pengajar di salah satu sekolah swasta di lampung

Janji Insomnia dan Puisi Lainnya

Muhammad Syahroni

1 min read

KANGEN INSOMNIA

malam-malam begini biasanya insomnia mengelus rambut saya
datang menyangkal kantuk dan membiarkan saya terjaga.
kadang insomnia mengajak saya bermain kata
menebak-nebak masa depan di rerimbunan kepala dan bahasa
yang semakin ruwet memikirkan nasib yang justru semakin runyam.

di dalam mata saya, insomnia membuntal kantuk dengan kantung mata
malam dibalut kenangan yang lengket menjerat tubuh saya.
saya memikirkan ini berpikir begitu menerka kemungkinan ini menebak kemungkinan itu.
saya begitu takut, tetapi insomnia menenangkan ketakutan saya dengan air mata
“sungguh, insomnia yang berbudi baik,” kata saya dalam sebuah puisi yang saya tulis.

“insomnia terbuat dari kenangan yang kabur dari kurungan,
penjara pikiran tak bersekat tak berjeruji
tak beratap tak memiliki pembatas apapun selain kemampuanmu
mengolah birokrasi pikiran yang berpolitik dengan hati.”
tulis puisi kepada saya di atas nisan yang telah tergesa saya siapkan.

JANJI INSOMNIA

malam ini insomnia
akan datang ke kantukku.
ia berjanji akan membahagiakanku,
akan mencumbuku,
menjamah tubuhku,
merangsang,
dan membuatku puas
dalam permainan ular tangga.

insomnia akhirnya datang juga,
setelah aku menunggu dengan segelas nasib
yang ingin kuadu
kupertaruhkan
untuk segala bentuk kebaikan dan kesialanku.

piaarrrrr…..
dadu kulempar
menggelinding melewati beberapa angka
dan anak tangga
serta mulut ular yang menganga.
terus menggelinding tidak ada ujungnya.

MAKAN INSOMNIA

insomnia menyuguhkan kepada saya
sepiring nasib yang ditaburi bawang goreng
dan ada sambal kantuk yang begitu pedas di mata.
nasib memang enak
bila disajikan dengan sambal kantuk yang pedas,
tetapi saya lebih suka insomnia
yang dimakan mentah-mentah agar lebih gurih dan nikmat.

MENDADAR INSOMNIA

ambil sebutir insomnia
dari mata malam yang terang terjaga.
pecahkan cangkang kantuk
dan tuang ke dalam mangkok tidur
aduk-aduk, tuang ke dalam wajan nasib
yang sudah dipanaskan di atas kompor bernama hidup
yang siap meledak.

bimsalabim! jadilah telur mata insomnia.

JOKO INSOMNIA

seorang pemuda nyaris mati
setelah mengadukan nasib kepada kata-kata.

“wahai bahasa indonesia,
aku telah hampir mati
menjejalkan napas
yang pas-pasan di dalam dirimu.
berilah aku bahasa yang keren
yang dapat menghidupiku.”
doanya dalam sebuah peribadatan puisi.

“namamu bukan joko,
kau harus menjadi joko pinurbo,
joko damono, joko widodo,
joko suseno, joko tingkir,
atau joko-joko yang lain.”
kata puisi kepada ia dalam sebuah mimpi puisi.

“aku ini joko insomnia.”

Editor: Moch Aldy MA

Muhammad Syahroni
Muhammad Syahroni pengajar di salah satu sekolah swasta di lampung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email