Kain Sasirangan Si Julak

Alvin R.

7 min read

Terakhir kali aku video call bersama Bapak, beliau selalu terbatuk-batuk. Setiap batuknya terdengar kering dan bahkan menyakitkan untukku yang hanya mendengarnya. Selalu aku menyarankan pada beliau untuk memeriksakan dirinya ke klinik. Dan selalu beliau menolaknya. “Palingan bentar hilang jua. Ikam terlalu khawatir, Nak,” kata Bapak, sambil tertawa kecil yang diselingi batuk-batuk kecil tertahan.

Untungnya, libur semester telah tiba dan tanpa sepengetahuan beliau, aku berencana pulang dan menyeretnya ke klinik, meskipun kalau seandainya aku harus mengikat kaki dan tangannya.

Niatku tergoyah ketika beberapa hari kemudian, di sesi video call terbaru, batuk itu terdengar jarang. Kontras dengan seminggu sebelumnya ketika setiap kalimat Bapak diakhiri batuk keringnya. Tak tahan lagi, aku bertanya, “sudah baikan, Pak, batuknya?”

Beliau tersenyum cerah. “Ya, kan? Sakti memang Si Julak itu.”

“Julak?” Sebuah api harapan kecil muncul di dalam diriku. Mungkinkah Bapak menemukan pendamping baru setelah 10 tahun ditinggal Ibu?

“Inggih. Beberapa hari lalu, Kemal nyaranakan untuk ke rumah Julak. Katanya bisa ngobatin batuk unda. Unda takut jua kalo ae ditipu. Tapi si Kemal nemanin unda. Sudah 3 hari ke rumah inya, mulai hilang dah batuk nih.”

Harapanku seketika tergantikan oleh kecurigaan. “Dikasih obat apa, Pak, sama Julaknya?”

Bapak menggeleng. “Kadada obat apa-apa. Disuruh nyentuh kainnya aja, sambil nutup mata dan benapas dalam-dalam.”

Kecurigaanku mulai membesar. “Bapak sendirian kah pas sama si Julaknya?”

“Rami, Nak, ae! Ada sekitar 7 orang di ruang tamunya tu. Aku melihat jua inya meobati yang lain. Bujur kada diapa-apai. Cuma disuruh nyentuh kain aja.”

Kecurigaanku sekarang memiliki teman; kekhawatiran. “Pak, aku bentar lagi libur semester, jadi aku rencana mau pulang. Nanti sampe rumah, aku aja yang nemenin Bapak pergi ke rumah Si Julak ini, ya? Penasaran jua aku.”

Percakapan itu terjadi 2 hari yang lalu. Sepanjang perjalanan bus antar provinsi, aku tidak bisa tidur. Aku mencoba membentuk berbagai teori yang bisa menjelaskan keadaan membaik Bapak. Yang terkuat dan paling masuk akal adalah perban berisi obat yang ditempelkan ke kulit Bapak tanpa sepengetahuannya. Atau sesuatu yang lebih jahat seperti hipnotis.

Sempat terlintas bagiku bahwa Bapak tidak diberi apa-apa ataupun dihipnotis. Bisa saja perkataan Bapak adalah sesederhana itu; dia menyentuh kain dari Si Julak dan seketika, tubuhnya membaik. Implikasi dari ini tentunya adalah bahwa kain itu memiliki ilmu tertentu.

Hal ini menggelitikku, karena sebagai seseorang yang menyukai cerita-cerita fantastis dan magis, aku berandai-andai apakah ada kebenaran di balik implikasi itu. Bahwa dunia ini tidak membosankan seperti yang kukira, dan juga memiliki magis tersembunyi yang aku atau orang umum tidak ketahui.

Tapi aku adalah seorang mahasiswa. Dan sebagai seorang mahasiswa baru yang harus berpikir akademis, aku menepis pemikiran seperti itu. Yang pasti, aku harus melihat langsung apa yang dilakukan Si Julak pada Bapak. Setelah itu, baru aku bisa memutuskan apa yang bisa kupercaya.

