Reza Pahlawan Setiap pagi menambul angka; setiap sore memakan nada; setiap malam meminum bahasa.

Narcissus Mati Menatap Cermin

1 min read

Narcissus Mati Menatap Cermin

kita akan mati jika menatap cermin

kita bukanlah makhluk esa yang telah utuh

melainkan puing-puing yang dijustifikasi

atas dasar pikiran polos tanpa rasa benci

serpih-serpih jiwa itu tengah bersembunyi

di antara reruntuhan jiwa orang yang kau benci

mereka menjelma menjadi sebuah cermin

 

tatkala matamu memantulkan bayangan dirimu

jiwamu dan jiwa dalam cermin akan bersentuhan

dan ia akan pecah setelah kau melemparnya

itu bukan wajah yang kau mau dan bayangkan

ia hanyalah manifestasi jiwa yang kau benci

yang kau simpan kepada orang yang tak berdosa

kita tak peduli sekelumit jiwa yang ranum

walau mereka berhias permata sekalipun

fasad cemerlang tak harus diperhatikan selalu

lagi pula mereka tak membakar api bencimu

 

manakala kau menatap keluar jendela rumahmu

cermin yang tak terhitung itu berserakan kesusu

mereka meratap untuk dibawa pulang olehmu

dikembalikan atau diajak bersatu dengan tubuhmu

 

kita ditakdirkan untuk membenci diri sendiri

kita akan mati karena diri sendiri

kebencian pada diri sendiri.

 

 

Menghitung Waktu yang Tersisa

 

satu jadwal di kalender yang bertambah

memisahkan kita dua langkah mundur

dalam tiga hitungan seseorang terlelap

pada detik keempat yang lain terbangun

setelah lima hari tanpa dirinya usai,

enam jam tersisa untuk menyendiri

walau tujuh panggilan sempat diabaikan

delapan desahan memenuhi jawaban

aku bertanya meski telah di titik sembilan

apa kita bisa kembali ke titik nol saja?

 

 

 

Kunjungan ke Pemakaman

 

di hari pemakamanku, tak ada yang datang berkunjung

tak ada tangisan yang tertabur menjadi kembang anyelir

aku berjalan mengunjunginya untuk pertama kali

setelah lama mengurusi peti mati yang tak kian dikubur

 

pada nisan kayu, tertuliskan beberapa penghargaanku

yang paling besar adalah orang paling egois di muka bumi

dia yang mempertimbangkan hanya kemauan sendiri

berbicara omong kosong dengan telinga yang tertutup

 

di bawah itu, gelar orang paling bersalah pula termaktub

walau di sana tak ada seorang pun yang sedang berdiri

mata-mata melotot untuk menerima tanggung jawab batin

dia merangkul rasa bersalah yang bukan miliknya utuh

 

di sebelahnya aku duduk, menyisikan beberapa batu

orang ini kebingungan atas salah siapa ia bisa mati

karena hujan tak mungkin turun di lapangan kosong ini

aku menyiram tanah tandus dengan harapan bisa subur

 

setelah hari pemakamanku, semua masih sama seperti dulu

lampu tetap dimatikan walau televisi tetap membising

pengeras suara terus bermusik walau saat malam hari

tetapi mereka tak kunjung membuka telinga untukku

 

setelah menahun, aku tidak pernah lagi berkunjung

tak ada waktu yang pantas dibuang untuk makam ini

aku berdiri menghilangkan butir tanah yang mengotori

dan pergi dengan menyisakan rasa benci pada diriku

 

 

 

Setiap Rasa Cinta

 

jangan tabur gula di setiap air ludah kita

tambahkan sejumput garam untuk drama

dan muntahkan jika sesuap terlalu hambar

aku tak peduli jika cukanya terlalu banyak

kau juga harus rasakan setiap kepahitannya

apa kau masih merasakan rasa gurihnya?

 

 

 

Ketika Senja Datang Terlalu Cepat

 

ketika senja datang terlalu cepat, perahu tak selamat.

tak mengira ia sangat cepat, hari berjalan lambat.

luapan gula kudapat, terpaksa kujilat.

hasil tak terjerat, aku terjebak.

ketika aku jatuh terlalu cepat, mimpi sudah tamat.

 

 

 

Ironi

 

di bawah langit yang sama,

dalam waktu yang sama,

di atas tempat yang sama,

dengan musim dan perasaan

yang berbeda.

Reza Pahlawan
Reza Pahlawan Setiap pagi menambul angka; setiap sore memakan nada; setiap malam meminum bahasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.