—lahir di Gresik. Saat ini berdomisili di Tangerang Selatan. Suka bolak-balik Depok.

Membayangkan Sisifus dalam Puisi Chairil

Muhammad Husni

5 min read

Dalam beberapa waktu ke belakang, di berbagai platform media sosial, sosok Sisifus menjadi tren. Banyak orang yang membuat meme dengan menjadikan tokoh mitologi Yunani ini sebagai objek lelucon atas realita hidup yang muram. Detail mengenai kisahnya dapat dengan mudah ditemukan di internet, misalnya dalam artikel yang ditulis oleh Ricky Jenihansen di National Geographic dengan judul Kisah Sisyphus, Mitologi Yunani yang Trending di TikTok dan Twitter (2023) atau dalam artikel Sysyphus yang Berbahagia (2022) yang ditulis oleh Michael Hans di LSF Discourse.

Pada artikel ini, saya akan mengajak Anda untuk mengawang lebih jauh perihal Sisifus, yakni hubungannya dengan penyair kenamaan Indonesia, Chairil Anwar. Diniatkan menjadi versi lebih ringkas dan santai serta melalui contoh lokal dari artikel karya Bob Plant yang berjudul Absurdity, Incongruity and Laughter (2009) yang meneroka jalan lain untuk melihat Sisifus.

Singkat cerita, sebelum menjadi tren di sosial media seperti saat ini, adalah Albert Camus yang mengangkat nama Sisifus lewat karyanya yang berjudul Mite Sisifus. Sebelumnya, penggambaran Sisifus selalu dibarengi dengan konsep penderitaan dan kesia-siaan. Hal tersebut bisa dimaklumi, Sisifus barangkali mengalami siksaan yang lebih kejam daripada kematian itu sendiri—dia dihukum untuk tidak pernah menyelesaikan apa pun. Sisifus harus mengangkat sebongkah batu besar hingga ke puncak gunung. Tetapi, ketika Sisifus sampai di puncak gunung, batu tersebut menggelinding kembali ke kaki gunung. Lalu ia mengulanginya tiada henti.

Camus dalam esainya Mite Sisifus mengajak para pembacanya untuk menganalogikan hukuman yang dilaksanakan oleh Sisifus sebagai kehidupan yang kita jalani, dan sebongkah batu yang bolak-balik dipungut dan menggelinding kembali adalah segala kisah yang membuntutinya. Dalam karangannya, Camus menempatkan Sisifus sebagai eksistensi paling nyata dari absurditas, dikarenakan Sisifus dengan penuh kesadaran menerima hukuman beserta konsekuensinya.

Keberanian untuk melawan arus utama paham eksistensialisme zamannya adalah hal yang membuat Camus berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah. Seperti pendapat Wahyu Budi Nugroho (2018) dalam artikelnya di Sanglah Institute yang berjudul Humanisme Eksistensial Jean-Paul Sartre: Penajisan Orang Lain Sebagai Neraka bahwa pemikiran sezamannya cenderung memenangkan diri sendiri atas orang lain, bahkan menajiskannya seperti ucapan “neraka adalah orang lain.”

Camus memilih merangkul kemanusiaan dalam cara yang paling hangat. Ia ingin supaya kita menyadari meskipun hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan, itu tidak serta-merta menjadikan hidup tidak layak dijalani.

Camus membawa pembaca dari garis start ke garis finish pemikirannya dengan runut. Diawali dengan mengabstraksikan mengapa hidup itu berharga untuk dijalani lewat pernyataan “sebenarnya hanya ada satu masalah falsafi yang benar-benar serius, yakni bunuh diri.”

Camus kemudian mengupas permasalahan tersebut dan menjelaskan jalan keluarnya, serta menutup itu semua dengan “petunjuk” bagaimana kita seharusnya menjalani hidup, lewat pernyataan penutupnya yang fenomenal: “Kita harus membayangkan Sisifus berbahagia.”

