Ketika Aktivis adalah Pelaku Kekerasan terhadap Perempuan

Puteri Aliya

4 min read

Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan semakin menyadarkan saya betapa sulitnya mengadvokasi keadilan bagi perempuan yang menjadi korban kekerasan terlebih ketika itu terjadi dunia aktivisme. Aktivis laki-laki turut meramaikan kampanye padahal mereka adalah bagian dari pelaku kekerasan itu sendiri.

Ini adalah cerita non-fiksi di dunia aktivisme yang saya alami bersama para perempuan lainnya.

Sekumpulan lelaki bersama-sama duduk di bawah pohon mangga, masing-masing mengepulkan asap rokok dari bibirnya sambil memikirkan agenda ke depan untuk segera dieksekusi, sesuatu yang memikat massa, suatu kegiatan akbar yang harus diliput oleh banyak media. Sementara para anak magang, sibuk mencatat makanan dan minuman yang harus dibeli sebagai amunisi otak para lelaki tersebut. Para perempuan masih berkumpul di dapur, menyiapkan gelas minuman dan piring sembari menata makanan yang akan disajikan kepada para lelaki. Seperti anak bebek, para perempuan berjalan ke depan menyajikan makanan.

Setelah makanan tersaji, mulailah anak magang berikut para perempuan mengikuti diskusi tersebut. Beberapa perempuan tak melepas maskernya, bukan semata mematuhi protokol kesehatan melainkan mual menghirup asap rokok yang mengudara.

Dari sekian banyaknya ide, tema merayakan hari kekerasan perempuan berada di posisi teratas. Berani benar para lelaki itu, pikirku.  Nyatanya di antara mereka tak satu pun mampu memaknai esensinya. Mereka acuh saja, sebab tak punya banyak waktu untuk memahami semua itu. Segalanya akan dilaksankan dengan praktis, cukup memilih beberapa aktivis dan seniman yang butuh ruang berekspresi. Selebihnya, cukup menyesuaikan dana untuk membeli beberapa kaleng cat, beberapa kuas serta pasung-pasung yang menjadi pondasi ruang pameran.

Baca juga:

Betapa senangnya mereka, berbinar-binar mata para lelaki itu. Tak lama lagi mereka akan berpesta. Begitu bahagianya, hingga melambung dalam imajinasi-imajinasi liarnya. Mereka mengabaikan fakta bahwa dalam setahun terakhir empat perempuan telah mengundurkan diri akibat kebiadaban mereka. Saya, salah satunya.

Para lelaki penyelenggara kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan merupakan pelaku itu sendiri. Dahulunya sebagai teman para perempuan, namun saat para lelaki dipilih oleh perempuan menjadi atasannya, mulailah sang lelaki menunjukkan wajah setannya. Para perempuan dibebani ekspektasi, terus menerus dievaluasi, dianggap tak kompeten, berani berargumen dianggap menolak perintah lelaki, dipaksa berorasi meski tak berisi demi menghasilkan cuan.

Suatu hari, tepatnya setahun yang lalu, sang lelaki secara tak sengaja mendengar seorang perempuan mengatakannya tolol akibat tidak teliti menandatangani suatu surat. Murkalah sang lelaki, merasa tak dihormati. Ototnya menegang, matanya melotot. Terjadilah proses maki-memaki antara sang lelaki dan perempuan yang ditonton dan dilerai oleh perempuan lainnya. Sebab sang lelaki hampir bermain tangan, dengan kesal ditendangnya kursi yang hampir melukai sang perempuan. Sang perempuan menangis, sang lelaki memanggil atasan perempuan yang juga merupakan perempuan, meminta agar sang perempuan tersebut dikeluarkan.

Wahai puan, dengarlah tak ada yang boleh mengatakan lelaki itu tolol.

Sebulan kemudian, seorang perempuan dipaksa untuk menjadi narasumber diskusi bertema kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak. Selain hemat biaya, sang perempuan menjadi target uji mereka. Seakan para lelaki bertaruh apakah sang perempuan mampu melakukannya. Sampai-sampai, pada saat diskusi online berlangsung sang lelaki menyamar menjadi orang lain (meskipun dengan tololnya ia tak mengubah nama profil zoom) dan mengajukan pertanyaan kepada sang perempuan. Sungguh, kala itu saya benar-benar tak habis pikir, apakah para lelaki dalam keadaan mabuk saat diam-diam menegak alkohol di ruangannya? Atau ya memang tolol.

Tak sampai disitu, sang perempuan kembali diminta mengisi diskusi lanjutan. Tepat di hari diskusi berlangsung, sang perempuan pun jatuh sakit akibat stress berkepanjangan. Para lelaki mengatakan sang perempuan mengada-ada agar bisa bebas dari diskusi tersebut dan memberikan obat penyakit lambung generik agar tetap mengisi diskusi dengan tema predator seksual. Atasan perempuan menolak memberikan obat tersebut karena sang perempuan adalah ibu yang sedang menyusui, tak sembarang obat dapat dikonsumsi begitu saja. Apakah para lelaki mengetahui? Tentu saja tidak. Tanpa peduli penolakan dari para lelaki, perempuan tersebut segera diantarkan pulang ke rumahnya. Sejak saat itu, para perempuan dan para lelaki seperti bermusuhan. Para lelaki berkantor di bawah pohon mangga tiada henti membicarakan perempuan yang dianggap lemah. Sementara para perempuan di dalam ruangan.

