Domisili di Sleman, Yogyakarta.

Roti sebagai Penanda Kedudukan Sosial pada Masa Hindia Belanda

Airlangga Wibisono

2 min read

Makanan menjadi salah satu hasil kebudayaan yang jarang disadari oleh banyak orang. Tanpa menautkan makanan dengan kebudayaan, makanan hanya diartikan sebagai bahan pokok kehidupan manusia. Dan karena itu, manusia mengartikan makanan sebatas cita rasa atau kandungan gizi, atau yang paling jauh menjadi bahan ulasan para pengulas makanan, yang sekarang jumlahnya seperti cendawan di musim hujan.

Pada kenyataannya, keberadaan suatu makanan tidak sesederhana itu. Makanan membawa sebuah narasi di balik eksistensinya. Dan bagi para ahli sejarah, kemampuan menemukan atau bahkan membongkar narasi dari sebuah makanan merupakan capaian yang istimewa.

Baca juga:

Roti Penentu Kelas Sosial

Penelusuran sejarah makanan menjadi lahan basah penelitian, ada banyak ruang untuk digarap. Dan hanya para ahli sejarah tekun serta iklhas yang dapat mengisi ceruk tersebut. Salah satu ahli sejarah tersebut adalah Rose Mariadewi, dengan penelitiannya yang telah terbit menjadi buku berjudul Konsumsi Roti di Kota Yogyakarta 1921-1990 (2022).

Roti menjadi hal menarik di masyarakat Jawa karena tidak semua kalangan bisa membeli produk roti.” (hlm. 4)

Kutipan di atas berlaku waktu Indonesia masih bernama Hindia Belanda, dan begitulah yang pernah terjadi. Pada masa tersebut, roti adalah simbol dari kelas sosial yang tinggi. Itu artinya hanya golongan elite pada masa Hindia Belanda yang boleh mengonsumsinya, yaitu para masyarakat Eropa atau golongan bangsawan–yang di Jawa dikenal dengan golongan priyayi.

Bahkan salah satu toko roti tertua di Cianjur yang bernama Tan Keng Cu, baru bisa menjual rotinya kepada masyarakat Indonesia setelah tahun 1950. Hal ini disebabkan toko roti tersebut menjadi distributor utama roti untuk para tentara Belanda di seluruh Jawa Barat.

Gambaran roti sebagai kebudayaan golongan elite dapat ditemukan dalam roman Mata Gelap karangan Mas Marco Kartodikromo yang terbit pada tahun 1915. Pengarang roman yang termasuk penulis bacaan liar ini sering menggunakan kata “roti” untuk melukiskan suasana golongan priyayi dalam menjalani keseharian.

Pukul 8 pagi Retna Permata bangun dari tidur. Lalu perintah kepada Vizat supaya pintu rumah dan jendela-jendela di buka semua, begitu juga ia mengamat-amati apa semua makanan yang tersedia di meja makan sudah cukup. Sesudah selesai semua, Tuan Subriga dikasih bangun, lantas bersama-sama mandi di kamar mandi…

Sehabis mandi keduanya sama minum kopi di meja makan, di sini tersedia roti, mentega, keju, enz, enz.” (hlm. 43)

Menjadikan roti sebagai pilihan menu sarapan, seperti apa yang dilakukan oleh tokoh-tokoh golongan priyayi pada roman Mata Gelap juga dilakukan oleh Sultan Hamengkubuwono VIII. Dalam buku ini terdapat bukti catatan yang menerangkan bahwa setiap paginya Sultan Hamengkubuwono VIII selalu disajikan minuman panas berupa teh atau coklat susu. Lalu, sebagai makanan pendampingnya, ia memilih mete atau kue kering, tetapi yang menjadi favoritnya adalah roti sobek.

Roti dan Gengsi

Sebagaimana dua bukti tersebut, baik dalam roman atau catatan sejarah, dapat disimpulkan bahwa roti telah menjadi gaya hidup di Indonesia selama masa kolonial, lebih lagi bagi masyarakat Hindia Belanda yang hidup di perkotaan. Dari sini pula dapat dilihat bahwa budaya Eropa yang dibawa oleh Belanda  memasuki wilayah kebudayaan lokal, dalam kasus ini adalah Jawa. Penguatan budaya Eropa ini berlangsung sekitar tahun 1900 sampai kedatangan Jepang pada tahun 1942.

Hal lainnya, pandangan bahwa budaya Eropa merupakan cerminan dari kehidupan modern dan beradab saat itu berdampak pada berbondong-bondongnya para bangsawan dan priyayi Jawa meniru budaya yang dibawa oleh Belanda tersebut. Dan sebenarnya mereka melakukan itu semata-mata agar tidak dianggap ketinggalan zaman atau sebatas gengsi.

Dalam bukunya yang berjudul Rijsttafel Budaya Kuliner Di Indonesia Masa Kolonial 1870-1942, Fadly Rahman menjelaskan bahwa kekuasaan yang dipegang oleh pemerintah kolonial Belanda berdampak pada anggapan para priyayi bahwa meniru sikap budaya Eropa dapat memperlancar karier mereka untuk mendapat jabatan dan menaikan martabat dalam ruang lingkup masyarakat kolonial. Salah satu budaya Eropa yang ditiru itu adalah mengonsumsi roti.

Baca juga:

Namun ketahuilah, terdapat sebuah narasi sejarah yang berkebalikan tentang Belanda sendiri terkait kuliner, yang menurut para golongan priyayi Jawa saat itu “beradab.” Seorang pelancong Inggris, Charles Walter Kinloch, saat berkunjung ke Jawa pada tahun 1852 menganggap kebiasaan makan dan makanan yang dikonsumsi orang Belanda tidak bermutu.

Ia bahkan menyatakan dengan gamblang bahwa makanan yang dikonsumsi orang-orang Belanda di Jawa tidak baik bagi kesehatan, menjijikkan, serta didominasi makanan yang berasam dan mentega yang beraroma busuk. Mereka jarang memasukkan rempah pada makanan mereka. Padahal itu berkebalikan dengan makanan orang-orang Jawa yang sarat akan penggunaan rempah pada komposisinya.

Telepas dari catatan sejarah tentang roti di atas, sekarang kita dapat menikmati roti dengan mudah. Bahan-bahan pembuatannya sekarang ada di mana-mana. Kita juga dapat membuatnya sendiri. Selain itu rekam jejak roti semasa Hindia Belanda masih dapat kita jumpai dan rasakan sampai sekarang. Kunjungi toko roti tua di kota-kota kita, seperti di Yogyakarta ada Toko Roti Djoen, Toko Roti Oen di Semarang, Toko Roti Tan Ek Tjoan di Bogor, dan sebagainya. Atau cobalah memakannya sambil mencari asal-usul roti spekkoek, ontbijkoek, roti gambang, dan lain sebagainya. Dengan begitu kiranya kita dapat mengenali roti, jauh lebih dari sekadar teman minum kopi atau teh.

 

Editor: Prihandini N

Airlangga Wibisono
Airlangga Wibisono Domisili di Sleman, Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email