A. Muhaimin DS Lahir di Kota Angin, besar juga di Kota Angin. Kadang ke Malang, Jogja, dan juga kadang ke kondangan. Belakangan, menyulap kamarnya menjadi tempat ngopi, dan menulis cerita.

Lukisan Capung

3 min read

Lukisan tiga ekor capung itu sudah tertempel di dinding ruang tamuku sejak kelahiran putri pertamaku. Sebuah lukisan dari seniman asal Pulau Dewata yang kutemui saat sama-sama naik kapal menuju Bali.

“Capung-capung ini akan menghiburmu setiap hari,” katanya saat memberikan lukisan itu padaku.

Sejak itu pula aku selalu memandanginya setiap pagi sebelum berangkat kerja. Membayangkan capung-capung itu hidup dan terbang ke seluruh penjuru ruang tamuku. Aku selalu berandai-andai mereka bisa terbang bebas tak terkurung dalam sebuah lukisan. Seperti halnya aku yang ingin kebebasan karena terjebak dalam rutinitas yang membosankan.

Sejak kutahu namaku masuk daftar pegawai yang akan dirumahkan, aku mulai enggan masuk kantor. Aku tak mengutuk kondisi yang memang tak memungkinkan bagi sebuah perusahaan untuk berani mengambil risiko kerugian akibat pandemi ini. Aku justru berharap agar benar-benar dipecat saja. Sebab dengan itu aku punya alasan untuk tinggal di rumah. Aku akan menghidupi keluargaku dari bisnis yang mulai kurintis beberapa tahun yang lalu. Yang kurintis di sela-sela kesibukanku bekerja di kantor.

Istriku sudah sangat paham betul denganku. Jadi tak ada kekhawatiran lagi jika aku benar-benar dipecat. Mertuaku yang dulunya menerimaku karena tahu aku seorang pegawai di perusahaan terkemuka pun kini mulai memahami sosok yang sebenarnya dari menantunya ini. Yang dulu menyembunyikan identitasnya sebagai pegawai sebuah perusahaan dan lebih mengenalkan dirinya sebagai penulis lagu.

Aku menghabiskan banyak waktu di rumah saja bersama kedua putriku. Aku bahkan bisa melakukan banyak hal dengan kedua putriku, termasuk bersama-sama memandangi lukisan capung yang ada di ruang tamu itu.

***

Seminggu di rumah, aku menyadari si sulung dan si bungsu mulai melakukan hal-hal baru setelah memandangi lukisan capung itu.

Jika aku hanya memandangi lukisan capung itu dengan penuh konsentrasi lalu berbicara dengan diriku sendiri dalam hati tentang banyak hal termasuk pengandaian jika capung itu hidup, si sulung justru mulai mengajak berbincang lukisan itu. Ia seperti menemukan teman baru yang bisa diajak berbagi cerita di tengah aktivitasnya di rumah. Lain lagi dengan si bungsu, setelah merasa cukup memandangi lukisan capung itu, ia akan sibuk menyiapkan alat lukisnya, lalu melukis apa pun yang terlintas dalam benaknya. Termasuk melukis seekor capung yang ia sebut sebagai teman baru dari lukisan capung yang ia pandangi tadi.

***

Hari Selasa minggu pertama di bulan kedua kami di rumah saja, aku dan kedua putriku dikagetkan oleh tiga ekor capung yang keluar dari lukisan di dinding itu.

Tiga capung itu terbang mengitari seluruh sudut ruang tamuku. Aku dan putri-putriku melihatnya dengan kagum sekaligus bahagia karena capung itu akhirnya bebas. Kami saling pandang saat tiga capung itu tiba-tiba membalas lekat pandang kami bertiga. Ketiga capung itu seperti berbaris, berjajar tepat di depan tatapan kami. Seolah mereka ingin menyampaikan sesuatu. Salah satu capung itu mulai mengeluarkan suara dan menyapa kami. Ternyata capung itu juga tahu nama putri-putriku.

Namun mereka tak menyebutkan nama mereka atau menjawab pertanyaan kami. Capung yang berbicara tampaknya adalah yang paling tua. Sedangkan dua capung lainnya yang lebih muda mulai terbang keluar dari jendela rumah yang terbuka.

“Selamat pagi, Gusti, Nora, dan Ainu. Kalian jangan menanyakan apa pun pada kami. Kesempatan kami untuk terbang di hadapan kalian hanya sebentar. Aku akan mengatakan apa maksud kedatangan kami.”

