Mesin Waktu di Stasiun Murakami (Akhir)

13 min read

Baca dulu cerita bagian 1 dan bagian 2

 

/4/ Cerita Fiktif yang Tidak Ingin Ber(b)isik

Musim panas, 2018. Suara cicada tak putus-putus memekakkan telinga setelah Sang Pengarang menggeser jendela kamar. Jendela ini terdiri dari dua lapis yang dapat digeser. Lapis terdalam adalah kaca tebal. Lapis terluar adalah jaring-jaring. Sang Pengarang membiarkan jaring-jaring tetap tertutup rapat untuk menghalang masuknya serangga musim panas. Matahari sudah memanjat; sinar menerobos dari celah daun-daun dan dahan-dahan. Sepagi ini tapi cuaca telah terasa gerah.

Perut Sang Pengarang terasa lapar sekali. Saat membuka kulkas, Sang Pengarang melihat ke arah telur dan nattokacang kedelai hasil fermentasi yang lengket dan bau. Setelah memanaskan nasi, dia memecahkan telur mentah ke atas nasi putih yang masih beruap. Dia mengaduk natto, menuang ke atas telur dan nasi. Mengaduk-aduk dengan sumpit kayu. Pada mula Sang Pengarang tiba di Jepang di saat musim panas dua tahun lalu, tamago kake gohan adalah menu sarapan pagi yang tampak memualkan. Lama-lama, Sang Pengarang makan saja dengan lahap kapan saja.

Hari ini Sang Pengarang harus bergegas agar tidak ketinggalan kereta. Selesai menyikat gigi dan mencuci muka, dia menunggangi sepeda menuju stasiun kereta. Dia langsung memarkir sepeda dekat dengan stasiun, setelah membayar seratus Yen di mesin yang mencetak karcis tanda terima. Beberapa teman bilang betapa bodohnya dia menggunakan tempat parkir berbayar. Mereka menunjuk tempat parkir gratis di sebelah pachinko. Mereka merujuk tempat gratis lain di sebelah gedung bank lokal. Tapi sebuah sepeda pernah hilang di sana. Sang Pengarang takut mengalami hal serupa.

Perjalanan memakan waktu dua puluh menit hingga kereta berhenti di Bandara Narita. Dua tahun dari sekarang, bandara ini pasti penuh pengunjung. Olimpiade Tokyo 2020 akan sangat ramai. Dari bandara, bis komuter menjemput dari sebuah halte ke hotel tempat Sang Pengarang bekerja. Musim panas seperti ini akan sangat melelahkannya. Seluruh kamar hotel akan terisi penuh hingga lantai 16. Pekerjaan mengharuskan Sang Pengarang untuk masuk ke kamar-kamar. Menarik kain sprei putih dan sarung-sarung bantal yang telah kusut. Menggantinya dengan kain putih yang bersih dan harum. 

Ada puluhan kamar tiap lantai. Pekerja hotel harus bekerja sangat keras tiap musim panas tiba. Musim liburan seperti sekarang, tamu biasanya minta satu kasur ekstra. Artinya, Sang Pengarang harus menggeser kursi dan meja rias untuk membuka ruang bagi kasur ekstra itu. Banyak pekerja yang sudah tua. Mereka meminta pekerja yang muda-muda untuk mengangkat yang berat-berat. Begitulah setiap hari. Berulang. Selama liburan, peraturan imigrasi membolehkan pelajar bekerja hingga 40 jam per minggu. 

Tiap kali memasuki kamar yang sudah ditinggal pergi tamu hotel, pekerja hotel bisa menebak karakter penghuninya. Ada golongan tamu yang sangat rapi sekali. Jenis tamu ini tidak akan melempar handuk seenaknya. Bantal dan kain sprei bahkan tidak tampak amburadul. Sampah dibuang pada tempatnya. Rapi sekali. Pekerja hotel akan langsung menaruh hormat kepada mereka yang meninggalkan kesan baik seperti itu. Secara alamiah, Sang Pengarang akan menghargai mereka.

