Penggemar kretek, mengurus blog pribadi pojokbebal.wordpress.com di waktu senggang.

Sebuah Acara dan Dongeng Pak Tuo

Faisal Akbar

6 min read

Gerombolan awan menggantung di langit. Matahari mulai meninggi. Seiring dengan itu, kue-kue ditata, karpet digelar, dan lampu-lampu dinyalakan. Prasmanan pun sudah rapi untuk selanjutnya dinikmati. Seluruh tamu secara bertahap mengerubungi ruangan dengan khidmat. Beberapa saat, tembok memantulkan suara di antara lukisan-lukisan bernuansa kolonial. Suara itu milik Pak Tuo, kiai yang bertugas memimpin doa.

“Pada siang yang berbahagia ini, dengan mengucap syukur yang tak terhingga, kita semua berkumpul di sini guna melaksanakan doa bersama….”

Jarna bukanlah salah satu dari tamu itu. Ia hanya mengantar, tidak lebih, tidak kurang. Maka, ia putuskan untuk berdiam diri di sudut jalan, di seberang rumah yang punya hajat, dekat sebuah tanah partikelir, hanya menunggu dari kejauhan. Jarna menunduk, meremasi jemarinya.

“Semoga Tuhan melimpahkan keberkahan yang tak terhingga untuk pasangan Suson dan Ansri yang baru saja dikaruniai anak perempuan,” suara Pak Tuo sayup-sayup mengambang.

Sebetulnya, perkataan semacam itu bukan pertama kalinya Jarna jumpai. Ia pun mundur beberapa depa dan hampir saja terperosok. Oh, betapa benci dirinya mendengar kalimat itu untuk ke sekian kalinya, lagi dan lagi.

***

Sebagai suami istri, Jarna dan Arida mempunyai kebiasaan unik. Mungkin hanya segelintir, atau memang hanya merekalah yang melakukannya. Tiap akhir bulan, Jarna dan Arida rutin mengunjungi rumah-rumah megah yang sedang mengadakan acara, khususnya yang mengikutsertakan anak yatim. Acara ulang tahun, anniversary pernikahan, syukuran wisuda, sampai akikah sudah sempat disambangi. Melalui sejumlah kenalan, mereka acapkali mendapat informasi mengenai agenda yang akan diadakan di kawasan sekitar.

Jarna dan Arida pun disematkan gelar doktor atas pengalaman dan pencapaiannya di bidang numpang hajatan. Misalnya seperti ulang tahun, mereka paham bahwa tawa paling meriah adalah aksesoris wajib supaya bisa membaur dengan keramaian. Kali lain di anniversary pernikahan, senyum dan ekspresi haru dituntut untuk merekah di tiap wajah. Ketika di syukuran wisuda, tepuk tangan adalah kegiatan terpenting nomor dua setelah berdoa. Sementara acara akikah membuktikan bahwa jumlah kata aamiin berbanding lurus dengan populasi daging-dagingan di meja.

Acara terakhirlah yang membuat hati Jarna dan Arida ciut dan terbenam ke dasar bumi. Bagi mereka, akikah menjadi tolok ukur harkat manusia dalam peranannya sebagai orang tua. Saking sulitnya ekonomi, Jarna seringkali bersemedi meminta bayi perempuan kala Arida hamil. Alasannya, ia hanya mampu membeli satu kambing untuk dikurbankan.

Adapun misi numpang hajatan secara acak ini cuma bermuara pada satu tujuan: menyantap lauk-pauk sampai kenyang dan membawa pulang nasi kotak. Kalau dihitung-hitung, bekal tersebut cukup untuk makan dua malam. Ini lebih efektif daripada program makan siang gratis, pikir pasangan muda itu.

