Redaksi Omong-Omong

Seperti Dendam, Kepuasan Penonton Dibayar Tuntas

Prihandini N R

3 min read

Tak hanya dendam dan rindu yang harus dibayar tuntas, rasa penasaran untuk menyaksikan film adaptasi novel Eka Kurniawan di layar lebar itu pun juga harus dibayar tuntas. Setelah penantian yang cukup panjang, akhirnya film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas resmi tayang di bioskop sejak 2 Desember lalu. Sebelumnya, pada 14 Agustus 2021, film ini meraih Golden Leopard di ajang Locarno Internasional Film Festival di Swiss. Dengan kemenangan itu, makin bertambahlah rasa antusias penonton untuk segera menyaksikan film garapan Edwin tersebut.

Rasa puas menyaksikan film tersebut dibayar tuntas selama 115 menit. Dari awal hingga akhir, film ini menampilkan adegan yang gamblang, berani, dan memikat hati. Sangat melegakan rasanya bahwa alur cerita inti versi novel berhasil dipertahankan dalam film ini. Adegan dibuka dengan begitu berani. Dan rasanya kegamblangan dialog serta visualisasi yang memikat tak berkurang intensitasnya sampai cerita berakhir.

Seperti dalam novelnya, film ini mengusung cerita aksi dan romansa. Penggerak utama cerita adalah masalah disfungsi ereksi yang dialami Ajo Kawir (Marthino Lio) setelah peristiwa traumatis di mana ia dipaksa manyaksikan tragedi pemerkosaan wanita bernama Rona Merah oleh dua orang polisi. Akibat kejadian tersebut, “burung” Ajo Kawir tak bisa berdiri. Berbagai cara sudah ditempuhnya, tetapi tak ada yang berhasil. Merasa frustasi menjadi pria dewasa yang impoten, Ajo Kawir menjadikan bertarung sebagai pelampiasan amarahnya. Bertarung juga ia gunakan sebagai cara lain untuk menunjukkan kejantanannya.

Hingga pada suatu waktu, Ajo Kawir terlibat pertarungan dengan seorang bodyguard wanita bernama Iteung (Ladya Cheryl). Dari adu jotos tersebut, justru timbul rasa kasmaran di antara keduanya. Kisah cinta mereka penuh tarik ulur. Ajo Kawir ragu untuk melanjutkan hubungan karena kekurangannya. Iteung, di sisi lain, bukanlah tokoh perempuan klise yang hanya bisa menunggu. Justru Iteung duluan yang mengajak Ajo Kawir menikah dan siap menerima semua kekurangannya.

Namun, Iteung juga bukan wanita sempurna. Penerimaannya kepada Ajo Kawir memiliki batas. Ia juga menyimpan traumanya sendiri dan hubungan masa lalu dengan pria bernama Budi Baik. Dari sini, konflik semakin memuncak. Perjalanan cinta Ajo Kawir dan Iteung dilalui dengan deretan aksi balas dendam, frustasi, amarah  meletup-letup, serta penerimaan yang berhasil divisualiasikan dengan apik dan didukung oleh latar musik yang mempertegas suasana cerita.

Mengambil latar di suatu tempat bernama Bojong Soang di akhir tahun 80-an, film ini begitu detail menggambarkan kondisi sosial dan budaya pada masa-masa tersebut. Misalnya, fragmen Iteung menitipkan pesan kepada Ajo Kawir lewat radio. Berkali-kali Ajo Kawir menanti dengan seksama di depan radio untuk mendengar pesan Iteung. Sesuatu yang sudah sangat jarang dilakukan di era internet seperti sekarang.

Fragmen lainnya adalah pemutaran lagu dangdut, khususnya tembang Sekuntum Mawar Merah yang didendangkan beberapa kali pada film ini. Kekuatan detail lainnya ada pada pemilihan wardrobe dan gaya rambut para pemerannya yang semakin menguatkan visualiasi tahun 80-an.

Mengangkat Isu Gender dan Kekerasan Seksual

Film ini membangun kritik terhadap maskulinitas toksik. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya adegan pertarungan yang dilakukan Ajo Kawir. Selain pelampiasan amarah, untuk menutupi perasaan inferior atas masalah seksualitasnya, Ajo Kawir bertarung agar tetap terlihat jantan. Dalam menyelesaikan apa pun, bagi Ajo Kawir, adu jotos adalah jalan keluarnya.

Hal lainnya adalah ukuran kejantanan laki-laki yang dilihat dari kemampuannya di ranjang. Jelas Ajo Kawir juga tak memiliki itu. Konstruksi sosial yang sudah terbentuk sedemikian rupa tentang maskulinitas laki-laki ini membuat konflik batin dalam diri Ajo Kawir begitu rumit.

Karakter Iteung yang tangguh dan tidak klise memiliki magnet tersendiri. Tak hanya sekadar jago berkelahi. Iteung, jauh lebih daripada itu. Ia perempuan yang tahu apa yang ia inginkan. Ia berani mengungkapkan keinginannya dan berusaha mendapatkannya. Iteung tak malu memulai lebih dulu. Seperti ia berani mengajak Ajo Kawir kawin duluan. Selain itu, sebagai seorang perempuan, ia tahu apa yang tubuhnya inginkan. Iteung paham bahwa ia punya kuasa atas tubuhnya sendiri. Karena keterbatasan kemampuan seksual Ajo Kawir, pada beberapa adegan, Iteung tak malu untuk meminta Ajo Kawir melakukan sesuatu demi kesenangannya. Iteung juga memiliki cinta yang besar kepada suaminya, ia bahkan tak segan melakukan balas dendam kepada dua polisi yang menjadi biang keladi atas mati surinya “burung” Ajo Kawir.

Selain itu, film ini juga mengangkat isu kekerasan seksual yang dialami tokoh utamanya. Berbeda dengan Ajo Kawir yang harus menyaksikan tragedi pemerkosaan saat ia masih bocah, Iteung mengalami kekerasan seksual oleh gurunya. Iteung menyimpan trauma itu hingga ia dewasa. Tak berhenti sampai di situ, Budi Baik yang mengetahui trauma Iteung, turut memperparah kondisi Iteung dengan melakukan tindakan manipulatif untuk mendapatkan keuntungan dari perempuan itu.

Film ini memberikan pesan bahwa kekerasan seksual bisa terjadi kepada laki-laki dan perempuan. Trauma akibat kekerasan tersebut bisa berlangsung untuk waktu yang lama dan berdampak pada perilaku sosial penyintasnya.

Totalitas

Film ini diproduksi oleh Palari Film. Eka Kurniawan, sebagai penulis novel ini juga turut mengambil peran sebagai penulis skenario bersama Edwin. Di depan layar, keberhasilan eksekusi film ini tak lepas dari kemampuan adu peran para aktornya yang tak perlu diragunakan lagi. Selain Marthino Lio dan Ladya Cheryl yang berperan sebagai Ajo Kawir dan Iteung, Ada Reza Rahadian yang berperan sebagai Budi Baik. Reza, yang biasa mendapat peran likeable di film-filmnya yang terdahulu, berhasil memerankan Budi Baik yang manipulatif dan bikin kesal. Aktor lain yang turut membintangi film ini antara lain Christine Hakim (Mak Jerot), Ratu Felisha (Jelita), Lukman Sardi (Codet), Djenar Maesa Ayu (Rona Merah).

Film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar tuntas tak hanya menawarkan kisah romansa penuh aksi balas dendam, lebih dari itu, film ini menawarkan nostalgia serta pengalaman menonton film yang berani dan penuh totalitas.

Prihandini N R
Prihandini N Redaksi Omong-Omong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.