Seribu Rasa Rusa di Arkansas

6 min read

Rusa itu seketika muncul sepersekian detik di depan moncong mobil. Aku tidak bisa berbuat banyak, dan aku langsung terpikir betapa berbahayanya kalau aku sampai mencoba membanting setir ke kanan atau ke kiri. Ke kanan aku akan masuk parit, dan ke kiri mungkin aku akan menabrak pohon-pohon.

Krak, terdengar bunyi benturan parau dari arah depan. Aku melihat—atau membayangkan—rusa itu sedikit menunduk sehingga bagian kepala dan tanduknya menghantam grill Dodge Stratus yang aku kendarai. Otomatis aku memejamkan mata. Aku tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi, apakah rusanya terlontar ke atas mobil ataukah terlindas mobil.

Ketika aku buka mata, rusa itu tidak lagi terlihat di depanku. Aku langsung lihat spion kiri, kanan, dan tengah untuk memastikan tidak ada kendaraan di belakangku dan segera menginjak rem. Begitu mobil berhenti, dengan agak terpaksa, aku melihat lagi spion. Aku berharap melihat seekor rusa di belakang sana, bangkit dari aspal dan melangkah gontai. Tidak, aku tidak melihat apa-apa.

Hari masih gelap, tercium kampas rem terbakar, dan hanya ada kegelapan di belakangku. Aku membayangkan akan melihat rusa itu, tapi bagaimana mungkin aku melihat rusa tanpa ada penerangan dari latar belakang.

Beberapa saat kemudian, terlihat asap keluar dari moncong mobil. Aku segera mematikan mesin dan melangkah keluar. Asap keluar dari celah kap mobil yang menggembung. Penyok? Saat itulah aku baru sadar bahwa kakiku gemetar hebat. Aku langsung terpikir tentang ledakan. Secepat kilat aku masuk lagi ke dalam mobil dan menyambar kuncinya. Tak lupa aku ambil handphone-ku dari kursi penumpang sebelah sopir. Dari lubang AC di dashbor tampak juga asap putih.

Aku langsung lari menjauh dari mobil dan terjun ke parit kering, disambut jarum-jarum rumput basah yang menusuk pantatku. Kakiku bergetar. Kupingku terasa panas.

Aku terengah-engah dan benar-benar menyesali kenapa sampai lupa menggunakan lampu jauh. Mestinya aku bisa melihat rusa itu dari jauh kalau sering-sering menggunakan lampu jauh.

Setelah beberapa saat, tak tampak terjadi apa-apa. Tidak ada ledakan yang aku tunggu-tunggu. Ketika itu leherku sudah panas dan terasa basah saat aku merabanya. Aku mulai tidak nyaman di parit itu. Bisa jadi akan ada ular yang keluar dari sana. Aku segera naik ke jalan.

Sebuah mobil berhenti.

“Halo, Bung, ada apa?” teriak seseorang yang tiba-tiba berhenti tak jauh dari aku dan mobilku.

“Baru nabrak rusa.”

Dia lalu menanyakan apakah aku baik-baik saja dan apakah aku punya handphone, yang tentu saja kujawab iya. Begitu dapat kepastian, orang itu segera pamit melanjutkan perjalanan ke bandara. Aku separuh berharap dia berhenti untuk menemani aku barang sekejap, tapi dia tidak menawarkan itu. Akhirnya, dia pun melesat.

Aku memutuskan menelpon Markus, seorang kawan yang tahu cukup banyak tentang mobil. Aku yakin dia baru tidur, tapi aku harus membangunkannya:

“Jangan becanda, Tang!” Markus terkejut saat terdengar separuh tidur.

“Bos, aku gak becanda urusan yang beginian,” jawabku.

“Bukannya kamu sudah jual mobil?”

“Iya,” jawabku. “Ini mobil pinjaman.”

“Oke. Pinjam siapa?”

“Lindsey,” jawabku.

“Lindsey-mu?”

“Siapa lagi?”

“Siapa tahu Lindsey yang lain. Ada dua puluhan Lindsey di kampus, Tang.”

