Mahasiswa ekonomi di salah satu universitas.

Katanya Nyawa Lebih Berharga dari Sepak Bola

Bagaskoro .

2 min read

Kelompok-kelompok usaha besar, termasuk para konglomerat Indonesia, mulai merambah ke dunia olahraga dengan misalnya membeli kepemilikan klub-klub sepakbola dunia atau klub bolabasket NBA di Amerika Serikat. Tapi dengan langkah ini, mereka kemudian dituduh telah melakukan praktik sportswashing.  

Sportswashing adalah usaha-usaha dari perorangan, kelompok, perusahaaan atau bahkan satu negara untuk meningkatkan reputasi atau menutup dan membersihkan aib dengan mengggunakan olahraga, termasuk menyelenggarakan ajang olahraga tingkat internasional bereputasi tinggi, mensponsori acara olahraga tertentu atau klub tertentu bahkan juga dengan sekaligus membeli kepemilikan klub olahraga dengan prestasi dunia.

Uang Minyak

Kesadaran akan minyak bumi yang suatu saat bisa habis dan tidak dapat lagi dihasilkan membuat negara-negara kilang minyak seperti Qatar dan Arab Saudi menggunakan kekayaan dari penjualan minyak untuk berinvestasi di industri lain. Salah satu industri yang kecipratan uang minyak ialah industri olahraga khususnya sepak bola. Tetapi tujuan negara-negara ini berinvestasi di olahraga bukan hanya sebagai salah satu alternatif untuk mengembanbiakkan uang mereka. 

Sepak bola kini sudah bukan sekadar olahraga. Sepak bola sudah menjadi industri hiburan yang mampu menggaji pemain bintangnya miliaran bahkan triliunan rupiah.  Jumlah pertandingan dari musim ke musim semakin bertambah. Pedri, pemain berusia 18 tahun, misalnya telah memainkan sekitar 73 pertandingan bersama FC Barcelona dan Timnas Spanyol untuk musim 2020/2021. Pertandingan sebanyak itu tentu untuk sebuah tayangan yang bernilai siar tinggi. Biaya operasional sebuah klub sepak bola yang tidaklah murah, salah satunya, ditutup oleh hak siar yang masuk ke kantong klub.

Bagi sebuah klub dengan pemilik yang kaya nan royal, uang untuk mendatangkan para pemain bintang bukanlah masalah. Paris Saint Germain, klub yang secara tidak langsung dimiliki oleh Qatar Sport Investment, pada bursa tranfer lalu  berhasil mendatangkan pemain sekaliber Sergio Ramos,  Lionel Messi, dan Donnaruma yang baru saja meraih titel pemain terbaik Piala Eropa 2020 setelah membawa timnya meraih gelar juara di turnamen yang sama. Nama-nama yang barusan disebutkan akan bermain bersama Mbappe, Neymar, dan Angel Di Maria.  Meskipun ketiga pemain didatangkan secara gratis atau bebas biaya transfer, tetap saja ada biaya agen saat tanda tangan kontrak dan gaji rutin pemain yang tidak murah.

Langkah Qatar nampaknya akan diikuti oleh Arab Saudi. Melalui Public Investment Fund (PIF), baru-baru ini Arab Saudi mengakui sisi klub Newcastle United yang berlaga di Premier League. Uang yang digelontorkan untuk membeli klub sepak bola yang bermarkas di St. James’ Park mencapai 300 juta poundsterling.  Proses negosiasi sebenarnya sudah berjalan lama. Karena terdapat isu HAM, baru sekarang ini kesepakatan tercapai.

Muhammad bin Salman, pimpinan PIF, diduga terlibat dalam kasus pembunuhan seorang jurnalis yang aktif mengkritik pemerintahan Arab Saudi bernama Jamal Khasoghi. Hal tersebutlah yang sempat menjadi batu sandungan dalam pembelian Newcastle United. Arab Saudi dianggap melakukan sportwashing dalam pembelian klub sepak bola asal Inggris. 

Dugaan sportwashing tidak hanya dilakukan oleh Arab Saudi. Pembangunan infrastruktur Piala Dunia 2022 oleh Qatar, berdasarkan laporan The Guardian tanggal 23 Februari 2021, menewaskan 6.500 pekerja migran. Qatar sebagai penyelengara telah mengabaikan keselamatan pekerja pembangunan. Lalu, apakah perekrutan pemain-pemain bintang oleh PSG bisa dibilang sportwashing? Bisa dikatakan ya. Faktanya, publik lebih peduli dengan kabar perpindahan Messi dibanding pelanggaran HAM di Qatar.

Belum lama ini, kalimat “Nyawa Lebih Berharga Dari Sepak Bola” bergema ketika Chirstian Eriksen terkapar di tengah pertandigan. Lalu, mengapa kita tidak menyuarakan nada yang sama ketika ribuan manusia tewas hanya untuk sebuah event yang kuat dengan aroma sportwashing

Langkah Sportwashing Pengusaha-Pengusaha Indonesia?

Pengusaha-pengusaha besar Indonesia juga telah merambah dunia olahraga. Selain kiprah Erick Thohir di Inter Milan, klub sepakbola anggota Seri A Liga Italia dan DC United, klub sepakbola anggota Liga AS serta klub bolabasket NBA Philadelphia 76ers, baru-baru ini media Australia ramai melaporkan kepemilikan penuh Keluarga Bakrie di Brisbane Roar, salah satu klub sepakbola Liga A (A-League) Australia. Keluarga Bakrie memiliki kepemilikan penuh di klub tersebut lewat anak perusahaannya, Pelita Jaya Cronus.

Media Australia mempermasalahkan reputasi keluarga Bakrie dalam politik dan kekisruhan sepakbola Indonesia serta menunjukkan fakta bahwa Pelita Jaya Cronus dipimpin oleh Joko Driyono, orang dekat keluarga Bakrie dan pernah dipenjara 18 bulan karena terbukti bersalah dalam kasus pengaturan pertandingan (match-fixing) dalam liga Indonesia.

Media-media ini menuduh Keluarga Bakrie hanya bertujuan memperbaiki citranya dengan memakai pemain-pemain Brisbane Roar yang dihormati dan mempunyai nama baik di Australia dan tingkat internasional.

Pengurus A League dan otoritas sepakbola Australia sedang menyelidiki tuduhan-tuduhan ini.

Sekarang, apakah Indonesia yang menyelenggarakan World Superbike 2021 di Mandalika, Nusa Tenggara Barat, dapat disebut sebagai usaha sportwashing mengingat kerusakan lingkungan dan keluhan perampasan tanah dari penduduk lokal oleh pengusaha wisata di lokasi tersebut?

Bagaskoro .
Bagaskoro . Mahasiswa ekonomi di salah satu universitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.