Ghufroni An'ars Redaksi Omong-Omong

Politisi Boomer hingga Milenial: Semua untuk 2024

2 min read

Dari memasang baliho sampai manuver politik internal partai, dari membuat video hingga membentuk tim relawan. 2024 masih tiga tahun lagi, tapi semua politisi sudah bersiap-siap sejak hari ini.

Apa yang bisa kita pahami dari video Giring Ganesha yang menyebut Anies Baswedan seorang pembohong dan mewanti-wanti agar jangan sampai Anies menjadi Presiden RI?

“Rekam jejak pembohong ini harus kita ingat, sebagai bahan pertimbangan saat pemilihan presiden 2024. Jangan sampai Indonesia jatuh ke tangan pembohong, jangan sampai Indonesia jatuh ke tangan Anies Baswedan,” kata Giring  dalam video yang diunggah di akun media sosial DPP PSI (20/9).

Giring menyinggung soal pengucuran dana daerah untuk Formula E. Pembayaran ini dicairkan di masa pandemi Covid-19 yang dia nilai sebagai bentuk kekejaman di atas penderitaan rakyat.

Bila kita anggap kritik tersebut sebagai aksi cari muka dalam panggung pilpres 2024, tentu saja Giring tidak berhasil mendapatkan empati publik. Ia malah diserang balik di media sosial karena perkataannya dianggap omong kosong belaka.

Video Giring yang bertujuan untuk menjegal Anies dalam pencalonan 2024 justru bisa berpotensi menunjukkan kekuatan Anies yang telah membuat politisi lawan ketakutan bila ia bisa terpilih di 2024 nanti.

Yang pasti, video Giring yang viral itu kembali menambah bukti bagaimana politisi-politisi sudah berkasak-kusuk untuk memperebutkan kursi pada Pemilu 2024. Tanpa malu dan ragu, politisi-politisi bicara tentang Pemilu 2024 seolah sedang tak ada masalah yang dihadapi rakyat hari ini.

Upaya merebut kursi dan mengamankan kekuasaan menjadi satu-satunya hal yang dipikirkan politisi, tak peduli itu politisi muda atau senior, dari partai besar atau partai kecil.

Lihat saja bagaimana baliho-baliho bergambar wajah politisi berjejer di sepanjang jalan di berbagai daerah. Puan Maharani dengan kepak sayap kebhinekaan, Airlangga Hartarto yang percaya diri mengumumkan ia kerja untuk 2024, Muhaimin Iskandar yang mulai mendapuk diri sebagai calon presiden dalam baliho – sebuah peningkatan dibanding baliho menjelang 2019 di mana ia hanya menempatkan diri sebagai calon wakil presiden. Bahkan, sejak tahun lalu Giring juga ikut mendeklarasikan dirinya sebagai calon presiden 2024.

Meski Pemilu baru akan dilaksanakan dalam waktu 3 tahun ke depan, sejumlah lembaga survei sudah mulai melakukan pemetaan elektabilitas para kandidat calon presiden (capres). Survei berbagai lembaga menunjukkan terdapat 5 tokoh politik yang mempunyai elektabilitas tinggi sebagai calon presiden 2024; Anies Baswedan, Agus Harimurti Yudhoyono, Ganjar Pranowo, Prabowo, dan Erick Tohir. Di luar lima nama yang diukur berdasarkan popularitas itu, posisi istimewa Puan Maharani tentu tak bisa diabaikan begitu saja.

Di tengah budaya politik gincu dan papan reklame, hari-hari ke depan kita akan semakin banyak  menyaksikan bagaimana para tokoh itu menampilkan citra paling baik dari diri mereka sebagai kandidat kuat dari masing-masing partai. Jalanan akan semakin penuh dengan baliho-baliho raksasa bergambar wajah politisi-politisi, deklarasi relawan dan perang narasi hasil survei yang menempatkan calon jagoan sebagai kandidat terpopuler akan menghiasi berita setiap hari. Belum lagi, pertarungan antar pendukung baik di media sosial maupun di kehidupan sehari-hari.

Dampak nyatanya bisa dilihat dari Pemilu 2014 atau 2019. Masyarakat terpolarisasi dalam dua kutub. Topik obrolan sehari-hari tak bisa dilepaskan dari siapa pilih siapa, dan tentu saja mereka akan berkumpul dengan yang pilihannya sama.

Masyarakat jadi semakin sensitif terhadap perbedaan, bahkan bisa menimbulkan konflik antar keluarga. Padahal kalaupun para simpatisannya babak belur atau bahkan meninggal dunia, belum tentu tokoh yang didukungnya tahu dan mau menolong mereka.

Sebetulnya pola-pola kampanye seperti yang dilakukan para tokoh hari ini adalah sebuah fenomena yang membosankan. Seperti de javu lima tahunan. Bahkan hari ini tampak bahwa pertarungan politik itu dimulai lebih dini. Seolah tak ada yang mau ketinggalan momentum untuk merebut hati rakyat. Janji dan visi misi akan disampaikan, sebelum pada akhirnya dilupakan begitu saja ketika sudah menjabat.

Sayangnya kita memang belum melihat sosok pemimpin yang layak untuk menahkodai negeri ini di masa mendatang, setidaknya dari cara kampanye mereka hari ini. Tak tampak selama ini kerja dan prestasinya, tahu-tahu tanpa malu-malu maju mencalonkan diri.

Tahun empat lima, ketika golongan tua ragu-ragu, harapan kemerdekaan dibangkitkan lagi oleh kaum muda. Hari ini kita hanya dipertontonkan bagaimana para politisi dari yang muda sampai yang tua, alih-alih membantu dalam wujud yang paling dibutuhkan hari ini, misalnya turut serta merencanakan dan membangun kembali roda ekonomi rakyat pasca pandemi, mereka malah sibuk mempromosikan diri sendiri. Hal itu justru membuktikan bahwa mereka memang tak lebih dari sekadar politisi, bukan seorang pemimpin sejati.

“The difference between a politician and a statesman is that a politician thinks about the next election while the statesman think about the next generation.” – James Freeman Clarke

Ghufroni An'ars
Ghufroni An'ars Redaksi Omong-Omong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.