Mendekat ke Meja Makan

Nandito Oktaviano

4 min read

Pandemi memaksa kami mendekat ke meja makan.

Saya mesti mengatakan dengan jujur bahwa sebelum pandemi ini, rumah yang saya tinggali di Makassar hanyalah tempat untuk tidur dan makan. Hidup saya habis untuk organisasi, teman, atau untuk nongkrong. Segala perasaan, kesusahan, kebahagiaan, pencapaian, atau apa pun yang berkaitan dengan hidup saya pertama-tama tidak saya ceritakan di rumah, tetapi di teman-teman yang saya anggap begitu dekat.

Hal ini merupakan konsekuensi logis dari beberapa hal. Seperti saya pernah lama merantau, sedari kecil orang tua saya jarang mengajak saya bercerita, dan tentu saja pengalaman pedih bahwa sepertinya di rumah tidak ada yang betul-betul ingin memahami diri saya. Dunia saya begitu berbeda. Saya senang tenggelam dalam banyak bacaan dan gemar berdiskusi tentang banyak hal. Ini dunia yang tidak dimengerti oleh Ibu dan kakak-kakak saya.

Bapa punya potensi untuk jadi teman bicara saya, tetapi berbedanya bacaan saya dengan dia serta adanya pengalaman kecil di mana kami berdua jarang berbicara menjadikan Bapa tidak jauh berbeda dengan Ibu atau kakak saya. Jadilah saya, sang anak bungsu, sangat pendiam di rumah (keluarga saya bahkan mengatakan saya tertutup dan tidak tahu bergaul), sedangkan di luar rumah saya begitu enerjik dan sangat cerewet.

Saya ingat sekali, di awal-awal pandemi, orang-orang panik dan semuanya tinggal di dalam rumah. Jalan-jalan mulai sepi dan banyak aktivitas dilakukan di rumah. Keadaan ini membuat seluruh aktivitas anggota keluarga dilakukan di rumah. Hanya kakak pertama saya yang mau tidak mau mesti keluar bekerja karena kantornya mengharuskannya demikian.

Intensitas pertemuan di antara anggota keluarga pun meningkat. Sebelumnya, rumah mulai ramai ketika sore hari saja. Pagi sampai siang, Bapa dan Ibu saya mesti pergi bekerja, kakak saya juga bekerja dan ada yang kuliah, dan saya sendiri juga pergi ke kampus. Biasanya, semua aktivitas di luar rumah itu selesai di sore hari. Meski demikian, kebersamaan tidak pernah ada. Ini saya ukur di saat waktu makan malam tiba. Hal yang paling sering terjadi adalah makan sendiri-sendiri. Saya sendiri sering pulang ketika malam begitu larut. Aktivitas sebelum pandemi ini berulang terus menerus dan mendapatkan momen perubahan ketika pandemi tiba.

Kami jadi punya waktu bertatap muka selama 24 jam. Meski demikian, pepatah kuantitas tidak menentukan kualitas ada benarnya juga. Banyak waktu bersama tidak lantas membuat saya merasa dekat dengan keluarga. Saya lebih banyak menghubungi teman ketimbang berbincang-bincang dengan anggota keluarga saya. Selalu ada batas tak kasat mata yang membuat saya enggan berbicara. Apakah ini memang wajar seiring semakin dewasanya seseorang?

Saya kira tidak juga. Saya kenal beberapa teman yang begitu dekat dengan orangtua mereka. Dekat di sini artinya adalah saling curhat dan kondisi di mana anak mampu bercerita apa saja dengan orangtuanya. Saya tidak tahu bagaimana teman saya itu dibesarkan orangtua mereka, tapi seingat saya, orangtua saya sedari kecil kerap menciptakan kondisi di mana keterusterangan menjadi hal yang mesti disaring, bahkan sebaiknya tak perlu diutarakan.

 

Mendekat ke Meja Makan

Dulu, ketika saya masih di biara (lembaga pendidikan calon pastor), saya kerap diberitahu bahwa untuk melihat apakah dua orang pastor yang bertugas di satu gereja itu dalam keadaan baik-baik saja lihatlah situasi di meja makannya. Apakah mereka makan berdua? Jika ya, apakah mereka mengobrol bersama dan tampak dekat? Jika dua pertanyaan ini memperoleh jawaban tidak, situasi gereja itu tidak sedang baik-baik saja.

Bagaimana persisnya menjelaskan keterhubungan dua kejadian ini? Saya kira penjelasannya cukup sederhana, ruang temu dua pastor itu paling intens terjadi di meja makan. Di situ, pertemuan personal dua pastor paling sering terjadi. Di luar itu, biasanya tuntutan tanggung jawab sebagai pastor dan ruang pribadi para pastor itu begitu besar. Karenanya, waktu makan adalah waktu yang menjadi tempat pertemuan kedua pastor ini.

Untuk saya, meja makan di rumah bisa menyajikan cerita yang jauh lebih kompleks. Di meja makan setiap keluarga, kondisi keluarga secara keseluruhan dapat terlihat. Saya sendiri merasa mampu menilai kondisi ekonomi dan masalah keluarga dari meja makan. Pada konteks yang pertama, kondisi ekonomi tentu saja, pemilihan lauk dan ketersediaan makanan menunjukkan kondisi ekonomi keluarga. Sementara itu, pada konteks yang kedua, hal yang baru saya dapati belakangan adalah kenyataan bahwa di meja makanlah masalah keluarga terungkap. Selama pandemi, keluarga saya semakin sering makan bersama. Meja makan lantas menjadi riuh rendah. Bapa sampai sering sekali bersyukur karena akhirnya punya waktu untuk makan bersama.

