Kalau senggang nulis puisi atau cerpen. Seringnya membaca dan jaga perpustakaan di Menuju Rubanah.

Menyiasati Sepi dan Puisi Lainnya

Andika Pratama

2 min read

MENYIASATI SEPI

“I hope this grief stays with me; because
it’s all the unexpressed love that
I didn’t get to tell.” —Andrew Garfield

Kau tak pernah mau berteman
baik dengan kesepian.
Sendiri, sering kali
memeras apa yang tersisa dari
dirimu.

Setiap kau melihat diri sendiri
kau melihat kesepian menatap matamu
dalam-dalam. Ia tahu
ada hutang yang belum dibayar
dalam dadamu, kering terbakar.

Jika kau seorang
ahli bahasa, maka
perpisahan & padanannya
sudah lama jadi kata usang.

Kau tahu betapa getir rupa
sepi dunia yang terus merombak
keramaian:

Ayah dan Ibu membakar
kasih sayang di depan matamu.
Kau melihat Ibu membenci diri sendiri,
kau melihat Ayah membenci
dirimu.

Kau tahu telah tumbuh
dalam tubuh remuk
dihajar sunyi.

Sehari waktu pernah kau temukan air mata jadi merah,
& kesedihan
beranak setetes
demi setetes, di bawah kelopak
matamu.

Ia melahirkan
lebih banyak dari yang bisa kau rasakan.
Dijejalnya seluruh
ke dalam dirimu.

Kau membenci,
sekaligus mencintai
sebuah perpisahan. Ia pelan
mengundang duka, &
membiarkannya mendekap
dada.

Kau ingin terus bersedih.
Sebab kesedihan melahirkan
kenangan, dan di dalamnya
tak pernah ada yang luruh
begitu saja.

Puisimu lahir
darinya: cinta tak selesai,
sesal yang terlambat, sebuah kalimat
yang lirih terucap, juga sepi
yang enggan berdamai.

Kau kekal
di sana, bersama segala
yang memelukmu di masa lampau.

Betapa hikmat cinta
menganggap diri
sepasang kekasih bernama:
sunyi & sepi.

 

TERJAGA MENANTI PAGI

Aku merindukan
sisa-sisa tidur nyenyakku
yang tertinggal di masa lampau.

Jika waktu adalah lintasan
aku telah digerus dunia
yang terlena membenamkan
tubuhku yang menanti reda.

Aku menyentuhmu, dan kutemukan:
dunia yang kacau terhampar
di antara maut yang memakan
kewarasan kita karena lapar.

Menyusun sejarah adalah
pekerjaan rumit. Aku membayangkan
tanganmu menyentuhku. Aku mendambakan
pagi yang tak muram di wajah-wajah manusia yang rapuh.

Rinduku terarah pada hal-hal
yang samar kuingat, seperti
kembali belajar berlari.

Aku menginginkan malam jadi panjang.
Aku tahu yang hangus dalam sebuah
kekacauan adalah segalanya, kecuali
sepuluh jari kita yang terus belajar
menghitung kembali apa yang tersisa

dari tubuh-tubuh yang berhambur
larut dalam baur
waktu menanti
pagi.

 

TANAH JAJAH

Pada detaknya, ratusan hektar
kesunyian habis dibakar.
Adalah judul-judul yang asing,
yang menjangkau aku dalam
malam-malam yang temaram.

Siang sudah jauh dari kita.
Keteduhan beranak-pinak,
rutin, dalam persembahan waktu.
Dalam rentetan sebab-akibat,
kau tanya bagaimana menampik sepi?

Menguak bersama aksara hancur & dentang tiang besi
tiap malam larut ke dalam kegelapan,
menghabisi apa yang tersisa.

Aku mengajarimu kembali membaca. Seperti anak-anak, kau berpikir betapa lama
sebuah kisah usai.

Tetapi kau bukan tanah jajah,
membabat apa yang tumbuh di dadamu
adalah kerja serdadu yang rindu
untuk kembali ke rumah.

 

MELIHAT JAM DINDING MENGHENTIKAN WAKTU

Pulang artinya menemukanmu
tak lagi ada di sana. Meski segala hal
tampak seperti apa adanya.
Selimutmu menghangatkan ketiadaan,
sedang cawan teh pada meja kerja mendamba
sore hari yang macet

sambil menertawakan kehidupan
orang-orang kota.

Waktu memangkas kenangan kita.
Kau pergi, dan hanya tersisa segelintir
kenanganmu di sana. Tumbuh & terus
memutar ulang masa lampau.

Segala yang kau punya telah dirampas, tapi kau memiliki
tekad & mimpi.

Itu sebab, kau tidak sepenuhnya sendiri.

Kau tak mewarisi apa pun, kecuali:
ketampanan & kecerdasan.
Kekayaan raib dalam makammu.

Matimu adalah nubuat yang tak diikhlaskan.
Ramalan yang ditolak semua orang.
Kematian adalah penutup sebuah cerita.
Perpisahan adalah ujung sebuah cinta.

Tubuhmu keropos, & kasih sayang
fondasi yang kokoh mendirikan kakimu.
Aku membayangkanmu menungguku.
Aku membayangkan kau mengusir kesedihanku. Kau tak ada, & selamanya
menjadi tiada.

Kau menghapus kita dari bahasa.
Menyisakan masa depan yang terbakar
dalam air mata, & membiarkan mataku
jadi jalinan kata
yang selamanya menolak selesai.

Aku melihat jam dinding memungut
satu demi satu waktu. Menyusun kau
dalam diriku. Kau sadar: pergi
artinya abadi dalam dada yang detaknya
menolak berhenti.

 

WARISAN

Ia mewarisi hati kaca
dari Ibu, dan
wajah sendu ayahnya.

Tiap Ibu melihatnya,
tubuhnya geming menyaksikan:
Mantan suaminya mati,
dan hidup abadi di mata anaknya.

Andika Pratama
Andika Pratama Kalau senggang nulis puisi atau cerpen. Seringnya membaca dan jaga perpustakaan di Menuju Rubanah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.