Selain di blog bukunya, resensinya juga tersebar di web Koran Jakarta, Magrib.id, Bacapetra.co, dan Omong-Omong Media.

Pencarian Tak Berujung di Malam Seribu Jahanam

Launa Rissadia

4 min read

Sihir Intan Paramaditha lagi-lagi membikin saya jatuh hati. Bukan cuma pada cerita, diksi, dan gaya penulisan, tetapi juga tokoh-tokoh dalam karya teranyarnya berjudul Malam Seribu Jahanam (2023).

Novel kedua Intan ini terasa cukup personal dan sentimental bagi saya. Lain dengan novel Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu (2017), jarak keterhubungan saya dengan cerita dan tokoh-tokoh dalam novel ini amat tipis, bahkan ada kalanya seperti melihat kisah hidup sendiri. Menggelitik dan melipur sekaligus nyelekit, mengena, dan menyentil karena terlalu nyata. Intan membawa kita pada pencarian tak berujung dalam dongeng Nenek Victoria dan cucu-cucunya—yang menyoroti sisi gelap keluarga dan hubungan persaudaraan, serta praktik beragama.

Dongeng gelap Malam Seribu Jahanam dibuka dengan peristiwa bom bunuh diri yang dilakukan oleh dara ketiga, Annisa. Seperti peristiwa-peristiwa bom yang pernah terjadi sebelumnya, Annisa tidak bekerja sendiri dan tidak hanya satu tempat saja yang diledakkan. Seakan-akan satu teror tidak akan cukup untuk memuaskan hasrat mereka dan membungkam atau melenyapkan kaum berbeda—yang dianggap sesat, kafir, dan menyalahi aturan (ber)agama.

Kematian Annisa merupakan mimpi buruk bagi dua dara lainnya, Mutiara dan Maya, yang diharuskan membereskan “warisan” yang tidak diinginkan. Bom bunuh diri Annisa secara tak langsung juga menjadi bom bagi mereka—yang merusak kedamaian dan ketenangan hidup sekaligus menyadarkan bahwa Annisa tertinggal di belakang.

Jauh sebelum itu, Nenek Victoria telah meramal nasib tiga dara. Masing-masing punya nasib, kalau bukan kutukan, berbeda dan tak ada satu pun orang yang tahu ramalan ketiganya akan menjadi kenyataan, kecuali Nenek Victoria.

Mutiara diramalkan menjadi penjaga. Nenek Victoria menganggap Mutiara cucu paling kuat. Ia diberi amanah untuk melindungi keluarga, serta merawat yang hidup dan mengantar yang mati. Maya yang seorang kutu buku diramalkan menjadi pengelana; pergi jauh ke negeri-negeri asing dan berada di atas perahu bersama buku-buku. Annisa, anak kesayangan Papa dan dianggap paling cantik di antara ketiganya, diramalkan menjadi pengantin bergaun putih panjang seperti putri. Tak ada yang ganjil dari tiga ramalan Nenek Victoria sampai kejadian bom bunuh diri menguak segala rahasia dan luka.

Upaya pencarian jawaban yang dilakukan Mutiara dan Maya tak berujung. Lebih-lebih sejak prolog narator sudah memberi peringatan:

“Tak ada jawaban di kisah ini, tak ada obat penawar, bulat dan utuh, bisa dibelah dan dicacah. Ini dongeng tentang mereka yang gagal, berutang, berubah rupa. Dan dalam pencarian kita bertanya tentang hal-hal sepele, sebab segala yang lembut dan halus luput dari genggaman, seperti adik kita.” (Halaman 4)

Peringatan ini semacam wanti-wanti agar kita siap dan tidak gondok ketika tidak memperoleh jawaban yang dicari. Dalam pencariannya, Intan memperlihatkan banyak sekali pertentangan dalam diri tiga dara. Pada beberapa momen, mereka selayaknya saudara yang akur, kompak, dan saling menjaga. Di lain sisi, di tengah-tengah keakuran itu kita mendapati kecemburuan, ketidaksukaan, dan kedendaman.

