Nenek moyang kita bukan pelaut, tapi ketiadaan.

Kereta Berdarah: Satu Lagi Kesalahan Rizal Mantovani

Rido Arbain

2 min read

Setelah kesuksesan trilogi Kuntilanak (2006-2008), memang hampir tak ada lagi yang bisa diharapkan dari filmografi Rizal Mantovani. Dengan deretan judul horor seperti Kesurupan, Taring, Wewe, Jailangkung, Bayi Gaib, hingga Mumun, bahkan tak ada yang seujung kuku pun mendekati pionirnya.

Kiprah Rizal dalam penyutradaraan drama-roman pun hampir setali tiga uang. Memang tak bisa dimungkiri kita pernah terpukau dengan keindahan Ranu Kumbolo dan Mahameru yang disuguhkan 5 cm (2012), film perjalanan yang sukses membuat banyak orang tergerak untuk mendaki gunung. Namun, demi Tuhan, kalian mungkin tak akan tergerak untuk traveling setelah menonton Trinity, the Naked Traveler (2017) dan malah justru menyesalkan kenapa Maudy Ayunda bisa terlibat dalam film sebusuk itu.

Kedua judul di atas pun nyaris tak bisa dikatakan sebagai film adaptasi novel yang berhasil. Bahkan, sama tak berhasilnya dengan filmisasi Supernova; Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (2014) maupun Antologi Rasa (2019) yang sempat membuat pembaca setianya Dee Lestari dan Ika Natassa tak berhenti misuh.

Film terbaru dari Rizal Mantovani, Kereta Berdarah (2024), mulanya saya pikir akan menjadi momen pembuktian sang sutradara. Apalagi film yang sempat dielu-elukan akan menjadi epigon Train to Busan versi alam gaib ini menawarkan paket yang lebih komplet. Sebuah kisah mistis dengan elemen jumpscare dan efek gore yang siap menebar teror mengerikan. Hasilnya bagaimana? Ini persoalan lain.

Baca juga:

Histeria dalam kereta api yang menjadi latar utama cerita Kereta Berdarah berawal dari sudut pandang dua kakak-beradik, Purnama (Hana Malasan) dan Kembang (Zara Leola), yang ingin menikmati perjalanan liburan menuju sebuah resor yang terletak di kawasan terpencil sekitaran Jawa.

Untuk sampai ke tujuan, mereka harus bepergian menggunakan kereta api Sangkara yang baru saja diresmikan oleh seorang bupati bernama Pak Bara (Kiki Narendra), yang kita tahu berperan sebagai representasi figur pemimpin yang punya sifat korup. Selain penumpang umum, kereta itu juga mengangkut para investor serta influenser yang ditempatkan di gerbong khusus penumpang naratama.

Pada awalnya, perjalanan darat tersebut tampak baik-baik saja, tiada hal aneh yang terjadi. Namun, peristiwa ganjil pun mulai bermunculan tatkala kereta api yang mereka tumpangi segera melewati terowongan demi terowongan. Dimulailah teror sadis dari bermacam makhluk halus yang dipimpin oleh hantu perempuan dalam tampilan yang cukup ikonik—menyerupai pohon tua, sedikit berlumut, dan tampak mengandung klorofil. Sangat mewakili maujud penghuni hutan.

Tak ada alasan jelas mengapa sosok pemimpin hantu dalam film ini harus diwakilkan oleh gender perempuan. Meski, tentu saja, ini bukan hal yang baru mengingat sosok hantu perempuan tak secara eksklusif dominan dalam film horor di Indonesia saja, melainkan sudah menjadi semacam pola tersendiri di ranah perfilman dunia.

Biasanya, representasi perempuan sebagai hantu atau penampakan monster secara historis digunakan untuk menjustifikasi batasan peran perempuan. Idenya, apabila perempuan bertindak di luar nilai-nilai moral yang telah ditetapkan untuknya, maka ia akan berubah menjadi hantu, monster, atau sesuatu yang ganjil dan menakutkan. Entah peristiwa apa yang pernah dialami hantu perempuan dalam film Kereta Berdarah ini sampai ia harus gentayangan.

Ada beberapa catatan saya untuk Kereta Berdarah. Pertama, film ini seperti kebingungan sendiri dengan suguhan utamanya. Padahal, premis yang diusung sangat menarik—tentang kritik ekologis yang dipresentasikan melalui teror setan-setan penghuni hutan lindung. Permasalahannya mungkin karena latar belakang para setan ini tak sempat digali lebih dalam. Alhasil, penonton dibuat mengernyitkan dahi sembari bertanya-tanya mengapa para entitas gaib itu harus menunggu rel kereta api selesai dibangun untuk melakukan perlawanan masif terhadap tangan jahat manusia.

Kedua, subkonflik antara tokoh utama Purnama dan Kembang yang nyaris tak berpengaruh terhadap plot narasi secara keseluruhan, kecuali kenyataan bahwa penyakit yang diderita Purnama membuatnya jadi “tak cukup subur” untuk dijadikan objek pelampiasan amarah para penghuni hutan. Seharusnya, eksplorasi tentang dampak pembabatan hutan dan asal-usul para hantu bisa jadi materi yang lebih menarik.

Salah satu yang patut diapresiasi mungkin upaya film ini memasukkan subkonflik untuk menyinggung masalah stratifikasi sosial melalui pemisahan gerbong kereta. Akan tetapi, eksekusinya tak efektif, dan bahkan tak bisa mendekati satir yang disuguhkan oleh Bong Joon-ho dalam salah satu karya hebatnya, Snowpiercer (2013).

Lagipula, kalau dipikir-pikir, kereta dengan tujuan akhir ke sebuah resor atau sanggraloka sudah seyogianya ditumpangi oleh masyarakat kelas menengah ke atas. Meski ada pembagian gerbong kelas ekonomi dan bisnis, rasanya terlalu berlebihan kalau itu dijadikan simbol disparitas antara si kaya dan si miskin. Analoginya mungkin masuk, tapi tak tepat situasi dan malah mencederai logika penonton.

Kalau memang ada yang harus dipuji dari film ini, maka pujian itu paling pas diberikan untuk penampilan cemerlang Putri Ayudya yang memilih sendiri perannya sebagai disabilitas tuli, sekaligus seorang istri yang berusaha mencari suaminya yang hilang akibat kelalaian perusahaan memberi perlindungan terhadap buruh kerja. Selain itu, sayangnya film ini menyia-nyiakan beberapa talenta bagus seperti Agnes Naomi dan Haydar Salishz yang selalu tampil prima dalam film mereka sebelumnya.

Satu lagi hal yang tak termaafkan dari film ini, yakni kehadiran Fadly Faisal sebagai Tekun. Selain ia harus belajar lebih keras lagi di sebuah kelas akting, rasanya ia juga belum layak diberi porsi adegan yang banyak. Lebih-lebih sampai diberi adegan homage kepada salah satu film horor terbaik seperti Hereditary (2018).

Menurut saya, Rizal Mantovani tak akan bisa menyamai Ari Aster apabila ia masih setia membuat film-film horor yang buruk seperti ini.

 

Editor: Emma Amelia

Rido Arbain
Rido Arbain Nenek moyang kita bukan pelaut, tapi ketiadaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email