Tapi ada golongan tamu yang meninggalkan kamar dengan kondisi sangat berantakan. Sangat berantakan. Sang Pengarang pernah mendapati kamar berserakan dengan alat-alat mainan seks. Dia harus memunguti sampah plastik. Harus menggunakan tisu untuk membereskan semuanya. Pekerjaan fisik memaksa dirinya untuk tidak mengeluh. Mengeluh hanya membuat energi terkuras. Dia harus bekerja cepat. Sang Pengarang menuntut dirinya sendiri untuk melepas dan memasang sarung bantal, futon, atau kain sprei dengan cepat. Dalam hitungan kurang dari lima menit. Kecepatan dan kerapian adalah segalanya. Tidak ada waktu untuk mengeluh.

Moto-san, nenek-nenek yang memandori pekerja kebersihan kamar, akan senantiasa sigap menyuruh: ke kamar ini, ke kamar itu. Maaf, nama sebenarnya bukan Mototapi Sang Pengarang tidak ingin menyebut nama aslinya. Sang Pengarang suka arti dari moto: jiwa atau ruh. Dalam situasi sibuk seperti ini, ada kalanya Sang Pengarang menyesali bahwa musim panas akan berlalu tanpa membaca buku-buku. Dia tidak akan punya waktu untuk membaca novel. Paling-paling hanya satu-dua cerita pendek. Sebuah buku haibun karya Matsuo Basho dari perpustakaan tetap tak tersentuh. Padahal buku itu tipis sekali. Badannya terlalu lelah untuk membaca pada musim panas. 

Kadang Sang Pengarang berjalan dari lorong lantai demi lantai hotel dengan membangun situasi dalam sebuah cerita pendek.

Tapi Sang Pengarang tidak dapat membayangkan sebuah cerita pendek dengan plot yang memukau. Karakter seperti apa yang paling pas untuk situasi kamar hotel? Sang Pengarang tidak tahu bagaimana mengubah ruang kosong sebuah lorong hotel dapat menjadi lokasi cerita yang penuh aksi. Mungkinkah dia bisa menulis sebuah cerita cinta yang memikat? Dialog datar yang kuat tapi tanpa drama yang berlebihan? Mungkin ada lelaki bernama Yuki yang dingin bak salju. Istrinya bernama Sakura yang ceria bak kembang musim semi itu. Yuki sangat rapi; Sakura sangat sembrono. 

Sang Pengarang membayangkan bagaimana kamar yang mereka tempati setelah mereka keluar. Apakah Sakura akan membiarkan handuk-handuk putih basah bergeletakan di atas kain sprei tempat tidur. Apakah Yuki akan menatanya rapi di pojok kamar. Apakah bungkus-bungkus sisa makanan akan berserakan di lantai? Mungkin Yuki akan merapikan letak sandal hotel dengan presisi yang sempurna di lantai. “Sakura, sampah itu!”Atau sebaliknya, Yuki yang berantakan dan Sakura yang sangat rapi, “Yuki, kau selalu berantakan!” Ah, bagaimana kalau Yuki ternyata orang Indonesia; lahir dan besar di Indonesia tanpa darah Jepang. Ia bisa saja Yuki Tobing atau Yuki Wardhana. Ah, mungkin lebih baik seandainya Sakura itu yang sejatinya Sakura Sinulingga atau Sakura Wijaya. Dulu mereka bertemu di Bali. Klasik sekali. 

Bisakah Sang Pengarang menulis cerita seperti itu dengan menggunakan lorong hotel sebagai tempat peristiwa? Sang Pengarang mereka-reka bagaimana kamar demi kamar dapat menjadi lokus sebuah dialog sepasang kekasih yang sedang mabuk asmara. Entah kenapa Yuki seperti enggan bercinta, “Sakura, sebenarnya aku datang dari masa depan dengan mesin waktu. Di masa depan, dunia akan dilanda pandemi virus. Bandara akan ditutup. Sekolah ditutup. Semua orang terkurung di dalam rumah. Pemerintah membatalkan Olimpiade Tokyo 2020. Aku mengunjungi masa lalu agar dapat bebas bepergian dari hotel ke hotel, dari bandara ke bandara.” Pasti Sakura akan membalas, “Yuki, kau ngawur!” 