“Bos!” aku membentak Markus yang sepertinya tidak sensitif mengatakan itu.

Akhirnya, setelah terdengar suara Markus di dalam kamar mandi, dan mungkin cuci muka, aku mendapat analisis Markus bahwa kemungkinan besar yang aku kira asap itu tak lebih dari uap air. Aku memberanikan diri melihat ke bagian depan mobil, yang grillnya sobek dan kap-nya penyok. Aku melaporkannya kepada Markus, dan Markus memperkirakan bahwa radiatorku rusak. Menurut analisis Markus, itulah yang menyebabkan bocornya pendingin yang akhirnya menguap itu.

Dengan mengikuti saran Markus, yang mengatakan bahwa akan fatal akibatnya kalau aku memaksakan menghidupkan mobilku, aku menelepon perusahaan derek kawan Markus untuk membawa mobilku ke apartemen.

* * *

Begitulah musibah. Datangnya benar-benar tak terkira. Bahkan mungkin terkadang bukan musibah yang datang, tapi kita yang tanpa sadar tersandung dia. Tabrakan dengan rusa itu sendiri timing-nya luar biasa pas. Aku harus meninggalkan Fayetteville untuk pulang ke Indonesia seminggu lagi, dan aku tidak mau kalau Lindsey sendiri yang harus menanggung perbaikan mobilnya. Maka, aku harus memberikan sebagian dari hasil penjualan mobilku beberapa hari sebelumnya untuk membayar biaya perbaikan mobil Lindsey itu. Lindsey sendiri tidak mau membiarkan aku membayar perbaikan mobilnya, tapi aku tahu pasti akan lebih merepotkan bagi Lindsey, karena biaya membetulkan mobil seperti itu tidak murah.

Atas permintaanku, Lindsey tidak memberitahukan kepada ayahnya, Clint, bahwa mobilnya habis kecelakaan saat aku pakai. Clint membuatku merasa seperti anak SMA. Dia cukup baik kepadaku, setidaknya tidak pernah berkata kasar kepadaku atau menolak menemuiku saat aku menemani Lindsey ke Fort Smith, rumah asalnya. Tapi, aku selalu agak grogi karena keluarga Lindsey adalah orang desa dan konservatif. Mungkin karena itu aku membayangkan Clint tidak akan suka anaknya membawa mobil untuk diservis orang Meksiko. Donald Trump beberapa waktu sebelumnya bilang bahwa orang Meksiko adalah pengedar narkoba dan pemerkosa—dan mematikan sandang pangan orang Amerika. Mestinya ayah Lindsey pendukung Donald Trump. Aku dengar orang-orang di daerah Lindsey pendukung Trump. Lindsey sendiri suka bilang dia baru beberapa tahun saja “tercemar” gagasan-gagasan liberal karena pergaulan kampus—tapi dia mensyukuri ketercemarannya.

Aku ingat, dalam suatu perbincangan denganku, Clint dengan yakin mengatakan bahwa Obama dilahirkan di Kenya.

“Aku pernah baca pengakuan dari orang yang melihat kelahiran Obama…” dia menggantung omongannya, seperti menunggu agar aku siap mendengarkan. Aku curiga dia bukan membaca, tapi melihat wawancara di Fox News atau di radio

“Katanya dia melihat sendiri Obama lahir di Kenya.”

Aku agak bertanya-tanya, bukankah kebanyakan orang percaya Obama lahir di tempat lain? Bisa jadi aku salah.

“Waktu lahir itu nama aslinya Barry Soetoro.”

“Oh ya?” aku tidak tahu harus membalas apa, tapi kelepasan juga: “Bukannya itu nama dia saat di Indonesia?”

“Menurut orang ini, nama asli Obama adalah Barry Soetoro.”

Tentu aku tidak sampai hati mengatakan bahwa “Soetoro” adalah nama Jawa. Tapi demi tidak menghina dia, yang mungkin saja akan menjadi mertuaku, aku mengangguk saja dan bersiap mendengarkan omongannya.