Sayangnya, pembaca awam sering terjebak hanya pada hasil akhir dari pemikirannya. Keinginan melihat Sisifus bahagia dalam melaksanakan hukumannya rasanya seperti mengalami fever dream: menakutkan dan mengganggu. Hal ini dikarenakan opsi yang diberikannya, meskipun sangat sederhana tetapi di sisi lain sangat sukar dilaksanakan.

Setidak-tidaknya dia menyebutkan dua opsi untuk kita keluar dari hukuman Sisifus, dari ketiadaan makna dalam hidup: bunuh diri atau menerima bahwasanya hidup itu absurd.

Setelah refleksi beberapa waktu atas kedua opsi tersebut, rasanya ada sebuah keresahan yang membawa saya pada pemikiran jikalau ada sesuatu yang kurang dari buku panduan kehidupan bernama Mite Sisifus itu. Hal itu adalah, “bagaimana caranya Camus dapat berpikir demikian?”

 

Banyak Jalan Menuju Roma, Juga Cara Membayangkan Sisifus

Belakangan saya menyadari jawaban dari keresahan tersebut juga berkisar pada apa yang melatarbelakangi alur berpikir Camus: keberanian. Langkah pertama untuk melampaui ketiadaan makna dalam hidup adalah menyadari kalau hidup itu absurd. Namun, argumen ini memiliki celahnya sendiri. Pertanyaan seperti “bagaimana caranya kita menyadari bahwa hidup itu absurd?” langsung bisa meruntuhkan kepercayaan pembaca yang tidak memahami panduan yang diberikan Camus, melalui contoh Sisifus, secara religius.

Untungnya mempelajari paham eksistensialisme punya kemewahan berupa sumber penghayatan yang tak terbatas, datang dari apa pun dan kapan pun. Dalam upaya menjawab pertanyaan tersebut, saya menemukan bahwasanya beberapa puisi dari Chairil Anwar bisa dijadikan rujukan komplementer dari absurditas itu. Saya meminjam beberapa puisinya, yang pertama adalah Diponegoro (1943). Secara spesifik larik ke 11 dan 12 yang tertulis:

sekali berarti
sudah itu mati

Kemudian, puisi kedua adalah Derai-Derai Cemara (1949). Di puisi ini saya pinjam dua bait penuh, yakni bait kedua dan ketiga:

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

Apa yang bisa direnungkan dari penggalan dua puisi di atas? Dan apa hubungannya dengan Sisifus? Mari kita sepakati untuk membaca tulisan di bawah ini dalam kacamata absurditas.

Dalam penggalan puisi Diponegoro, Chairil dengan penuh keberanian merangkul makna yang jauh dari kesan membahagiakan, meskipun beberapa pihak berpendapat bahwa puisi ini dimaksudkan untuk mengobarkan semangat dalam hati para pejuang kemerdekaan. Melalui kata-kata “sekali berarti/sudah itu mati”, saya mendapat kesan jikalau Chairil merupakan orang yang punya pandangan tidak peduli betapa mulia nilai-nilai yang dipegang selama hidup seseorang, ketika ia mati, maka segalanya hanya menjadi “sudah”. Dilihat dari sisi mana pun, dua larik ini menjelma sebuah keabsurdan yang menegasikan upaya penghadiran nuansa penuh semangat dari larik lain dalam puisi ini.

Di sisi lain, dengan memahami bahwasanya puisi ini lahir sebagai manifestasi angin yang berupaya membesarkan kobaran api, saya yakin bahwa Chairil tidak memaknai bahwa segala sesuatu yang terjadi sebelum “sudah” adalah sia-sia. Semua peristiwa sebelum momen “sudah” memiliki arti, setidaknya lebih berarti dalam hidup, ketimbang mati.