“Tidak, Sakura. Aku berkata benar. Aku datang dari masa depan! Sebaiknya kita tidak bercinta hari ini. Kalau kau hamil, maka sembilan bulan dari sekarang kau akan melahirkan Tomoko dan Tomoka. Lalu, pada pandemi 2020 nanti kita akan sangat repot…” Yuki belum selesai ketika Sakura memotong, “Diam, Yuki! Jangan bercanda seperti komik Doraemon. Lucu ya kalau kita punya anak kembar.” Tiba-tiba Moto-san menyela imajinasi; kamar paling ujung harus diganti kain spreinya. Sang Pengarang segera bergerak.  

Sang Pengarang mengingatkan diri bahwa tidak ada gunanya imajinasi semacam itu. Bandara Narita dan hotel-hotel sudah terlalu sibuk untuk sebuah interupsi semacam pandemi global. Pikiran seperti itu melambatkan gerak fisik Sang Pengarang. Bagaimana mungkin Perdana Menteri Abe akan membatalkan Olimpiade Tokyo. Ah, mungkin Yuki akan bersikeras, “Perdana Menteri Abe akan mundur karena alasan kesehatan. Suga-san akan menggantikan dia tahun 2020. Lalu, tahun 2021 Suga-san akan digantikan Kishida-san. Percayalah, aku datang dari masa depan!” Sakura pasti tidak percaya. Tapi Sang Pengarang terlalu malas untuk menulis sebuah cerita tentang perjalanan waktu. Tubuh terlalu lelah untuk memberi energi bagi imajinasi yang butuh konsistensi dalam berlogika. Inilah pentingnya membaca banyak novel atau cerita pendek yang bermutu terbaik. Ah, sudahlah. Lebih baik membuang jauh-jauh impian untuk menjadi penulis, begitu benak Sang Pengarang.

Terkadang Sang Pengarang berandai-andai bagaimana kalau ada seorang tamu yang menggunakan satu kamar hotel ini untuk menulis karya agung yang akan dikenal sejarah. Bagaimana kalau Sang Pengarang bertemu novelis John Maxwell Coetzee di hotel ini. Tuan Coetzee mungkin tiba kemarin dari Australia. Sang Pengarang akan bertanya, “Bagaimana kabarmu?” atau “Mengapa kau memutuskan untuk meninggalkan Afrika Selatan dan pindah ke Australia?” Oh, tidak, Sang Pengarang  akan memulai dengan, “Aku adalah pengagum besar karya-karyamu. O ya, aku baru saja membaca cerita pendek Lies di situs New York Review of Books. Bagus sekali!”

Ah, tidak, tidak. Sang Pengarang akan langsung menyampaikan bahwa saat ujian tahap akhir menulis esai Bahasa Inggris untuk masuk ke dalam universitas, dia menulis tentang novel yang ditulis Tuan Coetzee: The Childhood of Jesus. Pertanyaan di lembar kertas itu adalah tentang apa artinya fiksi, apa gunanya fiksi. Sang Pengarang mengurai bagaimana Coetzee di novel itu menyinggung tentang Don Quixote yang mengandung tiga perspektif: (1) dunia yang dilihat dari mata si Don Quixote sebagai sang gila bak ksatria berpedang; (2) kenyataan yang dilihat petani Sancho Panza yang setia melayani sebagai sang bujang; (3) realita rekaan yang dilihat Miguel de Cervantes sebagai seorang pengarang. Pembaca biasa melihat kebodohan Don Quixote. Pembaca yang bijak melihat kebodohan dirinya sendiri. Fiksi adalah pengungkapan lapis demi lapis cara pandang manusia di dunia.  

Ah, tentu saja tidak! Sang Pengarang harus memamerkan sebuah cerita pendek yang ditulisnya. Tapi, Sang Pengarang  tidak pernah menulis sebuah cerita dalam Bahasa Inggris. Bagaimana mungkin Sang Pengarang memamerkan sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya. Kalau begitu, Sang Pengarang harus memulai untuk menulis dalam Bahasa Inggris. Tapi, bagaimana mungkin! Bahkan Sang Pengarang tidak punya sebuah cerita pendek dalam Bahasa Indonesia yang pernah dipublikasikan. Semua cerita pendeknya ditolak oleh redaksi Kompas Minggu, semuanya. Selama sepuluh tahun ia mengirim cerpen dan re(d)aksi koran selalu menolaknya. Cukup jelas untuk memutuskan bahwa kau tidak berbakat.

