Penulis novel Jatuh ke Angkasa (Pastel Books, 2018) dan Anyelir untuk Alyssa (Pastel Books, 2017). Tertarik pada topik buku, film, komunikasi, dan sustainability.

Money Heist Korea: Pengulangan yang Membosankan?

Nabilla Anasty Fahzaria

2 min read

Penonton serial Money Heist musim 1 hingga 5 pasti berekspektasi tinggi terhadap Money Heist Korea: Joint Economic Area yang rilis tanggal 24 Juni lalu. Money Heist Korea musim pertama ini merupakan remake dari versi Spanyol yang terdiri atas enam episode dan sama-sama tayang di Netflix. Serial dengan genre perampokan dan drama kejahatan ini dikarang oleh Ryu Yong Jae dan disutradarai oleh Kim Sung Ho.

Premis cerita Money Heist Korea mirip dengan pendahulunya, yakni usaha merampok Pusat Percetakan Uang Baru yang berada di Zona Ekonomi Bersatu (ZEB). Dikisahkan bahwa Korea Utara dan Korea Selatan akhirnya bersatu pada 2025. Kondisi politik dan ekonomi ini memungkinkan orang-orang dari kedua negara untuk saling membaur. Meski begitu, persatuan kedua negara ini memiliki banyak permasalahan sosial. Salah satunya adalah kemungkinan orang kaya menjadi semakin kaya dan orang miskin akan semakin miskin.

Berangkat dari latar belakang itu, Profesor (Yoo Ji Tae), selaku ahli strategi, mengajak orang-orang tanpa tujuan hidup dengan keahlian dan karakter yang berbeda untuk menjalankan misi besar mereka. Orang-orang itu adalah Tokyo (Jeon Jong Seo), Berlin (Park Hae Soo), Moskow (Lee Won Jong), Denver (Kim Ji Hoon), Nairobi (Jang Yoon Ju), Rio (Lee Hyun Woo), Helsinki (Kim Ji Hun), dan Oslo (Lee Kyu Ho).

Masih ada sederet tokoh lain yang memantik berbagai teori dan spekulasi penggemar setia serial Money Heist. Mereka adalah negosiator bernama Seon Woo Jin (Kim Yun Jin), direktur menyebalkan bernama Cho Young Min (Park Myung Hoon), dan kekasih gelap direktur yang digadang-gadang akan menjadi tokoh Stockholm bernama Yoon Mi Seon (Lee Joo Bin).

Meski begitu, apakah Money Heist Korea: Joint Economic Area ini sama memikatnya dengan serial pendahulu yang terkenal dengan lagu Bella Ciao-nya?

Mengulang Karakter Pendahulu

Sebagai salah satu penonton Money Heist Spanyol yang ikut tenggelam dalam euforianya, saya menaruh harapan besar terhadap Money Heist Korea. Pada awalnya, saya pikir nama-nama karakter yang ada di dalam serial ini akan menggunakan nama-nama kota di Korea, misalnya Seoul, Busan, Incheon, atau Pyongyang. Tapi ternyata serial ini menggunakan nama-nama karakter yang sudah ada sebelumnya di serial versi Spanyol. Penggunaan nama-nama karakter yang sama ini menyebabkan penonton membanding-bandingkan karakter di serial Money Heist Korea dengan Money Heist Spanyol.

Karakter Tokyo di serial ini berbeda dengan karakter Tokyo di serial pendahulunya. Jika sebelumnya Tokyo berkarakter urakan, nyentrik, serta bercitra seksi, maka Tokyo di serial Korea hanya menampilkan sosok perempuan Generasi Z yang cenderung kalem. Sementara itu, sosok Berlin di serial ini berkarakter mirip dengan Berlin pendahulunya. Meski begitu, menurut saya sosok Berlin di serial ini belum bisa menyaingi kharisma Berlin di Money Heist Spanyol.

Nairobi adalah karakter perempuan lainnya yang menonjol setelah Tokyo. Meski begitu, Money Heist Korea belum mampu membuat karakter Nairobi dicintai para penontonnya. Serupa dengan Denver, karakter ini tidak seperti pendahulunya yang cenderung keras kepala, kasar, sering mengumpat, dan memiliki tawa yang khas. Denver dalam versi Korea hanya digambarkan sebagai sosok tampan yang kurang berkarakter.

Karakter lainnya yang perlu disorot adalah kemunculan sosok Ann (Lee Si Woo) sebagai sandera yang ternyata adalah anak dari Kedubes AS. Kemunculan karakter ini hanya mengulang sosok yang sudah ada di Money Heist Spanyol, atau hanya menduplikat karakter yang sudah ada.

Lantas kemunculan tokoh negosiator yang sama-sama perempuan, tokoh direktur yang menyebalkan, tokoh kekasih gelap direktur yang disebut-sebut tengah hamil, dan berbagai detail kecil lainnya yang mirip, menyebabkan saya berpikir bahwa kreativitas tim produksi dari serial remake ini masih jauh dari harapan.

 

Alur Cerita Mudah Ditebak?

Money Heist Korea dan Money Heist Spanyol sama-sama menggunakan tokoh Tokyo sebagai tokoh pembuka dalam film. Kali ini, Tokyo digambarkan sebagai tentara Korea Utara yang senang menonton drama Korea dan mendengarkan musik K-Pop, terutama BTS. Saya tidak berpikir itu menjadi ide pembuka yang bagus. Lalu alur cerita seakan menjadi sangat persis dengan serial versi Spanyol: sesi briefing semua tokoh utama dengan Profesor, aksi dimulai, kedatangan rombongan anak sekolahan ke gedung percetakan uang, dan kekacauan dimulai.

Selanjutnya, semua tokoh utama dan sandera terjebak di dalam gedung. Di momen ini, para tokoh, dialog, dan drama yang disuguhkan seakan-akan hanya pengulangan kembali dari versi Spanyol. Adegan-adegan perkelahian maupun penembakan yang terjadi kurang gahar. Segala hal menjadi mudah ditebak. Pernyataan tersebut berlaku apabila Anda sudah menonton versi Spanyol terlebih dahulu, ya.

Di episode keenam yang merupakan episode terakhir dari musim pertama menunjukkan siapa diri Profesor yang sebenarnya. Dia adalah seorang pengajar dan ahli ekonomi yang ditunjuk oleh oknum petinggi negara demi terciptanya reunifikasi Korea Utara dan Korea Selatan. Adegan pengejaran yang dilakukan negosiator dan polisi terhadap Profesor pun mengingatkan saya pada adegan pengejaran yang sama di versi Spanyol. Meski begitu, belum kelihatan sosok Marseille di serial versi Korea, nih.

Di akhir episode, cerita menunjukkan negosiator yang mulai jatuh cinta kepada Profesor. Episode tersebut dibuat menggantung sebagai pertanda akan ada musim selanjutnya.

Sejauh ini, film serial Money Heist Korea: Joint Economic Area tidak meninggalkan ciri khasnya sebagai film serial produksi Korea Selatan. Jika Anda memang menyukai film serial Korea, maka tidak ada salahnya mencoba untuk menonton penuh serial ini.

***

Editor: Ghufroni An’ars

Nabilla Anasty Fahzaria
Nabilla Anasty Fahzaria Penulis novel Jatuh ke Angkasa (Pastel Books, 2018) dan Anyelir untuk Alyssa (Pastel Books, 2017). Tertarik pada topik buku, film, komunikasi, dan sustainability.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email