Mesin Waktu di Stasiun Murakami (2)

11 min read

Baca dulu cerita bagian pertama Mesin Waktu di Stasiun Murakami (1)

/2/ Oi Sang Pengarang, Apakah Kau Seorang Seks(ual)is?

Sungai Shin mengalir dengan tenang. Dengan tenangnya, arus sungai memantulkan bayangan pohon-pohon sakura yang berbaris rapi di tepi sungai. Dengan berbaris rapi seperti para serdadu yang berdiri tegak di sebuah upacara, pohon-pohon itu memayungi banyak bangku taman yang tampak kosong. Seto menduduki sebuah bangku dekat dengan jembatan. Jembatan itu dilewati sepeda dan anjing-anjing yang sedang dibawa berjalan oleh tuannya. Para tuan pemilik anjing itu keluar dari gedung-gedung apartemen yang tampak menjulang tinggi di belakang punggung Seto. Seto menghadap ke arah Sungai Shin. Air sungai mengalir dengan tenang. 

Musim hujan, yang membuka datangnya musim panas beberapa minggu lalu, telah mengubah pohon-pohon sakura itu tampak hijau. Cuaca memang panas, tapi setidaknya hari ini ada angin yang berhembus. Yuki dan Tadaima berjalan menghampiri Seto. Seto menoleh ke arah mereka. “Akhirnya kalian datang juga.” Mereka tiba lima menit persis sebelum waktu yang dijanjikan. Beberapa hari setelah peristiwa di toilet Stasiun Murakami, Seto menerima pesan surel dari orang yang tak dikenalnya. Tidak jelas entah dari mana mereka melacak alamat suret miliknya. Dalam sebuah cerita fiktif, hal-hal yang mengejutkan dapat dimungkinkan untuk melayani kepentingan Sang Pengarang. Pesan itu menyebut lokasi dan waktu pertemuan. Dua orang bernama Yuki dan Tadaima akan datang menemui Seto untuk menyerahkan sesuatu dengan syarat: Seto harus menutup mulut atas semua yang diketahuinya terkait mesin waktu dan hal-hal lainnya. Seto setuju.  

Dua orang itu telah datang. Mereka mengenakan masker putih sehingga tidak terlihat jelas apakah mereka tersenyum atau tidak. Seto berdiri dan membungkuk ke arah mereka. Yuki dan Tadaima membalas dengan membungkuk pula. Mereka bertiga berjalan menuju jembatan penyeberangan. Persis di tengah jembatan, tiga orang itu berhenti. Yuki mulai membuka suara, “Seto-san, sebaiknya kami tak perlu banyak basa-basi kepadamu.” Yuki menyodorkan sebuah amplop dengan kedua tangannya, “Mohon kiranya engkau menerima hadiah kecil tak berarti ini.” 

Seto tidak mungkin pura-pura tidak tahu bahwa amplop itu pastilah tidak berisi hadiah kecil. Paling tidak, isinya 500 ribu Yen. Seto menerima amplop dengan membungkuk sebagai tanda hormat. Di masa pandemi seperti saat ini, uang sangat berharga. “Saya sangat berterima kasih atas pemberian ini. Terima kasih banyak.”  Seorang remaja mengendarai sepeda melewati mereka berdua tanpa menoleh.

Seto membungkuk dengan sungguh-sungguh. Yuki dan Tadaima membalas dengan membungkuk pula. Seto melompat tinggi ke atas langit. Yuki dan Tadaima melihat ke atas hingga Seto tampak seperti titik kecil dan menghilang. Setelah mereka memastikan Seto sudah menghilang dari pandangan, kedua orang itu berjalan meninggalkan lokasi pertemuan. Dua orang itu berjalan menuju Stasiun Murakami. 

