Prihandini N Redaksi Omong-Omong

Maid: Potret Jujur Kemiskinan dan Perjuangan Korban KDRT

2 min read

Protagonis yang siap merebut simpati penonton itu bernama Alex (Margaret Qualley). Serial Maid, yang tayang di Netflix mulai 1 Oktober 2021, memusatkan cerita pada peran sosial Alex sebagai seorang ibu tunggal sekaligus seorang pekerja. Peran-peran tesebut ia jalani lengkap dengan segala problematikanya. Penonton akan diajak menyaksikan jalan hidup Alex yang seperti lolos dari satu lubang, hanya untuk jatuh ke lubang yang lain.

Di awal cerita, Alex muncul sebagai karakter perempuan yang kuat. Penonton dibiarkan tahu, sebagai seorang ibu, Alex memiliki intuisi yang tajam. Adegan dibuka dengan Alex yang berupaya melindungi putrinya. Saat itu malam, setelah Alex menjadi sasaran kekerasan verbal dan emosional kekasihnya, Sean, yang meneriaki dan melempar perabotan ke arahnya saat laki-laki itu mabuk. Dengan mengendap-endap, Alex memboyong putrinya kabur dari rumah ketika Sean sudah terlelap.

Setelah meninggalkan rumah, Alex dan putrinya, Maddy, menjadi luntang-lantung. Mereka tinggal berpindah-pindah tempat tanpa kepastian. Mulai dari tinggal di dalam truk yang dijadikan rumah oleh Ibu Alex, sampai tinggal di penampungan perempuan penyintas kekerasan domestik.

Kemudian, Sean menggugat hak asuh. Alex tak ingin Maddy jatuh ke tangan Sean yang memiliki masalah emosional. Alex harus mengumpulkan bukti bahwa dia sanggup menghidupi Maddy agar menang gugatan. Salah satu syaratnya adalah memiliki rumah sendiri. Alex akhirnya bekerja sebagai pembantu agar dapat penghasilan. Dia bertekad memberikan kehidupan yang lebih baik untuk putrinya.

Serial ini merupakan adaptasi dari memoir karya Stephanie Land yang berjudul Maid: Hard Work, Low Pay, and a Mother’s Will to Survive.

Dalam serial yang berjumlah 10 episode ini, penonton akan dengan mudah bersimpati kepada Alex. Banyak adegan yang mungkin membuat penonton ikut lelah melihat perjuangan Alex mendapatkan uang. Tetapi, uang itu tak pernah mencukupi kebutuhannya.

Ada hal unik dari serial ini. Pada setiap adegan Alex memegang uang untuk membelanjakan sesuatu, akan muncul keterangan penurunan jumlah uang yang dia miliki. Penonton bisa melihat sendiri betapa cepatnya uang itu terpakai dan habis. Padahal, Alex hanya membeli barang-barang kebutuhan dasar. Setiap kali adegan itu muncul, saya merasa miris, prihatin, sekaligus mengerti betapa sulitnya perjuangan Alex.

Ketika ada kebutuhan yang berhasil terpenuhi, ada saja kejadian tak terduga yang menimpanya. Entah itu berasal dari ayah, ibu, atau mantan kekasihnya. Belum lagi urusan trauma masa lalu yang membuat Alex memiliki krisis kepercayaan.

Meskipun serial ini berlatar di Amerika, potret kesulitan ekonomi yang menimpa Alex seperti bisa dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Seperti ruwetnya birokrasi untuk mengajukan bantuan sosial kepada pemerintah, serta sulitnya mencari rumah dengan harga murah.

Selain itu, masih ada perusahaan penyalur tenaga kerja (dalam serial ini bernama Value Maids) yang membuat peraturan bahwa pegawai harus membayar kebutuhannya sendiri. Termasuk seragam dan alat-alat yang digunakan untuk bekerja. Serial ini juga mengungkit permasalahan penerapan sistem paruh waktu untuk menghindari pemenuhan hak-hak karyawan.

Hal lain yang menarik dari serial ini adalah beberapa kali dimunculkan adegan Alex yang sedang mengkhayal. Visualisasi khayalan bisa dimaknai sebagai cara Alex kabur dari realitas hidupnya yang sulit.

Seperti saat Alex mengkhayal dia tinggal di rumah mewah tempatnya bekerja. Saat itu Alex tengah merapikan kamar bayi milik majikannya. Alex mengkhayal putrinya menempati kamar tersebut. Selain itu, ada juga adegan ketika dia mengkhayal makan makanan yang ada di kulkas milik atasannya. Tapi kenyataannya, dia justru disuruh membuang makanan tak tersentuh itu ke dalam tempat sampah agar diolah jadi sampah organik.

Banyak adegan yang berhasil membuat saya tertegun. Potret kemiskinan yang jujur membuat penonton dapat dengan mudah bersimpati kepada Alex. Elemen yang paling menonjol dalam serial ini adalah karakter Alex yang begitu kuat dan multidimensional. Sosok ibu tunggal, miskin, korban kekerasan yang terus berjuang tentu akan membuat penoton turut merasakan sekaligus berharap perjuangan itu akan berakhir dengan kebahagiaan.

Prihandini N R
Prihandini N Redaksi Omong-Omong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.