Khilda Husain pemalas produktif

Kebenaran Melindungi dari Rasa Takut

3 min read

Kini saya telah belajar bahwa kehormatan memerlukan jumlah uang yang besar untuk membelanya, tetapi bahwa jumlah uang yang besar tidak dapat diperoleh tanpa kehilangan kehormatan seseorang. (Perempuan di Titik Nol, Nawal el-Saadawi)

Di sebuah ruangan yang sempit, dengan pintu berjeruji dan jendela yang nyaris tak pernah dibuka, Firdaus dikurung. Ia didakwa membunuh seseorang dan pantas diganjar hukuman mati. Namun, Firdaus bukanlah perempuan yang cengeng; ia lebih kuat dibandingkan lelaki mana pun di seluruh Mesir, dan ia menang telak atas dua hal: ia tak terlalu berharap pada kehidupan, ia juga tak pernah gentar pada kematian.

Belasan tahun silam, Firdaus kecil adalah potret perempuan dengan kondisi keluarga yang muram. Ia tak pernah mengenal dengan baik siapa ibunya, sosok misterius yang kadang kala menjadi budak suaminya, tetapi di sisi lain penuh pengabdian, dan melakukan apa pun demi suami brengseknya itu, termasuk menyembunyikan makanan dari anak-anaknya, karena sang suami akan murka kala tak ada makanan.

Ayah Firdaus tak lebih dari seorang petani miskin yang buta huruf. Ia butuh duit, lantas menukar keperawanan anak perempuannya dengan sejumlah mas kawin. Ia adalah lelaki yang dingin dan kejam. Saat musim dingin tiba, ia beserta istrinya akan menghangatkan tubuh, menyeret tikar ke dekat perapian, dan membiarkan anak-anaknya mati kedinginan seperti anak ayam baru menetas.

Ada satu momen yang menurut saya menggambarkan secara utuh bentuk kekejaman yang lain daripada yang lain dari sosok ayah Firdaus ini, yaitu saat anak-anaknya mati. Jika di suatu malam ia datang ke rumah dan mendapati anak perempuannya mati, maka ia akan bersikap seperti tak pernah terjadi apa-apa: ia akan menyantap makan malam, kemudian ibunya akan membasuh kaki lelaki itu, lantas tidur. Dan, jika yang mati adalah anak laki-lakinya, ia akan memukul ibu Firdaus, makan malam seperti biasa, lalu tidur dengan dengkuran panjang.

Firdaus bertanya-tanya soal ayah dan ibunya. Ia menanyakan kehidupan, serta kemungkinan-kemungkinan bahwa ia dapat dilahirkan kembali untuk kedua kalinya. Namun ia tak pernah memperoleh jawaban.

Berbeda jauh dengan ayahnya, paman Firdaus adalah seorang syekh, mahasiswa terpelajar di El-Azhar, yang mengajarinya mengeja alif, ba, ta. Ia terpandang, tetapi cabul. Ia dikenal sebagai alim, tetapi berlaku lalim. Dalam beberapa kesempatan, ia kerap meraba-raba paha Firdaus di balik galabeya (sejenis gamis) yang tersibak, sedangkan ia pura-pura sedang membaca surat kabar. Ia menasihati Firdaus agar tak mudah kepincut dengan lelaki dan mesti tahu batasan, tetapi di suatu hari, ia bertindak lebih menjijikkan terhadap Firdaus.

Ketika remaja, Firdaus tinggal bersama paman dan istrinya, seorang perempuan berlemak dengan keramahan yang licik, salah satu putri syekhnya di El-Azhar. Dari sinilah, Firdaus mengalami kekejaman demi kekejaman. Ia didepak dari rumah pamannya itu, dibilang terlalu banyak makan, dan tak secekatan gadis pembantu di rumah sang paman. Ia menjalani sisa-sisa sekolahnya di asrama, bertemu dengan sahabat dan guru perempuan yang baik hati, dan mulai merasakan sesuatu yang aneh. Ia mendapat kasih sayang, ia dicintai, tapi tak benar-benar tahu apa itu cinta? Apakah arti mencintai sesama perempuan?