Di acara-acara keluarga hartawan, suguhan yang tersedia sangat lengkap sekaligus sarat akan nutrisi. Sebut saja dari protein, karbohidrat, serat, dan seterusnya. Lingkungannya pun bersih dan udaranya segar untuk dihirup. Intinya, sangat cocok untuk memperbaiki kualitas hidup, meski hanya untuk 45 menit. Melalui persekongkolan dengan para tetangga, Jarna dan Arida menyambangi orang-orang berduit yang hendak mengundang anak-anak yatim beserta ibunya.

Singkat cerita, Arida—yang senantiasa menggendong bocah sulungnya—mengaku dirinya seorang janda dan berlagak telah ditinggal mati sang suami. Tentu saja Jarna tak pernah menampakkan diri, karena bisa-bisa kepergok. Rahasia ini tentu sangat dijaga agar segala sesuatunya bergulir tanpa hambatan.

Hingga pada suatu siang, Jarna dan Arida berkesempatan untuk pergi ke rumah seorang konglomerat di salah satu kompleks permukiman elite. Dari kabar yang beredar, sang tuan rumah mengepalai sebuah perusahaan tambang yang berlokasi di Kalimantan. Usut punya usut, acara ini dilaksanakan sebagai hadiah kecil untuk bayi yang baru memasuki bulan ketujuhnya di dalam kandungan.

Maka, di situlah Jarna, mengutuk diri sendiri sambil memandangi Arida dari jendela lewat terali pagar. Dilihatnya Arida tengah duduk di tepi karpet, seraya memangku Tofi, anaknya yang berusia dua tahun. Mengingat harga susu formula dan vitamin yang terlampau mahal, mereka sangat bergantung pada acara yang melibatkan anak yatim.

Cepat atau lambat, perkedel, tempe dan bayam mesti diperbarui dengan daging-dagingan supaya memenuhi tumpeng gizi seimbang. Kata pemerintah dan dokter, ini semata-mata untuk mengatasi stunting pada anak. Dan demi memenuhi itu semua, Jarna harus memisahkan diri dari Arida dan Tofi selama 45 menit.

***

Acara dimulai. Sang pemimpin doa, Pak Tuo, pertama-tama menyapa para tamu. Tak lama berselang, mulutnya komat-kamit di ujung mikrofon.

“Semoga kelak menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, sehat, serta sempurna lahir dan batin.”

Aamiin….

“Semoga baik budi pekertinya dan bijaksana dalam menentukan pilihan saat dewasa nanti.”

Aamiin….

“Semoga dengan adanya bacaan ayat suci ini, sang buah hati merasa gembira dan kehamilan Mbak Ansri diberi kelancaran sampai masa kelahiran kelak. Aamiin,” tutur Pak Tuo.

Jarna termenung. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menguasai diri dan tidak meratap. Air matanya ditahan sedemikian rupa di pelupuk. Di lubuk hatinya, ia ingin sekali mengadakan acara ini, membacakan ayat-ayat suci yang ditujukan khusus kepada anaknya.

Namun sayangnya, jamuan ini tentu membutuhkan biaya besar mencakup jasa pemasangan tenda, sound system yang mumpuni, deretan hidangan, amplop, dan lain-lain yang niscaya menguras isi dompet seorang tukang pijat keliling sepertinya.

***

Sudah hampir lima tahun lamanya Jarna menggeluti dunia pijat. Kendati begitu, ia masih terbilang junior dalam hal jam terbang. Tidak sedikit seniornya yang sudah berkecimpung lebih dari satu dekade. Manis dan pahit telah dirasakan. Ada yang memberi bonus, ada yang ogah bayar dengan alasan punggungnya tambah pegal, sampai ada yang menuduh Jarna memasukkan jin dan menaruh guna-guna. Akan tetapi, dari sekian banyak pelanggannya, ia dirasuki semangat lebih ketika jasanya digunakan Pak Tuo, sang kiai kampungnya itu.