Begini. Saat sedang melesat menembus langit, Seto berpikir bahwa bisa saja Sang Pengarang sengaja menciptakan sebuah peristiwa untuk membungkam mulutnya. Tujuan utama: agar Seto sebagai karakter utama tidak terlalu banyak bertanya. Seto mulai menduga apa sesungguhnya motif utama Sang Pengarang. Sebuah plot cerita fiktif pasti mewakili (j)alur pemikiran manusia yang menciptakannya. Mungkin, Sang Pengarang ingin agar Seto tidak perlu banyak cengkunek menyinggung isu ras(ial)isme. Sebagai sebuah teks, cerita pendek ini tidak bisa dilepaskan dari konteks bangkitnya ge(b)rakan besar menentang supremasi suatu ras atas ras lain. Mana mungkin ada pengarang yang akan mengakui dirinya rasis. Mana mungkin.

Sembari terbang menuju Planet Mars, Seto berpikir bahwa Sang Pengarang pasti ingin menutupi bahwa cerita pendek ini adalah karya yang mengandung prasangka. Apakah Sang Pengarang tidak ingin pembaca tahu bahwa cerita pendek ini memandang tinggi bangsa asing, sembari menginjak bangsa sendiri? Atau sebaliknya, apakah Sang Pengarang tidak ingin pembaca tahu bahwa cerita fiktif ini memandang rendah bangsa asing, sembari memuliakan bangsa sendiri? Apa ada penulis yang benar-benar adil sejak dalam pikirannya sendiri? Apa ada?

Selain menyumpal mulut sang tokoh fiktif dengan uang 500 ribu Yen, Sang Pengarang juga menganugerahkan kekuatan super kepada Seto. Lihatlah, Seto bisa terbang ke atas langit seperti Superman atau Ultraman. Kekayaan dan kekuatan seperti itu diperlukan untuk menutup mulut orang yang banyak bertanya seperti Seto. Sudahlah, tidak usah banyak cengkunek. Diam sajalah. Khusus di masa pandemi seperti sekarang, menjadi pasif itu jauh lebih berguna dibandingkan mereka yang banyak bertanya. Seto harusnya tahu itu. Dan dia menikmati kekuatan adidaya yang dimilikinya. Terbang seperti Superman. Seperti Ultraman. Digdaya seperti para pahlawan masa kecilnya.

Seto tidak ambil pusing bahwa ia disuap oleh Sang Pengarang. Persetan dengan idealisme yang dimiliki oleh tokoh utama cerita fiktif. Dengan cara tersebut, sang karakter utama sengaja dihilangkan. Ia terbang melesat, tapi terbuang dari sebuah cerita pendek. Ia terb(u)ang dengan percuma.

Yuki dan Tadaima, dua orang ilmuwan jenius dari Tokyo Underground University yang merancang mesin waktu di bilik toilet Stasiun Murakami, menjalankan tugas khusus dengan baik. Mereka khusus datang dari Tokyo untuk menyogok Seto agar diam. Dalam sebuah cerita pendek, harus ada yang menjalankan peran sebagai sosok yang berubah karakternya. Untuk itulah Yuki dan Tadaima diperintah oleh Sang Pengarang. Mereka harus memberikan amplop langsung ke tangan sang karakter utama.

Siapakah Yuki dan Tadaima? Sepertinya, Sang Pengarang sengaja tidak memberikan deskripsi detail: apa warna baju dan celana yang mereka kenakan, apa merek dan jenis sepatu yang mereka gunakan, berapa tinggi dan berat badan mereka, dan seterusnya. Sang Pengarang tidak mengungkap bau mulut mereka: apakah mengandung aroma teh, kopi, soda, bir, tembakau, ramen, soba, kari, dan sebagainya. Untuk urusan deskripsi fisik, Sang Pengarang menggunakan gaya minimalis.

Demikianlah. Dengan cara ini, Sang Pengarang sudah menjawab pertanyaan Seto.