Kadang-kadang, ada hiburan tersendiri bagi pekerja hotel. Pernah, suatu hari pelataran depan hotel ini digunakan untuk tempat syuting. Ada sebuah bus dengan model kuno dan penumpang berpakaian seperti manusia puluhan tahun lalu. Sang Pengarang tidak tahu apakah itu bagian dari pengambilan gambar untuk film atau iklan. Tapi hal seperti itu cukup menghiburnya. Setelah merapikan tempat tidur kamar, Sang Pengarang mengintip syuting dari jendela lebar. Mereka membangun situasi panik; penumpang bus panik berhamburan. Sang Pengarang segera kembali ke alam nyata; masih banyak kamar yang harus dikerjakannya. 

Dengan menyingkirkan pikiran yang melayang-layang ke segala penjuru, Sang Pengarang dapat bergerak dari satu kamar ke kamar lain dengan lebih luwes. 

Musim panas seperti ini, Moto-san pasti meminta pekerja hotel untuk bekerja sejam atau dua jam lembur. Masih banyak kamar-kamar yang perlu dikerjakan. Dengan sendirinya, imajinasi akan menguap tanpa dituangkan ke dalam kata-kata. Cerita demi cerita yang seharusnya lahir akan hilang entah ke mana. Begitulah hari demi hari. Tidak ada yang perlu disesali dari semua ini. Ada orang lahir untuk menuliskan sesuatu yang mengubah dunia. Ada orang yang lahir untuk bertahan hidup di dunia. Sang Pengarang adalah bagian dari orang-orang biasa. Dan itu lebih dari cukup untuk bersyukur. 

Saat tiba di dalam kamar asrama, Sang Pengarang segera menutup jendela. Hari sudah gelap. Suara cicada yang tak putus-putus memekakkan telinga itu langsung lenyap setelah Sang Pengarang menutup jendela kamar. Tiba-tiba, dunia diam. Seperti sebuah cerita fiktif yang tidak ingin ber(b)isik. Tanpa suara dari komputer yang belum menyala; tiada musik yang berbisik. Tanpa armada cicada yang berisik. Senyap. Damai sekali. Saat seperti ini seharusnya Sang Pengarang menulis sesuatu. Saat seperti ini seharusnya Sang Pengarang membaca sesuatu.

Tapi perut Sang Pengarang terasa lapar sekali. Saat membuka kulkas, Sang Pengarang melihat ke arah telur dan natto. Setelah memanaskan nasi, dia memecahkan cangkang telur. Isinya yang mentah tumpah ke atas nasi putih yang masih beruap. Dia mengaduk-aduk natto dan menuangnya ke atas nasi yang telah bercampur kuning telur. Mengaduk-aduk dengan sumpit kayu. Sudah pukul sepuluh malam. Sang Pengarang perlu merasakan air dari selang pancuran. Dia harus segera tidur untuk mengembalikan kesegaran tubuh. Esok Sang Pengarang harus kembali menelusuri lorong hotel itu dari lantai ke lantai. Terlalu lelah untuk menulis cerita perjalanan waktu.

 

/5/ Menulis adalah Jalan Men(y)epi 

Seharusnya sakura yang mekar dan salju tidak bersatu. Sakura adalah simbol musim semi itu sendiri. Ranting-ranting kering dan dahan-dahan yang telanjang menjelma kelopak demi kelopak sakura yang membungkus pohon demi pohon. Menandakan akhir musim dingin. Seharusnya, salju tidak mengganggu sakura. Tapi itulah yang terjadi. Maret 2020, musim semi. Salju turun mengguyur pohon-pohon sakura yang tengah mekar di mana-mana. Tidak mungkin. Tapi terjadi.

