kamarul arifin Pernah belajar fisioterapi dan psikologi.

Seruput Kopimu, Ada Rezeki Banyak Orang di Situ

2 min read

“Jika yang suci selalu yang bening, maka tidak akan pernah ada kopi di antara kita” begitu cuit Presiden Jancukers, Sujiwo Tejo.

Saat ini, kopi bukan hanya sekadar gaya hidup atau life style, melainkan sudah menjadi way of life alias jalan hidup. Kata “ngopi” sendiri pada konteks sekarang, bukan hanya berarti minum kopi, tetapi sudah menjadi sebuah kata kunci untuk melakukan sebuah pertemuan.

Meningkatnya minat orang untuk meminum kopi juga membuat seorang sastrawan Joko Pinurbo membuat buku yang berisi kumpulan puisi dengan tema besar kopi, yaitu Surat Kopi. Nah, kawan-kawan semua, tahukah kamu tangan siapa saja yang terlibat di dalam segelas kopi yang nikmat dan melenakan? Mari kita bahas perjalanan kopi dari hulu ke hilir, hingga akhirnya tiba dalam genggaman cangkir kita.

Petani

Petani adalah tangan pertama yang membidani kopi hingga akhirnya tersaji di meja kita. Dalam dunia perkopian setidaknya ada tiga jenis petani kopi. Petani kopi yang pertama adalah petani kopi murni atau disebut juga petani gurem yang dalam bahasa Inggris bisa disetarakan dengan peasant. Petani kopi murni adalah orang yang bertanggung jawab merawat tanaman kopi setiap hari hingga akhirnya tiba masa panen sampai proses pasca panen. Akan tetapi, petani kopi ini bukanlah pemilik lahan.

Petani kopi yang kedua adalah petani kopi sekaligus pemilik lahan yang dalam bahasa inggris disebut farmer. Artinya mereka yang mempunyai kebun kopi kemudian diolah sendiri dengan bantuan beberapa orang. Petani yang ketiga adalah orang yang berperan hanya sebagai pemilik kebun kopi, namun pengolahannya seratus persen diserahkan kepada orang lain. Petani golongan yang ketiga ini dalam bahasa inggris disebut planter.

Pengepul atau Tengkulak

Salah satu yang membuat petani di Indonesia pada umumnya kurang sejahtera adalah panjangnya rantai distribusi. Untuk mendistribusikan hasil panennya petani kopi masih melewati para tengkulak. Bahkan tengkulak ini juga terdiri dari beberapa tingkatan (tengkulak kecil – tengkulak besar). Oleh karenanya beberapa petani mulai sadar kemudian membentuk komunitas dan membangun koperasi, untuk memangkas panjangnya rantai distribusi.

Selain itu, para roaster (juru sangrai) dan pemilik kedai kopi yang punya empati terhadap kesejahteraan petani kopi, akhirnya memilih turun langsung menemui pemilik kebun kopi. Hal ini sangat membantu dan meningkatkan keutungan petani kopi. Bahkan mereka juga memberikan pelatihan agar kopi yang dihasilkan memiliki kualitas unggul sehingga nilai jualnya pun meningkat. Pelatihan yang diberikan mulai dari masa perawatan hingga pasca panen. Di mana, proses pasca panen ini memiliki andil besar terhadap rasa kopi.

Roaster (Juru Sangrai)

Juru sangrai adalah orang yang mengolah kopi dari bentuk biji kopi mentah menjadi kopi yang siap untuk diseduh. Roaster tidak sembarangan dalam menyangrai kopi, mereka memiliki cita rasa dan ciri khas tertentu yang nantinya akan memiliki sumbangsih besar terhadap rasa kopi ketika diseduh. Roaster dituntut sangat teliti dalam memilih durasi dan suhu saat menyangrai serta masih banyak hal lain yang perlu diperhatikan. Sehingga roaster pada masa sekarang perlu memiliki kualifikasi khusus.

Roastery lokal kini mulai bermunculan, mulai dari yang skala kecil (untuk kebutuhan sendiri) hingga yang skala besar (internasional). Bahkan untuk saat ini kedai kopi tidak hanya menjual kopi dalam gelas, mereka juga menjual kopi dalam bentuk whole beans untuk para penyeduh rumahan (home brewer). Penyeduh rumahan ini juga sekarang sudah menjadi jalan hidup bagi beberapa penikmat kopi garis keras.

Barista

Barista alias penyeduh kopi adalah tangan terakhir yang siap menghidangkan kopi untuk kita nikmati. Seorang barista dituntut memiliki keterampilan khusus untuk menyeduh kopi, karena semahal apapun kopinya jika diseduh dengan asal-asalan, hasilnya akan sama saja dengan kopi instan. Pelatihan untuk menjadi barista juga tidak murah harganya. Dengan keterampilan khususnya tersebut seorang barista akan membuat perbedaan antara kopi spesialti dengan kopi biasa.

Itulah perjalanan kopi dari hulu ke hilir. Dalam secangkir kopi yang kita seruput ada banyak tangan terampil yang terlibat. Dalam secangkir kopi juga dititipkan nasib banyak orang. Akhirnya, sebagaimana kata Joko Pinurbo, ”Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi”.

Lanjut baca: Ngafe Yuk! Mau kafe literasi, kafe gamers, atau kafe konten?

kamarul arifin
kamarul arifin Pernah belajar fisioterapi dan psikologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.