Yuki dan Tadaima terpaksa dikirim oleh Sang Pengarang agar Seto tidak berpikir lebih jauh lagi. Bagaimana kalau Seto bertanya kenapa hanya ada tokoh laki-laki di dalam cerita pendek ini. Alamak, Sang Pengarang pasti harus keluar uang ratusan ribu Yen lagi untuk menyumpal mulutnya. Apakah Sang Pengarang ini termasuk ke dalam rumpun laki-laki seksis yang memandang perempuan lebih rendah sehingga tidak layak dilibatkan di dalam cerita pendek ini? Apakah Sang Pengarang ini termasuk ke dalam rumpun laki-laki seksualis yang memilih menjelaskan suatu fenomena sosial melalui kerangka seksualitas yang memihak dan berat sebelah? Apakah mungkin Sang Pengarang benar-benar adil sejak dalam pikirannya ketika memandang dunia melalui perspektif seksualitas? Apakah mungkin? Bukankah itu mustahil?

Sejak awal, Sang Pengarang seharusnya memiliki kesadaran bahwa konstruksi sebuah cerita pendek akan dibaca oleh manusia melalui fondasi struktur seksualitas yang melandasinya. Sebuah cerita pendek adalah dunia yang diciptakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan penulisnya. Kenapa dunia rekaan Sang Pengarang tidak memiliki karakter utama yang memiliki jenis kelamin perempuan? Apakah karakter perempuan tidak layak memiliki tempat terhormat di dalam sebuah cerita pendek? Apakah Sang Pengarang termasuk ke dalam jenis penulis seksis seperti Jack Kerouac yang menulis On The Road dengan memandang rendah tokoh perempuan seperti umumnya laki-laki tahun 1950-an? Apakah Sang Pengarang termasuk ke dalam rumpun pemikir seksualis seperti Aristoteles yang terekam dalam Politika, yang menempatkan kategori seks perempuan di tempat inferior di bawah laki-laki terdidik seperti bahasa patriarkis yang umumnya digunakan para filsuf Yunani Kuno ribuan tahun lalu? 

Lantas, bagaimana seharusnya sebuah cerita pendek ditulis? Apakah ada sebuah cerita pendek yang bisa membebaskan dirinya dari kerangka seksis dan seksualis secara bersamaan? Apakah ada penulis yang mampu membebaskan dirinya dari kelemahan perangkat bahasa paternalistik di masa ia menulis? Bukankah menulis adalah cara untuk membuka kelemahan dan kekurangan diri sendiri di hadapan mahkamah pembaca? Bukankah setiap langkah menutupi kebodohan diri sendiri adalah pekerjaan sia-sia? Bukankah klaim dari sebuah tulisan pasti akan digugat dari (o)posisi yang melawannya?

Entahlah. Stasiun Murakami adalah stasiun kecil. Sebuah stasiun kecil yang seharusnya tidak menjadi lokus dari banyak pertanyaan besar. Dan cerita pendek ini tidak ingin Seto untuk bertanya lebih keras. Bah, bayangkanlah kalau seorang tokoh fiktif bertanya kepada orang yang menciptakannya, “Oi Sang Pengarang, apakah kau tidak sadar bahwa kau seorang seks(ual)is?

/3/ Cerita Pendek yang Tidak Ingin Berisi(k)

Lupakan Setoman, si Seto dengan kekuatan super bak Superman dan Ultraman itu. Biarkan dia mengembara dari satu planet ke planet lain. Dari satu galaksi ke galaksi lain. Toh, kalau perutnya lapar, dia akan kembali ke Bumi dan masuk ke Family Mart untuk membeli onigiri. Lihatlah bagaimana sekarang Sang Pengarang menciptakan sebuah peristiwa baru. Lihatlah bagaimana dia memindahkan lokus cerita dan memutar balik waktu ke masa lampau. Taman Yoyogi di Tokyo tahun 2020, musim panas. Persis setahun sebelum Yuki dan Tadaima berada di Chiba untuk menyuap Seto.

Hujan akan segera turun mengguyur danau dan daun-daun di Taman Yoyogi. Awan mendung sudah mengepung; Tadaima langsung mengajak Yuki untuk bergabung ke dalam tim riset yang tengah dipimpinnya,“Saat ini kami sedang membangun sebuah piring terbang yang akan mengirim makhluk hidup ke galaksi tetangga. Yuki, aku sangat butuh bantuan dari orang sepertimu.” 