Meski pandemi dikatakan banyak membuat kondisi ekonomi masyarakat jauh menurun, keluarga saya tidak mengalami penurunan yang terlampau signifikan. Setidaknya, makan sehari-hari itu masih terjamin. Di meja makan, lauk yang berbeda tersaji setiap harinya.

Bantuan dari tempat kerja Bapa (sekolah swasta) dan juga kemampuan mengelola keuangan kedua orangtua saya ternyata cukup baik. Selain itu, pekerjaan Bapa saya tidak menjadi salah satu jenis pekerjaan yang membuat keluarga kami kesulitan untuk memilih antara kesehatan atau kondisi ekonomi. Di sini, saya kira, kondisi ekonomi keluarga kami yang tergolong menengah itu membuat kami tertolong.

Meski demikian, ini tidak berlangsung lama. Perlu ada tambahan pemasukan untuk mempertahankan konsumsi sehari-sehari. Terlebih lagi, penjualan minuman yang menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga terpaksa berhenti karena tidak ada yang membelinya lagi. Bapa kemudian berinisiatif untuk membuka usaha pengiriman barang di rumah. Jadilah, rumah menjadi tempat kerja untuk Bapa. Jika sebelum pandemi, rumah adalah tempat berisitrahat, maka sekarang rumah menjadi tempat untuk mencari uang juga.

Perubahan ini mempunyai dampak yang signifikan. Terlebih dalam konteks pembagian kerja. Karena rumah adalah tempat kerja, maka seluruh keluarga menjadi turut berpartisipasi di dalamnya. Tidak semua anggota keluarga bisa langsung menyesuaikan dengan ini. Ibu yang tidak pandai mengoperasikan komputer jadi tidak bisa berpartisipasi. Saya yang semula malas terlibat terpaksa terlibat.  Kakak saya yang sedang fokus skripsi terpaksa harus berkontribusi. Menariknya, proses penyesuaian ini mengalami proses perbincangan yang cukup—katakanlah—demokratis. Di meja makan hal ini dibicarakan dan masing-masing anggota keluarga menyampaikan halangannya. Bahkan, dalam kesempatan lain, ketika Bapa berusaha menawarkan membuka usaha minuman, masukan dari kakak saya yang masuk akal membuatnya membatalkan niatan itu.

 

Mengenal Ibu 

Saya baru sadar, satu ruang di rumah saya di mana saya mudah berbincang-bincang dengan Ibu adalah meja makan. Kebetulan sekali, dapur dan meja makan di rumah berada dalam satu ruangan.

Di ruang tersebut, aktivitas sehari-hari Ibu saya terjadi. Sebelumnya, saya jarang bercerita hal personal atau mendengar hal personal dari Ibu. Namun, ketika pandemi, saya jadi sering di beraktivitas juga di dapur. Jangan salah kaprah, saya bantu masak sedikit saja, selebihnya bantu makan.

Karena seringnya beraktivitas di dapur ini, Ibu lantas jadi sering bercerita lepas sambil memasak. Kadang ia bercerita tentang masa kecilnya, keluhan-keluhannya tentang anak-anaknya yang nakal (yup benar sekali, saya salah satunya). Saya mendengarkan itu dan saya baru sadar, saya jarang mendengarkan cerita-cerita Ibu. Ibu sering sekali merasa rendah diri ketika ingin berbicara dengan kami anak-anaknya. Katanya, dia hanya bersekolah sampai SMA (padahal dia D3 Gizi yang paling tahu obat macam apa yang cocok untuk anaknnya ketika sakit) dan tidak begitu mengerti percakapan anak-anaknya yang serba rumit.

Baca juga Ibu Bekerja dengan Tiga Anak Memupus Jemu dengan Ilmu

Dalam banyak kesempatan, Ibu juga menceritakan masalah yang dia hadapi. Ini biasanya berkaitan dengan hubungan dengan Bapa, anak, atau masalah finansial. Jika ia bertengkar dengan kakak saya, ia bercerita dengan nada sedih. Biasanya saya menanggapi ini dengan dingin.

Saya tidak ingin terlibat terlalu dalam ke persoalan personal Ibu dan kakak saya—saya masih bingung mengapa saya begitu tidak peduli. Di lain hal, Ibu juga bercerita tentang masalahnya dengan Bapa. Ini berkaitan erat dengan ketergantungannya secara ekonomi ke Bapa.

Saya sendiri melihat ini punya pengaruh negatif yang sangat kuat terhadap hidup Ibu saya. Banyak sekali hal personal yang mesti Ibu korbankan. Jarang saya lihat Ibu pergi rekreasi. Ia jadi banyak membatasi dirinya.

Di titik ini, terinspirasi suatu video wawancara seorang ibu dan anak perempuan kecilnya, saya ingin sekali menanyakan pertanyaan sama yang ada di video itu. “Ibu, ketika saya lahir, apa yang hilang dari Ibu?”

Pandemi membuat saya sadar, saya tak pernah benar-benar mengenal orangtua saya sendiri.

Nandito Oktaviano

One Reply to “Mendekat ke Meja Makan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.