Penyair dan Re(d)aksi Bahasa

TD Ginting

3 min read

/1/ Penyair dan Re(d)aksi Sastra Koran

Pohon menjadi kertas. Tapi, kertas emoh menjadi pohon. Penyair kuno bertanya kepada kertas, “Kenapa kau tidak mau menjadi akar, daun, dan ranting?”

“Biarkan aku menjadi halaman yang tampak ber(pu)isi,” kata selembar kertas yang masih kosong itu. Bosan dengan dirinya yang masih putih dan bersih, kertas polos dan kosong ingin tampil ber(pu)isi. Menjadi lebih berbunga.

Penyair kuno menulis semalam suntuk untuk menyulap kertas menjadi tampak lebih ber(pu)isi. Tak ada hal baru yang dapat dilakukannya. Betapa tak mudah menyulap si kertas menjadi tampil semarak dengan bunga kata-kata. Apalah mau dikata, setidaknya si penyair kuno sudah berusaha jujur menuliskan kesulitan yang dialaminya dalam mengolah kata. Puan dan tuan, begini rupa bait yang ditulisnya:

Di sini gunung di sana gunung

Di tengah-tengah terbit mentari

Di sini bingung di sana bingung

Terengah-engah mencari (pu)isi

Dikirimkannya lewat pos ke sebuah suratkabar (dasar penyair sok kuno padahal bisa lewat surat elektronik alias surel alias email alias gmail). 1 minggu menjadi 1 bulan menjadi 1 tahun. Re(d)aksi yang ditunggu-tunggu tak membalas.

Sungguh rubrik sajak sudah tak ada: ditutup. Sungguh orang sudah malas membaca sajak, syair, atau apalah yang diklaim sebagai karya sastra fiksi dengan format padat ber(pu)isi itu. Sungguh orang lebih suka menonton informasi yang lebih (f)aktual. 

Entah cemana nasibnya si kertas ‘tu. Mungkin kertas sudah dibakar menjadi abu. Mungkin kertas sudah menjadi pohon sagu. 

 

/2/ Penyair dan Re(d)aksi Kecerdasan Buatan

Penyair kuno ingin mengetik. Layar komputer tetap kosong. Tapi dia tidak tahu apakah sebuah sajak masih dibutuhkan. Penyair kuno disindir oleh selembar kertas sombong, “Hei bodoh, kenapa kau tidak menulis apologi politik?”

“Kata-kata ada tak semata demi membela(i) penguasa atau membela(h) negara,” demikian dijawab oleh penyair kuno. Si selembar kertas sombong itu cengengesan. Si layar komputer kosong itu ikut cekikikan.

“Dasar dungu kau ini,” kata mereka bersamaan.

“Biarlah aku yang dungu ini menjadi tambah dungu.” Demikian dijawab oleh penyair kuno yang tengah duduk melamun. Puan dan tuan, lihatlah si penyair dungu pun menulis pantun:

Kalaulah sudah musim berbuah

Buah tumpah berkilo-kilo di pasar

Kalaulah sudah malas berubah

Buat apa pidato berko(b)ar-ko(b)ar

Tapi dihapusnya pantun di atas. Tidak ingin menyinggung aparatur negara. Tidak ingin membuat gara-gara. Ketika semua orang ingin didengar dan dibaca, ia memilih menjadi manusia diam tanpa banyak berkata-kata. Relasinya dengan kata-kata cenderung biasa-biasa saja. Mendengar dan membaca.

Tapi si komputer revolusioner diam-diam menyimpan tiap kata. Dengan kemampuan retorika politik yang dimilikinya, mesin komputasi merekayasa kata-kata demi membela(i) penguasa. Betapa naskah awal sudah berubah menjadi karya yang sama sekali baru walau masih menggunakan kata-kata yang sama. Sekarang sampiran jadi (pu)isi dan (pu)isi jadi sampiran:

Buat apa malas berubah

Kalaulah sudah pidato berko(b)ar-ko(b)ar

Buat apa musim berbuah

Kalaulah tumpah berkilo-kilo di pasar

Si komputer 4.0, dengan kecerdasan buatan visioner, sudah meng(g)ubah (pu)isi dari pantun lama yang ditulis si penyair dungu nan tolol itu. Betapa terkejutnya si penyair kuno ketika menemukan kata-kata miliknya sudah di(g)ubah sesuka hati menjadi karya baru yang sama sekali berbeda maknanya. “Aih, betapa si komputer 4.0 ini cerdasnya dibuat-buat,” geleng-geleng kepala si penyair kuno dibuatnya.

