Pentingnya Suara Perempuan dalam I Lagaligo

1 min read

Sebagaimana umumnya karya klasik, I Lagaligo adalah karya yang istana-sentris. Namun, dalam mahakarya yang lahir abad 14 itu sudah terkandung nilai kemanusiaan, pentingnya musyawarah, kesetaraan gender, termasuk pentingnya suara perempuan didengar. 

(Baca tulisan sebelumnya: I Lagaligo, Mahakarya Nusantara yang Terancam)

Pada abad ke-14 atau antara tahun 1390-1399, epos I Lagaligo dirangkai secara lisan dan dibawakan dengan cara bernyanyi dalam ritual adat. Baru pada tahun 1848, sastra lisan ini disalin ulang oleh seorang sastrawan Sulawesi Selatan bernama Retna Kencana Colliq Pujie Arung Pancana Toa, melalui bantuan pengumpulan sebaran tulisan oleh Benjamin Frederik Matthes penginjil dari Belanda.

Lewat karya sastra, I Lagaligo memperlihatkan tanpa menggurui, bagaimana konsep keadilan gender dijalankan. Salah satu isu gender yang secara tidak langsung disampaikan adalah melibatkan perempuan dalam mengambil sebuah keputusan besar.

Dilansir dari Naskah NBG 188, Edisi kedua, jilid 1 yang disalin dan disusun oleh Retna Kencana Colliq Pujie Arung Pancana Toa dan ditranskip oleh Muhammad Salim dan timnya, kisah tersebut berawal saat Rukkeleng Mpoba seorang abdi Patotoqe, Sang Penentu Nasib, bersama beberapa orang lainnya yang baru datang dari perjalanannya selama tiga hari. Mereka menyampaikan tentang perjalanannya di dunia tengah (Kawaq) yang masih kosong. Rukelleng lalu mengusulkan agar seorang anak Patotoqe bisa diturunkan ke dunia tengah, untuk menempati dunia tengah.

Mendengar hal itu, Patotoqe melibatkan istrinya Datu Palingeq. Akhirnya, setelah berdiskusi dengan istrinya, barulah disepakati anak sulungnya, Batara Guru menjadi manusia pertama di dunia tengah. Patotoqe juga memanggil adik kembar perempuannya Sinau Toja bersama suaminya Guru Ri Selleng dari dunia bawah (Peretiwi), perihal orang pertama di dunia tengah, lalu disepakati lagi menempatkan We Nyiliq Timoq yang merupakan putri sulung raja dan ratu dunia bawah, untuk menikah dengan Batara Guru.

Selain itu, saat Batara Guru mengalami kesulitan di dunia tengah Datu Palingeq pun memberikan pendapatnya pada suaminya, untuk memberikan bantuan, meski suaminya tidak langsung menyetujui, demi bisa memberi pelajaran hidup pada Batara guru.

Sepenggal bait menurut naskah NBG 188, Edisi kedua, jilid I itu berbunyi:

Berkata Patotoqe kepada wanita belaiannya:

“Tak mengapalah wahai adik Datu Palingeq

Kita turunkan anak kita, kita jadikan tunas di bumi

Mematangkan kayu sengkona atas nama kita

Jangan tetap kosong dunia

terang benderang di kolong langit

Kita bukanlah Dewata, Adinda, apabila tak satu pun orang

di kolong langit menyeru tuan kepada batara.”

Datu Palingeq menjawab:

“Mengapa gerangan Aji Patotoqe, jika engkau bermaksud

Menurunkan tunas ke dunia,

Siapa gerangan yang berani membantahmu?

Alangkah gembira Patotoqe karena menurunkan tunas ke bumi diiakan oleh wanita belaiannya.”

Pada episode lainnya, keturunan Batara Guru, yakni We Tenriabeng pun dilibatkan dalam memberi masukan pada kembarannya Sawerigading, sebelum melakukan perjalanan besar. Tenriabeng menjadi pengambil keputusan hingga akhirnya Sawerigading melakukan perjalanan laut yang tak mudah itu.

Dari sepenggal kisah di atas, secara tersirat para pengarang kisah lisan ini sudah mengajarkan bagaimana menempatkan perempuan dalam keadilan dan kesetaraan untuk berpendapat. Jika saja Patotoq tidak berperspektif gender, bisa saja dia langsung membuat keputusan sesuka hatinya, setelah menerima laporan dari abdinya. Namun dia justru melibatkan istrinya dalam mengambil sebuah keputusan besar. Selain itu, usulan istrinya untuk menggelar musyawarah dengan dunia bawah pun disepakatinya hingga terjadilah musyawarah yang di dalamnya juga terdapat adik kembar perempuan Patotoq.

Bahkan hingga pada keturunan ke-tiga Patotoq pun, ada pelibatan perempuan seperti We Tenriabeng dalam keputusan besar sebuah perjalanan laut oleh Sawerigading.

Jauh sebelum gema feminisme terdengar, ratusan tahun sebelum konvensi International Labour Organization (ILO) tentang keadilan gender, karya sastra klasik Nusantara, I Lagaligo telah menyiratkan pesan tentang feminisme dan kesetaraan gender tanpa menggurui.

Amy Djafar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.