Larik “sudah itu mati”, saya menafsirkan, mungkin bagi Chairil mati adalah akhir dari segalanya, sebuah proses yang menihilkan segala makna. Sejauh pembacaan saya terhadap dua larik dalam puisi ini, saya bisa melihat cara Chairil memeluk dinginnya ketiadaan makna di dunia, menunjukkan caranya memahami bahwa hidup itu absurd yakni dengan mencintai “arti” apa pun sebelum mati, sebab ketiadaan makna dalam hidup tidak lebih besar dibandingkan ketiadaan makna saat “sudah” kelak.

Kasus selanjutnya, dalam penggalan puisi Derai-Derai Cemara, saya melihat Chairil lebih terang menampilkan kerja-kerja absurditasnya. Di sini, Chairil menunjukkan ketidakberdayaan manusia di hadapan waktu yang terus melaju dan memaksanya mengubah caranya memandang kehidupan. Pandangan tersebut didasarkan pada bait kedua, Chairil mengeksplorasi dinamika manusia dalam merespons kehidupan dalam konteks ketidakpastian yang konstan. Bait kedua ini mengingatkan saya terhadap pendapat Camus, yang menurutnya, manusia memiliki naluri untuk menemukan makna dalam berbagai hal dan jika itu tidak ditemukan, mereka akan mengada-ada mengenai makna tersebut. Chairil, tanpa pernah membaca Camus, memahami hakikat bahwa, sekalipun manusia mampu menciptakan makna dalam perjalanan hidup, mereka tetap tunduk pada laju tak terelakkan waktu, yang pada akhirnya akan mengubah cara pandang dan pemaknaan mereka terhadap eksistensi. Saya melihat ada sebuah kesepakatan dalam karangan Camus dan Chairil, yaitu kepastian yang paling jelas dalam hidup adalah ketidakpastian.

Larik “tambah terasing dari cinta sekolah rendah” membuat saya berpikir kalau Chairil di titik ini memaknai realita itu penuh penderitaan serta harapan yang terus-menerus menjauh. Akan tetapi, kesan muram tersebut langsung dijawab dengan penerimaannya pada larik, “dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan” yang sekaligus melengkapi bait sebelumnya dan menjadi catatan yang lebih jelas mengenai bagaimana cara Chairil memahami absurditas hidup.

“Hidup hanya menunda kekalahan” dan “sebelum akhirnya kita menyerah” adalah konklusinya ketiadaan makna dalam hidup. Saya kembali melihat kemiripan alur berpikir Camus dan Chairil, melalui pemaknaannya terhadap kesedihan dan rasa sakit, Chairil memikul beban yang sama dengan yang dijatuhkan ke Sisifus dan di sisi lain memeluk absurditas yang persis dikejar Camus. Tiap pencarian maupun proses mengada-ada itu akan menemui situasi absurd di mana tiap-tiap upaya tersebut menemui kegagalan dan kekosongan makna, menemui momen “sebelum akhirnya kita menyerah”.

Untuk bisa membayangkan Sisifus berbahagia, seseorang harus mau mengerti terlebih dahulu kalau pada kenyataannya, dia tidak berbahagia. Dalam puisi yang saya rujuk, hemat saya Chairil secara tidak langsung menyediakan jalan lain untuk melihat Sisifus dalam sudut pandang lain. Untuk mampu mengerti hidup itu absurd, kita harus menerima kenyataan bahwa segala upaya pencarian makna akan sia-sia. Kenyataan bahwa dalam menjalani hukumannya Sisifus sebenarnya nelangsa dan penuh penderitaan. Kenyataan yang sama kalau hidup itu penuh ketidakpastian dan perubahan.

Dengan pandangan ini, sekarang anjuran Camus bahwa “kita harus membayangkan Sisifus berbahagia” bisa terlihat tidak terlalu membual dan lebih mudah dicerna dengan hanya menyisakan sedikit keresahan dengan menyandingkannya bersama kalimat “hidup hanya menunda kekalahan”. Mulai dari langkah ini barulah seseorang bisa memahami dan menerima bahwa hidup itu absurd.