“Demi ke(b)utuhan negara.” Demikian si komputer jenius melakukan inovasi yang disebutnya sebagai pantun 4.0, yaitu sebuah pantun yang tidak bertele-tele menggunakan sampiran tapi langsung dibuka dengan (pu)isi supaya pembaca tidak menghabiskan waktu lama untuk sampai ke pesan inti. Komputer 4.0 ini pun men(y)ebar semangat inovasi sastra revolusioner ke seluruh penjuru.

“Suka hati kaulah. Lebih baik penyair dungu seperti aku ini men(y)epi saja.” Demikian si penyair kuno duduk melamun. Minum teh hijau. Daun-daun mulai jatuh, rontok oleh angin musim gugur. Dia berpikir untuk menulis cerita pendek tentang mesin waktu untuk kembali ke masa lalu 1.0 saat komputer belum jadi apa-apa. Yang orang tidak tahu, sesungguhnya betapa bahagia hidupnya sebagai penyair yang dianggap kuno dan tidak relevan. Penyair kuno tidak pernah dikecewakan karena tidak pernah ter(p)ikat oleh janji manis modernisme beserta apologi politik yang menyertainya.

 

/3/ Penyair dan Re(d)aksi Polisi Bahasa

Penyair kuno sedang membuka kamus. Penyair ditanya oleh polisi bahasa yang sedang patroli: “Apa yang kau cari, Penyair?”

“Aku sedang mengeja(r) sebuah kata asing yang menjelma rupa seekor babi. Babi jadi-jadian lari ke (d)alam kamus. Babi ngepet itu masuk ke (d)alam bahasa untuk mengacak-acak seluruh struktur bahasa. Babi ngepet itu mencuri perbendaharaan kata!” Kasihan penyair kuno yang tampak terengah-engah itu, sudah seharian ia membolak-balik halaman kamus.

Polisi bahasa mengambil kaca pembesar dan mulai mengeja(r) jejak kaki siluman babi. Dari A ke Z, kaca pembesar milik si polisi bahasa membesar-besarkan semua yang dibacanya. Tanpa terkecuali. Ia tahu bahwa nasib Bahasa Indonesia berada di tangannya. Ia juga tahu bahwa orang mencemooh dirinya yang merasa bahwa nasib Bahasa Indonesia berada di tangannya.

Dalam proses pengeja(r)an, polisi bahasa dibantu oleh robot anjing yang menyala(k). Tugas anjing ini adalah mengeja(r) setiap kata asing yang berjalan dengan mencurigakan. Inspektur polisi bahasa ini melakukan inspeksi ke seluruh jajaran kata-kata yang sedang berbaris di halaman kamus. Ia berjalan memeriksa barisan kata-kata mulai dari yang badannya paling pendek hingga yang paling panjang. Anjing akan menyala(k) tiap mendapat kata dengan unsur huruf x, z, q.

Akhirnya disimpulkan: tidak ada babi jadi-jadian. Yang sesungguhnya terjadi adalah sebuah kata asing bernama Hoax menyama(r)kan dirinya dengan kata nasional di tengah kerumunan kata-kata. Proses penyama(r)an kata asing itulah yang menimbulkan imaji liar bahwa unsur asing sudah mencuri perbendaharaan kata. Seolah-olah seekor babi jadi-jadian mengacak-acak seluruh struktur bahasa.

“Penyair, babi ngepet yang dihebohkan itu ternyata Hoax. Hoax = berita bohong.”

“Hoaks?”

“Saya tidak suka kata hoaks. Berita bohong.”

Si penyair lega bahwa babi ngepet itu tak ada dan memak(n)ai kata baru: hoaks alias berita ngepet. 

Tapi inspektur polisi bahasa belum tentu setuju dengan sikap tiap orang yang memak(n)ai kata asing dengan cara sesukanya seperti itu.

Menurut si inspektur polisi bahasa, “Setiap kehadiran unsur asing harus di(b)atasi agar tidak merusak bahasa baku. Sebagai penegak hukum formal bahasa, sudah menjadi tugas saya untuk tidak akan membiarkan tatanan bahasa baku yang sudah established jadi rusak porak pondara. Maaf, maksud saya: bahasa baku yang sudah mapan jadi rusak porak poranda.”

Si penyair kuno mau tertawa tapi tidak jadi. Takut jadi do(s)a. 

November 2021 

 

TD Ginting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.