Sang Pengarang tidak bisa menafsir arti turunnya butir-butir salju menemui sakura yang tengah mengembang. Mungkin langit merestui Pemerintah Metropolitan Tokyo yang melarang orang-orang untuk berkumpul; hanami akan menambah buruk penyebaran virus corona. Mungkin Gubernur Yuriko Koike punya jalur khusus melobi langit. Dengan salju yang turun tidak pada waktunya ini, mana mungkin orang-orang berani menggelar alas untuk duduk makan-makan dan minum-minum di bawah pohon-pohon sakura. Terlalu dingin dan konyol untuk memaksakan diri melawan salju lebat di musim semi.

Mungkin pula langit memberikan penghiburan sendiri bagi orang-orang Jepang yang sedang menyesali mengapa wabah datang untuk menghancurkan segalanya: pekerjaan, kesehatan, rumah tangga. Guyuran salju dan mekarnya sakura ibarat sapuan kuas sang Kami-sama yang melukiskan kaligrafi keindahan—segalanya hanya sementara.

Pandemi ini merusak rencana besar Sang Pengarang yang hendak menulis cerita perjalanan waktu. Penyebaran virus corona membuat dirinya harus merevisi konteks sosial masyarakat Jepang yang mengalami masa darurat pandemi. Setelah berhasil menulis sebuah cerita pendek bertema mesin waktu, tentang proyek rahasia bilik teleportasi kuantum Tokyo Underground University (percayalah orang tidak akan menemukan satu iota informasi tentangnya hanya dengan bermodal Google), Sang Pengarang belum berhasil menembus konteks pandemi global pasca pandemi global; sebuah tabir dimensi yang memisahkan masa kini dan masa depan.

Ceritanya sederhana saja. Sang Pengarang menciptakan sebuah peristiwa fiktif yang mengisahkan seorang koordinator tim riset berangkat dari dunia Tokyo versi semesta masa kini, dan tiba di dunia Tokyo versi semesta tiga bulan ke depan. Doktor Murakami (maaf Sang Pengarang tidak mungkin membuka identitas tokoh fiktif ini dengan rinci) pergi ke Tokyo di masa depan, dan kembali dengan selamat ke masa kini—walau hanya berjarak tiga bulan. Ia masuk ke bilik teleportasi kuantum yang meluruhkan seluruh struktur materi tubuhnya, melompat ke masa depan, lalu mengembalikan dirinya dengan selamat ke masa kini di Tokyo. Dia adalah pahlawan sains terbesar yang tidak akan pernah dikenal sejarah. Percayalah, orang tidak akan menemukan satu berita tentangnya. Dia hanyalah seorang tokoh fiktif!

Sang Pengarang berusaha menempatkan tokoh fiktif ini masuk ke dalam realita ekonomi modern sesuai dengan konteks kontemporer. Ia membuat si Doktor Murakami ini kembali setelah mengunduh semua informasi mengenai pergerakan harga saham, valuta asing, dan Bitcoin, dan apa saja yang bisa dipertaruhkan (sayang sekali banyak laga liga-liga olahraga dibatalkan, termasuk Olimpiade Tokyo 2020). Pada sisi lain, itulah enaknya kalau orang pergi ke semesta masa depan dalam jangka waktu tiga bulan yang singkat; tidak ada gegar budaya. Cukuplah untuk mengunduh apa saja yang dibutuhkan di masa depan tanpa harus berhadapan dengan perubahan teknologi yang revolusioner.

Alat ini hanya dirancang untuk membuat manusia melompat ke semesta masa depan dalam jangka waktu tiga bulan. Hanya tiga bulan, tidak boleh lebih, tidak boleh kurang. Dalam tiga bulan, Sang Pengarang berasumsi tidak banyak yang akan berubah. Komputer yang kini digunakan masih bisa berfungsi untuk mengakses internet; tidak ada perubahan revolusioner untuk protokol internet. Gaya busana yang digunakan pasti tidak terlalu usang; cukup sesuaikan dengan perbedaan musim. Kosakata dan bahasa tidak berubah. Gaya rambut tidak banyak berganti. Pelaku perjalanan waktu tidak akan tampak seperti orang asing. Mata uang masih sama; uang kertas dan dompet digital masih berlaku.

