Rambut Baru Oma Nana

Hasan Aspahani

3 min read

Kami ini para penyintas pandemi. Teman-teman dekatku, yang tinggal sekota di kota ini rasanya hanya tinggal Ingka. Itu yang membuat kami semakin dekat.

“Eben ada?” kataku, kepada pegawai salon yang tampak bingung. Ingka senyum-senyum.

“Maksudnya Pak Benny, Bu?” katanya.

“Iya, bosmu. Yang punya salon ini.”

“Lagi liburan di Bali, Bu… Ibu sudah janjian?”

Sama Eben pakai janjian. Dari dulu juga aku datang-datang saja kalau mau ke The Crownest Salon ini. Sejak salon ini masih nebeng di ruko dan belum punya nama.

“Kapan dia pulang?”

“Katanya sih besok, Bu. Sudah dari Kamis sih liburnya. Ke Ubud, atau ke mana gitu, katanya…”

“Gimana nih, Ing?”

“Ya, nggak gimana-gimana. Kamu kan yang tadi ngajak mampir. Saya sih nemenin aja,” kata Ingka.

Pegawai itu tampaknya masih bingung dengan kedatangan dua pelanggan sok akrab yang manggil bosnya dengan nama Eben. Tampaknya dia pegawai baru. Pegawai lama pasti tahu siapa aku dan Ingka.

“Telepon aja, Bu, kalau memang ada yang urgent banget,” kata si pegawai. Dia mungkin mulai bisa menebak siapa kami, dan kedekatan kami dengan bosnya, dia bicara sopan dan tampak mulai nyaman dengan kehadiran kami.

“Si Eben kalo nelepon harus siapin waktu dua jam,” kataku. Ingka terus saja tertawa.

“Kamu namamu siapa?” tanyaku pada si pegawai.

“Yosa, Bu.”

“Baru ya?”

“Iya, baru dua bulan.”

Yosa mempersilakan kami duduk. Ada satu set kursi di pojokan. Cukup lega untuk menunggu. Eben tahu bagaimana memanjakan pelanggan. Salon masih sepi. Yosa tampak bekerja sendiri. Tak ada pegawai lain di salon itu. Sepagi itu belum ada pelanggan. Yosa sepertinya sedang menyiapkan peralatan untuk pelanggan yang sudah janjian. Ia menerima telepon dari pelanggan yang minta jadwalnya digeser ke sore.

“Sendiri aja, Yosa?”

“Hari ini sendiri. Tapi nanti siangan, ada yang masuk, kok. Beberapa pegawai lama sudah berenti, Bu. Pas pandemi kemarin kan salon tutup total sampai lebih dari satu tahun,” kata Yosa.

“Iwing mana?”

“Ikut Pak Benny ke Bali.”

“Kalo Andin apa kabarnya ya?”

“Andin kan meninggal, Bu. Covid gelombang kedua…”

Aku dan Ingka serentak mengucapkan innalillahi. “Kok Eben nggak ngabarin kita ya?” kataku. Kata Yosa, Andin, pegawai Eben yang paling digemari pelanggan dan diandalkan benar oleh Eben itu diminta buka cabang di selatan kota. Salon cabang itu tak terlalu berkembang. Andin sempat kembali sebentar lalu merebaklah pandemi.

Eben sempat juga diisiolasi. Kukira semangat hidupnya itulah yang sangat membantu menyelamatkan nyawanya. Ia orang yang gigih. Aku tahu benar bagaimana dia berjuang dari belajar memotong ramput, ikut kursus ini-itu dari tabungan yang ia sisihkan dengan amat disiplin, bila perlu mengurangi jatah makan, pindah dari satu salon ke salon, dari satu majikan ke majikan lain, yang baik dan yang kadang sejahat iblis, sampai buka salon sendiri dari kecil-kecilan sampai sebesar dan seterkenal The Crownest Salon ini.

Aku dan Ingka masih punya waktu sampai pukul 11 nanti, sampai jam pulang sekolah Arno. Masih lama. Mau ke mana?

Minggu-minggu ini aku dapat tugas antarjemput Arno, cucu laki-lakiku, yang mulai masuk SD. Arno, anak pertama Indra—anak bungsuku, tidak mau diantar kecuali oleh ayahnya, mamanya, atau aku neneknya. Kebiasaannya dari TK.

Minggu-minggu ini juga aku mengajak Ingka, sahabatku sejak SMA, ke mana-mana. Dia lagi butuh ditemani. Pandemi merenggut hampir semua orang terdekatnya. Ia ini nyaris tak punya siapa-siapa.