Tadaima mengajak Yuki bertemu di tempat terbuka taman ini untuk menghindari pertemuan di ruang tertutup. Bukan karena restoran atau lobi hotel tidak aman dari kuping manusia atau alat penyadapTokyo sedang menjalankan masa darurat pandemi.

Mereka berdiri dengan jarak yang cukup jauh. Namun cukup dekat untuk bicara tanpa harus berteriak. Tadaima mengenakan masker kain putih gratis pemberian pemerintah untuk warga. Banyak orang mengeluh bahwa kain masker itu terasa kasar dan gatal di kulit muka. Apalagi bentuknya yang persegi itu tidak selebar masker biasa. Perdana Menteri Abe memakai masker seperti itu sejak bulan April. Yuki tidak tahu jawaban seperti apa yang harus diberikan, “Tadaima, izinkan aku memikirkan soal tawaran ini dengan serius. Berikan aku waktu setidaknya dua-tiga hari ke depan.” 

Mereka mengakhiri pertemuan ini dengan saling membungkuk. Mereka berpisah. Yuki sempat menoleh ke belakang dan melihat lelaki yang membawa payung plastik tergulung itu. Langkah kakinya cepat sekali hingga menghilang dari pandangan di balik pohon-pohon yang sedang menunggu jatuhnya hujan dari langit. Tampak beberapa tunawisma Taman Yoyogi sedang berjalan. Yuki dapat dengan mudah mengenali tunawisma yang itu-itu saja di taman ini. Banyak orang khawatir bagaimana nasib para tunawisma selama wabah virus corona. Yuki berjalan cepat menuju ke stasiun terdekat.

Di atas kereta, Yuki duduk di ujung gerbong. Semua penumpang sudah memakai masker. Di luar, hujan sudah turun mengguyur Tokyo. Setiap tahun, musim hujan yang singkat, tsuyu, menandai mulainya musim panas. Cuaca akan sangat menjengkelkan. Tapi, petani padi menyambut bahagia. Alamak, dalam benak Yuki, rasanya seperti sedang berada di iklim tropis Indonesia. Pohon-pohon sakura sudah seutuhnya berubah menjadi hijau kembali tanpa menyisakan kelopak bunganya. 

Manusia tidak bisa menahan laju waktu. Manusia modern harus kembali ke tengah rutinitas hidup dari apartemen ke stasiun, dari stasiun ke kantor, dari kantor ke stasiun, dari stasiun ke apartemen. Begitulah seterusnya. 

Kadang peristiwa besar seperti Olimpiade Tokyo 2020 membawa harapan dan kegembiraan. Tapi tahun ini ajang itu pasti batal; pandemi meluas ke seluruh dunia. Yuki menjaga payung yang tergulung agar jangan sampai jatuh ke lantai. Satu hal yang sedang berada di dalam kepalanya adalah bagaimana cara paling halus dan sopan untuk menolak tawaran tadi. 

Tadaima adalah rekan satu laboratorium sewaktu Yuki masih magang menjadi peneliti. Pada satu sisi, Tadaima berjasa besar membantu Yuki menjadi seorang insinyur dan ilmuwan yang mumpuni. Pada sisi lain, riset piring terbang adalah hal paling mengada-ada yang pernah didengar Yuki. Yuki tidak tahu apakah otak Tadaima sudah betul-betul miring seperti orang sinting atau belum. Yuki pernah mendengar bahwa sudah berbulan-bulan lalu Tadaima mengundurkan diri dari laboratorium. Yuki hanya mampu menduga apakah Tadaima mengalami suatu masalah hingga akhirnya beralih untuk membentuk tim riset piring terbang ini.

Di dalam gerbong kereta, Yuki berusaha agar jari dan telapak tangan tidak menyentuh apa saja. Sebenarnya masyarakat Jepang memiliki kesadaran akan jarak. Orang tidak akan seenaknya bergerak. Tapi pandemi global ini membuat manusia modern harus lebih hati-hati lagi. Kereta berhenti di stasiun; pintu terbuka. Seseorang yang tampak dikenal oleh Yuki melangkah masuk ke dalam gerbong kereta. Sungguh suatu kebetulan, Sakura juga menoleh ke arah Yuki. Dia mengenali Yuki walau setengah wajahnya tertutup masker dengan rapat. Perempuan itu berjalan mendekat. 