Mengingat pandangan bapaknya yang seperti itu, aku meminta Lindsey untuk tidak memberitahunya tentang kecelakaan ini, dan aku sendiri berjanji akan membetulkan mobilnya yang rusak itu.

Selama hari-hari itu, aku tak berhenti memikirkan nasib si kijang. Dalam perjalanan pulang dengan mobil derek, aku tidak menemukan berkas-berkas kijang di jalan. Tidak terlihat bercak darah di mana pun. Tapi mungkin saja kijang itu langsung terlempar ke parit, karena di sebelah jalan ada parit. Kadang aku ingin menyalahkan kijang itu yang tidak berhati-hati di jalan, padahal aku sudah memakai lampu. Tapi di sisi lain, mungkin dulu sebelum ada jalan, kawasan ini adalah tempat kijang-kijang itu bergerak bebas. Aku membayangkan bagaimana rasanya menjadi manusia dan tiba-tiba para macan memutuskan membuat jalan-jalan menembus perumahan.

* * *

Setelah konsultasi dengan Markus, aku mendapat beberapa opsi yang bisa aku ambil untuk membantu Lindsey memperbaiki Dodge Stratus-nya. Tentu Lindsey sendiri—yang aku cukup yakin adalah jodohku—sebenarnya tidak terlalu memusingkan kecelakaan yang terjadi itu. Buat dia, asal aku selamat dan tidak berurusan dengan polisi saja sudah cukup. Toh, waktu itu aku dalam perjalanan balik dari bandara setelah mengejar pesawat paling pagi—paling murah—yang akan membawanya ke Colorado untuk sebuah konferensi. Tapi aku sendiri merasa sangat tidak nyaman kalau sampai harus membiarkan Lindsey menanggung sendiri beban karena kecelakaan yang terjadi kepadaku.

Atas saran Markus, aku menelpon Pedro. Aku beritahukan kepada Pedro masalahku dan dia menawarkan untuk mengambil mobil dari tempatku. Dia hanya menarik 75 dolar untuk menderek mobil Lindsey ke bengkelnya. Aku agak kuatir kalau berhubungan dengan mobil dan mekanik. Aku selalu merasa mereka tahu segalanya dan aku tidak tahu apa-apa. Karenanya aku mengajak Markus, sekadar meyakinkan bahwa Pedro tidak melakukan hal-hal yang tidak kuinginkan atau menarik ongkos terlalu tinggi. Di bengkel Pedro, aku dan Markus mengikuti segala detil pemeriksaan.

Setelah membuka kap, mengangkat mobil dengan dongkrak seluruh mobil, dan memeriksa segala bagiannya, Pedro mengatakan bahwa yang menjadi masalah hanya radiator yang pecah di bagian besinya, dan beberapa bagian pipa besi yang penyok. Selain itu, ada bagian lampu yang harus diganti, atau paling tidak dihaluskan lagi. Seperti halnya Markus, Pedro bilang, “Keputusanmu menelpon aku kemarin tepat, amigo. Kalau kau nekad mengendarai mobil, pasti aku sudah berbahagia dapat job ribuan dolar. Aku bisa kaya, Papi. Hehehe.”

Kini yang jadi soal adalah bagaimana caranya agar ayah Lindsey tidak tahu bahwa aku membawa mobil anaknya ke orang Meksiko. Aku sebenarnya agak malu kalau harus menyampaikan ini ke Markus, karena tentu aku tidak mau dia tahu kalau aku agak gentar menghadapi Clint. Tapi, karena itu adalah sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, akhirnya aku mengatakan kepada Markus soal itu.

“Santai, Tang,” katanya santai. “Kalau memang itu yang jadi soal, bagaimana kalau kau betulkan masalah grill dan radiator itu di sini, tapi lampunya kamu betulkan di tempat lain, di bengkel orang Amerika lah.”

“Bilang saja kepada ayah Lindsey, kalau dia tanya,” kata Markus berstrategi. “Bilang bahwa kamu perlu membantu bawa mobil Lindsey ke bengkelnya Terry di T&T di selatan.”

