Hobi membaca, lagi belajar menulis, suka musik sedih, dan bisa memasak.

Kenapa Edukasi Seks Masih Tabu?

Wahyu Lamora

2 min read

Ketika kasus kekerasan seksual semakin banyak terkuak – satu korban berbicara, korban yang lain ikut bersuara, kasus yang ini belum selesai, kasus yang itu sudah muncul – bisa dibilang ini berita baik sekaligus buruk. Baik, karena artinya masyarakat sudah mulai sadar dan peduli dengan kasus kekerasan seksual. Buruk, karena ini membuka fakta bahwa ada banyak kasus kekerasan seksual yang selama ini selalu ditutup-tutupi.

Banyaknya kasus kekerasan seksual juga turut dipengaruhi oleh minimnya edukasi seks dalam sistem pendidikan kita. Topik ini masih selalu dianggap tabu untuk dibicarakan, terutama oleh sebagian besar generasi boomer.

Baca juga Demi Nama Baik Kampus, Permendikbud adalah Jawaban

Bagi kebanyakan orang, yang terlintas di kepala ketika mendengar istilah “edukasi seks” hanyalah tentang berhubungan intim; tentang bagaimana caranya berhubungan seks yang tidak mengakibatkan kehamilan. Padahal, arti edukasi seks jauh lebih luas dari itu.

Yang paling mendasar dari edukasi seks sebenarnya adalah kesadaran tentang tubuh serta bagian-bagiannya, kemudian memahami batasan-batasan untuk diri sendiri dan/atau kepada orang lain.

Dalam masyarakat kita, membicarakan edukasi seks di ruang publik masih dianggap hal yang tidak patut, apalagi jika dibicarakan kepada anak-anak di bawah umur. Dalam pendidikan formal di jenjang taman kanak-kanak sampai sekolah menengah, edukasi seks yang lengkap tidak akan pernah didapatkan. Anak-anak setingkat sekolah menengah saja paling jauh hanya diajari soal organ reproduksi. Itu pun hanya sebatas pengenalan nama-nama dan fungsi organnya.

Lantas, seberapa pentingnya pemberian edukasi seks sejak dini? Dan apa hubungannya dengan kasus kekerasan seksual?

Dengan pengenalan edukasi seks sejak dini, anak-anak diharapkan bisa memiliki kesadaran atas tubuh mereka sendiri. Untuk rentang usia taman kanak-kanak sampai sekolah dasar misalnya. Mereka bisa tahu apa saja nama bagian-bagian tubuh, fungsinya, serta mana saja yang termasuk area privat mereka. Mengenalkan nama-nama seperti penis, vagina, payudara, bisa menjadi langkah awal untuk keterbukaan komunikasi dan lancarnya pemberian edukasi seks kepada anak-anak. Dan ini seharusnya bukan menjadi hal yang memalukan untuk dibicarakan.

Selain itu, anak-anak bisa mulai diajarkan tentang area privat tubuh serta batasan-batasannya. Anggota tubuh mana saja yang boleh disentuh orang lain, dan mana yang hanya boleh dilihat dan disentuh oleh mereka sendiri. Naik sedikit, pada rentang usia sekolah menengah pertama, anak-anak sudah mulai diajarkan tentang apa itu hubungan seksual, siapa saja yang boleh melakukannya, dan apa saja yang bisa terjadi ketika melakukan hubungan seksual (di luar materi Penyakit Menular Seksual yang memang sudah ada dalam kurikulum SMP).

Baca juga: Misogini dalam Teks Biologi

Ketika sudah menginjak usia sekolah menengah atas, anak-anak sudah harus diberi pemahaman tentang apa itu seks bebas, risiko dan bahaya melakukannya, serta cara-cara pencegahannya. Mereka juga diberikan materi tentang pelecehan seksual, dan apa saja yang termasuk di dalamnya.

Hal ini sama sekali tidak bermaksud untuk mengajarkan seks bebas terhadap anak-anak. Justru sebaliknya, dengan edukasi seks yang baik, diharapkan bisa mengurangi jumlah kasus kekerasan seksual yang terjadi. Apalagi jika melihat berita bahwa yang menjadi korban kasus kekerasan seksual kebanyakan adalah anak-anak di bawah umur atau dewasa muda.

Baca juga Novia: Obituari Kemanusiaan

Dengan edukasi seks yang baik, mereka jadi paham apa saja hal-hal yang salah dan dilarang. Sehingga pada mereka terbangun kesadaran untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual di sekitarnya, atau mencegah agar jangan sampai mereka sendiri menjadi pelaku kekerasan seksual.

Stigma Tabu

Seperti yang kita tahu, membahas hal-hal ini di ruang publik masih saja terbentur dengan pandangan aneh dan cibiran dari orang lain, atau bahkan larangan dari para orang tua. Yang paling sering ditemui adalah ucapan seperti “Apa-apaan ini? Membahas hal-hal seperti ini di ruang publik”, atau “Kalian itu masih anak-anak, tahu apa soal beginian?”

Seakan-akan membahas yang seperti ini hanya boleh dilakukan oleh mereka yang sudah dewasa dan menikah. Padahal jika bukan sedari dini, kapan lagi akan mulai belajar tentang ini? Orang-orang yang anti pada pendidikan seks tidak sadar bahwa pola pikir seperti inilah yang justru terus menyuburkan angka kasus kekerasan seksual. Dengan tidak memedulikan pentingnya edukasi seks, generasi muda kita malah akan belajar atau mencari tahu dari sumber yang salah.

Kita sudah tertinggal jauh dari negara-negara lain soal edukasi seks ini. Kita masih terlalu sibuk berdebat antar golongan dan agama, padahal ada hal-hal mendasar yang seharusnya sudah diajarkan kepada anak-anak kita.

Mau sampai kapan pola pikir seperti ini akan terus dipertahankan? Belum lagi banyaknya stigma negatif yang menempel pada korban kekerasan seksual. Karena kurangnya edukasi seks, kasus kekerasan seksual masih sering terjadi, dan masyarakat kita masih suka victim blaming ‘menyalahkan korban’.

Perempuan dan anak-anak bahkan sering merasa was-was karena tidak adanya ruang aman bagi mereka, bahkan di dalam rumah mereka sendiri.

Seharusnya ada kerja sama antara pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan ruang aman untuk semua orang. Memberikan edukasi yang baik, serta menegakkan peraturan dengan tegas untuk kasus-kasus semacam ini.

Semoga saja kita semua bisa segera terlepas dari pola pikir kuno yang bisa berakibat buruk untuk kita sendiri.

Wahyu Lamora
Wahyu Lamora Hobi membaca, lagi belajar menulis, suka musik sedih, dan bisa memasak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.