Perempuan Peminta Api

Lizha Nurkamiden

5 min read

Kuintip saja ia dari celah papan jendela kamar. Kukancing napas kuat-kuat biar debu papan lapuk itu tak terhirup. Suara sret-sret sandal yang sengaja diseret semakin keras bunyinya. Semakin dekat dengan pintu rumah, dekat kamarku dan Adi. Seperti biasa, sasarannya bukan pintu yang itu, tapi pintu dapur di belakang sana.

Ucapan salam yang mendayu-dayu dan sengaja dipanjang-panjangkan. Sekali, dua kali, tiga kali hingga berkali-kali, ia melanggar batas hitungan salam untuk bertamu. Dari pintu belakang, ke pintu samping, hingga pintu depan, ke sana ke mari sandalnya mencari penghuni rumah. Kuyakin ini karena kejadian semalam di rumah Maya. Sakit betul perut perempuan ini kalau tak sarapan dengan bergosip pagi-pagi.

Aku enggan membuka pintu. Nyaris setiap pagi, ia muncul di pintu belakang. Tangan yang menggenggam gonofu lebih dulu ia sodorkan, kode bahwa maksud kedatangannya adalah meminta api. Kebiasaan orang zaman dulu, saat kompor sumbu belum masuk desa. Itu dulu, waktu aku masih ingusan. Waktu aku masih menyeka ingus dengan punggung tangan, ditarik ke pipi dan ingus hijau itu mengeras di situ. Sekarang seolah kembali ke masa itu. Kompor sudah berjejer rapi, tapi minyak tanah sudah lenyap. Sedangkan keberanian menyalakan gas masih dikumpulan. Terpaksa kembali ke tungku.

“Minta api” adalah alasan yang sekarang kupahami sebagai kedok nyata untuk mengorek kehidupan tetangga. Ada api lain yang lebih membakar dan menghibur, api gunjingan. Cerita aib dari si anu, si itu, si dia. Lebih berapi-api untuk dicakapkan, semakin menyala ditambahkan kayu bakar kepo. Panas, hingga menghanguskan pahala sujud di waktu fajar. Tungku tanpa macis yang menghanguskan pahala sembahyang subuh.

Coba iparku ada, sekarang mereka pasti sudah asyik berjongkok di hadapan tungku. Satu bara yang dinaikkan ke atas gonofu, diiringi ratusan kata yang cepat, mengalir, menghantam bendungan dosa. Mereka sadari, tapi namanya hobi, jangankan tanpa upah, mereguk isi dompet sendiri pun orang bersuka rela.
Setelah bara segar penuh di atas gonofu, eh, maksudku saat ia sadar kalau tangannya tidak terbuat dari besi yang bisa menahan panas, barulah berhenti mengobrak-abrik isi tungku.

Gonofu mengepul kecil. Asap hasil rembesan api ke sabut-sabut kelapa itu. Kau tahu, sampai asap mengepul tebal tanda api akan padam, bahkan berapa kali sampai bara berubah menjadi bara mati, cerita mereka belum juga selesai. Bersambung-sambung dari cerita Sarah si pengangguran yang berani menyicil motor, Siti yang kata mereka caparuni mo mampos, sampai ke Alin yang sudah bersuami keempat.

“Bukan gibah, ini cuma pelajaran. Jangan torang iko bagitu,” alibi mereka, jika lirikan tak sedap dari mataku tertangkap. Lirikan tak sedap, tapi kadang aku sengaja menguping mereka. Ingin tahu siapa lagi korban mulut-mulut bocor itu, kepala-kepala yang jauh dari sangkaan baik.

“Ina!” Teriak perempuan itu setelah bosan bersalam.

Kuintip baik-baik lagi dari celah papan jendela. Masih dengan mengancing napas, perut tertahan dan dada terangkat, kulihat dia memerhatikan hamburan sandal jepit di tangga pintu. Pasti karena sandalku lengkap ada di situ, jadi namaku yang keluar dari mulutnya. Aku sudah bertekad tidak akan menyambutnya.

