperti ini, Bapak bekerja serabutan. Karena tidak memiliki potensi di bidang yang dibutuhkan pabrik, Bapak bekerja menurut panggilan-panggilan tetangga. Bapak bisa membetulkan televisi yang rusak, panci bolong, membuat pagar bambu, menebang pohon yang menghalangi kepingan sinar matahari, dan lain-lain. Tapi, nasib mulai berjalan lain pagi itu. Ketika aku baru sampai di sekolah, tiba-tiba saja ada tetangga yang mengabariku jika Bapak dilarikan ke rumah sakit.

Aku tidak sempat bingung. Dan sampai di rumah, aku hanya dibolehkan menunggu. Menunggu kabar dari rumah sakit, tempat Bapak dirawat. Tetangga banyak yang bilang, jika bapak terkena celaka karena menebang pohon di tempat Jin Tarqo, makhluk halus yang mendiami pohon bambu. Tidak masalah menebang pohon bambu, tapi yang menyebabkan Bapak seperti itu adalah kesengajaan beliau tidak menyisakan satu batang pun dari berumpun-rumpun pohon bambu di kebun itu. Akhirnya Jin Tarqo murka dan Bapak celaka.

Teringat Bapak yang sudah tidak bisa apa-apa sekarang, menyadarkanku kalau hidup kami selalu serba cukup. Meskipun kata orang kami masih terpuruk dalam jurang kemiskinan.

Aku sempat bertanya-tanya kepada Bapak soal kemiskinan, dulu, waktu beliau masih bugar.

Aku bertanya kepada bapak dengan membandingkan hidup kami dengan tetangga yang hidupnya terlihat serba enak. Kata Bapak sederhana sekali waktu itu, wang sinawang, Le. Sejak kecil aku sering mendengar istilah itu. Tapi, akhir-akhir ini, ketika usia telah matang buat merenung, aku baru sadar betapa dalamnya makna wang sinawang itu.

Sambil berbaring di samping adikku, dan mengulang-pahami makna wang sinawang yang diejawantahkan Bapak, aku masih menerka-nerka maksud dari peneliti siang tadi.

Malam telah menelan semuanya. Cahaya di rumah kami menyisa lampu di teras yang dibiarkan menyala hingga fajar sidiq menjelang. Mataku tidak dapat menangkap apa pun selain keremang-remangan, sementara pikiranku menangkap apa saja, yang lalu-lalu, yang telah lama kutanggalkan.

Siang tadi, bertepatan dengan libur kerja, satu dari tiga orang yang mengaku sebagai peneliti, memperkenalkan diri. Mereka adalah dosen dari salah satu universitas top di daerahku. Beberapa hari sebelum ini, pemerintah desa mendata warga yang memiliki tanggungan hidup banyak, seperti keluargaku. Waktu itu mereka hanya mendata. Dan ibuku yang saat itu meladeni, terus berharap-harap semoga dapat bantuan. Ternyata, ujungnya adalah seperti ini.

Setelah bertanya ini-itu, musim panen, adikku yang lucu, hawa panas yang menyengat, dan pertanyaan basa-basi lain, para peneliti itu menggiring kami ke maksud inti. Maksud mereka adalah meneliti tentang generasi sandwich, istilah yang tidak kumengerti sama sekali. Aku tahu maksud dari generasi. Aku tahu seperti apa bentuk sandwich, meskipun sama sekali belum merasakannya. Tapi apa maksud dari generasi sandwich itu?

Aku urung menanyakan apa maksud dari generasi itu, tapi beruntung, salah satu peneliti, yang tadi memperkenalkan diri, menjelaskan soal generasi sandwich.

“Kurang lebih semacam Mas ini,” kata peneliti tadi. Maksudnya ‘ini’ adalah merujuk padaku.

“Lebih jelasnya,” kata peneliti tadi. “Orang yang harus menanggung hidupnya sendiri, anaknya, dalam hal ini adalah adiknya Mas, sekaligus orangtuanya Mas.” Lalu mereka menanyai macam-macam lagi.

Dari jawaban itu, aku jadi berpikir, kenapa orang-orang selalu menganggap menghidupi orang yang ‘masih keluarga’ menjadi semacam bukan tanggung jawab. Tanggungan berat yang seolah-olah bisa menimbun manusia. Bukankah manusia memang saling menanggung. Maksudnya, waktu kecil aku dibiayai orangtua, bukankah ketika dewasa tinggal menukar peran. Kupikir, hidup orang-orang dulu semacam itu. Tapi kenapa sekarang dipermasalahkan?

Aku jadi teringat kata Bapak dulu, kalau hidup tidak mau tanggung-menanggung, tidak usah hidup. Betul juga kalau dipikir-pikir.

Peneliti itu melanjutkan penjelasannya, “kalau pola hidup yang semacam ini, maksdunya pola hidup yang ada pada keluarga Mas terus berlanjut, tidak bakal ada perbaikan kualitas keturunan.”

