Kenalkan Aku dan Puisi Lainnya

Anzal Rachman

1 min read

Kenalkan Aku

Aku temukan sesuatu
yang menggema, bergelora
seperti membakar setiap sudut
kosong di dalam diriku

Aku temukan juga sesuatu
yang dingin, membeku dan
meredakan api itu

Aku temukan diriku di antaranya,
sedang mendamaikan,
dan meredakannya

Tolong, diriku dikuasai,
seseorang yang tak aku kenal
O kenalkan aku padanya
Sebab hatiku bukan
milik orang asing;

Betapa sial, ternyata dia
adalah diriku yang kehilangan
arah & waktu

 

Cinta Bunga pada Pesonanya

Bunga yang mekar,
menolak kupu-kupu
untuk hinggap di situ
bunga itu seperti telah
menutupi pesonanya

Daunnya mulai layu
Batangnya mengering
Akarnya mulai membusuk

Bunga itu menolak tumbuh
Keindahannya tak terlihat lagi
Entah takut dihinggapi kupu-kupu,
lebah ataupun seekor belalang
Atau mungkin takut pada kumpulan
mata yang sedang melotot tajam

Bunga itu menolak untuk tumbuh
Kini dia sekarat, tunduk pada angin
Mengering, dan membusuk pada
tanah yang redup juga dingin

Bunga itu masih menolak
tumbuh, takut lekuk-lekuk
indahnya itu tersentuh

 

Perjalanan Tanpa Akhir

Ketika air sungai bertemu di tepian laut
Mereka melekat seolah tanpa beda
Tanya dan cerita mewarnai pertemuan keduanya
Perjalanan dari hulu ke hilir memang sangat panjang dan melelahkan

Seperti ketika dirimu butuh waktu untuk mendengarkan, bahkan sekadar merasakan

Aku mengalir melewati itu,
ketika sesosok manusia melompat
kepalanya hancur dikoyak batu
Aku melebur bersama darah
dengan membawa kisah kesepian
yang diceritakannya di musim salju

Aku terkejut, ketika sekelilingku
adalah tembok rumah-rumah manusia
Aku mengalir di tengah kecemasan dan kepanikan mereka yang membawa
barang berharga, juga, melihatnya
menangis karena kehilangan kerabatnya

Ini hanyalah awal dari perjalanan tanpa akhir; sebelum kisah lain yang mungkin takkan pernah berakhir

 

Aku Menulis Sajak

Telah disiapkannya tragedi
kemarin untuk malam ini
Kupanggil perasaan itu,
meski menyayat perasaan ini

Kurekatkan pena di ujung kertas
Yang meneteskannya air mata
di sisi yang berbeda

Sajak-sajak itu tak pernah kucipta
Tinta tak kuasa mengusap tangisnya
Kertas tak kuasa menyerap air mata
Sedang tanganku sibuk mengibaskannya

Tragedi itu tak pernah terungkap
Terkunci pada kedalaman diriku
Seperti mengedap di bawah sadarku

 

Hujan yang Tidak Pernah Berhenti

Di antara langkah-langkah
yang meninggalkan jejak-jejak di tanah
Telah menggenang air hujan
baru saja turun dari langit yang marah

Jejak itu seketika hilang,
bersama keberanian yang
telah berpijak sebelumnya

Jejak itu telah hilang,
bersama ketakutannya
untuk membuat jejak baru

Jejak itu telah hilang,
tak kuasa menerobos hujan
yang tak tahu kapan berhenti

Jejak itu telah hilang,
dimakan usia sampai
tak bisa melangkah lagi

Jejak itu telah hilang,
hanya tersisa tangisnya sendiri;
seperti menunggu kematian
yang sudah biasa dirinya alami

Anzal Rachman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.