Pak Tuo sangat menyayangi Jarna dan Arida, layaknya seorang bapak mencintai anak-anaknya. Mereka diperkenalkan oleh sesuatu yang bernama kehidupan. Sejak menyelesaikan pendidikan di Mesir, Pak Tuo terbiasa mengurus anak yatim-piatu di pondokannya, termasuk Jarna dan Arida. Pak Tuo pun gemar sekali menerima keluh kesah sekaligus dimintai nasihat. Dari masalah ranjang ke ekonomi rumah tangga, dari urusan fikih ke pilihan politik. Pokoknya apa saja.

Berkat perilakunya yang luhur itu, ia meraup hormat dari warga kampung. Tetapi, dengan pengaruhnya yang luas itu, Pak Tuo menolak dipanggil dukun sakti atau pertapa atau diangkat menjadi kepala desa. Ia mengaku takut jika suatu saat melakukan penyelewengan. Sesepuh itu pun turut mengajak tetangga untuk mengikuti berbagai acara yang dipimpinnya, tak terkecuali Jarna dan Arida.

“Berhubung kita tidak mungkin membalas kebaikan Tuhan yang agung, maka balaslah kepada orang-orang sekitar,” tegas Pak Tuo yang tiada bosan-bosannya.

Sembari dipijat, Pak Tuo senang sekali mendongeng. Celotehannya tergolong dahsyat bagi Jarna yang hanya tamatan SD. Sebab, beragam ceritanya sanggup membuat orang termangu sepanjang pekan. Berdasarkan pendiriannya, Pak Tuo menganggap bahwa dongeng diciptakan untuk semua kelompok umur.

Teristimewa untuk Pak Tuo, pijatan Jarna cukup dibayar dengan sebuah dongeng. Kata dia, dongeng adalah utang yang tidak pernah lunas di sepanjang masa kecilnya. Maka dalam kesempatan itu, sambil membaluri punggung Pak Tuo dengan minyak, Jarna kembali menagihnya.

***

“Jarna, apakah kamu tahu? Ada tempat bernama Naceria. Paling tidak, kita belum pernah tahu nama aslinya sejauh ini. Pasalnya, wujudnya lumayan pelik untuk diuraikan. Di sana ada hamparan teras yang luas, dijejali pilar-pilar besar berwarna putih yang mendekati warna kelabu. Dindingnya kokoh tapi setipis selaput, terbuat dari kombinasi safir, mirah, dan zamrud yang membuatnya berkelap-kelip sepanjang waktu,” ujar Pak Tuo mengawali kisahnya.

Pada menit-menit awal, Jarna melakukan gerakan kneading dengan menarik otot menjauh dari tulang guna mengurangi kejang serta meningkatkan kelenturan, kemudian beralih ke effleurage.

“Langit Naceria berupa perpaduan antara senja dan fajar. Tiada siang ataupun malam yang bergelayut. Ufuk barat ke timur hanya melukiskan serpihan thaumatin yang berpendaran. Bergerak ke sisi kiri, tampak sungai yang dipenuhi serupa pohon wisteria.”

Dengan mata yang terbelalak, Jarna menunaikan teknik rubbing agar peredaran darah Pak Tuo lancar sentosa.

“Di tempat itu, rasa dan perasaan masih mengayun tanpa arah. Cahaya bisa dipadatkan sesuka hati. Di Naceria, rasa jenuh tak pernah muncul barang sedetik pun. Lautannya berisi prosa yang bisa bernyanyi. Tiada satu hal pun yang sanggup menangkap frekuensinya kecuali para penghuni yang berjumlah jutaan, bahkan miliaran bila ada yang berniat menghitungnya. Namun hingga kini, hitungan itu akan terputus di sepertiga jalan lantaran tidak ada teknologi yang cukup canggih untuk mengerjakannya.”

Jarna hanya mengangguk tanda kagum, sementara kedua telapak tangannya masih memijat-mijat leher Pak Tuo yang mengendur dilahap umur menggunakan teknik compression.