Pencarian Annisa yang tersesat dimulai dengan memungut ingatan tentangnya dan memanggil masa lalu. Kelihatannya mudah dan perkara mencari jejak-jejak yang ditinggalkan Annisa untuk memecahkan teka-teki kematiannya dapat diselesaikan dengan cepat. Sebab, mereka bersaudara dan dulu kerap bersama-sama. Mana mungkin tiga dara tidak mengenal dengan baik satu sama lain, betul?

Akan tetapi, pada kenyataannya, hubungan mereka telah lama retak dan tidak lagi bertiga. Pencarian kian menarik ketika Rosalinda, dara yang terlupa dan tersisihkan melakukan revolusi dan kehadirannya mengusik Mutiara dan Maya. Ia menuntut balas dan utang yang belum dibayar lunas, “Sebab revolusi selalu dimulai oleh saudara tiri buruk rupa.” (Halaman 229)

Kita adalah dara yang tersisa; yang penasaran, bingung, bertanya-tanya, kesal, marah, lelah, muak, malu. Segala emosi muncul ke permukaan tanpa henti. Sebagaimana yang dikatakan Mutiara dalam kedukaannya:

“Aku mau tahu kenapa. Kenapa Annisa berkhianat, kenapa ujungnya begini, kenapa aku sendirian di kamar hotel, duduk di karpet bersama adikku dan anaknya yang pepat dalam guci. Aku berhak tahu.” (Halaman 194)

Sama seperti Mutiara, kita juga berhak tahu alasan, motif, ataupun tujuan bom bunuh diri yang dilakukan Annisa—di mana ia tertinggal dan sejak kapan tersesat. Intan menuntaskannya dengan sihir dan kelihaian memilin cerita yang apik tanpa ada yang terlewat. Ibarat bermain ski es, kita memilih tetap melanjutkan meluncur meski ada permukaan tidak rata yang membikin terjatuh. Ada momen-momen mengusik dan menjijikkan, tapi tetap dilewati karena penasaran.

Baca juga:

Sebagai seorang muslim yang meski belum begitu taat, genre sastra gothic, mitos nusantara, potongan ayat Al-Qur’an, dan kisah-kisah Islami yang dikawinkan Intan dalam novel memberikan pengalaman membaca yang tidak biasa bagi saya—boleh jadi juga bagi pembaca (muslim) yang lain.

Novel Malam Seribu Jahanam hanya setebal 362 halaman. Tidak setebal buku Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu, tetapi sangat lebih dari cukup untuk menguji keyakinan dan ketebalan iman. Misalnya, perihal bom bunuh diri Annisa yang menyasar kelompok pengajian transpuan. Kita tidak bisa tidak berpikiran terbuka dan tidak bersedia menerima segala pemikiran dan kemungkinan yang ada. Kalau tidak, kita bisa saja terjerumus menjadi pembaca mahabenar yang terkungkung dan terpaku hanya pada kotak benar dan salah.

Selain mengajak becermin dan melakukan perenungan diri, serta mempertanyakan posisi kita, Intan juga mengingatkan untuk lebih peduli dengan sekitar. Selama membaca, Intan mengubah saya menjadi Mutiara si penjaga. Sekali waktu ikut kabur bersama Maya si pengelana. Pada beberapa titik, bertukar menjadi Annisa si pengantin cantik dan Rosalinda yang terlupa. Seolah-olah, Intan tidak membiarkan saya memilih salah satunya.

Di sisi lain, kalau disuruh memilih pun, saya tidak bisa. Sebab, sebagian kecil dari diri saya ada di dalam diri mereka. Pun pernah menjadi korban maupun pelaku dari banyak hal yang dialami keempatnya. Sepanjang cerita, saya telah menyatu dengan cucu-cucu Nenek Victoria dan turut berubah rupa. Rasanya, novel Malam Seribu Jahanam berganti menjadi buku harian yang bersifat personal.

