Mesin Waktu di Stasiun Murakami (1)

4 min read

/1/ Oi Sang Pengarang, Apakah Kau Seorang Ras(ial)is?

Stasiun Murakami adalah stasiun kecil. Tapi, di dalam bilik toilet laki-laki, ada mesin waktu yang dapat membawa manusia ke semesta masa depan. “Bila kau duduk di dalam bilik itu, dan memencet tombol penyiram pantat, kau akan bebas menjelajah waktu tiga bulan ke depan,” begitu Seto tidak sengaja mendengar isi percakapan dua orang lelaki tua di dalam kereta dari Stasiun Yachiyo-chuo ke Stasiun Murakami. 

“Tidak ada yang tahu sejak kapan mesin waktu itu dipasang di sana. Konon, sekelompok ilmuwan jenius di Tokyo datang khusus ke Chiba untuk memasangnya,” begitu orang itu terdengar setengah pelan, tapi masih terdengar jelas.

Setelah turun dari kereta dan menapak anak tangga ke lantai bawah, Seto tergoda untuk masuk ke dalam toilet. Ada tiga bilik berpintu di dalamnya. Yang mana, begitu katanya di dalam pikirannya sendiri. Tiba-tiba, ada suara datang dari belakang, “Itu!” Seto terperanjat. Itulah orang dengan rambut beruban yang tadi duduk di dalam gerbong kereta, yang mengatakan kepada temannya soal keberadaan mesin waktu. Orang itu dengan penuh semangat menunjukkan kepada temannya. Seto sempat melihat ke arah mana orang itu menunjuk: bilik di tengah. 

Tapi Seto pura-pura tidak tahu, lalu menuju ke tempat kencing. Setelah membuka resleting dan kencing sembari berdiri, Seto masih menguping tapi dengan lagak seolah-olah tidak tahu apa yang mereka bicarakan. “Mesin waktu ini hanya bisa digunakan persis ketika ada orang lain duduk di bilik sebelah sedang bersamaan menekan tombol penyiram pantat. Syaratnya itu, ada orang duduk di bilik sebelah, lalu secara bersamaan pula kalian harus menekan tombol penyiram pantat. Tidak boleh terlambat satu detik. Tidak boleh terlalu cepat satu detik. Harus pas. Harus serentak. Secara tidak sengaja, aku sudah mengalami perjalanan waktu dengan cara itu. Dengan cara yang sama pula aku bisa kembali ke semesta masa kini,” kata orang itu lagi.  

Setelah selesai, Seto mencuci tangannya dan berjalan keluar. Mungkin mereka sudah gila, katanya dalam hati. Ah, bagaimana kalau mereka tidak gila, bagaimana kalau mesin waktu itu nyata adanya, begitu ia mulai percaya. Tiba-tiba Seto berbalik badan persis saat tangannya hendak menempelkan kartu IC miliknya ke mesin pemindai. Seto berjalan menuju ke dalam ruangan toilet laki-laki. Dua bilik tertutup pintunya. Seto menduga dua laki-laki tua itu masih berada di dalamnya. Seto mencuci tangannya dan menoleh ke arah cermin. Ia sengaja mencari cara untuk menghabiskan beberapa menit di dalam toilet itu. Pada saat ia merapikan rambut dengan tangannya yang basah, sebuah pintu terbuka. Seorang laki-laki berjalan dan berdiri persis di sebelah Seto untuk mencuci tangannya. Laki-laki itu berjalan ke luar.

Salah satu bilik masih tertutup pintunya. Seto ragu apakah seorang laki-laki tua berada di dalamnya. Jangan-jangan dia betul-betul sudah melompat ke semesta masa depan, pikirnya dalam hati. Seto sengaja menunggu di depan cermin sembari terus memain-mainkan rambut hitamnya di depan cermin. Tapi dia tidak mendengar satu suara dari bilik yang tertutup rapat itu. Sebenarnya tidak wajar untuk mengetuk bilik toilet di saat tersedia dua bilik kosong di sebelahnya. Tapi, Seto memberanikan dirinya mengetuk, “Sumimasen.” Tidak ada jawaban. “Sumimasen.” Tetap tidak ada jawaban. Seto mulai memastikan pikiran bahwa tidak ada orang di dalamnya. 

Seto mulai berpikir bahwa ia bisa saja menginjak dudukan di bilik toilet sebelahnya untuk mengintip ke dalam bilik mesin waktu itu. Pikirannya bahkan mulai menetapkan sejenis kepastian bahwa memang sebuah mesin waktu terpasang di dalamnya. Persis saat ia hendak melangkah masuk untuk menginjak dudukan di bilik sebelahnya, sebuah suara mencegahnya dari belakang. “Sumimasen, kalau kau hendak memastikan bahwa di dalam bilik itu terdapat mesin waktu, sebaiknya kau membatalkan niatmu.” Seto terkejut setengah mati! Ia membalikkan badannya. Seorang lelaki berdiri di belakangnya. Lelaki itu adalah orang yang sama yang tadi sedang bercakap-cakap dengan temannya soal mesin waktu itu. 

“Aku sudah berulang kali datang dari masa depan. Kau bisa bayangkan apa yang terjadi kalau kau menggunakan mesin waktu di sebuah bilik toilet. Bayangkan. Kau melompat ke semesta masa depan seorang diri setelah memencet tombol penyiram pantat secara bersamaan dengan temanmu di bilik sebelah. Lalu bagaimana caramu agar dapat kembali ke masa kini?” 