Anak magang kebingungan, masyarakat yang butuh bantuan hukum terus berdatangan.

Saat itu, dua perempuan telah menangis di kantor sialan itu. Mereka menyampaikan pada atasan perempuan mereka bahwa mereka tak mampu lagi bertahan. Kini atasan perempuan tak lagi memiliki staf perempuannya, keduanya telah mengundurkan diri. Para lelaki tak melakukan intropeksi, ucapan maaf tak lebih sekedar pelengkap dari ucapan perpisahan. Atasan perempuan selanjutnya menjadi sasaran, berulangkali dipanggil, hanya untuk melihat busa di mulut sang lelaki. Lagi dan lagi terus disalahkan, dengan berbagai alasan. Perempuan itu merasa ditelanjangi, diperkosa lewat tutur kata, tatapan mata, dipermalukan begitu saja. Hingga, menangislah atasan perempuan tak terhitung kali keberapa lagi.

Baca juga:

Saya menemaninya menulis surat mengundurkan diri yang ditulis tangan sepenuh hati. Desember 2020, ia resmi mengundurkan diri, tiga perempuan berturut-turut pergi sejak Juli 2020 – Desember 2020. Para lelaki semakin gila, menutupi perginya tiga perempuan, menyatakan bahwa para perempuan yang mengundurkan diri hendak menyelesaikan urusan rumah tangga, menyatakan bahwa atasan perempuan hendak menjaga ibunya di rumah.

Para lelaki pun hendak merevisi Standar Operasional Prosedur tentang Pengarusutamaan Gender (SOP PUG) yang disusun oleh perempuan. Mereka mengadakan diskusi sejak pagi hingga malam, barangsiapa meninggalkan diskusi disebut lemah, tidak kritis, tentunya tidak berisi. Para perempuan yang larut mengikuti diskusi, pulang sendiri. Meskipun dalam SOP PUG, di atas jam 10 malam seluruh perempuan wajib diantarkan oleh lelaki sebab tingginya angka pelecehan seksual yang terjadi, seperti begal payudara. Apakah para lelaki peduli? Oh tentu saja tidak.

Saya sejak dulu terus mempertanyakan mengapa lembaga ini mendadak nyaring berkampanye tentang perempuan? Sementara dalam periode yang sama, aktivitas kekerasan terus berlangsung begitu lancangnya. Tak ada rekapitulasi data, memalsukan data, tak pernah tuntas mendampingi korban perempuan dan anak, beraninya membual di depan massa.

Muak terhadap perilaku para lelaki, saya pun mengundurkan diri sebab mulai terbentuk trauma di mana para lelaki terus menerus muncul dalam alam bawah sadar. Perempuan diminta merangkum seluruh regulasi terkait kekerasan seksual, menganalisis untuk kemudian dapat menjelaskan pada lelaki. Dengan demikian, lelaki mendapatkan kejantanan menjadi narasumber seluruh diskusi. Sembari mulutnya bercuap-cuap menjijikkan, keluarga korban menghubungi, dengan resah bertanya bagaimana tindak lanjut penanganan kasus. Andai, para keluarga korban diundang pada acara tersebut untuk berbagi pengalamannya.

Beberapa bulan kemudian, saya mendengar curhatan perempuan lainnya bahwa penindasan masih berlanjut. Seorang lelaki mengajaknya  untuk pergi ke laut, saat ditanya apa tujuannya. Dijawab oleh lelaki, ‘bersenggama’. Beberapa minggu kemudian jawaban tersebut masih menggema di pikiran sang perempuan.

Budaya patriarki telah mengakar, menjamur dengan berbagai bentuk yang hampir tak dikenali, termasuk di dunia aktivisme. Mulanya, menjadi alat untuk membantu para minoritas, mereka yang tak beruntung, lemah, buta hukum. Kini, menciut seperti kambing ompong. Idealisme dikikis demi nama, popularitas dan uang. Tragisnya, saya dan teman-teman perempuan lainnya juga berakhir menjadi korban kekerasan itu sendiri tanpa dapat melakukan apa pun selain melepaskan diri dari jerat beracun para lelaki.

Sebagai perempuan, memahami kebutuhan dan kepentinganmu saja belum cukup. Budaya kekerasan tak dapat terus dipopulerkan dengan alasan demi perempuan itu sendiri. Jangan biarkan para lelaki menjadikan isu perempuan demi keuntungannya sendiri. Sebab, keuntungan yang bernilai itu nantinya digunakan demi melanggengkan budaya kekerasan itu kembali, seperti suatu kutukan tanpa masa.

Lanjut baca Pesohor Predator: Selebritas Korea Selatan dalam Pusaran Kekerasan Seksual

Puteri Aliya

One Reply to “Ketika Aktivis adalah Pelaku Kekerasan terhadap Perempuan”

  1. Memeluk penulis dan tim perempuan lainnya dengan erat. Tidak tahu harus bilang apa untuk sekedar menguatkan batin penulis. Kakak juga pernah mengalami “pelecehan verbal & direndahkan karena memiliki strategi advokasi yg berbeda dari staf organisasi tersebut. Menyesal memilih menjauh setelahnya, bukannya mendekat sehingga bisa mengetahui bahwa kalian mengalami hal yg lebih berat dari yg kakak alami. Maafkan kakak, jika butuh kawan, kakak ada untuk mendengar. Peluk erat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.