Kompleksitas Semesta Intan Paramaditha
Kompleksitas semesta Intan merupakan daya tarik yang menjelma sebagai kekhasan. Kekompleksan itu dapat ditilik dari karya-karya fiksinya; kumcer Sihir Perempuan (2005), kumcer Kumpulan Budak Setan yang ditulis bersama Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad (2010), Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu, dan Malam Seribu Jahanam. Kompleksitas yang ditampilkan dalam semestanya bukan cuma isu-isu yang biasa diolah; gender, seksualitas, sosial, budaya, dan politik. Ia juga menghadirkan tokoh-tokoh dengan kehidupan biasa yang tidak mudah—sering kali miris dan tragis, kuat tapi lemah, baik dan cenderung naif, tapi juga punya sisi jahat, serta punya luka dan trauma. Tokoh-tokoh Intan selayaknya manusia: kompleks dan tidak bisa dianggap sempurna. 

Dalam salah satu cerpen berjudul Goyang Penasaran di kumcer Kumpulan Budak Setan, Salimah, penyanyi dangdut idola di kampung, menghibur orang-orang dengan goyang dan nyanyiannya. Ia perempuan biasa yang menyanyi untuk mencari nafkah. Diam-diam, ia menaruh amarah dan dendam atas fitnah, ulah tokoh berwibawa di kampung, dan kejadian buruk yang meluluhlantakkan hidupnya.

Lain lagi dengan kumcer Sihir Perempuan, alih-alih elok dan tidak bercela, Intan justru menghadirkan tokoh-tokoh dengan beragam sisi gelap—yang, bagi saya, lebih kompleks. Misalnya, tokoh Saras dalam cerpen Vampir. Sebagai sekretaris, ia tak bisa menolak ketika atasannya memerintah untuk menemani minum kopi dengan dalih minta bantuan membereskan laporan. Saras yang kelihatannya biasa-biasa saja ternyata punya hasrat terpendam yang saat itu berhasil mengalahkan ketakutannya.

Dalam Gentayangan yang berformat pilih sendiri petualanganmu dan, melalui pilihan-pilihan yang ada, Intan mengajak bermain-main sekaligus membikin kita berubah menjadi tokoh kau dan merasakan banyak hal dari setiap pilihan yang diambil. Dalam Malam Seribu Jahanam, Intan mengajak kita bermain teka-teki dan melakukan pencarian tak berujung. Kadang, kita dibuat kembali mengingat kejadian sebelumnya untuk menemukan jawaban serta rahasia-rahasia yang terselip dan tersebar. Intan jelas mendorong dan melatih pembacanya untuk cermat, berpikir kritis, dan sabar. Saya menangkap hal ini sebagai kompleksitas semesta Intan mewujud kekhasan yang menyihir. Sekali masuk ke semestanya, kita akan sulit untuk kabur.

Menurut saya, buku ini bukan bacaan yang menyenangkan dan mudah, khususnya bagi penyintas dan pembaca muslim. Sebab, beberapa dari beragam isu yang diangkat kelihatannya dapat memunculkan percekcokan dalam diri dan mengembalikan trauma. Intan menghadapkan kita pada kekacauan hati dan pikiran dalam mengambil pilihan, seperti memilih tetap melanjutkan atau berhenti membaca, membenarkan atau menyalahkan sikap dan tindakan para tokoh, serta memahami atau mengabaikan maksud pun makna yang disampaikan. Saya menduga akan banyak hal yang tidak selaras dengan pandangan mereka.

Kita barangkali tidak menemukan jawaban pasti dari pencarian tak berujung dalam Malam Seribu Jahanam. Sebagai gantinya, kita akan mendapati kenyataan tak terelakkan dan sisi lain dalam diri yang terlupa, tercecer, dan terpendam.

 

Editor: Emma Amelia

Launa Rissadia
Launa Rissadia Selain di blog bukunya, resensinya juga tersebar di web Koran Jakarta, Magrib.id, Bacapetra.co, dan Omong-Omong Media.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email