Seto berpikir keras untuk menjawabnya. Dengan menggunakan logika sederhana, Seto menemukan jawaban bahwa ia harus mencari orang lain di semesta masa depan yang bersedia untuk memencet tombol penyiram pantat secara bersamaan. Artinya, agar dapat kembali ke semesta masa kini, ia harus meyakinkan seseorang di semesta masa depan bahwa terdapat sebuah mesin waktu di dalam bilik toilet Stasiun Murakami. 

Sembari menatap wajahnya sendiri di dalam cermin, lelaki itu berkata tanpa menoleh ke arah Seto, “Tanpa mencari seseorang yang bisa diajak menekan tombol penyiram pantat secara serentak, kau pasti akan terkurung berjam-jam di dalam bilik di tengah itu untuk menunggu seseorang masuk dan duduk di bilik sebelahnya. Hanya dengan cara itulah mesin waktu itu dapat bekerja. Itu pun belum tentu kau dapat memencet tombol penyiram pantat secara bersamaan dengan orang asing yang duduk di bilik sebelah. Bayangkan betapa tidak mudahnya hidup di semesta masa depan untuk kembali ke semesta masa kini. Mesin waktu sialan itu dipasang di sini untuk mengerjai orang-orang saja.” Begitulah lelaki itu berkata kepada Seto, sembari masih menatap wajahnya sendiri di dalam cermin. Lelaki itu menggunakan masker sehingga tidak terlihat jelas apakah ia sedang tersenyum atau tidak.

Tiba-tiba, dia berbalik badan dan menatap langsung ke arah Seto, “Hei, anak muda, setelah mendengar penjelasanku, apakah kau masih ingin menggunakan mesin waktu sialan itu?” Seto terbata-bata menjawabnya, “Tentu saja tidak, tentu saja tidak. Saya tidak akan menggunakan mesin waktu ini. Mohon maaf, izinkan saya pergi. Saya memiliki urusan yang harus saya kerjakan dengan segera. Mohon maaf.” 

Seto berjalan dengan langkah cepat meninggalkan lelaki tua itu di dalam toilet. Dia segera menempelkan kartu elektronik IC ke atas mesin pemindai. Dengan langkah yang cepat Seto menuruni tangga Stasiun Murakami. Bulan Agustus seperti sekarang, cuaca sedang sangat panas dan gerah. 35 derajat Celcius. Matahari musim panas membuat keringat keluar bercucuran. Sudah setahun pandemi melanda dunia. Orang-orang masih mengenakan masker. Seto berjalan tanpa menoleh ke belakang. Hari ini sungguh hari yang aneh untuk dirinya. Tidak pernah terbayangkan olehnya bahwa ia akan berada di dalam alur sebuah cerita perjalanan waktu. 

Seto seperti berada di dalam alam pikiran seorang pengarang yang menempatkan dirinya sebagai seorang karakter utama. Bagaimana mungkin orang biasa seperti dirinya harus mendengar nasihat dari seseorang yang pernah melakukan perjalanan waktu? Tidak masuk akal. Sah-sah saja kalau Seto masih tidak percaya dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Tapi bukankah imajinasi dapat memunculkan ide yang mendorong penciptaan karakter fiktif? 

Ide adalah sejenis bola lampu yang ter(b)ang seperti sang matahari terbit. Ia terbang dan terang benderang, semacam proses iluminasi yang membuat proses penciptaan menjadi mungkin. Tapi, Seto bertanya mulai siapa sejatinya Sang Pengarang yang mengarahkan dirinya untuk duduk di dalam sebuah gerbong kereta dan tidak sengaja mendengar isi percakapan dua orang lelaki tua tadi di sebuah perjalanan singkat dari Stasiun Yachiyo-chuo ke Stasiun Murakami. Apakah Sang Pengarang ini termasuk ke dalam rumpun manusia rasialis yang menganggap peradaban asing jauh lebih inferior? 

Atau, apakah Sang Pengarang ini termasuk ke dalam rumpun penulis rasis, yang menulis Robinson Crusoe atau Gulliver’s Travel, yang menganggap diri mereka berasal dari peradaban yang lebih superior dari negeri asing yang mereka ceritakan? Mungkinkah Sang pengarang tidak memiliki tendensi egosentris? Mungkinkah Sang Pengarang bebas dari pretensi etnosentris? Apakah Sang Pengarang benar-benar murni menganggap semua manusia adalah setara? Mungkinkah? Seluruh pertanyaan tidak akan mampu dijawab oleh Seto. 

Tokoh fiktif tidak memiliki kuasa untuk menggugat pemikiran di balik sebuah cerita pendek yang menempatkan dirinya sebagai karakter utama. Dalam cerita pendek ini, Seto adalah karakter utama yang khusus diciptakan untuk tidak menjawab pertanyaan. Pembaca tidak diizinkan untuk menebak berapa umur Seto. Berapa cm tinggi badannya. Berapa kilogram berat badannya. Apakah ia mengenakan celana pendek? Celana panjang? Apakah ia mengenakan kaus tanpa lengan? 

Bahkan, pembaca tidak bisa menebak apakah sosok Seto ini adalah orang Jepang? Nama Seto digunakan oleh laki-laki Jepang. Tapi nama Seto juga digunakan oleh laki-laki di Pulau Jawa, Indonesia. Bisa saja Seto adalah seorang pekerja imigran atau mahasiswa internasional. Bisa saja Seto lahir dari perkawinan Jepang-Indonesia. Mengapa identitas seorang Seto tidak dijelaskan dengan sejelas-jelasnya? 

Entahlah. Stasiun Murakami adalah stasiun kecil. Dan cerita pendek ini hanya menempatkan Seto untuk bertanya. Hanya untuk bertanya, “Oi Sang Pengarang, apakah kau seorang ras(ial)is? Jawab!”

Bersambung ke bagian kedua

TD Ginting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.