Di dalam gerbong kereta, biasanya orang menghargai wilayah pribadi orang lain. Mereka tidak akan asal bicara di atas kereta tanpa izin. Tapi, Sakura menyapa, “Yuki-san ya?” Yuki mengiyakan dan menyebut namanya, “Ah Sakura-san!” Sakura langsung duduk di ruang kosong persis di sebelah. Sakura tidak ragu menyapa dengan hangat; mungkin aura muka Yuki memancar cahaya khas wajah Asia Tenggara yang ramah. 

Pada satu sisi, orang asing memang berada di luar budaya Jepang. Pada sisi lain, sosok seperti Sakura tidak merasa perlu bersikap dingin kepada orang luar. Walau memiliki nama yang terdengar seperti kata salju dalam bahasa Jepang, Yuki adalah alien di dalam sistem budaya Jepang. Di Indonesia memang ada anak-anak yang dinamakan Yuki, Kenji, Ayumi, Yumi walau sama sekali tidak memiliki darah Jepang. Sebenarnya, Tadaima tidak perlu pergi ke galaksi tetangga untuk melihat alien. Cukup melihat betapa terasingnya gaijin, orang-orang asing yang tinggal di Jepang.

Sejak pertemuan pertama di rumah sakit ketika kekasih Sakura meninggal akibat virus itu, Yuki belum pernah bertemu dengan dirinya. Kekasih Sakuraah, mantan kekasihnyaadalah koordinator tim riset yang sangat dihormati oleh Yuki. Payung yang dibawa Sakura tampak basah kuyup. Kereta tidak terlalu penuh dan Yuki tidak tahu ada angin apa tapi tiba-tiba Sakura bilang begini, “Aku benci hujan seperti sekarang ini. Tapi aku suka melihat ajisai saat basah, kelopak-kelopak basah berwarna biru dan merah muda menjadi lebih indah.” 

Yuki mengiyakan bahwa ajisaisemak hydrangea yang berbunga di musim hujanmemang terlihat indah. Hydrangea mulanya tampak bak semak-semak biasa; bunga-bunganya muncul menyambut hujan yang turun. Setelah kelopak-kelopak sakura rontok dibawa angin, setelah bunga-bunga pohon persik gugur, maka bunga-bunga hydrangea menjadi hiasan alam yang membuat cuaca gerah terasa lebih sejuk. Setiap musim ada bunganya, setiap bunga ada musimnya. Alam mengajarkan sejenis kesabaran tertentu. Bersabarlah: kelak kelopak bunga akan merekah.

Sakura memamerkan gambar-gambar yang ada di ponselnya. Semuanya adalah foto semak-semak berbunga. Tanaman tampak seperti sedang mengenakan blus musim panas dengan motif floral yang cerah. Yuki bilang betapa semarak semak berbunga itu: biru, putih, ungu, merah muda. Sejenak, Yuki merasa dapat mengalihkan pikiran dari proyek pembangunan piring terbang yang ditawarkan oleh Tadaima tadi. Tiba-tiba, pada saat jari Sakura menggeser layar untuk menunjukkan foto demi foto, Yuki melihat sosok yang tidak asing di dalam layar ponsel. 

Yuki begitu yakin siapa sosok yang tampak di dalam gambar itu hingga spontan saja bersuara,  “Ah, itu Tadaima?” Sakura tampak kaget dan menoleh ke arah muka Yuki, “Kau kenal Tadaima? Bagaimana kau kenal dengan abangku?” Yuki malah tampak lebih kaget darinya, “Tadaima adalah abangmu? Benar-benar abangmu? Aku kenal dia sejak mengambil program magang sebagai peneliti. Aku malah baru saja bertemu dengannya.”

