Mengutuk Ilusi Pameran Pendidikan

Naufalul Ihya Ulumuddin

4 min read

Pameran Panen Hasil Belajar Program Calon Guru Penggerak dan Pameran Pendidikan Hari Pendidikan Nasional adalah bentuk vulgar kebohongan keberhasilan pendidikan pada era Kurikulum Merdeka. Hal tersebut terlihat jelas dari mewahnya acara Panen Hasil Belajar yang seakan-akan menunjukkan begitu mutakhir dan hebatnya pendidikan kita. Padahal, di balik hasil panen belajar yang megah itu, tersimpan carut marut pendidikan yang gagal diselesaikan. 

Pendidikan di Atas Ilusi Seremonial

Pergantian Kurikulum 2013 menjadi Kurikulum Merdeka hanyalah sebatas perubahan nama. Kata “merdeka” tak pernah benar-benar diterapkan secara nyata. Berbagai program dalam Kurikulum Merdeka hanya bersifat seremonial yang kering substansi. Pendidikan hanya menjadi hingar-bingar tanpa isi. 

Salah satu yang menjadi perhatian adalah program Calon Guru Penggerak (CGP). Program ini ditujukan kepada para guru yang ingin lebih dalam mengerti Kurikulum Merdeka. Harapannya, para lulusan dari program ini dapat menjadi penggerak utama program Kurikulum Merdeka secara menyeluruh di sekolah-sekolah. Tujuan yang mulia tentu saja. 

Baca juga:

Projek akhir dari program CGP ini adalah pameran Panen Hasil Belajar. Pada pemeran ini, setiap peserta program Guru Penggerak memamerkan berbagai terobosan barunya dalam bidang pembelajaran, seperti modul, media pembelajaran, dan berbagai produk hasil belajar siswa. Akhir bulan April lalu, beberapa kabupaten mengadakan pameran Panen Hasil Belajar program CGP angkatan ke-11. Artinya, pameran seremonial megah ini sudah dilaksanakan sebanyak 11 kali.

Dari unggahan para pejabat pendidikan, pameran Panen Hasil Belajar ini selalu berjalan meriah dan mengagumkan. Panen Hasil Belajar selalu menggambarkan kesuksesan para calon guru penggerak. Padahal, fakta di lapangan menunjukkan kenyataan yang sebaliknya. 

Program Guru Penggerak justru menghasilkan kemunduran dalam proses pembelajaran yang melibatkan guru. Dari sisi guru, keluhan tentang beban tugas yang bejibun membuat para peserta program tersebut kewalahan dan kelelahan. Bayangkan, guru SMA mengajar dari pagi sampai sore, malamnya masih diberi beban untuk ikut pertemuan Zoom program CGP. Belum lagi tugas lainnya yang harus diselesaikan tanpa peduli beban mengajar di sekolah.

Dari sisi siswa, banyak keluhan tentang guru yang terlalu sering menatap layar laptop ketika mengajar di kelas. Siswa hanya diberi tugas, sedangkan gurunya kembali berselancar mengerjakan beban-beban tugas CGP di laptopnya. 

Proses pembelajaran tidak berjalan semestinya. Di kelas, guru program CGP fokus pada tugas. Siswanya pun demikian, fokus pada tugas pengalihan yang diberikan guru. Suasana kelas menjadi kering. Kelas tak lagi bermakna. Kedua aktor utama pendidikan, guru dan siswa, menunduk dan sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak ada dialog pembelajaran. Tidak ada keceriaan dan kebahagiaan pembelajaran. Dan jelas, tidak akan ada keberhasilan pembelajaran. 

Ironisnya, kondisi pelik itu tidak pernah diatasi dengan serius. Kondisi tersebut tak pernah masuk potret lanskap pendidikan kita. Ketika pameran Panen Hasil Belajar pendidikan diselenggarakan, semua kondisi pelik pendidikan seakan hilang dan musnah. Yang tersisa hanyalah keberhasilan pendidikan yang jelas-jelas ilusi. Bohong. Tidak pernah ada.

Tugas Seremonial Pejabat Pendidikan

Jika kita perhatikan betul-betul, berbagai program pemerintah soal pendidikan hanyalah bersifat seremonial. Cukup dibuka oleh pejabat, maka selanjutnya dibiarkan berjalan sendiri meski ujungnya hanya jalan di tempat. Program Panen Hasil Belajar jelas seremonial. Siapa yang membuka acaranya? tentu saja pejabat pendidikan. Setelah membuka acara, mereka pencitraan datang ke stand-stand pendidikan setiap peserta CGP, lalu memuji setiap inovasi pembelajaran. Pujian yang menjijikkan. Sebab, pujian itu tak pernah benar-benar terlihat peduli atas proses pembelajaran yang sebenarnya terjadi di lapangan. 

Bahkan para pejabat pendidikan itu tak sadar bahwa dirinya sedang ditipu oleh para peserta CGP yang memamerkan hasil pembelajarannya. Seperti yang dijelaskan di atas, praktik pembelajaran yang dilakukan para CGP itu kering. Guru menunduk dengan tugas CGP-nya, siswa menunduk dengan tugas pengalihan. Sedangkan hasil yang ditunjukkan kepada para pejabat, begitu mengagumkan. Penuh terobosan baru. Dipoles sedemikian rupa agar terkesan inovatif dan revolusioner dalam membangun suasana kelas. Padahal kenyataannya nihil.