Sebelum kepergianku dari kampung, aku sudah mengetahui tentang keberadaan si Julak. Dia seorang wanita tua yang rumahnya dikelilingi hutan dan satu-satunya jalan masuk adalah menyeberangi sebuah jembatan gantung di atas kanal kecil. Penduduk kampung tidak pernah melihat Si Julak. Yang sering mereka lihat adalah seorang lelaki muda yang menurutku adalah anaknya, bernama Hamid.

Hamid biasa pergi dari satu rumah ke rumah lain untuk menyapa penghuninya. Kadang, beberapa penghuni rumah akan memberikan sayuran atau beras sebagai imbalan ikhlas pada Si Julak yang telah membantu penduduk kampung. Hamid awalnya akan menolak, tapi setelah paksaan penghuni rumah, akhirnya dia selalu menerima imbalan mereka, sambil mendoakan penghuni rumah.

Hari ini, Hamid berjaga di luar rumah si Julak. Dia menyapaku dan Bapak sambil menyalami tanganku. Aku menyapa dengan ramah dan setelah masuk ke rumah si Julak, aku duduk di samping Bapak. Seperti penduduk kampung lainnya, si Julak memiliki foto Abah Guru Sekumpul yang terpampang di atas ambang pintu yang tertutup gorden putih dan mengarah lebih dalam ke rumah.

Meskipun rumah itu dipenuhi beberapa orang yang duduk melingkar di dindingnya, dan cuaca panas membentang di luar, udara di dalam rumah justru terasa sejuk. Aku mencari ke seluruh sudut ruangan berharap menemukan kipas angin, namun pencarianku sia-sia saja.

Beberapa menit berlalu ketika Hamid berjalan sambil permisi melewatiku dan memasuki ambang pintu, Hamid keluar lagi dan menyusul di belakangnya adalah seorang wanita. Wanita itu tidak lebih tua dari Bapak yang sudah menginjak umur 60-an. Warna baju kemejanya terlihat pudar. Begitu juga dengan sarung batik cokelatnya. Namun, melingkar di kepala dan leher Si Julak adalah sebuah kain putih lembut yang seakan melayang bebas setiap kali Si Julak bergerak. Kain itu memiliki sepasang pola garis bergelombang berwarna biru muda seperti ombak yang mengapit ranting menjalar berwarna hijau dengan dedaunan, yang mengingatkanku pada daun kangkung.

Sepanjang hidupku, aku tidak pernah melihat kain seindah itu. Aku harus memaksakan diri untuk mengalihkan perhatianku darinya dan mengingatkan diri sendiri tentang tujuanku sebenarnya datang ke sini.

Di setiap pertemuannya, Si Julak selalu diam dan menatap ke depan dengan mata yang kuat dan tatapan yang tajam. Ketika seseorang duduk di depannya, mata itu beralih kepada mereka. Dengan suara serak-serak basah namun penuh kepastian, Si Julak berkata, “sentuh kain unda dan tutup mata pian. Benapas dalam-dalam dan pikirakan apa yang pian handaki.”

Sesampainya di giliran Bapak, hal yang sama juga terjadi. Namun tidak seperti yang lainnya, Si Julak menatap melewati Bapak dan tepat ke mataku. Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk, berharap tindakan itu bisa membuat Si Julak mengalihkan tatapannya yang saat itu terasa seakan bisa melihat ke dalam diriku. Mata dan perhatianku tidak lepas dari Bapak yang menyentuh kain Si Julak.

Selama beberapa menit selanjutnya, Si Julak tidak pernah menyentuh Bapak. Seperti pengunjung sebelumnya, Bapak hanya duduk di depan Si Julak, menyentuh kainnya sambil menutup mata dan bernapas dalam-dalam beberapa kali. Setelah Bapak puas, Bapak disarankan langsung istirahat setelah makan oleh Hamid dan dipersilahkan kembali ke rumah.

Bapak yang tadinya terlihat lemah dari sering terbatuk-batuk di perjalanan ke sini, terlihat lebih segar dan tidak terbatuk-batuk lagi, sampai akhirnya dia selesai makan malam dan tertidur pulas di kamarnya.