Markus yang punya banyak teman di mana-mana itu akhirnya membantuku menyelesaikan urusan servis mobil.

* * *

Seminggu setelahnya, Lindsey sudah kembali dari acara seminarnya di Colorado. Kali itu aku menjemputnya pakai Dodge Stratus-nya yang sudah selesai kuservis. Sepanjang perjalanan, Lindsey melihat foto-foto grill dan kap mobilnya di handphone-ku. Setelah seharian melepas rindu sambil mengemasi barang-barang yang akan aku bawa pulang ke Indonesia, aku meminta Lindsey mengajakku ke rumah orang tuanya di Fort Smith untuk berpamitan dengan mereka.

Tentu ini sesuatu yang tidak biasa. Selama ini hubungan kami relatif tidak membutuhkan pengawasan orang tua Lindsey. Tapi tetap saja, aku merasa tidak enak kalau begitu saja meninggalkan Arkansas tanpa berpamitan dengan orang tua Lindsey. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku ingin pergi baik-baik—dan berniat kembali lagi untuk melamar Lindsey.

Kakak Lindsey yang baru saja bercerai dan tinggal lagi di rumah orang tuanya memasak roti jagung dan hush puppies untuk kami. Mereka potong kalkun dan menyiapkan saus cranberry. Pendeknya hari itu seperti thanksgiving yang terjadi beberapa bulan lebih awal. Yang agak berbeda: ada juga barbekyu daging rusa, dari seekor rusa yang baru-baru ini ditembak ayah Lindsey karena masuk ke kebun okra miliknya dan meramban daun-daun okra. Aku dipaksa ayah Lindsey mencobanya sambil meyakinkan itu bukan babi. Aku mencicipi ala kadarnya, tapi sama sekali tidak merasakan kenikmatan. Rider, anjing Great Pyrenees putih milik keluarga Lindsey, berkitar-kitar menjilati ujung sepatuku saat aku mencicipi barbekyu rusa itu. Aku pun memberikan sisa daging rusa yang ada di tanganku kepada Rider.

“Tempo hari aku ada urusan di Fayetteville dan lihat Stratus-mu di bengkel Terry,” kata ayah Lindsey kepada Lindsey.

“Iya, saya yang bawa ke sana,” aku ragu-ragu untuk bicara lebih jauh. “Ada masalah, jadi saya bawa ke sana mumpung Lindsey ke luar kota.”

“Kenapa?”

“Lampunya tidak beres, dan radiatornya pecah,” kataku.

“Habis berapa?” kata Tom.

“Habis tiga ratus total,” kataku.

“Mestinya kamu bawa saja mobil itu ke Springdale, ke orang-orang Meksiko,” kata Tom. Aku mulai kuatir. “Pasti di sana kau bisa dapat lebih murah. Biaya per jam mereka jauh lebih murah dari Terry,” lanjutnya.

“Aku pikir Bapak tidak suka orang-orang Meksiko,” tanya Lindsey.

“Kalian ini, kan, mahasiswa,” katanya. “Kalian pasti tak punya banyak duit. Mungkin ada sebabnya Tuhan membawa orang Meksiko ke sini.”

Aku menoleh ke Lindsey, yang tertawa ngakak sambil menggenggam punggung tanganku. Clint juga tertawa keras. Tapi aku yakin sekali apa yang ada di kepala Lindsey berbeda dengan apa yang ada di kepala Clint.

Aku hanya berdoa agar lain kali, kalau datang lagi kesempatan kembali ke Arkansas dan menyetir mobil, aku tidak lupa untuk menggunakan lampu jauh lebih sering, biar aku bisa melihat kijang-kijang itu, dan tidak perlu repot berbohong kepada calon mertua—amin.

Sore itu, aku ingin cium tangan ayah Lindsey, meskipun aku tahu dia pasti akan mengambil senapan dari dinding kamar tidur kalau sampai aku melakukannya. Bisa-bisa aku tahu rasanya jadi rusa.

Wawan Yulianto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.