kamarul arifin Pernah belajar fisioterapi dan psikologi.

Mafia Tanah di Layar Kaca

2 min read

Tak ada yang bisa membantah kesuksesan sinetron Preman Pensiun sejak pertama kali tayang di RCTI, Agustus 2015. Sinetron ini menghadirkan karakter preman-preman pasar, yang bukannya membuat penonton seram tapi justru kocak dan penuh komedi. Saking suksesnya, sinetron ini  terus dilanjutkan dengan beberapa variasi konflik dan perkembangan cerita hingga musim tayang kelima di tahun 2021.

Dalam perjalanannya, Preman Pensiun sempat jadi membosankan. Ceritanya terasa klise dan tak menarik. Tapi kemudian, dengan slogan Manusia Merdeka, Preman Pensiun kembali membawa cerita yang segar, penting, dan relevan untuk banyak orang.

Sebenarnya dari segi dialog dan gaya bercerita tidak ada yang berubah dari sebelumnya. Masih dengan gaya khas Aris Nugraha, sang sutradara yang memang mengawal sinetron ini sejak musim pertama. Yang membuat Preman Pensiun Manusia Merdeka menjadi spesial dibandingkan dengan sinetron-sinetron lain adalah keberaniannya mengangkat isu mafia tanah.  Preman Pensiun Manusia Merdeka tidak hanya menyajikan kekonyolan para tokohnya yang membuat kita tertawa, tapi juga menyadarkan kita tentang banyaknya penipuan, ancaman dan kekerasan terkait isu kepemilikan tanah.

Preman Pensiun Manusia Merdeka berlatar tempat sebuah desa di Bogor yang asri dengan kehidupan sederhana serta masalah khas petani di desa. Mulai dari besarnya biaya produksi serta tidak adanya jaminan pasti bahwa panen akan berhasil. Ketika panen berhasil, belum tentu harga jual akan baik, belum tentu harga jual sebanding dengan biaya produksi, sekadar bisa menutupi biaya produksi saja sudah syukur.

“Tanah kita sudah tidak bisa bikin hidup makmur, hidup normal saja susah,” keluh salah satu warga. Bagi petani yang tidak memiliki lahan sendiri dan hanya menawarkan jasa, tentu kehidupannya lebih pelik lagi.

“Jadi petani mah gak enak, sering cuma dapet capeknya ajah,” ucap Kang Idam.

Kegalauan penduduk semakin menjadi ketika ada pengusaha dari Jakarta yang ingin membangun tempat wisata di desa tersebut. Iming-iming untuk menjual tanah datang tepat ketika banyak orang di desa itu butuh uang untuk biaya melanjutkan pendidikan anak-anak mereka ke perguruan tinggi selepas dari SMA. Bahkan untuk sekadar hidup sehari-hari saja, banyak dari mereka yang sedang kesulitan dan hasil dari bertani tidak selalu dapat diandalkan. Lahan pertanian mereka adalah satu-satunya pusaka berharga yang mereka miliki.

Sebagian warga setuju untuk menjual tanahnya. Namun, ada beberapa warga desa yang tidak mau menjual tanahnya, salah satunya Kang Idam, teman masa kecil dari Kang Mus alias Muslihat. Tanah dari Kang Idam luasnya tidak seberapa, namun sangat strategis letaknya. Hal ini yang membuat developer dari Jakarta itu menjadi berang, karena hal tersebut bisa membuat rencana mereka gagal. Sedangkan uang dari investor sudah masuk dan itu artinya proyek harus segera dimulai.

Kang Idam sebenarnya termasuk salah satu warga yang sangat butuh uang. Anak perempuannya baru saja lulus dari SMA. Dan tentu saja, jika hanya mengandalkan ijzah SMA tentu sangat sulit untuk mendapat pekerjaan. Namun, Kang Idam berpendapat bahwa lahan pertanian yang ia miliki saat ini adalah azimat yang diwariskan turun-temurun dari keluarganya. kang Idam merasa harus  menjaga dan mempertahankan pusaka itu, agar kelak bisa juga ia wariskan pada anaknya.

“Kalau lahan ini dijadikan uang, berapa pun banyak bakal habis juga. Kalau tetap jadi lahan pertanian, biarpun gak luas, biarpun hasilnya gak banyak, gak akan ada habisnya,” begitu tekad Kang Idam.

Keteguhan hati Kang Idam untuk mempertahankan tanahnya sebagai lahan pertanian membuat developer dari Jakarta itu semakin geram. Akhirnya mereka melakukan teror dan intimidasi pada Kang Idam dengan mengirim preman-preman. Tujuannya agar Kang Idam merasa terdesak, takut, lalu akhirnya menyerah dan mau menjual tanahnya.

Kang Mus yang mendengar berita ini langsung memanggil anak buahnya untuk menyelesaikan masalah ini. Mereka cukup senang dengan tugas tersebut, apalagi mereka sudah lama tidak “olahraga”. Anak buah Kang Mus kemudian berhasil meringkus preman-preman ini dan membawanya ke kantor polisi. Kang Idam beruntung memiliki Kang Mus, tapi di kehidupan nyata yang terjadi seringkali sebaliknya; pemilik tanah yang kalah.

Ada kata-kata menarik dari Kang Mus, “Jangan takut, kita manusia merdeka, yang berhak menentukan nasib sendiri, harus terbebas dari intimidasi.”

Semoga sejahtera selalu petani Indonesia dan penindasan terhadap petani dan lahannya segera berakhir. Semoga para petani mendapatkan keadilan dan tidak ada lagi perampasan lahan oleh pihak mana pun.

kamarul arifin
kamarul arifin Pernah belajar fisioterapi dan psikologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.