Ibu Bekerja dengan Tiga Anak Memupus Jemu dengan Ilmu

3 min read

Netizen bilang, rebahan di rumah adalah bentuk perjuangan di masa kini. Hanya dengan rebahan kita bisa menyelamatkan dunia dari penularan virus Corona. Itulah yang kami lakukan sepanjang masa pembatasan sosial sejak awal pandemi 2020. Rebahan di rumah saja.

Walaupun sesungguhnya bagi seorang ibu seperti saya, tidak pernah ada istilah rebahan. Dengan kesibukan mengurus anak yang masih kecil-kecil, ditambah dengan pekerjaan kantor dan setumpuk pekerjaan domestik yang harus dikerjakan, rasanya tak pernah ada waktu untuk bisa sejenak bermalas-malasan. Apalagi selama masa pandemi pembantu rumah tangga terpaksa diberhentikan, sebab tidak memungkinkan bagi kami menggunakan pengasuh pulang hari. Karena itu akan sama saja mengundang virus masuk ke dalam rumah kami.

Bersama suami, kami berusaha sekuat tenaga untuk menyeimbangkan ritme pekerjaan rumah tangga dengan sistem bekerja dari rumah. Kami harus bersiasat untuk bisa mendampingi anak-anak sekolah dari rumah, membereskan pekerjaan rumah, sekaligus menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan kami di kantor masing-masing. Tak mudah, tapi juga bukan hal yang tak bisa diatasi. Tak butuh waktu terlalu lama, kami sudah terbiasa untuk menjalani hari-hari di tengah pandemi dengan segala pekerjaan dan tantangannya.  Namun, lama-lama ada rasa jemu karena terus melakukan hal yang sama tiap hari. Ada rasa kosong sekaligus gelisah di hati saya, tapi tak bisa saya ketahui apa sebabnya.

Hingga suatu hari, hal yang menarik muncul di layar gawai saya. Sebuah tayangan video bagaimana kelopak-kelopak bunga berwarna gradasi terbentuk dengan guratan-guratan yang sangat nyata, indah sekali! Saya langsung jatuh hati. Tidak berapa lama saya sudah bisa mengetahui tentang sculpture painting, yaitu sebuah seni yang memadukan antara melukis dan memahat. Seni yang dipopulerkan seniman Rusia, Evgenia Ermilova. ini menggunakan media plaster khusus dan dikerjakan pisau palet. Menarik sekali. Sekilas mirip seperti membuat aneka bunga dekorasi kue ulang tahun. Karena penasaran, mulailah saya berkonsultasi dengan penyedia kursus di Indonesia, untuk mengikuti kursus sculpture painting bagi pemula.

Saya sungguh tak sabar menerima kiriman sculpture painting kit yang pertama saya pesan; dua tatakan sebagai media, dua jenis pisau palet, dan tiga macam warna plaster. Setelah saya melakukan pembayaran, saya memperoleh video tutorial yang dapat saya pelajari kapan saja. Dengan antusias saya mengikuti tutorial. Padahal bisa dibilang, terakhir kali saya melukis dan memahat adalah saat saya masih duduk di sekolah dasar. Saat berulang kali gagal membentuk plaster menjadi sebuah kelopak bunga dengan pisau palet, saya justru kian dibuat makin penasaran. Saya coba lagi, lagi dan lagi.  Ada tantangan dan kepuasan ketika berhasil melakukan hal yang baru saya pelajari sesuai dengan tutorialnya.

Saking tertariknya pada hal baru ini, pada suatu tengah malam, suami saya memergoki saya yang diam-diam menyelinap keluar kamar, duduk di meja makan sibuk dengan plaster dan pisau. Kurang lebih seminggu setelahnya, saya sudah bisa meminta suami untuk memajang hasil sculpture painting yang saya kerjakan, menjadi sebuah hiasan di sudut rumah. Sekelompok bunga poppy berwarna oranye. Hati saya terasa penuh. Betapa bangganya saya pada karya saya itu, sampai-sampai saya merasa telah menjadi seorang seniman profesional.