Camus menggunakan kisah Sisifus dan menempatkannya pada perumpamaan filosofis untuk menjadi jembatan ide bahwa hidup itu absurd. Membayangkan Sisifus berbahagia adalah sebuah keberanian yang luar biasa, sebuah pemberontakan terhadap keseharian yang penuh pesakitan. Tetapi, membayangkan Sisifus tidak berbahagia adalah keberanian lain yang bobotnya setara. Itulah potongan puzzle terakhir sekaligus menjadi jawaban dari pertanyaan “bagaimana caranya kita paham hidup itu absurd?”

Melalui dua puisi Chairil di atas, saya bisa lebih jelas memotret hal tersebut—kesedihan Sisifus, kemudian mengambil satu langkah mundur dari jembatan yang sudah disediakan Camus untuk kemudian bisa menyempurnakan jalannya.

Cara untuk memahami hidup itu absurd adalah mengetahui bobot permasalahan ketiadaan makna dalam hidup sejatinya sama beratnya seperti masalah sehari-hari lainnya yang perlu dipecahkan oleh kita sendiri. Cara agar hidup bisa terasa bahagia adalah mengenali kesedihan di dalamnya dan tidak berpaling darinya.

Dengan membaca puisi Diponegoro dan Derai-Derai Cemara karya Chairil, kini saya mendapatkan cara lain untuk melihat Sisifus, saya membayangkan Sisifus yang ada di dalam kepala Camus tidak berbahagia! Saya membayangkan dalam kehidupan ini saya tidak pernah benar-benar menyelesaikan sesuatu. Saya sadar bahwa hukuman Sisifus adalah vonis yang tidak dapat diangkat sedikit pun dari pundak saya. Hidup jelas ada maknanya, namun itu luxury goods, yang dirampas dan tak pernah bisa didapatkan kembali. Sisifus di dunia modern tak ubahnya kita yang bergaji di bawah UMR berupaya membeli rumah tapak dengan fasilitas yang layak!

Namun, di balik semua kemuraman itu, dengan kehangatan yang sama dengan Camus, saya mengajak pembaca yang budiman untuk memilih “pintu keluar” melanjutkan hidup, mencintai hal-hal yang ada di dalamnya. Sebab, jika kita memilih mati, seperti tafsiran saya atas puisinya Chairil, semua makna hanya akan menjadi “sudah”. Siapa tahu besok harga rumah turun, atau gaji kita naik setara pegawai Hotel di Dubai. Siapa yang tahu.

***

Editor: Ghufroni An’ars

Muhammad Husni
Muhammad Husni —lahir di Gresik. Saat ini berdomisili di Tangerang Selatan. Suka bolak-balik Depok.

2 Replies to “Membayangkan Sisifus dalam Puisi Chairil”

  1. Terlalu panjang uraiannya. Singkat saja….
    *Hidup hanya menunda kekalahan
    Sebelum akhirnya kita menyerah
    Sekali berarti
    Sudah itu mati*

  2. Terlalu panjang uraiannya. Singkat saja….
    *Hidup hanya menunda kekalahan
    Sebelum akhirnya kita menyerah
    Sekali berarti
    Sudah itu mati*

  3. Mas Tommy Mage, saya punya pertanyaan untuk Anda. Dari mana Anda bisa mengatakan uraian terlalu panjang dan Anda bisa membuat “kesimpulan” dari uraian di atas?

    Apakah dari membaca seluruh artikel ini? Pertanyaan selanjutnya adalah jika Karya Camus ini tidak diangkat, ditulis dengan data yang tersirat, apakah akan tetap ada kesimpulan yang Anda buat?

    Anda menulis itu karena Anda “sudah” membaca, kan? Bahkan, dalam konteks ini saja, Anda membuktikan sendiri, bahwa, teori Camus yang dibalut dengan pemikirin Chairil Anwar adalah valid. Sebagaimana, kesimpulan dari seluruh tulisan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email