“Siapa pun boleh jadi penghuninya, syaratnya: harus mau menjadi anak-anak. Dengan keluguannya, dengan kemurniannya,” Pak Tuo menyeruput kopinya yang sisa separuh.

“Di Naceria itu, apakah penghuninya cuma anak-anak belaka?” Jarna mengusap-usap tangannya kembali dengan minyak. Aroma zaitun menguap.

“Mereka diasuh oleh Tuan yang berpijar antara nol dan nol. Untuk menjelaskannya, triliunan sajak belum lagi cukup. Sang Tuan tidak pernah sejengkal pun melewatkan peristiwa yang terjadi di Naceria. Sebagai entitas, ia sudah terbiasa disapa dengan berbagai nama, dari Adonai, Allah, Yahweh, Elohim, hingga huruf dan abjad tidak dapat dikembangkan lagi,” lanjut Pak Tuo.

“Pada jam tertentu—meski tak memiliki sebuah penanda seperti jarum, titik, angka, atau simbol lainnya—para penghuni akan duduk berjubel untuk saling bertukar cerita. Mereka belum menghidupi dunia tentang laki-laki atau perempuan atau putih atau hitam. Obrolan itu lazimnya berlangsung hingga periode yang tidak dapat ditentukan.”

Sudah hampir setengah jam, Jarna mengeluarkan jurus andalannya, teknik tapotement yang sangat manjur bagi sirkulasi darah.

“Isi obrolannya begini…. Sewaktu kali, seorang penghuni bercerita bahwa ia kerap merasa kenyang walaupun makan hanya sesekali. Banyak pula yang mengaku bugar meski jam tidurnya jauh dari kata cukup. Di sudut lain, ratusan ribu penghuni juga mengaku tidak kegerahan meski cuaca sedang panas membakar. Sehabis kehujanan pun, rasa menggigil tak pernah hinggap barang setitik jua. Negeri Naceria memang spesial, karena bersangkut paut dengan dunia nyata.”

“Kenapa bisa begitu, Pak Tuo?” sergah Jarna keheranan.

“Jawaban itu hanya dipegang oleh Tuan, tidak ada yang tahu. Jarna, penghuni Naceria sadar bahwa hidup tak melulu menjanjikan kendaraan yang teduh, makanan yang cukup, rumah yang asri, atau lingkungan yang layak. Di negeri Naceria itu, masing-masing penghuninya mendapatkan kidung berupa doa secara adil. Berkat kidung itu, mereka mendapat keteguhan hati yang tak terbatas.”

“Andai Naceria benar-benar ada…,” sambut Jarna menanggapi.

“Sang Tuan, penguasa tempat itu, telah menuliskan tiap takdir penghuni dan mereka menjalaninya dengan penerimaan yang lapang. Para penghuninya, anak-anak itu, menghidupi kehidupan yang benar-benar hidup. Berbeda dengan kita yang tinggal di alam dunia ini, sering risau dan berat hati.”

***

Hari menjelang sore. Selepas acara, Arida menghampiri Jarna. Di sampingnya berjalan pula Tofi dengan menenteng nasi kotak. Mereka melebarkan senyum. Sebelum bergegas pulang, Jarna mengusap kepala anak sulungnya.

“Apakah kamu sudah kenyang, Tofi?”

“Sudah, kok. Ohya, terima kasih ya, Pak.”

“Terima kasih untuk apa, Nak?”

“Terima kasih sudah memberi Tofi makan sampai kenyang. Lain kali, kita makan bertiga dengan Ibu, ya?”

Persis setelah kalimat itu selesai, ada yang entakan dalam dada Jarna. Ia menahan ombak di tepi matanya.

***

Editor: Ghufroni An’ars

Faisal Akbar
Faisal Akbar Penggemar kretek, mengurus blog pribadi pojokbebal.wordpress.com di waktu senggang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email