***

Dulunya aku adalah keluarga capung yang hidup di sekitar sungai bersih seperti yang ada di belakang rumahmu. Di aliran sungai itulah leluhurku meletakkan bayi-bayinya yang baru menetas. Air yang tak terlalu dingin dan juga tak terlalu panas itu sangat cocok untuk perkembangan bayi-bayi capung. Sehingga tak perlu waktu yang sangat lama untuk kami bisa tumbuh dewasa.

Mungkin kalian belum tahu, suhu air yang terlalu dingin memang masih bisa dimanfaatkan untuk bertahan hidup, tapi tumbuhnya bayi-bayi capung akan sangat lama bahkan bisa sampai enam tahun.

Bayi-bayi capung yang baru menetas butuh lima hingga empat belas kali proses pergantian kulit. Sampai akhirnya ia berubah bentuk menjadi nimfa mirip capung dewasa yang kulitnya masih lunak. Kemudian mereka akan mulai menepi ke bagian sungai yang lebih dangkal. Seiring mulai mengerasnya kulit mereka dan mulai sempurnanya bentuk tubuhnya menjadi capung dewasa, mereka akan keluar dari air. Mereka akan berlindung di batang-batang pohon, sampai akhirnya benar-benar siap untuk terbang sebagai capung dewasa.

***

Sampai akhirnya sungai tempat leluhurku meletakkan bayi-bayinya itu berubah menjadi kotor. Tercemar oleh limbah pabrik yang dibuang ke sungai. Bayi-bayi capung itu hampir semuanya terbunuh, hanya menyisakan aku dan dua saudaraku yang tanpa sengaja terbawa oleh seorang pelukis yang tanpa sengaja pula meletakkan kami bertiga di kolam ikan depan rumahnya. Di kolam itu, kami berusaha sekuat tenaga untuk tetap hidup dan tumbuh hingga dewasa.

Meski tanpa kesengajaan membawa kami bertiga ke kolam depan rumahnya. kami sangat berterima kasih atas pertolongannya itu. Kami bertiga terbang hingga mengagetkan pelukis itu. Di depan pelukis itu kami menangis, meski aku saja yang bisa menangis seperti cara manusia menangis. Pelukis itu juga melihat raut sedih dari dua saudaraku. Dia bertanya kenapa kami bertiga menangis.

Kami menangis karena kami hanya mampu bertahan hidup sebagai capung dewasa paling lama dua minggu. Sedangkan cara satu-satunya agar keberadaan kami bisa lestari adalah kami harus berkembang biak. Jika sungai sudah kotor dan kolam milik pelukis itu ternyata sudah tak layak dipakai lagi, kami tak punya tempat untuk meletakkan bayi-bayi kami yang baru menetas.

Pelukis itu terdiam, tak tahu harus berkata apa. Tapi kami tahu apa yang kami butuhkan. Di rumah pelukis itu ada banyak sekali lukisan bentang alam. Ada  gunung, laut, hutan, juga sungai-sungai yang jernih. Mata kami bertiga sama-sama mengarah ke sebuah lukisan aliran sungai. Kami ingin masuk ke dalam lukisan itu. Pelukis itu pun mengabulkan keinginan kami.

Kami tak pernah tahu kenapa pelukis itu memberikan lukisan ini padamu. Kami juga tak pernah tahu kami akan tinggal berapa lama dalam lukisan ini. Sampai akhirnya kami mendengar percakapan kalian tentang sungai di belakang rumah yang dalam sebulan ini perlahan menjadi sangat bersih. Sebab pabrik-pabrik yang biasa membuang limbahnya ke sungai itu harus berhenti beroperasi di tengah pandemi. Sekarang waktunya kami untuk pulang ke rumah kami sendiri.

“Jika bayi-bayi capung itu nanti tumbuh hingga dewasa, lalu sungai di belakang rumahmu kembali kotor dan tercemar, izinkan cucu-cucuku itu tinggal di lukisan putrimu.”

 

Nganjuk, Juni 2020

A. Muhaimin DS
A. Muhaimin DS Lahir di Kota Angin, besar juga di Kota Angin. Kadang ke Malang, Jogja, dan juga kadang ke kondangan. Belakangan, menyulap kamarnya menjadi tempat ngopi, dan menulis cerita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.