Semua hanya kebohongan. Semua hanya ilusi seremonial dan ironisnya, para pejabat itu percaya. Barangkali, kepercayaan mereka adalah alat tukar agar para guru juga percaya bahwa mereka (para pejabat) juga sedang berjuang memperbaiki sistem pendidikan kita. 

Baca juga:

Lebih dari itu, jalan yang ditempuh para pejabat dalam upayanya memperbaiki pendidikan pun sama menjijikkannya. Para pejabat itu hanya datang ke setiap program, memberi sambutan, dan membukanya. Sisanya, mereka tinggal pergi melenggang menuju seremonial pendidikan lain yang siap dibuka. Apa yang terjadi pada seremonial yang sudah dibuka, urusan belakang. Yang penting, para pejabat pendidikan sudah tampil membuka acara. Semakin sering pejabat pendidikan membuka acara pendidikan, semakin dinilai baik pejabat tersebut. Kiranya begitu aturan kerja para pejabat pendidikan ini. 

Acara-acaranya pun sering kali inisiatif dari para guru akar rumput. Nyaris nihil terobosan pendidikan yang datang dari kalangan pejabat. Rasa-rasanya, mereka terlalu sibuk seremonial, sampai lupa membangun gagasan memperbaiki pendidikan yang semakin carut-marut. Maka tidak berlebihan, jika para pejabat ini hidup dari citra yang digagas kalangan aktor pendidikan akar rumput. Tidak berlebihan pula jika para pejabat pendidikan hanya menjadi penghamba seremoni penuh ilusi. 

Substansi Nomor Sekian, Seremoni Nomor Satu

Pendidikan seharusnya mengutamakan substansi, bukan seremoni. Namun sayangnya, pendidikan kita justru sebaliknya. Substansi nomor sekian, seremoni nomor satu. Anggaran dana dikucurkan tanpa ragu untuk urusan seremoni. Namun ketika menyangkut urusan substansi, pelitnya minta ampun. Inilah alasan utama mengapa pendidikan kita tidak pernah bertumbuh. Hanya jalan di tempat. Begini-begini saja. Tidak autentik. Tidak punya pendirian sendiri. Hanya ikut-ikutan tren yang dikemas dalam seremoni. 

Misalnya, begitu banyak seremoni, jargon, dan pamflet dari para pejabat yang menggaungkan literasi. Tapi tidak satupun program literasi dijalankan dengan serius. Semua program literasi hanya dibuka secara seremonial, lalu dibiarkan menguap hilang begitu saja. Tidak ada pengawalan program yang serius. Kerja para pejabat pendidikan hanya membuka acara seremonial, lalu pergi ke acara seremonial lainnya. Mereka tak lebih dari tukang tebar kebohongan melalui seremoni-seremoni. Tak ada kerja nyata yang berbasis pada proses panjang pendidikan. Semua hanya terlihat meyakinkan dalam seremoni, tapi kering substansi. 

Baca juga:

Salam literasi selalu digaungkan oleh para pejabat pendidikan setiap kali memberi sambutan. Hanya saja, banyak perpustakaan yang tak cukup menyenangkan untuk disinggahi. Di banyak kabupaten, perpustakaan hanya menjadi gudang buku, bukannya menjadi ruang menelusuri ilmu, bertukar ilmu, dan bercengkrama seputar pengetahuan secara menyenangkan. Perpustakaan justru seperti bangunan angker tak berpenghuni. Nasib buku hanya berujung debu. Tak ada pembacanya. Pejabatnya pun tak ada yang peduli. Mereka hanya memberi salam literasi dalam kapasitas basa-basi.  

Padahal, Kurikulum Merdeka hanya bergerak jika guru, siswa, dan para pejabat pendidikan serius mengurusi literasi. Paulo Freire menegaskan bahwa pendidikan yang membebaskan hanya akan tercipta ketika setiap aktornya berliterasi (reading the word, reading the world). Merdeka, bagi orang yang tidak berliterasi, hanya akan membawa insting binatangisme. Merdeka tanpa akal. Merdeka tanpa peradaban. Jelas arah pendidikan kita hanya akan hancur lebur jika merdeka yang dimaksud hanya seremoni tanpa substansi dan literasi. 

Saran saja, jika memang perlu ada Pameran Pendidikan, hal yang seharusnya dipamerkan adalah persoalan-persoalan pelik substansi pendidikan di akar rumput. Stand-stand yang dihadirkan diberi nuansa gelap dan kelam, seperti kondisi pendidikan kita yang sebenarnya. Dengan begitu tidak ada lagi ilusi.

Pameran Pendidikan dapat menjadi momentum para aktor pendidikan akar rumput untuk mengeluhkan berbagai persoalan substantif. Bukan malah sibuk memamerkan kebohongan hanya untuk kepentingan seremonial. Hanya saja, kalau Pameran Pendidikan dilaksanakan demikian, mungkinkah para pejabatnya datang? Rasanya mustahil. Itulah kenyataannya. 

Pameran pendidikan di tengah situasi pendidikan yang semakin kacau, hanya menghasilkan ilusi pendidikan yang tak berkesudahan. Pameran pendidikan justru menghasilkan kebohongan dan kebodohan massal dalam kemasan seremonial. 

 

 

Editor: Prihandini N

Naufalul Ihya Ulumuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email