Dan yang paling penting, Doktor Murakami ini  bisa mengunduh seluruh data yang dibutuhkannya dari masa depan untuk memperkaya dirinya ketika kembali ke semesta masa kini. Bawalah semua informasi mengenai naik-turunnya saham, valuta asing, atau mata uang kripto. Sederhana. Bangunlah surga dunia di masa kini; hiduplah kaya raya. Sempurna, bukan?

Ketika Doktor Murakami kembali, ia senyum, setelah keluar dari bilik mesin waktu. “Tadaima.,” katanya. Seluruh tim riset berteriak gembira, lalu menutup mulut rapat-rapat agar tidak mengundang curiga. Ia adalah orang pertama yang melakukan perjalanan waktu ke semesta masa depan, dan kembali dengan selamat. Ia adalah manusia pertama dalam sejarah yang berhasil melakukan perjalanan paling dahsyat ini. Tapi, tim riset ini tidak dapat merayakan pencapaian ini. Tokyo Underground University adalah proyek rahasia.

Doktor Murakami tidak hanya membawa pulang data yang kami janjikan itu. Ia membawa kotak-kotak masker yang langka di masa darurat pandemi sekarang. “Situasi tiga bulan ke depan masih belum membaik, tapi setidaknya masker sudah tidak susah ditemui seperti sekarang,” katanya. Doktor Murakami tersenyum, tapi senyumnya tidak terlalu mengembang. Tanpa terlalu banyak mengeluarkan kata-kata, matanya sudah banyak bercerita. Pandemi memukul banyak sendi kehidupan. “Maaf aku tidak bisa membawa lebih banyak masker untuk kita,” Doktor Murakami membungkuk. Orang di dalam tim riset tahu, ia adalah lelaki Jepang yang memiliki tenggang rasa. Dia tidak mungkin dengan rakus memborong semua masker. Dia harus memikirkan orang lain juga. Tapi entahlah, ada yang lain yang tidak diceritakannya. Sang Pengarang tidak ingin memberitahukan apa yang dialami tokoh fiktif ini.

Doktor Murakami mengajak sang asisten, Yuki, menaiki tangga dari lantai paling atas, ke atap gedung ini. Doktor Murakami meneguk bir dari kaleng dingin di tangannya. Manusia pertama yang melintasi perjalanan waktu ini tidak peduli bahwa salju telah turun mengguyur Tokyo. Aspal terlihat putih, dari kejauhan Yuki bisa melihat deretan pohon-pohon sakura diatur melingkari taman. Aneh sekali, sakura dan salju hadir dalam waktu yang sama kala musim semi. Sangat aneh sekali. Seharusnya salju dan sakura tidak menjadi satu.

Puncak keindahan dari musim semi bukanlah mekarnya bunga sakura yang tengah merona. Lihatlah pesona kelopak demi kelopak sakura kala gugur terbawa angin musim semi. Betul, keindahan ada pada kembang yang sedang sedap-sedapnya dipandang. Tapi, rasa haru menyentuh hati ketika tidak ada orang yang bisa mencegah angin menggugurkan satu demi satu kelopak sakura; maka relakan. Relakanlah, hanya sekejap saja sakura berbunga dalam setahun; lalu sang ratu musim semi itu berubah menjadi pohon biasa dengan daun-daun hijaunya. Dan manusia modern kembali menjalani hidup, melatih hati untuk menerima rutinitas.

Mungkin tidak ada yang lebih puitis dan magis dari ini semua. Tapi siapa sangka cinta dan semua cerita yang terkandung di dalam hati manusia ternyata lebih puitis dan magis. Doktor Murakami membawa cerita cintanya dari masa depan, dengan hati yang terbelah dua,“Saat aku di pasar swalayan hendak membayar kotak-kotak masker itu, aku melihat kekasihku berjalan dengan lelaki lain.”

“Mohon maaf, Sensei. Itu betul-betul dia? Bisa saja itu orang lain.”

“Tentu aku yakin. Rambutnya. Tinggi badannya. Baju, celana, tas, sepatu. Itu dia. Mana mungkin aku salah.”

“Mungkin lelaki lain itu hanyalah teman biasa.”

“Mana mungkin lelaki itu hanyalah teman biasa! Mereka bergandengan tangan!”

Yuki hanya bisa diam. Tapi Doktor Murakami terlanjur berpikir yang tidak-tidak.