Malam itu, tidak seperti Bapak, aku tidak bisa tidur. Setiap kali aku menutup mata, aku selalu menemukan tatapan mata Si Julak menatapku balik. Frustrasi, aku bangun dan memutuskan untuk membuat teh hangat dan membaca novel sambil duduk di teras rumah. Setelah selesai membaca tiga bab, aku merasa lebih tenang dan rileks. Melarikan diri dari frustrasi dunia nyata di sekitarku menuju dunia fiksi penuh warna dan imaji selalu memberikan efek seperti itu. Ketenangan yang kudapat dari penjelajahan singkatku tidak ada gantinya. Namun, pertemuan Bapak dengan Si Julan tadi pagi masih menetap di kepalaku. Sambil menyisip teh hangatku, aku menatap ke arah hutan yang mengelilingi rumah Si Julak itu.

Perkataan Bapak ternyata benar. Dia tidak diberi apa-apa ataupun dihipnotis. Bapak benar-benar hanya menyentuh kain itu dan Si Julak tidak pernah menyentuh Bapak ataupun pengunjung lainnya.

Selama beberapa hari berikutnya, aku membiasakan diri untuk bertanya pada Hamid. Hamid menjelaskan bahwa Si Julak benar adalah ibunya dan kain itu adalah kain Sasirangan. Di masa mudanya, Si Julak mendapatkan kain itu sebagai warisan satu-satunya dari bapaknya. Sejak itu, Si Julak tidak pernah jauh dari kain itu. Ketika kutanya mengapa kain itu selalu terlihat baru meskipun sudah bertahun-tahun berlalu, Hamid tidak bisa menjawab. Beberapa kali Hamid selalu ingin mencuci kain itu. Namun Si Julak selalu melarangnya. Hamid sendiri percaya bahwa kain itu spesial.

“Pian pikir aja, Mas. Betahun-tahun lewat, tapi kain itu kada pernah kusam, kada pernah kotor. Selalu wangi dan selalu bersih. Seperti ada yang melindungi inya.”

Perkataan Hamid menggelitikku. Memang gampang untuk percaya hal-hal seperti itu, karena kemungkinan yang mereka berikan. Bahwa dengan mempelajari lebih dalam saja tentang budaya sendiri, kita bisa mengetahui hal-hal yang magis dan fantastis dan dunia nyata ini lebih berwarna dan aneh daripada yang bisa kita bayangkan.

Namun lagi-lagi, aku tidak bisa menerimanya. Kelas-kelas yang kuhadiri di universitas mengatakan padaku bahwa dengan observasi dan data yang cukup, semua bisa dijelaskan dengan nalar dan logika yang masuk akal. Observasi sudah kulakukan dan hasil yang kudapat dari sana justru menimbulkan pertanyaan lebih banyak. Satu-satunya cara agar aku bisa mendapatkan data adalah dengan bertanya langsung pada Si Julak. Entah kain itu benar-benar spesial seperti orang-orang di sekitarku kira. Atau aku dan mereka hanya berpegang pada harapan kosong.

Di hari Jumat, Bapak tidak menjalani ‘pengobatannya’ karena kebijakan Si Julak yang meliburkan layanannya setiap hari Jumat. Bebas dari tugasnya sebagai penjaga pintu rumah, Hamid biasanya berkeliling kampung untuk menyapa penghuni kampung dan memeriksa keadaan para pasien Si Julak. Yang berarti, Si Julak sedang sendirian di rumah.

Dengan beralasan ingin membeli air minum dingin pada Bapak, aku keluar rumah. Setelah mendapatkan air dinginku sambil menyapa Hamid yang sedang di warung, aku menenggak setengahnya. Kemudian, aku memasuki hutan, menyeberangi jembatan dan mengetuk rumah Si Julak.

“Laaak? Julaaak?”

Setelah beberapa menit berlalu, pintu rumah perlahan terbuka. Si Julak menatapku diam dengan matanya yang kuat dan tajam. Aku berdehem, kemudian memberanikan berkata, “boleh ulun masuk?”

Si Julak menatapku lama. Aku memutuskan untuk menahan tatapanku dan tidak lagi ingin bersembunyi darinya. Kemudian, Si Julak mengangguk dan membuka lebar pintu rumahnya. Si Julak duduk di tengah ruangan dan aku duduk di depannya, seakan aku seperti Bapak dan pengunjung lainnya beberapa hari yang lalu.

