Mundurnya Pamor Kepakaran

Muhammad Zahrudin Afnan

4 min read

Dalam beberapa dekade terakhir, manusia menyaksikan sebuah transformasi besar dalam ekosistem informasi. Jika pada masa lalu ruang publik diwarnai oleh suara-suara para akademisi, ilmuwan, peneliti, dan praktisi ahli, kini arena tersebut telah direbut oleh para figur baru: para influencer, selebritas digital, dan pembawa opini viral yang tidak selalu berlandaskan pada metodologi ilmiah.

Fenomena ini sudah cukup mengemuka, sehingga banyak ahli menyebutnya sebagai “matinya kepakaran” kematian simbolik dari otoritas ilmu pengetahuan dalam masyarakat yang semakin dikuasai oleh logika popularitas. Dalam konteks ini, ilmuwan yang dahulu menjadi rujukan tertinggi kini seolah menjadi “suara samar” yang tenggelam di tengah keramaian informasi yang tak berujung.

Dua artikel penting Kompas (13 November 2025) dengan gagasannya tentang “relativisme ekstrem” dan The Conversation (10 Desember 2024) dengan kajiannya mengenai “matinya kepakaran di media sosial”  menawarkan gambaran yang jelas tentang bagaimana dinamika ini berkembang. Keduanya mengingatkan bahwa dunia digital tidak hanya menyediakan akses informasi tanpa batas, tetapi sekaligus menggerus otoritas ilmiah yang seharusnya menjadi pijakan rasional di tengah ketidakpastian.

Ketika Semua Pendapat Dianggap Setara

Salah satu akar dari merosotnya pamor ilmuwan adalah menguatnya relativisme ekstrem. Relativisme jenis ini memandang bahwa semua pendapat, tanpa memandang asal-usul dan dasarnya, memiliki nilai yang sama. Dalam perspektif demokratis, ini tampak ideal. Namun dalam realitasnya, ini justru menciptakan distorsi besar. Pendapat yang berakar pada riset bertahun-tahun diposisikan setara dengan opini spontan yang diucapkan tanpa dasar. Artikel Kompas menekankan bahwa relativisme ekstrem telah meminggirkan pakar dengan cara yang halus tetapi mematikan: masyarakat menjadi tidak lagi mampu membedakan mana yang berasal dari pengetahuan yang teruji dan mana yang sekadar viral.

Ketika setiap orang merasa pendapatnya sama valid dengan pendapat ilmuwan, otoritas pakar mengalami delegitimasi. Ilmuwan tidak lagi dipandang sebagai rujukan terakhir, melainkan hanya salah satu dari sekian banyak sumber yang bersaing di arena digital. Ruang publik yang seharusnya mengutamakan argumen berbasis bukti kemudian berubah menjadi arena opini tanpa hierarki, di mana suara yang paling keras bukan yang paling benar menjadi pemenangnya.

Media Sosial dan Logika Algoritma

The Conversation secara lebih spesifik menyoroti peran media sosial dalam mempercepat matinya kepakaran. Platform digital tidak dirancang untuk membedakan mana konten yang kredibel dan mana yang tidak, tetapi dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Dalam logika algoritmis semacam itu, konten yang informatif tetapi kompleks akan selalu kalah bersaing dengan konten yang emosional, lucu, kontroversial, atau sensasional bahkan ketika konten tersebut sama sekali tidak akurat.

Baca juga:

Influencer, dengan gaya komunikasi yang ringan, naratif, dan dekat secara psikologis, lebih mudah membangun kepercayaan daripada ilmuwan yang terbiasa berbicara dalam bahasa teknis. Banyak pemengaruh digital memiliki kemampuan retoris yang kuat, memadukan dramatisasi, visual menarik, dan kedekatan emosional sehingga audiens merasa diperhatikan, didengar, dan direpresentasikan. Ilmuwan, sebaliknya, sering terjebak dalam penyampaian yang kering, formal, dan kurang komunikatif.

Hasilnya dapat ditebak: popularitas menjadi kebajikan baru, dan popularitas itulah yang mempengaruhi persepsi publik tentang siapa yang layak dipercaya. Yang populer dianggap benar. Yang viral dianggap kredibel. Yang banyak pengikut dianggap ahli. Sebaliknya, ilmuwan yang berbicara dengan kehati-hatian metodologis malah dianggap ragu-ragu, tidak tegas, atau tidak tahu apa-apa.

Munculnya Krisis Kepercayaan dan Misinformasi

Lalu, apa dampak dari kemunduran pamor ilmuwan ini? Sangat serius, dan tidak boleh dianggap remeh. Munculnya dominasi influencer dalam percakapan publik membawa sejumlah konsekuensi, salah satunya adalah semakin cepatnya misinformasi menyebar di masyarakat.

Ketika orang lebih memilih mendengar suara selebritas media sosial daripada pendapat pakar, informasi yang salah menjadi jauh lebih mudah dipercaya. Fenomena ini terlihat jelas dalam isu kesehatan, lingkungan, gaya hidup, bahkan politik. Banyak orang lebih yakin pada testimoni personal ketimbang data ilmiah yang dapat diuji. Kondisi ini menciptakan ekosistem informasi yang rentan dan berbahaya, di mana hoaks tidak lagi sekadar gangguan, melainkan ancaman nyata bagi kehidupan sosial.

Di saat yang sama, masyarakat juga mengalami krisis kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan. Ilmuwan sering dipersepsikan sebagai kelompok “elit” yang jauh dari keseharian masyarakat, sehingga apa pun yang mereka sampaikan dianggap memiliki agenda tersembunyi. Padahal, kerja ilmiah berlandaskan metodologi terbuka yang bisa diuji ulang. Ketidakpercayaan semacam ini membuka ruang subur bagi teori konspirasi, gerakan penolakan vaksin, hingga penyangkalan perubahan iklim, yang semuanya merugikan kepentingan publik.