“Apakah aku akan bertahan hidup hingga tiga bulan ke depan? Mungkin aku akan ditaklukkan oleh virus ini? Mungkinkah lelaki itu hadir sebagai pengganti diriku? Mungkin ia dan lelaki itu ditakdirkan untuk hidup bersama?”

Yuki hanya bisa diam. Perjalanan waktu mengandung kompleksitas yang tidak mungkin diantisipasi seluruhnya, pikir si Yuki ini di dalam hati. Yuki tidak tahu harus berkata apa untuk sang ilmuwan cemerlang itu. Sains adalah jalan men(y)epi. Doktor Murakami adalah pejalan yang setia berada di jalan setapak jauh dari keramaian. Sains bukan untuk mereka yang tidak siap dengan patah hati. Pengorbanan dan penolakan adalah sarapan pagi bagi para pembawa panji-panji ilmu pengetahuan.

“Sensei, maaf, bagaimana kalau ternyata, sekali lagi maaf, mungkin lelaki yang kau lihat itu adalah dirimu sendiri? ”

Doktor Murakami menatap Yuki. Dan menggelengkan kepala.

“Aku tahu persis siapa lelaki yang digandeng Sakura. Aku tahu persis siapa dia. Aku tahu.”

Begitulah. Setelah percakapan di atas atap itu, esoknya Doktor Murakami dan Yuki kembali menghabiskan waktu untuk minum bir. Timbunan salju sudah mulai mencair. Sakura sudah tampak berguguran bersama dengan guyuran salju kemarin. Doktor Murakami lebih banyak bicara dari biasanya. Tidak seperti yang biasa dikenal oleh Yuki, sang ilmuwan visioner itu kini banyak bercerita tentang bagaimana ia bertemu kekasihnya, Sakura. Sedikit demi sedikit, Yuki jadi merasa seperti mengenal sosok perempuan itu, walau mereka belum pernah bertemu.

Doktor Murakami adalah pria Jepang yang tertutup. Ia meletakkan garis yang sangat tegas antara wilayah pribadi dan urusan umum. Orang tidak akan pernah bisa menggali informasi pribadinya. Tapi, sejak perjalanan melintasi tabir semesta waktu yang dilaluinya, garis batas itu menjadi hilang seketika. Ia seperti pendongeng yang sedang menokohkan karakter Sakura di setiap lembar hidupnya. Sakura suka belanja di toko itu. Sakura suka makan di restoran itu. Jangan sekali-kali mengajak Sakura ke izakaya, kalau kau tidak mau melihatnya cemberut. Sakura paling suka melihat hydrangea di musim panas; semak-semak dengan bunga biru dan merah muda adalah kombinasi warna yang paling disukainya. Sakura ini. Sakura itu.

Jujur saja, Yuki terkejut dengan ulah sang mentor. Ia seperti sengaja menghujani telinga Yuki dengan cerita yang seharusnya tidak perlu didengar. Doktor Murakami bahkan menyesali kenapa dirinya harus melakukan perjalanan waktu. Jujur saja, Yuki lebih suka melihat Doktor Murakami yang sekarang. Menurut Yuki, sang mentor sudah berubah menjadi sosok yang jauh lebih terbuka. Sang guru telah menjadi pencerita yang memukau. Mungkin benar, patah hati dapat mengguncang jiwa seseorang. Yuki melihat Doktor Murakami seperti sosok yang tidak berdaya. Mana mungkin Doktor Murakami membuka rahasia tentang perjalanan waktu yang dilaluinya kepada Sakura. Mana mungkin. Sakura tidak boleh tahu.

Beberapa hari kemudian Yuki membaca pesan yang masuk ke ponselnya ketika sang guru mengabarkan bahwa ia terkena virus itu. Seluruh anggota tim ternyata memiliki hasil negatif. Yuki menduga bahwa Doktor Murakami tertular virus itu ketika ia berada di semesta masa depan. Itulah sebabnya mengapa Yuki tidak pernah mau pergi melintasi tabir dimensi waktu ke masa depan, walau itu hanya berjarak tiga bulan. Sungguh riskan untuk menggunakan mesin waktu ini pada masa ketika pandemi masih belum usai. Tim riset menunda untuk melanjutkan perjalanan waktu hingga batas waktu yang tidak ditentukan.

