Mahsiswa semester VIII tasawuf dan psikoterapi Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur.

Resolusi Konflik Islam versus Sains

Faris Ahmad Toyyib

3 min read

Saya pernah menulis tentang perlunya mengakomodasi asumsi-asumsi naturalis dalam menjalankan keyakinan di Mengimani Islam, Mengamini Sains. Namun, iman naturalis saja ternyata belum cukup sebagai jalan tengah bagi bentrokan antara Islam dan sains. Perlu ada perspektif lain yang lebih rasional untuk menjembatani pertentangan epistemologi Islam dan sains Barat tanpa terkesan memaksakan preferensi dalam menjalankan keyakinan.

Sebuah riset dari Jepang menyatakan bahwa mengunyah makanan lebih banyak menghasilkan enzim yang membantu pencernaan. Riset ini sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad soal mengunyah makanan 21 atau 40 kali sebelum menelan. Padahal, ajaran tersebut muncul ribuan tahun sebelumnya ketika sains modern belum lahir. Itu berarti, ajaran ini adalah penemuan yang melampaui zamannya, serta penunjuk bahwa ajaran Islam tidak punya masalah dengan sains.

Baca juga:

Ada banyak riset murni sains serupa yang berfungsi mengukuhkan keimanan umat Islam. Ini membentuk purbasangka bahwa segala klaim Al-Quran tentang alam adalah fakta meskipun belum mendapat pembuktian dari sains. Tentu, purbasangka seperti itu tidak proporsional. Seharusnya, agar sebuah klaim bisa dianggap sebagai fakta sains, ia harus mendapat validitas empiris terlebih dahulu.

Memang Al-Quran adalah doktrin, tetapi ketika meminta bantuan sains, ia harus tunduk terhadap cara kerja sains. Perkawinan Al-Quran dan sains tidak akan berjalan mulus. Sebab, dua hal ini punya perbedaan epistemologi yang terlampau kontradiktif.

Klaim-klaim Al-Quran telah final dan sempurna. Artinya, pengetahuan Al-Quran mencapai titik puncak, yaitu menggenggam kebenaran absolut. Suatu penjelasan yang diberikan dalam ayat tertentu, misalnya soal penciptaan manusia dalam surah Al-Mu’minun ayat 12-13. Muatan ayat tersebut mesti diterima tanpa dipertimbangkan lagi. Bahkan, kebenaran dalam ayat tersebut semestinya tidak perlu konfirmasi eksternal.

Sains tidak seperti itu, ia perlu proses untuk menuju kebenaran. Teori, fakta, dan hipotesis tertentu suatu saat bisa dikembang atau dipatahkan oleh temuan lain. Dengan kata lain, ia relatif.

Pada masa sebelumnya, atom dianggap sebagai unsur terkecil yang tidak dapat dibagi lagi. Namun, Niels Bohr, antara 1913-1915, membuktikan bahwa di dalam atom ada unsur lebih kecil yang membentuk struktur atom. Di tahun 1964, Gorge Zweig dan Murray Gell Man menemukan kuark sebagai unsur terkecil penyusun struktur atom.

Contoh kasus lain, pada abad 6 SM, orang-orang Yunani mengklaim bahwa Bumi berbentuk bulat dan pusat tata surya. Istilah untuk klaim ini adalah geosentrisme. Persepsi bahwa klaim ini benar bertahan ribuan tahun lamanya, hingga pada tahun 1543 Kopernikus menerbitkan sebuah buku yang membantah geosentrisme. Buku itu mengangkat teori helisosentrisme, yakni matahari sebagai pusat tata surya, bukan Bumi. Hari ini, semua orang membenarkan Kopernikus.

Melalui uraian tadi, memadukan klaim Al-Quran dan sains penuh risiko, bahkan bisa meruntuhkan sakralitas agama. Di satu waktu, proses perkembangan sains yang terus menerus bisa saja akan menyangkal kesesuaian ayat dan fakta sains tertentu.