Sesopan mungkin, aku berkata sejujur-jujurnya. Bahwa aku khawatir Si Julak melakukan sesuatu pada Bapak dan aku ke rumahnya untuk memastikan bahwa hal itu tidak benar. Aku juga mengungkapkan rasa penasaranku, karena aku sendiri tidak percaya bahwa kain itu bisa menyembuhkan penyakit Bapak semudah itu, ketika pengobatan modern tidak mempan. Selama pengakuanku, Si Julak hanya menatapku dan mendengarkan dalam diam.

Setelah aku selesai, Si Julak berdiri dan masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian, Si Julak kembali, kain putih dan indah itu melingkar di kepala dan lehernya. Kemudian, dia berkata, “ulun kada menyembuhkan Bapak pian. Bapak pian sendiri yang handak sembuh. Kain ini hanya membantu mewujudkan keinginan Bapak pian. Ulun cuma jadi penjaganya, supaya kain ini kada dimanfaatkan.”

Kata-kata sederhana itu keluar begitu saja dari bibir Si Julak. Lancar seperti aliran kanal kecil yang memisahkan rumahnya dengan kampungku. Sebuah konflik muncul di dalam diriku. Di satu sisi, aku mempercayai perkataan Si Julak, karena betapa sederhananya penjelasan itu. Namun di sisi lain, aku masih ragu, karena betapa tidak masuk akal jika penyakit Bapak bisa disembuhkan hanya dengan keinginan yang kuat, kepercayaan yang teguh dan kain indah ini. Aku ke sini berharap mendapatkan data yang kucari, namun data yang kudapat justru membuatku semakin mempertanyakan diri sendiri dan dunia di sekitarku.

Akhirnya, aku tidak tahan lagi. Hanya ada satu cara terakhir yang bisa kupakai untuk membuktikan bahwa Si Julak benar-benar tulus dalam membantu Bapak. Aku menarik napas yang dalam dan berkata, “boleh ulun sentuh kain pian?”

Untuk pertama kalinya sejak pertemuan kami, Si Julak tersenyum. Dia mengangguk dan dengan nada yang sama seperti yang dia berikan pada pengunjung lainnya, Si Julak berkata, “sentuh kain unda dan tutup mata pian. Bernapas dalam-dalam dan pikirakan apa yang pian handaki.”

Aku menjulurkan tangan dan menyentuh kain itu. Ia terasa selembut yang kukira. Yang tidak kukira adalah betapa hangatnya kain itu. Sehangat teh yang kuminum beberapa malam lalu. Kehangatan itu menjalar dari tanganku, naik ke kepala dan turun ke kaki sampai ia menyelimuti seluruh diriku. Aku menutup mataku dan bernapas dalam-dalam. Setiap napas yang kuambil dan kuembuskan menjelma berbagai pemandangan yang perlahan membentuk kegelapan. Pemandangan yang selalu kubayangkan setiap kali aku membaca buku-buku fantasi atau fiksi ilmiahku. Dunia demi dunia, dari gedung-gedung yang melayang di atas awan sampai menara-menara metalik yang menjulang menembus langit, penuh dengan cahaya berbagai warna. Pemandangan ini terus berganti dan bertransisi seperti salindia. Semua itu terasa nyata sampai-sampai aku seakan bisa menjulurkan tanganku dan menyentuhnya. Seumur hidup, aku selalu bertanya-tanya, bagaimana jika dunia-dunia ini nyata dan aku bisa menjelajahinya, meskipun hanya sebentar?

Kemudian, aku kembali tertarik ke dunia nyata dan perlahan membuka mataku. Aku menemui Si Julak yang tidak lagi menatapku, melainkan melewatiku dan ke belakangku. Aku berbalik dan menemukan pintu rumah tertutup rapat. Ketika aku kembali berpaling ke si Julak, dia hanya mengangguk. Firasatku mulai menggelitikku dan aku pun berdiri.

Pintu rumah itu sekarang berada di depanku. Ia terlihat sangat mengundang. Sesuatu di dalam diriku menyuruhku untuk segera membukanya dan keinginan yang selama ini aku kejar di buku-buku fiksi itu akan menyambutku di balik pintu itu. Dengan penuh kepercayaan pada keinginan ini, aku membuka pintu itu.

***

 

 

Editor: Ghufroni An’ars

Alvin R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email