No Vir(tu)al No Justice, Tulis Tuan Turis

TD Ginting

1 min read

(tu)

Pada hari sebuah berita sedang ditulis, seorang turis asing dicegat oleh angin musim dingin yang telah lama menunggu di depan sebuah stasiun bahasa, “Tuan Turis, apakah hati yang remuk-redam harus tampil gagah untuk membaca sebuah berita vir(tu)al yang terasa lebih nyata dari realita?”

Tuan Turis tidak tahu harus menjawab apa.

 

(l)

Pada hari sebuah berita selesai ditulis, sang turis asing bertanya kepada masinis kereta kata-kata yang sedang berdiri di sebelah gerbong, “Apakah gerbong kereta ini akan membawa rombongan kata-kata yang menjaga(l) martabat para patriarkis yang membacanya?”

Tidak ada jawaban.

Tuan Turis bertanya lagi, “Apakah kereta ini akan membawa rombongan kata-kata yang menyangka(l) pembacanya adalah para patriarkis?”

Tidak ada jawaban.

 

(is)

Pada hari sebuah berita sedang disunting, sekarang giliran angin musim dingin ditegur oleh sang turis asing yang baru saja duduk di bangku gerbong kereta kata-kata, “Apakah hati perempuan yang remuk-redam harus selalu mengalah untuk menang(is)?”

“Tidak,” angin musim dingin berlalu, tanpa ambigu.

 

(tu)

Pada hari sebuah berita selesai disunting, sang turis asing duduk tertidur di dalam gerbong kereta kata-kata yang membawanya ke sebuah stasiun bahasa tujuan, dan disapa gerimis musim dingin di dalam mimpinya, “Tuan Turis, apakah sebuah berita harus menjadi hantu vir(tu)al untuk dibaca oleh para ksatria gagah berseragam?

Tuan Turis terbangun.

 

(an)

Pada hari sebuah berita telah dimuat di dalam sebuah situs, seorang turis asing bertanya kepada penumpang yang sedang sedang membaca kata-kata di dalam layar ponsel, lalu bertanya, “Mohon maaf, apakah engkau tidak keberatan bahwa patriarkis seperti kami membawa (an)eka macam makna di dalam tas ransel ini?

Penumpang itu tidak paham, atau, pura-pura tidak paham.

 

(tu)

Pada hari sebuah berita vir(tu)al sedang dibaca oleh banyak orang, masinis kereta kata-kata sedang berkata kepada dirinya sendiri di dalam hati, “Apakah turis asing itu tahu bahwa kereta lokal ini membawa beban begitu banyak jejak (tu)lisan milik para patriarkis seperti dirinya?”

Tuan Turis tidak mendengar apa-apa.

 

(r)

Pada hari sebuah berita selesai dibaca oleh semua orang, Tuan Turis bersiap untuk turun ketika angin musim dingin menyapa dari pintu kereta yang sedang terbuka, “Tuan Turis, apakah para patriarkis cukup tega(r) untuk menahan air mata?”

Tuan Turis terdengar ambigu, “Mungkin, mungkin kami terlalu lelah untuk mengeja(r) rahasia hati, mungkin kami terlalu lemah untuk mengenali (r)asa di dalam hati kami.”

Angin musim dingin tidak mengerti sikap ambivalen semacam itu.

Tuan Turis terdengar lebih ragu, “Mungkin kami terlalu malu mengaku salah, mungkin kami serakah menguasai makna di dalam bahasa, tapi makna makin hari makin tampak sama(r).”

 

(is)

Pada hari sebuah berita telah dilupakan oleh semua orang, seorang penumpang sedang berpikir di dalam gerbong kereta yang lengang dari desakan kata-kata, “Apakah hari ini aku masih harus menjadi perempuan yang wajib mengalah untuk menang(is), seperti hari-hari yang lalu?”

Tuan Turis duduk persis di sebelahnya, tapi tidak mendengar apa-apa, atau, pura-pura tidak mendengar apa-apa.

 

***

TD Ginting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.