Seorang suami yang mencintai istrinya. Seorang ayah yang menyimpan kebahagiaan di mata buah hatinya.

Setelah Gelap Datang dan Puisi Lainnya

Rafael Yanuar

1 min read

Mencari dan Menemukan

telah begitu lama
aku mencari
tanpa menyadari
untuk sampai padamu
aku hanya perlu
berhenti berjalan.

(2022)

Air Mata Kota, Air Mata Jalan

ajari aku
melukis curah air
di cabang ketapang itu.

jalanan menangis
kabut muram
hujan kelabu membasuh kota
aspal berkilauan
langit menggantung rendah
di atas gedung-gedung tinggi
burung-burung beterbangan
satu per satu meninggalkan
tiang lampu.

di sisi jendela kau berbaring
merasa bersalah pada sesuatu
yang entah apa namanya.

(28 Agustus 2021)

Sayap-Sayap Kelabu

saat itu aku belum tahu
setelah meninggal,
di suatu tempat yang bukan surga
juga bukan neraka
aku akan jadi kepompong.

saat kepompongku pecah
sosok-sosok menyerupai malaikat
menyambutku gembira
seolah aku sahabat lama.

untuk sementara
aku tidur di ruang tamu.

“di sinilah biasanya kami
berkumpul setiap hari.”

para malaikat memberiku jubah coklat
dengan tali pinggang oranye,
lalu tertawa tanpa maksud buruk
hanya teringat cerita lalu.

“besok, di kota, kita beli baju
yang cocok untukmu,”
kata salah satu malaikat
berambut panjang dan ramah.
yang di bibirnya
selalu terselip sebatang sigaret dengan corak warna merah.

membeli dengan uang?

bukan. dengan amal baik.
dalam buku hidup
ada amal-amal baikmu.
kalau kamu butuh sesuatu,
sebagai ganti pembayaran
kamu tinggal merobeknya selembar.
tapi di sini hanya ada
pakaian tua dan barang-barang bekas.

matahari belum terbit
ketika punggungku nyeri tak terperi
bagai dirajam ribuan jarum
terbakar larutan besi.
malaikat berambut panjang
segera datang.
agar aku kuat menahan sakit
dia menyuruhku menggigit jarinya
—metamorfosa itu berlangsung cepat
tapi perihnya jauh melebihi kematian
tulang-tulangku rasanya meleleh bermandi bara—dan lihatlah,
meski masih berlumur darah
dan harus dibersihkan
dengan rendaman air hangat
akhirnya aku punya sepasang sayap
dengan bulu kelabu mendekati putih.
sayap mungil yang lembut
meski bukan untuk terbang.

kini, lama sudah aku tinggal
di negeri malaikat
(juga di hati yang mengingatku
sebagai cinta masa kecilnya).

: dalam peluk kematian
aku menemukan hidup
yang selama ini kucari.

(16 Maret 2020)

Tapi Aku Tak Bisa

aku ingin menulis sajak
dengan kata “aku ingin”
di permulaan bait
seperti dulu ketika
puisi dan aku
belum lama berkenalan.

aku ingin menjadi
hujan yang turun di kotamu,
mimpi yang kaudamba selalu,
apa pun yang membuatmu
bahagia.

aku ingin menulis
sajak-sajak sederhana
yang tak lebih dari
kata-kata manis
yang membuatmu
tersipu malu.

aku ingin merangkai
bait-bait indah
penuh bunga dan rerumputan
tanpa rasa bersalah
kepada dunia yang terluka.

(4 Oktober 2020)

Setelah Gelap Datang

angin menjelma aku yang berusaha kautangkap meski tak kunjung berhasil kautangkup. aku memeluk tubuhmu yang kausembunyikan di antara kakimu. kaututup kepala ketika jari-jariku berusaha meraih rambutmu. kau putus asa dan sembunyi di balik pintu karena gagal memenjarakanku yang begitu ingin kaupenjarakan. aku pergi dengan air mata yang gugur sebagai gerimis.

kau mengaduk secangkir kopi ketika kantuk menyergap mata—menolak lelap setelah 21 jam dibutakan cahaya. kau meminumnya dan berharap dunia menjadi sehitam ampasnya. kau terbatuk. kau memeluk bayangan tubuhmu, yang baru saja bertukar dengan tubuhku.

karena sepi terus menghantui, kau menciptakan aku, kau menciptakan dia, kau menciptakan mereka.

di jendela, malam menjelma ruang kosong dan waktu membangun dinding. kau membayangkan daun jatuh di seberang jalan, saat tak ada lagi yang perlu dikenang. matahari memutuskan terbit sebelum lelap memeluk. kau membaca koran pagi yang menelan habis selera makanmu.

(2020)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Rafael Yanuar
Rafael Yanuar Seorang suami yang mencintai istrinya. Seorang ayah yang menyimpan kebahagiaan di mata buah hatinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email