Luapan kebahagiaan yang saya rasakan ketika berhasil mempelajari sebuah pengetahuan baru, membuat saya jadi ketagihan. Proses mempelajari pengetahuan baru ini menjadi sebuah penyegaran, sekaligus menjadi sumber aktivitas yang bisa dikerjakan bersama dengan keluarga. Terbukti pada saat mengikuti kursus berikutnya, yaitu kelas mengolah mie dari bahan organik, seluruh anggota keluarga turut berperan dan menikmati hasilnya. Suami turut menyiapkan peralatan dan bahan masak yang diperlukan, ketiga anak saya membantu menggiling dan mencetak adonan.

Materi kelas memasak diberikan secara online, dan setiap peserta diberikan batas waktu untuk mengunggah hasil praktik masakan masing-masing. Di ujung hari, dapur sudah seperti kapal pecah, sisa-sisa adonan bertebaran di seantero dapur, tetapi kami bisa bersama-sama menikmati hasil masakan yang telah dibuat bersama. Meski kadang, ada juga beberapa menu yang rasanya tak karuan.

Yang tak kalah menarik adalah kursus fotografi. Saya menyelesaikan dua level kursus dalam kurun waktu dua bulan, smartphone photography level basic dan advance. Metodenya hampir sama dengan kursus online yang lain, kita diberikan tutorial lalu diberikan penugasan untuk diselesaikan dalam waktu tertentu. Pada saat kita mengirimkan hasil foto, mentor yang merupakan lulusan sekolah fotografi ternama akan memberikan kurasi. Mentor juga akan memutuskan apakah kita perlu mengulang foto dengan objek yang berbeda dan memberikan kesempatan untuk mengirimkan hasil remedial tugas kita. Pada level advance, diperlukan keterampilan untuk menggunakan sentuhan digital melalui aplikasi photo editor. Hasilnya cukup membuat saya merasa puas. Karena saya bisa membuat karya fotografi ala profesional dengan smart phone saya yang sudah cukup berumur.

Apakah semua kursus online yang saya ikuti menyenangkan? Oh, ternyata tidak. Di kelas menulis buku, saya membayar cukup mahal untuk registrasi namun tidak sebanding dengan apa yang  saya harapkan. Konsep dalam kursus menulis yang saya ikuti adalah menerbitkan tulisan peserta dalam sebuah buku antologi. Namun, saya terjebak pada iming-iming kalimat “dibimbing sampai bisa”. Kenyataannya, editor hanya memperbaiki tata penulisan hurufnya saja, yang berarti, substansi ilmu merangkai sebuah tulisan belum saya dapatkan. Kegagalan di kelas menulis ini  justru memacu saya untuk mengikuti kursus menulis lain yang lebih berbobot. Berturut-turut saya mengikuti kelas menulis prosa dan kelas menulis opini untuk media massa. Hasilnya, satu tulisan opini perdana saya telah berhasil terbit di media massa nasional.

Keinginan untuk mengisi ruang-ruang pengetahuan yang kosong, bahkan yang selama ini tidak terpikir dalam benak saya, terus naik seiring lebih banyaknya waktu yang dihabiskan di rumah saja. Di sisi lain, kesibukan dalam hal pekerjaan perlahan mulai terbentuk dan terpola untuk diselesaikan secara online, baik pertemuan maupun penugasan.

Saya merasa bahwa masa pandemi ini sebenarnya merupakan kesempatan emas untuk bertransformasi. Bekerja dengan lebih luwes tanpa batasan ruang dan waktu, serta berkesempatan mengisi ruang-ruang kosong, menantang diri dengan mempelajari aneka macam pengetahuan, dan mencapai kepuasan batin dengan pencapaian-pencapaian baru.

Jangan sia-siakan masa rebahan dengan cara yang membosankan. Mencoba hal baru akan membuat kita terkejut setelah melihat hasilnya, bahwa ternyata ibu-ibu seperti saya pun, bisa dan mampu.

Bayangkan, saya seorang ibu bekerja dengan tiga anak, bisa menjadi seniman, fotografer, penulis, dan koki selama masa rebahan! Luar biasa bukan? Lagipula sebagai ibu, saya merasa wajib memperkaya diri dengan berbagai ilmu. Karena dengan banyak belajar, kita menyiapkan segudang warisan pengetahuan bagi anak-anak kita di masa depan.

Kartika Puspitasari

One Reply to “Ibu Bekerja dengan Tiga Anak Memupus Jemu dengan Ilmu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email.