Selain itu, kemiskinan akan selamanya menjadi garam kehidupan kami. Dan, kalau tidak salah, yang terakhir tadi, mewanti-wanti diriku untuk tidak menikah jika memang belum mapan betul. Lalu, mereka memberi contoh fenomena orang yang kebelet nikah tapi tidak mempersiapkan apa-apa. Secara tidak langsung, Bapak-Ibu masuk dalam contoh itu. Aku hanya mengiya saja.

“Apakah, Mas, merasa keberatan dengan tanggungan semacam ini?” Mereka menanyaiku, tepat di depan telinga Bapak dan Ibu.

“Tidak sama sekali,” jawabku.

“Bagaimana bisa?”

Aku bingung mau menjawab bagaimana. Sebab, kenyataannya aku tidak keberatan sama sekali. Meskipun, beberapa waktu lelah terasa seperti palu gada yang menghantam pinggang dan pundak.

“Kalau secara mental, Mas, adakah merasa seperti tertekan?”

Aku diam sebentar. Mental? Aku tidak pernah memikirkan itu. Tapi baik-baik saja sampai sekarang.

Melihat aku yang tidak segera menjawab, mereka melanjutkan. “Mungkin terbebani secara mental, Mas?”

Lagi-lagi aku tidak bisa apa-apa selain diam.

“Untuk kebutuhan hidup, tidakkah, Mas, merasa seperti dikejar-kejar? Harus membayar listrik, belanja bahan makan, uang saku Adik, dan biaya-biaya lain. Kebutuhan, kan, selalu seperti itu, Mas. Ada terus, dan terus mengejar.” Pertanyaan yang terlalu panjang, dan kalau boleh kujawab tegas, akan kujawab seperti jawabanku sebelumnya.

Pertanyaan mereka terasa aneh bagiku. Seperti menanyakan kewajiban anak untuk membantu biaya orangtua. Aku ingat, dulu, waktu harus menerima kenyataan  Bapak tidak lagi bekerja dan berakhir uang sakuku semakin mengkeret. Bapak pernah bilang, “Sumarah, Le.”

Aku hampir gagal dalam memahami makna sumarah. Baru-baru ini, aku merasai betul makna sumarah yang berarti berserah itu. Benar-benar memasrahkan diri pada Yang Maha Ada.

“Kalau hidup itu yang sumarah,” kata Bapak suatu waktu, ketika penyangkalan dan sesal beranak pinak dalam diriku, “supaya hidup terasa nikmat.”

“Ada kata ‘marah’ di balik sumarah. Jadi, nggak apa-apa marah-marah dulu, menyangkal dulu. Tapi kalau sudah ginaris semacam ini, apa pun yang kamu perbuat tidak bakal berguna. Jadi, sumarah, Le.” Bapak melerai perasaanku yang waktu itu menyesali kenapa tidak bisa seperti anak-anak yang lain.

Pendar-pendar benda rumah, mulai terlihat karena lumayan lama menatap kegelapan. Dengkur Bapak, dengus napas Ibu, dan di sampingku, Adik yang kuharap tidak merasakan apa yang aku rasakan terlelap nyenyak.

Betapa hidup memang tidak bisa dipegang manusia. Bapak yang tiba-tiba jatuh waktu menebang pohon bambu, dan sekarang tidak bisa melakukan apa pun selain di atas ranjang. Ibu dulu sempat memaksa bekerja, tapi siapa yang merawat Bapak. Dan, akhirnya aku yang menjadi tumpuan keluarga ini. Keluargaku.

Aku tidak merasa keberatan sama sekali. Bahkan berpikir mengarah ke sana pun tidak. Tapi, yang membikinku gamang hari ini adalah kata-kata peneliti tadi, “Yang bisa mengubah taraf kehidupan menjadi lebih baik hanyalah pendidikan.”

Mendengar kata itu tulang-tulang badanku seperti dilolosi paksa. Apakah artinya, aku, maksudnya kami, tidak bakal bisa mencecap kehidupan yang dikatakan lebih baik itu?

Peneliti tadi, sambil beruluk salam pamit, memohon izin kepada kami untuk menanyakan sesuatu terkait pola hidup kami di beberapa hari ke depan. Ibu mengiya ramah. Penuh senyum. Senyum yang penuh harap. Mereka telah pergi siang tadi, tapi kata-kata yang mereka lontarkan benar-benar terpaku dalam rumah kami.

Besok pagi waktunya bekerja, tapi di malam gigil seperti ini mataku urung terpejam. Pikiranku berjalan ke mana-mana. Aku gamang sekaligus takut. Takut nasib yang menimpaku tertular pada adikku. Takut jika sebenarnya mereka, orang-orang yang menyayangiku, yang menyelimutiku penuh kasih dan sayang tidak bahagia. Baru kali ini aku takut pada banyak hal. Tiba-tiba dengkuran Bapak menyentilku kembali ke alam nyata. Dengkuran itu, mirip sekali dengan sumarah, sumarah, sumarah.

***

Editor: Ghufroni An’ars

M. Isnaini Wijaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email