“Hee, benarkah? Ah ternyata kalian saling mengenal. Saat ini dia sedang terlibat serius dalam proyek pembangunan piring terbang,” begitu kata Sakura dengan polosnya. Dia tidak terdengar seperti sedang bergurau. Yuki sendiri tidak tahu apakah dia harus menyebutkan soal tawaran untuk bergabung. Tapi Yuki bertanya, “Aku pernah mendengar soal proyek itu. Seberapa serius sebenarnya Tadaima terlibat di dalamnya?” Sebenarnya Yuki berharap setidaknya proyek itu nyata adanya, itu saja.

Sakura sekarang tertawa sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. Walau sebenarnya masker putih yang sedang dikenakannya sudah cukup untuk menutupi. “Tadaima agak sinting. Dia gundah gulana karena cintanya ditolak mahasiswi yang sedang magang, lalu mundur dari laboratorium tempatnya bekerja. Entah apa yang dipikirkannya ketika dia bilang ke orang-orang soal membangun piring terbang itu. Mungkin dia hanya ingin sekadar iseng dan bermain-main saja.” 

Bah, jadi benar gosip yang aku dengar dulu itu, pikir Yuki dalam hati. Tiba-tiba Yuki menaruh rasa iba. Tadaima adalah ilmuwan sangat jenius yang punya cita-cita sangat tinggi. Sungguh alangkah sayangnya kalau bakat dan pengalaman yang dimilikinya terbuang percuma untuk proyek yang sia-sia. Bukan maksud Yuki meremehkan proyek piring terbang, tapi, ah sudahlah.

Yuki mengungkap mengapa Tadaima menemuinya di Taman Yoyogi tadi, “Tadaima mengajak aku bergabung ke dalam proyek perancangan piring terbang ini.” Sekarang Sakura tertawa cekikikan. Sebenarnya sangat jarang orang mengeluarkan suara yang dapat mengganggu suasana hening di gerbong kereta. Sakura bertanya, “Terus?” Yuki bilang bahwa dia butuh waktu setidaknya dua-tiga hari untuk memikirkan hal ini dengan serius, “Aku gundah gulana memikirkan cara untuk menolak tawaran Tadaima.” Sakura malah makin keras tertawa. Terbahak-bahak. Yuki celingukan menoleh ke arah penumpang lain. Khawatir mereka terganggu karena suaranya yang terdengar sangat keras. 

Satu-dua penumpang memang sempat menoleh ke arah mereka. Tapi para penumpang hanya menoleh sekilas. Lalu kembali memelototi layar ponsel masing-masing. Tentu saja cukup untuk menoleh tanpa menegur Sakura dan Yuki secara langsung. Mereka seharusnya tahu diri. Mereka seharusnya tahu untuk menahan diri. Ada sebuah hukum tidak tertulis agar orang harus bisa menahan diri. Ada tata krama di ruang publik demi menjaga suasana hening. Ada tata tertib. Semua orang harus patuh pada aturan. Ada tatanan yang sudah dijalankan secara turun-temurun itu. 

Yuki tidak tahu apakah di galaksi tetangga akan ada adab semacam ini. Mungkin ada kehidupan di luar galaksi ini yang mirip dengan peradaban manusia di Bumi. Mungkin saja, siapa tahu. Teks berjalan di atas pintu mengingatkan bahwa kereta akan berhenti. Berjalan dan berhenti. Berhenti dan bergerak. Begitu seterusnya.

Kereta berhenti di stasiun berikutnya. Yuki bilang kepada Sakura bahwa dia harus turun untuk berganti ke jalur kereta lain. Mereka berpisah. Pada satu sisi, Yuki senang melihat Sakura tertawa terbahak-bahak. Perempuan itu baru saja kehilangan kekasihnyaah maaf, maksudnya mantan kekasihnya. Tawa dan penghiburan adalah obat bagi hati yang hampa. Hati yang hampa adalah dunia yang terasa kosong. Dan dunia yang kosong adalah sebuah cerita pendek yang tidak ingin berisi(k). Kosong. Seperti seorang diri di ruang kelas yang tidak berisi. Bagai berdiri di tepi sungai yang mengalir tanpa suara berisik. Hening. Maka, tersenyumlah wahai engkau yang hampa hati. 