Dampak berikutnya muncul dalam ranah kebijakan publik. Ketika opini influencer lebih berpengaruh daripada analisis ilmiah, pengambil kebijakan cenderung merespons tekanan suara mayoritas yang emosional daripada pertimbangan berbasis bukti. Akibatnya, banyak kebijakan menjadi rapuh, jangka pendek, dan mudah berubah mengikuti tren internet alih-alih landasan akademik yang kokoh.

Pada akhirnya, kerusakan ini terbawa ke ruang diskusi publik yang semakin dangkal. Ketika kualitas argumen tidak lagi dihargai, percakapan publik berubah menjadi arena gaduh yang penuh emosi, polarisasi, dan saling tuding, bukan wadah untuk memperdalam pemahaman dan menyelesaikan masalah secara kritis. Ruang publik yang seharusnya menjadi tempat bertukar gagasan berubah menjadi panggung opini cepat saji yang hanya memuaskan algoritma, bukan kebutuhan masyarakat akan informasi yang dapat dipercaya.

Jalan Pemulihan Kepakaran

Meski tantangannya besar, situasi ini bukan tanpa solusi. Ilmuwan tetap memiliki peluang besar untuk memulihkan martabat kepakaran, asalkan mampu beradaptasi dengan lanskap komunikasi modern yang kini dikuasai algoritma dan budaya digital. Salah satu langkah penting adalah melakukan reformasi dalam gaya komunikasi ilmiah.

Para ilmuwan perlu belajar menyampaikan gagasan dengan bahasa yang lebih sederhana, lebih naratif, dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ilmu pengetahuan tetap bisa disajikan dengan menarik tanpa kehilangan akurasinya, misalnya melalui penggunaan storytelling, metafora, ilustrasi visual, atau contoh konkret yang relevan.

Baca juga:

Selain itu, ilmuwan perlu hadir secara aktif di media sosial, tidak lagi membiarkan ruang tersebut sepenuhnya didominasi oleh influencer. Platform seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan X dapat menjadi media efektif untuk menyebarkan ilmu pengetahuan, membangun kedekatan psikologis dengan publik, dan menunjukkan bahwa sains juga dapat disampaikan dengan cara yang hangat dan manusiawi.

Adaptasi lain yang tidak kalah penting ialah membuka ruang kolaborasi strategis antara ilmuwan dan influencer. Alih-alih melihat influencer sebagai pesaing, ilmuwan dapat memosisikan mereka sebagai mitra yang mampu menjembatani pesan ilmiah kepada audiens yang lebih luas. Kolaborasi semacam ini memungkinkan popularitas dan kredibilitas bekerja bersama dalam harmoni.

Namun, usaha ilmuwan untuk tampil lebih kuat di ruang publik tidak akan cukup tanpa masyarakat yang memiliki kemampuan menilai informasi secara kritis. Karena itu, penguatan literasi digital menjadi kebutuhan mendesak dalam era banjir informasi. Masyarakat harus mampu membedakan mana informasi yang berbasis riset dan mana yang sekadar opini viral. Untuk itu, sekolah, universitas, pemerintah, dan media perlu bersinergi memperkuat keterampilan literasi digital.

Di sisi lain, institusi pendidikan dan lembaga penelitian juga memegang peran besar dalam mendukung transformasi peran ilmuwan. Mereka perlu memberikan pelatihan komunikasi publik, menyediakan fasilitas dan ruang kolaboratif, serta menempatkan diseminasi ilmu di ruang publik bukan sebagai tugas tambahan, tetapi sebagai bagian integral dari tanggung jawab ilmuwan.

Dengan dukungan struktural yang memadai, para ilmuwan dapat lebih percaya diri untuk bersuara di tengah keramaian digital, sekaligus memastikan bahwa suara tersebut tetap kuat, kredibel, dan relevan bagi masyarakat luas. Dengan langkah-langkah ini, harapan untuk menghidupkan kembali kepakaran bukanlah hal yang utopis, melainkan sebuah keniscayaan yang dapat dicapai melalui kolaborasi dan adaptasi bersama.

Kepakaran Tidak Mati, Ia Hanya Membutuhkan Panggung Baru

Sebagian orang mengatakan kepakaran telah mati. Tetapi sebenarnya, kepakaran tidak mati. Ia hanya sedang tersisih oleh hiruk pikuk zaman. Ilmu pengetahuan tetap menjadi pilar peradaban yang paling kokoh. Namun agar tetap didengarkan, ilmuwan tidak bisa terus berada dalam menara gading. Mereka harus turun ke ruang publik, berjumpa dengan masyarakat, berbaur dengan dinamika zaman, dan menghidupkan kembali otoritas ilmiah dengan cara yang relevan.

Pada akhirnya, pertarungan antara ilmuwan dan influencer bukanlah perang antara dua kubu yang bermusuhan. Ini adalah panggilan zaman agar ilmu pengetahuan menjadi lebih komunikatif, lebih humanis, dan lebih hadir dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adaptasi yang tepat, ilmuwan tidak akan pernah benar-benar kalah. Mereka hanya perlu menemukan bahasa baru untuk menyampaikan kebenaran lama: bahwa ilmu pengetahuan adalah cahaya yang harus terus dijaga agar masyarakat tidak tersesat dalam kegelapan misinformasi. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Muhammad Zahrudin Afnan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email