Luh Bulan Berjumpa Oka Rusmini: Dua Pewarta, Dua Perempuan, Sebuah Perbincangan

3 min read

Selepas berbenah, Luh Bulan bergegas mengeluarkan motornya dari garasi. Perlahan, meyakinkan tak ada suara yang mungkin membangunkan bungsunya. Bocah laki-lakinya itu punya pendengaran yang lebih peka daripada anak umumnya. Pekik suaranya bisa mengagetkan seisi rumah kalau dia tahu tak ada Luh Bulan, ibunya, di sampingnya.

Di antara kegugupan dan ketergesaan itu, Luh Bulan berusaha beringsut agar rencana wawancara tak jadi buyar. Menjadi pewarta yang juga ibu rumah tangga membuatnya harus lihai memainkan peran. Dari trik membagi waktu, tenaga, sampai fokus pikiran harus betul-betul dilakukannya secara cermat.

Pagi itu, dia akan bertemu dengan seorang penulis senior. Perempuan asli Bali yang karyanya kerap dijadikan bahan riset penulis yang tertarik pada latar budaya. Oka Rusmini.  Janji pertemuan hari itu sudah mereka sepakati sejak sepekan lalu. Selama tujuh hari Luh mengatur apa saja yang akan ia tanyakan pada perempuan yang dikaguminya itu.

Tepat pukul 05.45 kendaraannya melaju, di benaknya sudah terbayang bagaimana kata pertama yang harus dia keluarkan supaya kecanggungan tak begitu tampak. Di saat yang bersamaan dia membayangkan dua anak yang terbangun tahu bahwa ibunya sedang tak di rumah untuk menjalankan pekerjaan yang dicintainya

Luh Bulan mempercepat laju motor retro yang dikendarainya. Dia tak mau dicap pewarta lambat. Selain terlihat tak profesional, kesan tak baik akan melekat di benak perempuan senior yang didapuknya mengisi rubrik tokoh Bulan Bahasa dan Sastra tahun ini.

Tiba di tempat, Luh Bulan memarkir kendaraannya dan bergegas mencari lobi hotel. Tak ada yang bisa ditanyai, Luh langsung merogoh ponsel dan menekan nomor perempuan itu.

Tak lama berselang didapatinya pesan masuk.

“Langsung pantai, Dear,” jawaban singkat diterimanya.

Luh Bulan sedikit tenang karena pesan itu mengesankan keakraban si empunya.

Sambil menelusuri bibir pantai Luh coba mengenali sosok itu. Tak lama, ada lambaian, Luh mendekati dan memastikan itu betul sosok yang buat janji dengannya.

Baru beberapa menit bertatap muka, perempuan itu langsung menyebut dirinya sudah 30 tahun menjadi pewarta di Bali Post. Luh Bulan terpaku. “Dua pewarta hendak membangun wacana di tepi pantai Sanur,” batinnya lagi.

Pewarta yang Multiperan

Sebagai perempuan yang menjalani banyak peran, Oka Rusmini membagikan kisahnya semasa dia mengurusi anak balita, suami dan diburu ketepatan waktu untuk setor berita.

Melihat cara perempuan itu berbicara membuat Luh Bulan memahami satu hal. Tak salah karyanya digandrungi banyak orang, tak salah tulisannya bertenaga, sungguh cerdik media yang mendapuknya sebagai pewarta, karena dia punya energi berlimpah, ide-idenya mengalir tanpa tahu arti kering.

“Perempuan Bali harus luwes, Luh,” katanya menyentak.

“Ya, kita boleh saja taat adat istiadat, tapi jangan lupa untuk mengasah kemampuan karena perempuan itu pada dasarnya cerdas. Hanya saja suka dibunuh pikirannya sendiri padahal belum mulai,” sambungnya.

Ibu Hebat, Perempuan Kuat

Melihat sosoknya mengingatkan Luh Bulan akan buku yang pernah dibacanya. Kisah para ibu di dalam buku Chicken Soup for the Soul, Ibu Hebat, besutan Jack Canfield, Mark Victor Hansen, dan Wendy Walker betul-betul membuat pembacanya tak henti menghela nafas.