Tapi Doktor Murakami adalah sosok yang cuek dengan kondisi badannya. Walau tubuhnya mulai mengalami rasa lelah, ilmuwan rasional itu menolak untuk pergi ke rumah sakit. Ia percaya bahwa virus itu dapat takluk melalui isolasi mandiri. Namun, mungkin beban pikiran dan patah hati yang dibawa dari masa depan itu telah membuat kondisinya memburuk. Ia sempat mengirim pesan bahwa ia sedang berada di rumah sakit. Sulit bernafas, nafas terengah-engah, tulisnya. Virus ini tidak boleh dianggap main-main, tulisnya lagi. Anehnya lagi, ia sempat menulis begini: Jaga baik-baik Sakura.

Itulah kata-kata terakhir yang datang dari Doktor Murakami. Ia ditaklukkan oleh virus itu untuk selamanya. Sang manusia pertama pelintas perjalanan waktu. Sang pahlawan sains dan teknologi. Sains adalah jalan men(y)epi. Para pembawa lentera sains adalah mereka yang mengubah sejarah tanpa kilatan kamera dan pesta kembang api. Ilmuwan sejati harus siap berada di tepi, hidup sunyi jauh dari pusat perhatian. Pelopor sains harus kuat mengakrabi sepi, hidup hening tanpa tepuk tangan. Dia orang yang visioner.

Walau Yuki merasa tim riset sudah bekerja sempurna, ternyata tak ada gading yang tak retak. Tapi, begitulah. Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Di rumah sakit pula Yuki pertama melihat Sakura. Entah kenapa, saat mata mereka bertemu, Yuki seperti bisa melihat ke masa depan. Bahwa ia akan digandeng lelaki lain. Yumi sedih membayangkan bahwa Doktor Murakami akan digantikan oleh lelaki antah berantah itu. Demi kesopanan, Yuki menyembunyikan rasa sedih saat mengenalkan namanya, “Hajimemashite. Saya Yuki.”

“Ah, Yuki ya! Aku sudah mendengar banyak tentangmu! Dari Indonesia kan? Namamu seperti nama Jepang. Akhir-akhir ini dia banyak bercerita tentangmu. Dia cerita tentang bir yang kau sukai. Tim sepakbola yang kau sukai. Warung ramen yang paling sering kau kunjungi. Kau suka ramen tonkotsu kan? Entah kenapa, dia tidak seperti biasanya. Hari-hari terakhir sebelum mengurung diri akibat virus itu, dia hanya menceritakan dirimu saja. Aneh sekali kan?”

Begitulah. Yuki betul-betul takut membuka kotak pandora bernama mesin waktu ini. Peristiwa yang menimpa Doktor Murakami membuat tim riset menjadi lebih mawas diri. Biarlah masa depan menjadi misteri. Semuanya sudah diatur oleh Sang Maha Pencipta. Manusia tidak perlu tahu. Pada suatu waktu di musim panas, 2020, Sakura sedang berjalan dengan menggandeng tangan Yuki, saat seorang lelaki yang tampak tak asing itu sedang berdiri di depan rak berisi kotak-kotak masker: Doktor Murakami mengambil secukupnya untuk dibawa kembali ke semesta masa lalunya. O Tuhan, apa yang harus kulakukan, begitulah Yuki berpikir di dalam semesta masa kininya.

Menulis adalah jalan men(y)epi. Pada titik ini, Sang Pengarang tidak tahu bagaimana harus melanjutkan cerita pendek yang tengah ditulisnya. Kalau ia terus menulis dan menulis, cerita pendek ini malah berkembang menjadi novel yang terlalu kompleks. Biarlah cerita pendek ini menjadi cerita pendek saja. Biarlah salju menjadi salju dan sakura menjadi sakura. Sekian.

 

12 November 2021/

Murakami, Yachiyo-shi

 

 

TAMAT

TD Ginting

Selamat Malam

Nibrosi
1 min read

Batas Waras

Farah Ramadanti Farah Ramadanti
9 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.