Yuki sedang menaiki tangga untuk berganti ke trayek kereta lain ketika tiba-tiba sebuah teks masuk ke dalam ponsel, Yuki, kau kenal adikku Sakura? 

Pasti tadi Sakura langsung mengirim pesan ke abangnya. Yuki mengiyakan dan mengirimkan emoji tersenyum ke Tadaima. Pada pesan yang sama, Yuki mengajak Tadaima untuk bertemu di tempat yang sama, lusa. Tentu saja Yuki akan merasa tidak enak kalau harus menolak proyek piring terbang itu melalui teks atau telepon langsung. 

Tadaima memiliki jiwa formal yang kuat. Dia akan mengira kalau Yuki meremehkan dirinya. Seolah tidak memikirkan serius soal ajakannya. Tentu saja Yuki sudah membulatkan diri untuk tidak menerima ajakan bergabung ke dalam proyek piring terbang itu. Namun, setidaknya Yuki memiliki alasan yang sangat kuat. Dan Yuki akan menawarkan kepada Tadaima untuk bergabung ke dalam tim riset yang sedang dia jalani. Yuki yakin orang jenius itu akan sangat berguna di dalam tim riset.

Begitulah. Sesuai dengan waktu yang dijanjikan di Taman Yoyogi, Yuki dan Tadaima kembali berdiri dengan jarak yang cukup jauh. Namun cukup dekat untuk bicara tanpa harus berteriak. Tadaima masih mengenakan masker kain putih gratis pemberian pemerintah, yang bisa dicuci dan dipakai ulang itu. Walau banyak orang mengeluh bahwa kain masker itu terasa gatal di kulit muka, tidak sedikit orang masih menggunakannya. Kali ini Yuki sudah tahu jawaban seperti apa yang harus disampaikan, “Tadaima, aku sudah memikirkan soal tawaran ini dengan serius selama dua hari belakangan. Mohon maaf, aku tidak bisa bergabung ke dalam proyek piring terbang. Aku sudah terikat dengan proyek riset rahasia yang tengah dikerjakan. Mohon maaf.” 

Seperti hari yang lalu, hujan akan segera turun mengguyur danau dan daun-daun di taman ini. Awan mendung sudah mengepung; Yuki langsung mengajak Tadaima untuk bergabung ke dalam riset yang tengah tengah dikerjakan,“Kami sudah berhasil membangun mesin waktu yang dapat mengirim manusia ke masa depan. Tadaima, aku sangat butuh bantuan dari orang sepertimu untuk mengembangkan bilik teleportasi kuantum milik kami.” 

Yuki mengajak Tadaima bertemu di tempat terbuka taman ini bukan karena Tokyo sedang menjalankan masa darurat pandemi, tapi restoran atau lobi hotel tidak aman dari kuping manusia atau alat penyadap. Yuki sudah menduga jawaban seperti apa yang akan dikatakan oleh Tadaima, “Yuki, izinkan aku memikirkan soal tawaran ini dengan serius. Berikan aku waktu setidaknya dua-tiga hari ke depan.” 

Mereka mengakhiri pertemuan ini dengan saling membungkuk. Mereka berpisah. Yuki sempat menoleh ke belakang dan melihat lelaki yang membawa payung plastik tergulung itu. Langkah kakinya cepat sekali hingga menghilang dari pandangan di balik pohon-pohon yang sedang menunggu jatuhnya hujan dari langit. Tampak beberapa tunawisma Taman Yoyogi sedang berjalan. Orang dapat dengan mudah mengenali tunawisma yang itu-itu saja di taman ini. Mungkin Tadaima sekarang sedang berpikir bahwa otak Yuki sudah miring.

(Bersambung)

TD Ginting

Bayanganmu Lebih Merdeka

Rezy Refro Rezy Refro
58 sec read

Aku Menikah dengan Babi

Nurhalis M Nurhalis M
9 min read

Amesbury: 5 Puisi

Daffa Randai Daffa Randai
1 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.