Ia murid pintar, lulusan terbaik kedua di sekolahnya, dan nomor tujuh di seluruh negeri (atau kota). Setelah lulus, babak baru kehidupannya dimulai, dengan penderitaan yang tak kalah jahanamnya. Mesir kuno, setidak-tidaknya dari latar waktu kisah ini ditulis, adalah budaya melanggengkan kekuasaan kaum laki-laki dengan menempatkan perempuan sebagai manusia kelas dua, yang tak perlu berpendidikan; urusannya hanyalah perkara domestik rumah tangga, sekaligus menjadi mesin pencetak manusia-manusia baru yang kurang lebih sama kualitasnya. Kita bisa lihat bagaimana Firdaus kecil kerap ke ladang, memanggang roti, dan membawa benda-benda dengan cara menyungginya, sementara ayahnya mengendarai seekor keledai dan berjalan di depannya.

Firdaus memilih kabur dari rumah saat mendengar obrolan paman dan bibinya soal rencana mereka menikahkan dirinya dengan Syekh Mahmoud, duda buruk rupa dengan benjolan bernanah di dagunya, tetapi berangkat dari keluarga ningrat dan terpandang. Namun, ketika ternyata kondisi di luar lebih buruk lagi (ia kabur dan diperkosa oleh seorang lelaki tak dikenal), ia kembali ke rumah pamannya dan tak lama kemudian dinikahi seorang lelaki yang tabiatnya seburuk benjolan berair di bawah dagunya.

Syekh Mahmoud adalah lekaki yang rakus. Ia buru-buru menyembunyikan uang di tangannya kala kepergok sedang menghitungnya. Ia juga akan berteriak dan marah ketika Firdaus kurang hati-hati sehingga bumbu dapur jatuh berserakan. Lengkapnya, ia tak mau secuil pun barang di rumahnya berkurang oleh kecerobohan sepele, dan jika itu terjadi, kakinya bisa melayang ke tubuh Firdaus.

Suatu hari, Firdaus minggat sambil membawa ijazahnya dan ia bersikukuh untuk melamar pekerjaan. Namun, satu-satunya pekerjaan yang ia dapatkan saat itu adalah menjadi pelacur. Firdaus menjadi pelacur sukses dan berkelas dengan harga tawar yang tinggi. Ia tak mau menjadi pelacur murahan. Ia bebas menentukan dengan siapa ia ingin tidur, dan ia senang karena tak menjadi budak seekor suami keparat.

Dari sejumlah kekerasan yang ia alami, Firdaus sadar bahwa semua lelaki sama saja. Mereka mirip: manipulatif, memperbudak, berpikir primitif, dan menggilai uang dan seks, apa pun pekerjaannya. Ia meludahi setiap foto laki-laki di surat kabar tanpa sedikit pun beban, kemudian menjadikannya alas kaki lemari di dapur.

Saat polisi hendak menangkap Firdaus, terjadi sebuah dialog singkat tetapi menggentarkan.

“Saya seorang pembunuh, tetapi saya tidak melakukan kejahatan. Seperti kalian, saya hanya membunuh penjahat.”

“Tetapi ia seorang pangeran, dan seorang pahlawan. Ia bukan penjahat.”

“Bagi saya, perbuatan raja dan pangeran tidaklah lebih dari kejahatan…”

Firdaus menceritakan kisah ini kepada seorang dokter perempuan yang mengunjunginya. Awalnya ia menolak hingga kemudian datanglah hari itu, saat semua lelaki ditelanjangi olehnya di hadapan sang dokter.

Firdaus dihukum mati tetapi ia tak pernah takut pada kematian.

“Mereka tidak takut kepada pisau saya. Kebenaran saya itulah yang menakutkan mereka… Ia melindungi saya dari rasa takut mati, atau takut kehidupan, rasa lapar, atau ketelanjangan, atau kehancuran.”

Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi adalah sebuah catatan tentang barisan laki-laki tanpa kehormatan dan seorang perempuan yang penuh keberanian menjunjung kebenaran.

Khilda Husain
Khilda Husain pemalas produktif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.