Setidaknya ada dua petaka jika aku keluar, walau sekadar mengatakan Kak Ratna sedang menjaga mertuanya di rumah sakit. Pertama, bisa jadi aku akan terjebak dalam perangkap pergunjingan, layaknya yang sering ia lakoni bersama iparku. Tidak berniat ke situ, tapi atas dasar menghargai ia yang bercerita, tentu aku akan meladeni. Meskipun hanya dengan senyum dan kata “o”.

Kedua, aku berpeluang besar menjadi bahan obrolannya dengan orang lain nanti. “Si Ina, masa sudah jam tujuh bulum bekeng api,” begitu kira-kira cuitannya nanti. Ya, seperti Gita yang ia dapati sedang mencoba baju barunya saat ia minta api. Kala itu Gita kehabisan beras, jadi ia belum menanak nasi, belum meyalakan api. Berita yang sampai ke telinga orang-orang termasuk diriku adalah Gita lebih mementingkan baju baru dari pada beras.

“Biar nanti kalah nasi asal jang kalah aksi,” begitu sindir mereka.

Lucu! Pernah suatu hari, temanku Ara menjadi buruan mereka. Mereka rela memegalkan kaki di bawah pohon kedondong dekat pagar bambu berlumut. Alih-alih supaya suara mereka tak terjangkau kupingku, kaki mereka malah diserang semut api yang khusyuk menguliti bangkai kodok. Bara dalam gonofu tumpah ruah melepuhkan kulit bawah ibu jari kaki Kak Ratna.

Semut api sebergairah itu menyerbu mereka. Semangat yang menyala. Bekas gigitan yang wujudnya bentol-bentol merah besar berganti kudis hitam berair. Seandainya bekas setruman bara di kulit itu tidak lekas diolesi salep, akan susah dibedakan antara luka beda sebab itu.

Kupikir drama ini sudah tamat. Paling tidak lesi hitam yang menghuni kulit kaki menjadi trauma, semacam efek jera begitu. Ternyata tidak. Aku keliru. Selang beberapa hari, drama gibah dilanjutkan. Seting tempat dikembalikan ke lokasi awal, depan tungku! Kak Ratna mengisi termos-termosnya, dan perempuan itu mengacaukan apinya, menyortir bara yang layak diangkat ke gonofu. Bibir mereka bercuit-cuitan melawan kicauan kutilang dan pleci pagi hari.

“Ratna masi ka rumah sakit.”
Bu Tika, pemilik suara itu berdiri di depan pintu pagar.

“Ina iko Ari ka balai desa sto,” sambungnya.

Aku berdengus. Plong. Lega saat perempuan itu bergeser dari tangga pintu.

“Jadi bagemana Maya kasiang?”

Dan… tunggu! Perempuan itu tidak pulang. Ia hanya merapat ke Ibu Tika, lalu meyeretnya masuk ke halaman rumahku. Duduklah mereka berdua di tangga pintu. Di situ tragedi di rumah Maya semalam dikupas tuntas.

Kupikir kupingku akan merdeka dari omongan dosa itu hari ini. Namun, semakin rendah intonasi mereka, semakin cepat cuitan mereka, semakin dekat pula aku dengan pintu itu. Bukan dosaku. Mereka menggiringku, dan apalah dayaku menyingkir.

Anton, suami Maya itu mabuk semalam. Ia jatuh terhuyung di deker depan rumah mereka. Sudah biasa dan biasa-biasa saja selama ini. Namun semalam, Maya seperti kesetanan menghajarnya. Dari dua orang di depan pintu ini kutahu kalau alasannya, suaminya itu nyolong uang arisan yang dipegang Maya untuk membeli pinaraci. Ribut memang.

Dari cerita Maya tiba-tiba pindah ke Risman yang suka teler gratis bersama Anton, bergeser ke istri Risman yang tak lihai mengurus anak. Anak semata wayang, tapi dekilnya minta ampun. Emaknya sibuk cari anggota, habis itu repot menagih. Anaknya diteledorkan. Lalu, ditutup dengan kabar gelap pak kades yang suka pilih kasih membagi sembako. Omongan yang ini tidak sampai tuntas. Nirma, anak Ibu Tika datang merengek-rengek minta bubur.