Marja, mamanya Arno sedang hamil besar anak kedua. Saya melarang dia ke mana-mana atau beraktivitas terlalu banyak. Dokter Iwan juga menyarankan begitu. Kehamilan Marja selalu susah. Fisiknya lemah. Arno lahir setelah beberapa kali kehamilan sebelumnya keguguran. Tidak sepertiku yang hamil tidak hamil sama saja. Elu sih emang kayak kuda kalo hamil, kata Dokter Iwan.

Indra sedang ada kerjaan di Balikpapan. Perusahaan tempatnya bekerja kebagian proyek pembangunan bendungan di kawasan IKN.

Aku tak pernah keberatan mengantar dan menjemput cucu. Dulu sejak Arwan, Ratih, sampai Indra, aku juga yang antar-jemput mereka. Itulah dukungan penuhku pada Mas Eros yang kala itu sedang menanjak karirnya sebagai dokter. Ke sekolah Laboria ini juga. Waktu seperti terbang, Mas Eros, seperti tak terasa, sudah tiga generasi sekolah di sini, sejak aku, anak-anak, dan sekarang cucu.

Kesempatan mengantar cucu ke sekolah tak kudapatkan dari anak-anak Arwan yang tinggal di kota lain, dan Ratih yang ikut suaminya tinggal di Australia.

Sejak anak-anak masih sekolah itulah aku kenal Eben dan salon Crownest-nya ini. Sudah hampir 40 tahun yang lalu. Habis ngantar, atau saat nunggu menjemput, aku mampir ngadem di Crownest.

“Kamu laper, nggak, Ing?”

“Masih kenyang banget. Tadi sarapan kebanyakan. Si Wati bikin pancake nggak tahu pake apa kok enak banget…”

“Terus, kita ngapain ya?”

“Nggak mau perawatan, Bu? Ini ada jadwal kosong, ada pelanggan yang minta dimundurin…,” tanya Yosa yang baru saja menerima telepon dari pelanggan. Dia sudah menyiapkan bahan dan alat-alat.

Ingka bukan orang yang suka nyalon. Kalau ke salon paling-paling buat potong. Segala creambath dan lain-lain ia lakukan sendiri. Aku bilang, dia tuh harusnya buka salon aja.

“Itu pelanggan yang mundurin jadwal mau ngapain?” tanyaku.

“Mau ngecat, Bu,” kata Yosa.

“Warna apa?”

“Ini, Bu. Ibu mau?” Yosa menunjukkan katalog warna cat rambut yang dia bilang terbaru dan terbaik. Beberapa pilihan warna tampaknya menarik juga.

Ingka senyum-senyum. Dia tahu saya tak pernah mengecat rambut. Dalam hatinya mungkin, ah kasihan Yosa, capek-capek saja menjelaskan, nggak akan….

“Ini boleh, nih…” kataku. Ingka terbelalak.

Di gerbang sekolah, giliran Arno yang terbelalak. Beberapa ibu yang menjemput anaknya senyum-senyum, yang lain memandang bingung, beberapa berkomentar kagum. Wuih, Tante Nana! Beberapa ada juga yang tampak seperti melihat hantu keluar dari kuburan.

“Ini Oma Nana? Oma potong rambut? Dicat?” Arno menunjuk ke rambutku. Rambut Oma Nana yang tadi mengantarnya berambut sebahu dan 75 persen putih dan kini Oma Nana yang menjemputnya berambut pendek dengan warna biru muda dan semburat ungu pada beberapa bagian.

“Kenapa, No? Jelek, ya?”

“Kereeen!” kata Arno, dengan nada suara bangga. Aku tahu Arno tak bisa bohong. Ia spontan dan jujur seperti omanya.

“Keren beneran nih, Pak Mukhlis?” tanyaku pada sekuriti sekolah.

“Hah? Ini Bu Prajna? Pangling saya, Bu. Dari tadi saya binggung, Bu. Hampir saya larang masuk. Saya pikir siapa? Seleb dari mana? Apa orang mau menculik Arno,” kata Pak Mukhlis.

Aku mengangguk-angguk yakin, sambil mengibas-ngibaskan rambut baruku.

“Iya, Pak Olis. Ini Oma Nana, Omanya Arno. Keren kan, Pak?” kata Arno.

Pak Olis mengambil sikap tegap, menghormat, bilang siap, lalu mengacungkan dua jempol. Ingka akhirnya tak tahan juga, lepas tawanya terbahak-bahak. Sakit perutnya menahan tawa dari tadi.

Hari ini dia tampak sangat bahagia.

Jakarta, Juni – September 2023

*****

Editor: Moch Aldy MA

Hasan Aspahani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email