Ketika Al-Quran bisa disalahkan, regresi iman mungkin akan mewabah. Klaim-klaim lainnya seperti soal ketuhanan dan moralitas juga dimungkinkan untuk dianggap keliru, bahkan dianggap omong kosong belaka. Lantas, bagaimana status klaim Al-Quran tentang alam? Mungkinkah tanpa bantuan sains, klaim Al-Quran tentang alam tetap dianggap benar?

Saya kira tidak bisa. Mungkin sains bukan apa-apa dibandingkan Al-Quran. Namun, bila menyangkut upaya manusia memahami kealaman, sains adalah pengetahuan terbaik yang kita miliki saat ini. Oleh karena itu, Al-Quran tidak bisa lepas dari sains. Melepas sains, secara implisit, sama halnya menjadikan ayat-ayat yang menjelaskan fenomena alam sebagai fiksi atau mitos.

Bila kita hendak mempertahankan bahwa segala klaim Al-Quran tentang alam adalah fakta, maka kita perlu membuat ayat-ayat kealaman memberi ruang bagi relativisme sains di dalamnya. Caranya adalah dengan me-mutasyabih-kannya.

Muhkam dan mutasyabih adalah salah satu perangkat metodologi tafsir Al-Quran. Pengklasifikasian ini dibuat Allah sendiri melalui surah Ali Imron ayat 7 yang tidak begitu jelas pendefinisiannya sehingga memberikan ruang kontroversi. Misalnya, Muhammad bin Alawi Al-Maliki, dalam Zubdat Al-Itqon, ringkasan dari kitab Al-Itqon karya Jalaluddin As-Sayuti, menyajikan berbagai pendapat soal kapan sebuah ayat itu muhkam atau mutasyabih.

Sebuah pendapat mengatakan muhkam adalah ayat yang maknanya terang, sedangkan mutasyabih kebalikannya. Pendapat lainnya mengatakan bahwa muhkam adalah yang maknanya dapat diketahui melalui analisis atau aksioma. Sementara itu, mutasyabih adalah yang hanya diketahui oleh Allah, misalnya Dajjal dan kiamat. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa muhkam adalah ayat yang hanya memiliki satu makna, sedang mutasyabih adalah ayat yang maknanya majemuk.

Dari beragam pendapat—yang sebenarnya masih banyak yang tidak disebutkan, bagian terakhirlah yang mungkin digunakan sebagai alternatif. Penggunaan alternatif ini membuat ayat terbuka terhadap relativitas sains. Jadi, ketika terjadi kecocokan sebuah penemuan sains dengan Al-Quran, kemudian temuan yang cocok itu dipatahkan oleh penemuan lain yang berseberangan, klaim Al-Quran tidak serta-merta ikut keliru.

Dengan begitu, kecocokan suatu ayat Al-Quran dengan temuan sains tersebut hanyalah salah satu makna dari sekian makna lainnya yang masih belum tentu merupakan makna sesungguhnya. Cohtohnya, pemahaman tentang kata dzarrah (benda terkecil). Mungkin, di masa ketika Nabi masih hidup, kata itu dimaknai biji kurma, jagung, atau semacamnya. Namun, di era kita, benda terkecil yang kita ketahui adalah kuark. Maka, hari ini, dzarrah adalah kuark.

Kalaupun nanti ditemukan benda yang lebih kecil lagi, maka makna dzarrah adalah benda itu. Antara biji jagung, kuark, dan materi kecil lain yang belum ditemukan, semunya bisa dianggap benar karena bagian dari kemajemukan makna kata dzarrah.

Baca juga:

Kita perlu gagasan rekonsiliasi dalam memandang isu ini. Kita membutuhkan sains untuk menciptakan kehidupan dunia yang lebih sejahtera secara material. Sementara itu, kita membutuhkan agama sebagai asupan spiritualitas. Tanpa pemenuhan dua aspek ini, hidup akan kacau.

 

Editor: Emma Amelia

Faris Ahmad Toyyib
Faris Ahmad Toyyib Mahsiswa semester VIII tasawuf dan psikoterapi Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email