Mulai dari seorang ibu yang menulis novel dari jok belakang mobil ditemani remahan biskuit gold fish, pengacara yang rela mengorbankan karir lalu fokus pada keluarga dan menulis dari rumah, ibu pejabat yang memilih berbakti pada keluarga namun tetap mengasah diri dengan menulis menyadarkan Luh Bulan kalau ini tak lagi sekadar kisah fiktif.

Perempuan di hadapannya juga seorang ibu, istri, pewarta dan penulis budaya yang langka. Sagra adalah karya Oka Rusmini yang dikagumi Luh Bulan. Dalam Sagra ditemukan kegetiran seorang perempuan yang diliputi banyak hal di benaknya.

Bagaimana bisa ada karya yang seperti itu? Di balik keeksotikan Bali ada juga titik noda. Di balik keindahan yang disesap khalayak ada realita yang menyentak. Tapi, lagi-lagi itulah kenyataan hidup yang hendak dihadirkan Oka Rusmini untuk kita para perempuan.

Siapa yang Bikin Kopi Hari Ini?

Sepanjang proses wawancara, Luh Bulan mengamati suami Bu Oka setia mendampingi. Meski dia duduk sedikit berjarak dan menghamparkan pandangan ke pantai Sanur yang mulai menghangat. Sambil sesekali mencuri-curi memotret kami dari kejauhan. Tak tampak kekesalan, jenuh, karena menunggui si istri.

Dia rela waktu istrinya dicuri demi seorang pewarta muda yang menggandrungi ibu dari anaknya itu. Menangkap itu, Luh Bulan memberanikan diri bertanya, “Bu, bagaimana menjaga hubungan dengan suami di kala kesibukan?”

Bu Oka tersenyum, tergambar apa yang akan dilontarkan.

“Kami switch siapa yang bikin kopi hari ini, Luh,” jawabnya lugas.

Dalam rumah tangga kami tak ada yang dilayani dan melayani. Kami sepakat untuk setara, kami team. Keintiman bisa tetap terjaga dengan kesediaan menyediakan waktu untuk berdua. Sekadang hang out untuk segelas latte, atau movie time meski bukan film box office. Terpenting adalah kebersamaan demi menjaga komitmen.

Kesetiaan Membaca

Tarian Bumi, kala itu dijadikan bacaan wajib di sekolah. Bukan tanpa alasan, karena di sanalah wajah Bali tampak jujur tanpa polesan. Kadang kita lelah dengan kamuflase dan merasa lega dengan keapaadaan.

Saiban membawa dirinya meraih penghargaan Kusala Satra Khatulistiwa pada tahun 2014. Idenya besarnya dari rasa syukur. “Kata Saiban sulit dicari dalam kamus. Tetapi bagi saya, “saiban” memiliki mata rantai yang terus berdenyut dalam darah saya. Saiban dikenal sebagai banten atau jotan. Banten saiban merupakan sesaji kecil yang dipersembahkan setiap habis masak oleh masyarakat Hindu Bali tiap hari,” mengutip dari epilog Saiban.

Ragam bacaan dilahapnya. Oka Rusmini merupakan tipe perempuan yang selalu ingin mengupgrade dirinya. Membaca jadi kegiatan yang dianggapnya sebagai pelebur rasa lelah untuk kembali memasukkan nutrisi. Kebiasaan yang sudah ditanamkan Ajik (panggilan Ayah untuk keluarga bangsawan Bali) saat masih belia.

Pelukan Hangat

Di akhir perbincangan, Luh Bulan meminta satu hal untuk diizinkan memeluk perempuan itu. Belum selesai bicara dia sudah merentangkan tangan dan merengkuh tubuh Luh Bulan. Dia seperti memeluk saudari Balinya. Dalam hati tersemat harap, akankah 20 tahun mendatang bisa jadi sepertinya.

Bukankah harapan yang membuat kita tetap ingin hidup?

 

***

 

 

Mina Megawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.