Bubar. Dua perempuan itu bergerak, meninggalkan aku yang sewot sendiri dalam hati. Semut di seberang lautan tampak, gajah di peulupuk mata tak tampak. Dongkol juga melihat orang yang berapi-api mengupas cacat orang lain, tapi pikun dengan borok sendiri. Perempuan pembawa gonofu, peminta-minta api itu, anaknya nyaris di-DO dari sekolah lantaran melempari batu ke kepala gurunya. Pernah ia mengguyur mas bakso yang lewat depan rumahnya cuma karena gerobak bakso menginjak selang air. Sungguh minim akhlak. Lalu, Ibu Tika itu, anaknya kutuan. Tak pernah tampak rombeng, rambutnya licin berminyak, tapi coba dekati dia. Kutunya merayap-rayap di bajunya.

Barangkali hampir seminggu nama Maya ada di mulut mereka. Masih panas, pedas, gurih untuk diocehkan. Namun, nasib malang Yuli, sepupu perempuan pembawa gonofu itu menggulingkan kasus Maya. Rumah mereka bersampingan. Sangat dekat. Yuli adalah sepupu yang paling dekat dengannya. Selama ini Yuli kerap menolongnya mengantar Raka, anak sulungnya ke sekolah. Juga menemaninya tidur kala suaminya turun ke laut menangkap ikan.

Baru kali ini kulihat orang khidmat bergosip sambil berurai air mata. Kata-katanya kadang membela, tapi lebih banyak mencela. Yuli itu sok cantik, sok ber-body aduhai, makanya suka pakai yang mini-mini. Bagaimanapun ia tetaplah bersedih menyaksikan Maya melayang ditendang bapaknya.

Di balik keprihatinanya pada Yuli, gosip Yuli hamil lekas menjalar ke rumah-rumah. siapa yang menghamili Yuli, menjadi tanda tanya besar. Setiap kali bercerita kemalangan Yuli, tak lupa ia selipkan caci maki untuk si laki-laki bejat itu. Ia tak berani muncul, sedangkan Yuli entah kenapa meskipun kaki bapaknya itu kerap melayang ke tubuhnya, tetap tak membikin ia gentar. Nama laki-laki itu tak juga keluar dari mulutnya.
Kabar terakhir yang kami dengar dari perempuan itu, Yuli akan digantung bapaknya kalau sampai besok Yuli masih menyembunyikan nama laki-laki itu.

Usai mengantar kabar terakhir dari Yuli, perempuan itu belum muncul-muncul melaksanakan ritual hariannya, “minta api”. Selama itu juga aku belum menyapu abu serabut kelapa yang berceceran di halaman.

“Perempuan itu kinapa so satu minggu tidak kamari?” Rasa penasaran kuungkapkan pada kak Ratna.

“Tidak usah bicara aib orang,” jawab kak Ratna.

Aku mengerutkan dahi. Semakin berkerut kala iparku itu berbicara seolah dirinya sudah pensiun dari dunia pergunjingan.

“Kita tidak mau lagi perempuan itu datang ka sini.” Ekspresi kak Ratna seolah sedang menegaskan bahwa kedatangan perempuan itu begitu mengerikan.

“Torang ini tau samua yang ada di rumah orang, tapi yang di rumah sandiri torang tidak tau,” sambungnya lagi.

Semakin bingung aku mendengarnya.

“Oh, karna Kak Ratna tidak mau dia kamari, jadi dia juga tidak kamari lagi.” Aku menyimpulkan. Simpulan yang juga pertanyaan untuk mengonfirmasi.

“Hm….” Kak Ratna mendengus.

“Dia so tau kalau papa dari anak di perut Yuli itu adalah suaminya.”

“Ha?????”

 

***

Lizha Nurkamiden

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.